Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
saya baik-baik saja



bab 154


.


.


.


Riana tiba dirumah sakit yang disebutkan Tio dalam panggilan tadi. Ia segera masuk dan hendak mencari tau melalui pusat informasi.


namun baru saja Riana hendak bertanya, Netra Riana melihat seorang pengawal Bos besarnya. Riana faham betul dari jaket yang dikenakan pria itu.


Buru-buru Riana menyusul langkah pria yang Riana yakini. adalah bawahan Tio bos besar mereka.


" Tunggu !!?" panggil Riana.


Pria itu menoleh dengan cepat. ia menatap tajam Riana yang nampak asing baginya.


Riana mengatur nafasnya yang ngos-ngosan mengejar pria itu


" Akhirnya, kau berhenti."


" Anda memaggil saya ??" Tanya Pria itu penuh selidik.


Riana menggangguk dengan cepat. " Iya.. kau anak buahnya tuan Tio kan ??"


Pria itu terdiam seketika. ia meneliti seluruh tubuh Riana.


" Aku juga bekerja dikantornya !!? ini tanda pengenalku !!" Ucap Riana dengan cepat seraya menunjukkan tanda pengenal yang tergantung dilehernya.


" Iya. ada apa Nona ??" Tanya Pria itu secara singkat.


" Yang sakit siapa ?? kenapa tuan Tio menyuruhku kemari membawa berkasnya ??" Tanya Riana balik.


Pria itu melirik berkas disalah satu tangan Riana.


" Willy yang dirawat Nona."Balas Pria itu.


" Willy ?? memang dia kenapa ??" Riana membulatkan mata karna terkejut.


Pria itu masih diam.


" Ah..sudahlah, dimana kamarnya ??" Riana yang tidak sabaran segera berlari keruangan yang disebutkan Pria anak buah Tio itu.


sadar atau tidak, Riana terlihat sangat kawatir. bahkan ia sampai terus berlari agar segera tiba diruangan dimana Willy dirawat.


.


.


Sementara Wanda kebingungan mencari Riana yang katanya minta tanda tangan tapi Tidak juga kembali.


" Kemana anak itu ??" gumam Wanda, sembari berjalan mencari. hingga tak berapa lama ponsel Wanda berbunyi, pertanda panggilan masuk.


Melihat nama Bos dilayar ponselnya, Wanda segera menggeser tanda hijau dan langsung menyapa. "Halo tuan. ada apa ??"


" Kau pergilah dengan Denis, temui klienku. Sebentar lagi Denis sampai, saya tidak masuk hari ini." terang Tio dengan jelas.


" Tap..-"


Panggilan langsung diakhiri oleh Tio.


"huh..padahal aku mau mengatakan jika Riana saja yang ikut. hmm.." wanda nampak bimbang.


hingga..


" Anda memikirkan apa Nona ??"


suara yang familiar terdengar dibelakang wanda.


" Tuan Denis..maaf saya tidak melihat anda."Wanda menunduk memberi hormat.


" biasa saja. oh ya, kak Tio sudah menghubungi anda ? kita akan berangkat mittinh sekarang."Balas Denis penuh ramah.


" Iya. barusan beliau menghubungi saya. saya siapkan berkasnya dulu tuan."pamit wanda.


denis menggangguk dan membiarkan Wanda melenggang menuju ruangannya.


.


.


Ceklek...


" Willy.. !!!" Riana tersentak terkejut saat melihat Willy hendak turun namun selang infusnya terlepas.


Segera Riana mendekati Willy. dan membantu Willy.


" ya ampun willy..!! Suster !!! suster !!!" Teriak Riana.


" tenanglah Nona.. saya tidak apa-apa.." Ucap Willy mencoba menenangkan.


" Tidak apa-apa bagaimana. ??!! Darahmu keluar terus wil !!" Balas Riana terlihat sekali raut wajah kawatir.


Setelah membantu willy tidur dibrankar, Riana berlari keluar dan memberi tau penjaga yang ditugaskan Tio menjaga ruangan itu.


" panggilkan suster !! cepat !! selang infusnya willy terlepas !!" pinta Riana.


penjaga itu langsung berlari menuruti perintah Riana.


Riana kembali masuk dan mencari sesuatu agar darah willy tak terus menetes.


Sekotak Tisu dibawa Riana mendekat pada Willy dan dengan cekatan Riana menggulung beberapa tisu guna menhentikan pendarahan akibat terlepasnya jarum infus pada punggung tangan Willy.


Willy hanya bisa pasrah. ia menurut saja tanpa berani berkata ataupun bertanya.


hanya sesekali Willy menatap Wajah Riana yang masih begitu serius menghentikan pendarahan padanya.


dan entah mengapa dalam hati Willy berkata.


"cantik"


.


.


.