
bab 163
.
.
.
Denis dan Wanda kini tengah berada didalam mobil bersama dengan Rizal juga. Atas ijin Denis, Rizal diperbolehkan ikut mereka menemui klien. meski awalnya Wanda sangat menolak dan tak mau, Namun Denis terlihat kekeh dan malah membujuk Rizal agar mau ikut bersama mereka.
" Anda yakin putra saya tidak akan mengganggu ??" Wanda membuka suara saat sejak tadi diabaikan karna denis dan Rizal asik mengobrol ria.
" Tentu saja. putramu anak yang baik sopan, aku sangat yakin dia bisa diam dan menunggu. benar kan boy ??" Denis beralih melirik Rizal yang duduk dibangku belakang.
" Iya paman. Rizal akan diam dan tidak akan mengganggu." Jawab Rizal dengan cepat
" Kau ini !!" Wanda menoleh dengan mengomel pada Rizal.
" Jangan marah padanya. dia hanya anak kecil.."Nasehat Denis.
Wanda hanya sekilas menatap Denis. bagaimana hatinya tidak akan luluh pada pria muda disampingnya, jika perhatian dan kasih sayang yang diberikan denis pada Rizal sebegitu kuatnya.
Wanda pun segera menepis fikiran yang sudah melalang entah kemana. ia pun fokus menatap kedepan lagi.
.
.
Turun dari mobil Denis langsung menggadeng jemari Rizal saat memasuki sebuah cafe dimana mereka akan bertemu klien.
"Ya ampun.. mereka sampai melupakan aku ??" Gumam Wanda begitu tak percaya.
layaknya ayah dan anak, keduanya begitu antusias saat memasuki cafe itu hingga melupakan Wanda.
Mereka bertiga berjalan menuju dimana klien mereka yang sudah menunggu.
" Mohon maaf tuan Jakson..membuat anda menunggu.."Denis menjabat tangan klien sang kakak ipar.
" Anda yang menemui saya ya ?? tadi barusan tuan Tio mengatakan jika adiknya yang akan kemari, ternyata anda adiknya tuan Tio" Jakson menerima uluran tangan Dari denis.
" Iya. lebih tepatnya adik ipar."balas Denis dengan senyum keramahannya.
Wanda pun menjabat tangan Jakson seraya menunduk hormat.
" Dia Nona Wanda. orang kepercayaan kak Tio. dia yang akan mempresentasikan beberapa bahan pertemuan kita kali ini." Denis mengenalkan wanda.
" Benarkah ?? maaf sebelumnya tuan Denis, saya fikir dia istri anda. soalnya kalian kemari seperti keluarga yang lengkap."Ucap Jakson tak enak.
"Apa kami serasi ??" Denis malah menanggapi dengan senang.
" tentu saja. Anda pria tampan. dan Nona wanda juga cantik sopan lagi. kalian pasangan yang serasi."Jakson pun tak kalah bersemangat.
Denis terkekeh dengan tanggapan rekan bisnisnya. " Semoga yang anda katakan segera terwujud."Balas Denis.
Wanda mendelik seraya menoleh kesamping dimana Denis duduk.
"apa-apaan ini ?? kenapa malah membahas hal aneh seperti itu ??!!" batin wanda
Jakson pun terlihat tersenyum lebar seraya menggangguk.
"ehemm.. bisa kita mulai ??" Wanda menengahi.
"Silahkan Nona." balas Jakson dengan penuh sopan pula.
Wanda pun memulai aksinya mempresentasikan apa yang hendak dibahas dimitting kali ini.
.
.
Sore hari Riana sudah pulang lebih dulu. sebelum pulang ia juga sudah mengirim pesan pada Wanda jika ia hendak kerumah sakit menemui Willy.
Didalam taksi Riana hanya melamun sampai tak sadar jika ia sudah tiba didepan rumah sakit.
Teguran sopir membuatnya segera turun dan langsung masuk.
Kaki jenjangnya mengarah pada ruangan dimana Willy dirawat, namun saat hampir sampai Riana melihat Dania yang dibawa diatas brankar dengan Tio disisinya.
" Ya ampun.. Dania.." Riana segera menyusul guna ingin tau ada apa dengan teman satunya itu.
" Tuan.. Dania kenapa ??!!" Riana bertanya segera saat sudah dekat.
" Dia pingsan karna terlalu banyak muntah tadi." jawab Tio bernada tinggi.
" Baby.. bangunlah sayang.. sadarlah.." Tio setia menggenggam jemari Dania hingga ia tetap ikut masuk kedalam ruangan penanganan. tak ada dokter yang bisa mencegahnya karna Tio pasti akan mengamuk.
Riana berhenti saat pintu ruangan tertutup. ia juga cukup kawatir dengan keadaan Dania. hingga Riana memilih menuju ruangan willy guna mencari tau kenapa Dania sampai muntah dan pingsan begitu.
" Willy pasti tau alasannnya. aku kesana saja.." Gumam Riana seraya melenggang pergi dari sana.
.