
bab 181
.
.
.
Saat Dania tiba diruangan Tio, Tak sengaja Tio sedang menerima panggilan dari Denis.
Sambutan cinta tak lupa diberikan Tio saat melihat kedatangan sang istri. ia pun segera mengakhiri panggilannya.
"Siapa yang menghubungimu ??" Tanya Dania seraya membuka kotak makanan.
"Denis. Aku meminta gambar wanita yang dia cari."Balas Tio.
"Ada masalah apa anak itu ?? selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan setauku.."Gumam Dania.
"Jangan difikirkan. ayo makan.."Tio menyuapi Dania. dan dengan senang hati Dania menerimanya.
.
.
Karna memang sudah janji dengan dua temannya, dania pun segera menuju ruangan Wanda sesuai ucapannya tadi.
"Sorry aku terlambat ya ??" Dania langsung membuka pintu tanpa memgetuk.
"Hmm... mentang-mentang buk bos, seenaknya ya masuk keruangan bawahan.." canda Riana.
"Jangan bicara begitu.. aku hanya sangat penasaran, pria seperti apa yang bisa meluluhkan hati seorang wanda.."Dania langsung duduk disofa panjang seraya menunggu jawaban Wanda.
" Dia tidak jauh darimu juga Dan.. bahkan sangat dekat.."balas Wanda memberi klue
Riana mengembangkan senyum. meski hanya sekilas saja, rasa yang ia pendam cukup terpendam saja dan tidak boleh sampai terlontar.
"siapa Wan ??"
Wanda mengembangkan senyum tipis. "Denis."
Sontak senyum Dania luntur seketika. bukan karna apapun, namun Dania ingat betul jika wanita yang tengah dicari Denis adalah kekasihnya Denis. lalu bagaimana dengan wanda ??
" Dan.. kau kenapa ??" Wanda memegangi tangan Dania hingga membuat Dania tersentak.
"Oh.. em..aku..aku..hanya terkejut. maaf.."Dania berusaha tersenyum.
"Kau boleh menentang hubungan Kami. mengingat statusku dulu yang..-"
"Wan.. jika aku katakan kejujuran, apa kau bisa mendengarnya ??" Dania membalas.
" katakan saja Dan. kau kan keluarganya denis. kau berhak memberi ijin atau tidak."Timpal Wanda.
Dania ragu akan bicara atau tidak. ia masih tidak habis fikir dengan apa yang terjadi dalam percintaan sang adik.
.
.
.
Karna dihubungi sang kakak, Akhirnya Denis kembali. paksaan sang kakak tidak mungkin bisa ditolak Denis sore itu.
Dengan wajah lesu, Denis memasuki rumah sang kakak. dan ternyata semua berkumpul diruang keluarga.
Mata-mata penuh selidik dan keseriusan dilayangkan Dania, mama Hilda dan Tio pada Denis.
susah payah Denis menelan ludahnya.
"Denis. kakak mau bicara." Dania membuka suara.
"Sabar sayang.. kau jangan emosi dulu.."Hibur Tio.
Denis menurut dan segera duduk bergabung.
"apa Celine sudah kau temukan ??"mama Hilda bertanya.
Denis membalas dengan gelengan.
" Dan sekarang kau menyesal ?? sudah memutuskan secara sepihak antara hubunganmu dengan celine ??!!" Tuduh Dania.
Denis menundukkan wajahnya. ia cukup malu perbuatannya sudah terbaca sang kakak dan juga mamanya.
"Kenapa kau lakukan ini nak ?? bagaimana bisa kau berhubungan dengan dua wanita seperti ini ??!!" Mama Hilda begitu tak percaya saat mendengar penuturan Tio. yang bisa dengan mudah mendapatkan informasi.
" Maaf.."Satu kata yang terlontar dari mulut Denis.
"Kau tau. jika Wanda tau kau sudah memiliki kekasih, dia tidak akan menerimamu Den.. kau sadar tidak kau sudah menyakiti hati wanita ??!!!!" Sentak Dania berapi-api.
"Sayang.. kontrol emosimu..please fikirkan anak kita.." bisik Tio
Denis memejamkan mata menekan rasa penyesalannya.
"Celine begitu mencintaimu dengan tulus. dan sebuah penghianatan yang kau berikan ??? dimana hati mu Den ??? kenapa kau sejahat itu ?!!!! Apa otakmu sudah terlepas dari tempatnya ?!!!" Lagi dan lagi Dania melontarkan tuduhan demi tuduhan.
Denis tak berani menjawab. ia hanya bisa tertunduk tanpa.memandang sang kakak ataupun mama Hilda. ia sadar ia memang begitu bersalah disini. nasi pun telah menjadi bubur semuanya telah terjadi.
.
.
.