
bab 180
.
.
.
Tiba didalam Celine disuguhkan pemandangan yang baginya layaknya film action ditelevisi.
Ia sama sekali tak menyangka jika rumah yang terlihat kecil dariluar ternyata didalamnya begitu amat luas. Senjata dengan berbagai jenis dan model Tersusun rapi disetiap rak kaca.
Ada juga yang tergantung disepanjang tembok yang bernuansa abu itu.
bukan takut, Celine malah justru begitu kagum bisa melihat senjata api dari dekat.
D yang melihat wajah serius Celine menyunggingkan senyum. D fikir, Celine tengah ketakutan.
Hingga langkah Celine berhenti tepat disebuah lemari kaca b3sar lain yang didalamnya terdapat puluhan bahan peledak.
tak lupa Senjata laras panjang juga tergantung disekitar itu.
D menoleh kearah Celine yang memang dibelakangnya. "Kau takut ??"
Celine memutar kepalanya menatap D dengan wajah masih tak percaya. "Tidak.. aku hanya seperti mimpi, bisa melihat semua ini. selama ini aku hanya melihat difilm-film saja."
D amat tak percaya dengan apa yang didengar. angan-angannya agar Celine takut dan ingin pergi sirna seketika saat wanita cantik muda itu malah begitu terpukau dengan semua sususan senjata tajam itu.
"Tuan.. bolehkan aku pegang itu ??" Tunjuk Celine, pada sebuah belati yang sengaja diletakkan diantara Bahan peledak.
Alis D pun bertaut menjadi satu. "Itu senjata berbahaya. buat apa kau memegangnya ??"
"Aku mau foto dengan Belati itu.. boleh.ya ??" Celine menatap D penuh harap.
D membuang nafasnya dengan kasar. lalu meraih lengan Celine. "Itu senjata terlarang. tidak boleh keluar dari situ jika tidak terpaksa. ayo.." D menyeret Celine masuk kedalam lagi. Sebenarnya Celine begitu ingin protes, Namun rasanya akan percuma.
.
.
.
Waktu makan siang Dania sengaja datang kekantor Tio guna mengantarkan makan siangnya.
Karna willy sudah masuk kerja kembali, Davi memilih menghabiskan waktu membaca buku dirumah. apalagi saat tau, Jika luka Willy masih sedikit belum kering.
Dengan menenteng wadah bekal makanan, Dania menuju ruangan Tio. namun tak sengaja Dania bertemu Riana yang juga membawa bungkusan makanan.
"Ri.." sapa Dania.
keduanya berpelukan hangat.
"Dan.. antar makan siang ya ??" Terka Riana.
Dania menggangguk pelan. "iya. kau juga pesan makanan ?? tau begini aku bawa makanan banyak."
" Tidak semangat ?? kenapa ?? dia sakit ??" terka Dania lagi.
Riana segera menggeleng. "Sakit hatinya."
"Wanda jatuh cinta begitu ??" Dania begitu serius.
Riana menggangguk pelan. "betul. dan aku rasa kau ketinggalan berita."
"Dengan siapa Ri ?? kok Wanda tidak cerita denganku ??" Dania bertanya penuh semangat.
"Sabar dong !!? Aku mau tanya dulu. adikmu dimana sekarang ??"
"Denis maksudnya ??"
" Iya. memang kau punya adik berapa."
"Denis pergi dari pagi. dia sedang mencari seseorang."
"Siapa ??"
baru saja Dania hendak membuka suara.
wanda terlihat memanggil."Kalian melupakan aku ya ??"
" Hay.. sorry.. bukan begitu ??!! kau baik ??" Dania menghampiri Wanda.
"Aku baik. memangnya kenapa ??" Tanya wanda keheranan.
" Kenapa kau tidak cerita padaku jika sudah punya pacar ?? kau mau membuatku tak berguna ya ??" tuduh Dania
wanda meringis seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sorry..oh.. siapa yang memberitaumu ??" Wanda menoleh kearah Riana.
"Maaf wan.. aku hanya tidak tega melihatmu melamun terus seperti tadi.."Ucap Riana.
"Memang ada masalah apa Wan ??" Dania bertanya lagi.
"Kita keruanganku saja yuk ??"ajak Wanda. Dania dan Riana menggangguk bersamaan.
"Eh.. kalian duluan saja ya, nanti aku menyusul. aku harus keruangan suamiku dulu.." Pamit Dania.
"Ok.. kami tunggu.." Balas Riana.
mereka pun berpisah dipintu lift masing-masing.
.
.
.
.