
Bab 197
.
.
.
D turun dengan diikuti Celine yang turut terkejut dengan kedatangan Kakak iparnya Denis.
D dengan erat mengenggam jemari Celine seolah mengatakan jika wanita muda itu adalah kekasihnya.
"Maaf tuan. Ada kendala sedikit. Tapi barang sudah diamankan." ucap D seraya tertunduk.
Celine hanya diam dan menjadi pendengar.
"Lain kali lindungi dulu dirimu, jangan mengorbankan nyawa hanya karna sebuah barang." balas Tio yang beralih menatap Celine.
"hay kak.."sapa Celine dengan sopan.
"Bagaimana kau disini ??" Tanya Tio.
Celine menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tau mau mengatakan apa. Seedikit melirik D yang bisa Celine lakukan.
" Kita kemarkas. Kalian harus menjelaskan semuanya."Tio berlalu terlebih dulu dan segera melandaskan kembali mobilnya.
D menatap Celine.
"jadi kak Tio itu..-??"
"Iya. Dia bosku. Dia pemimpin terbesar anggota kami."Balas D.
"Kau yang memberitau kak Tio aku sudah pulang ??" terka Celine.
D menggangguk pelan. "Maaf. Aku tidak memberitaumu sejak awal."
Celine meraih tangan D. "Tidak masalah. Semua sudah berlalu. Ayo kita jelaskan hubungan kita."
Keduanya segera masuk kedalam mobil dan mengikuti laju mobil Tio.
.
.
.
Pagi yang cerah menyapa. Semua masalah juga telah selesai. Denis sudah kembali ceria pagi itu.
Pagi itu semua sudah berkumpul dimeja makan guns melakukan ritual sarapan.
Dania dengan cekatan menyiapkan makanan untuk sang suami Tio dan juga Davi putra kesayangannya.
"Em.. Ma.. Kak, ada yang aku katakan."Ucap denis membuka suara
"apa ??" Tanya Dania yang segera duduk.
"uhukk !! Uhuuk !!" Tio seketika tersedak karna terkejut.
"Hubby.. Pelan-pelan.."Dania menyodorkan segelas air putih.
"Denis. Pernikahan bukan untuk main-main."Ucap Tio mengingatkan.
"Iya kak. Aku tau. Makanya aku berniat serius."Balas Denis.
"mama hanya bisa merestui saja. Jika memang menurutmu wanda yang terbaik."Ucap mama Hilda.
"Wanda sudah punya anak Den..Jangan lupakan itu."Pesan Dania.
"Iya kak. Aku pasti akan menyayanginya melebihi diriku sendiri."balas Denis.
Dania menggangguk pelan. "baiklah."
Tio yang awalnya hendak mengatakan sesuatu urung dikatakan. Ia memilih melanjutkan sarapannya saja.
.
.
Dikantor wanda kebingungan karna pesan singkat Denis yang mengatakan nanti malam akan datang melamarnya. Hal itu membuat perhatian Riana teralihkan.
"Kau kenapa lagi ??" tegur Riana.
"Denis Ri.. Dia bilang akan melamarku nanti malam."Ucap Wanda.
"bagus dong.. Usiamu juga sudah tidak muda lagi. Lebih cepat kan lebih baik."Timpal Riana.
"Bukan masalah itu. Tapi apa ibunya sudah setuju ?? Mengingat masalah kemarin ??!"
"Perkara itu urusan denis. Yang penting niatnya kan sudah baik. Kau harus menerimanya dong..Baiklah, kita akan siapkan apa saja ?? Aku akan membantumu " Riana begitu antusias.
"mana aku tau. Aku kan belum pernah lamaran."balas Wanda.
Riana menepuk jidatnya beberapa kali.
.
.
Malam yang ditunggu pun tiba. Keluarga Denis mendatangi rumah Wanda dan juga Riana. Serangkaian Acara lamaran pun telah berlangsung bahkan acara makan-makan juga sudah dilakukan. Hingga Dania dan Tio memilih pulang terlebih dulu. Mengingat kandungan Dania yang mulai membesar membuatnya gampang lelah.
Mama Hilda pun akhirnya turut pulang duluan bersama Dania dan juga Tio.
Denis yang terakhir berpamitan dengan Wanda. Sorot senyum bahagia terlihat jelas dari kedua wajah dua anak manusia itu.
.
.
.