
bab 173
.
.
.
Dania terlihat digiring anak buah Tio menuju sebuah kamar. Tio hanya bisa pasrah, apalagi jika Dania yang meminta. jujur ia begitu takut jika sampai Dania berfikir macam-macam karna Tio tidak memberitau tentang tempat itu.
"Rumah ini besar sekali ya ?? Ini milikmu hubby ??" Tanya Dania saat berjalan.
"Bukan. ini milik D."jawab Tio asal.
Anak buah Tio yang disana seketika menatap Tio. namun secepat mungkin Tio melayangkan tatapan tak bersahabatnya.
Dania menggangguk pelan "Jika dia sekaya ini, kenapa harus bekerja denganmu ?? dan kenapa anak buahmu ada disini ??"
"Sudahlah baby. ini sudah malam, Jangan terlalu banyak berfikir."Ucap Tio mencoba mengakhiri pertanyaan istrinya.
" silahkan Tuan dan Nona."Anak buah Tio membukakan pintu disusul Dania yang segera masuk.
Matanya dibuat terpana dengan keadaan kamar. Kamar luas dan rapi bisa dilihat Dania. sama persis sepert kamarnya. "Oh.. ya ampun hubby.. apa kamar dirumah ini semua seperti ini ??"
"Tentu saja. D kan orang kaya."Balas Tio yang sembari menuntun Dania untuk duduk diranjang.
"Sudah.. kagumnya besok lagi. kau istirahat dulu ya," Tio mengusap rambut Dania dengan penuh kelembutan.
" Lalu Davi bagaimana ??" Tanya Dania.
"Jika Davi rewel pasti mereka akan membawanya kemari. ayo.." Tio pun segera berbaring diikuti Dania yang menjadikan lengan Suaminya sebagai alas bantal tempat ternyaman selama Dania telah sah menjadi istri Tio.
"Aku masih bingung, dirumah D banyak anak buahmu,dan semua menghormatimu, seolah-olah kau ini atasan mereka. Kau ini sebenarnya siapa Hubby ??" Dania menengadah menatap jakun suaminya yang terlihat.
Tio menerbitkan senyum seraya menundukkan wajah. "aku bilang jangan difikirkan. Fikirkan saja anak kita ini.." Tio mengusap perut Dania.
" Iya.. Aku masih tidak percaya akan hamil.lagi.. dan didampingi olehmu.." Dania mulai memejamkan matanya. kecupan cinta mendarat sempurna dipucuk kepala Dania sebagai ucapan selamat malam.
.
.
"Ha..ha..ha.. paman lucu sekali !!" Tawa Davi lepas seketika saat ia bermain dengan beberapa anak buah sang Ayah.
bahkan davi kini tengah menjadikan salah satu anak buah Tio sebagai kuda-kudaannya.
"Tidak akan. ayo paman jalan.."Davi memukul pelan pundak pria plontos itu.
D yang memang juga ada disana cukup terhibur saat melihat betapa bahagianya anak bos besarnya.
rumah ysekaligus markas malam itu menjadi ramai karna candaan dari Davi.
Tio pun menyunggingkan senyum saat melihat sang putra begitu bahagia bermain dengan anak buahnya.
"Davi sayang.. ayo tidur nak.. sudah malam. besok kan Davi harus sekolah" Panggil Tio seraya mendekat.
Semua nampak hendak berdiri menyambut. namun secepat mungkin Tio mengangkat salah satu tangannya agar jangan sampai dilakukan.
"Maaf tuan. Tuan muda belum mau saya ajak tidur."D menunduk
"Kau kurang saat merayunya" balas Tio.
"Ayah.. davi boleh tidak tinggal disini ?? disini ramai, Davi suka sekali. "
" Ini bukan tempat anak-anak. kalau Davi sudah besar pasti boleh sekali.." balas Tio yang ikut duduk dibawah.
semua nampak terlihat turut duduk dibawah. Davipun begitu terhibur melihatnya. "Lihatlah Ayah. mereka kompak sekali ?!"
tio hanya membuang nafasnya. "Iya.. sekarang tidur dulu ya. Davikan tidak boleh capek. katanya mau tidur dengan paman willy ?? jadi tidak ??"
davi menggeleng dengan cepat."Tidak. paman willynya sudah tidur duluan."
" Ya sudah. tidur dengan Ayah ya.."
" Tidak mau. mau sama paman ini saja."Davi menunjuk anak buah Tio yang berkepala plontos.
sontak pria yang ditunjuk itu membulatkan mata.
Sementara Tio hanya bisa menepuk jidatnya.
.
.
.
.