
bab 134
.
.
.
Sepanjang jalan didalam mobil Wanda senantiasa menatap keluar jendela dan hanya diam. Denis hanya bisa mengikuti Diamnya wanda meski sebenarnya ia sangat penasaran dengan wanita teman dekat kakaknya itu.
Mobil Denis menepi dan berhenti tepat didepan pintu masuk kantor Tio.
Terlihat wanda buru-buru turun begitupun dengan Denis.
" Tuan terima kasih atas tumpangannya. maaf sudah merepotkan."Ucap Wanda dengan menunduk bahkan ia tak membalas tatapan Denis.
" Jangan seperti itu. saya memang ditugaskan mengantar anda."balas Denis.
" Kalau begitu saya permisi masuk dulu." Timpal Wanda yang tak mau berlama-lama didekat Denis.
" Eh tunggu !!" cegah denis yang langsung berlari mendekati Wanda.
Denis merogoh sesuatu dari kantung jasnya. ia menyodorkan sekotak permen pada Wanda. Wanda yang terlihat heran tanpa sadar menatap Denis. senyum manis denis terlihat disana.
" Anda akan rileks jika makan permen ini." Ucap Denis yang dengan cepat meraih tangan Wanda dan meletakkan kotak permen ditangan Wanda.
" Ok.. saya pergi dulu."Denis langsung melenggang pergi tanpa melunturkan senyumnya.
Sementara Wanda nampak mematung dengan senyum yang ia lihat. "Ada apa dengan jantungku ?? kenapa seperti ini ??" Batin Wanda..
" Wan ?? kau sedang apa disini ??" teguran Suara Riana mengejutkan lamunan Wanda.
" Eh.. kau !!? sejak kapan disini ??" Tanya Wanda yang terlihat terkejut.
" Sejak kau Melamun. kok kau sudah pulang ?? bukannya kau menemani tuan Tio mitting ??" Tanya Riana.
Seketika wajah Wanda kembali terlihat sedih. Riana sangat yakin temannya itu sedang tidak baik-baik saja.
" Ada apa ?? kau sakit ??" tanya Riana penuh peduli.
" Kita keruangan saja." Ajak Wanda yang memilih mengatakan didalam ruangan mereka.
Namun baru saja mereka melangkah, kembali sebuah panggilan terdengar
" Bibi Wanda !! bibi Riana !!" Davi berlari kecil kearah dua wanita yang dulu dekat dengannya.
" davi ..." Wanda terlihat merunduk dan membuka kedua tangannya memyambut putra Dania itu.
Willy yang terus mengikuti Davi berhenti seketika saat tuan kecilnya sudah terlihat.
Riana ikut tersenyum dan memeluk Davi gantian.
" Tuan muda ingin menemui Tuan Tio Nona." Balas Willy dengan sangat sopan.
Riana terlihat bersemangat saat melihat willy yang terlihat begitu tampan kala menerbitkan senyum tipisnya.
" Panggil kami Biasa saja. jangan Nona. kami bukan bosmu kan..??" Balas Wanda.
" Iya..Kita ini sama hanya bawahan."Tambah Riana
willy hanya merrspon dengan senyuman yang semakin membuat Riana terpesona.
" Davi sayang.. Ayahnya Davi belum kembali dari mitting. bagaimana jika Davi keruangan bibi saja sembil nunggu kedatangan Ayah ??" Tawar Wanda..
" Boleh. kak Rizal disini tidak ??" Tanya Davi penuh semangat.
" Tentu saja tidak sayang.. kak Rizal harus sekolah, dan juga tidak baik jika ikut bekerja disini."Balas Wanda.
" Aku pesankan makanan ya ?? bagaimana ??" Saran Riana.
" Boleh.oh ya wil, kau sudah makan belum ?? biar sekalian dipesankan Riana.??" Wanda beralih menatap willy.
Willy nampak kebingungan mau menjawab. ia begitu tidak enak jika mengatakan belum.
" Kok diam ?? kau malu ya ??" Tanya Riana.
" Tidak..em...saya makan sendiri saja nanti."ucap Willy.
" Ikutlah denganku ayo.." Riana menarik lengan Willy yang terlihat terkejut dengan perlakuan Riana padanya. Mata Willy malah beralih menatap Wanda yang turut tersenyum saat melihat Willy kelihatan terkejut.
"kenapa dia malah tersenyum begitu ??" batin willy keheranan.
" Bibi Ayo.."Davi menarik jemari Wanda yang sejak tadi buat pegangannya.
" Oh iya sayang.. lest go.."Wanda terhibur sekali dengan kedatangan Davi siang itu. meski luka dihatinya masih terasa sedikit.
.
.
.
hayyooo.. lo.. kok semua sukanya sama Wanda ???
dugaan otor aja apa emang begitu ya ???
😂😂😂
tabur Like nya jangan lupa, Ngerumpi asik dikoment juga boleh
👍👍🙏🙏🙏