
bab 133
.
.
.
Denis mengedar mencari keberadaan Wanda. Entah mengapa denis seakan terlihat kawatir dengan keadaan wanda yang nampak begitu menahan sesak karna hinaan dua pria tadi.
Tio memilih langsung pergi setelah melihat denis mengejar Wanda. ia juga tidak mau terlalu ikut campur. Tio langsung pergi bersama sopir setelah mengirim pesan pada Denis.
Denis terus menyusuri dimana ia tadi melihat sekelebat dimana wanda berada. dibelakang Cafe disebuah lorong Wanda terduduk dengan menangkupkan wajah memeluk lutut menangis terisak.
Denis membuang nafas lega saat sudah bisa menemukan sekretaris kakak iparnya itu.
Perlahan denis mendekati wanda yang terus dan terus menangis.
Hingga beberapa saat denis masih diam tak menyapa atau bahkan menegur wanda. ia tau betul apa yang dirasakan wanda dengan hinaan dari dua pria tadi.
" Luapkan saja semuanya.. menagislah jika itu bisa membuatmu lega."Ucap Denis lirih seraya memilih duduk disisi Wanda.
Seketika wanda mengangkat wajahnya dan menatap kesisi kanan dimana Denis berada.
" Anda sedang apa disini ??" tanya wanda yang masih sesenggukan.
" Anda sendiri sedang apa Nona ??" Tanya denis balik.
Wanda segera mengusap air mata yang tersisa dikedua pipi dan matanya. " Maafkan saya tuan. pasti anda disuruh tuan Tio. maafkan saya yang tidak profesional." Ucap Wanda seraya menundukkan pandangannya.
" Apa yang membuat anda menangis seperti tadi ??" Tanya Denis tanpa menanggapi ucapan Wanda.
Wanda pun segera berdiri dan membenahi pakaiannya. mengatur nafas agar tak menangis lagi.
" Mari tuan kita masuk lagi.." Ajak Wanda tanpa menjawab pertanyaan Denis.
" Masuk kemana ?? Kak Tio sudah pergi dulu. aku disuruh mengantarmu pulang."Balas Denis yang ikut berdiri.
Wanda terperajak. "Astaga.. tuan Tio pasti marah padaku.." gumam Wanda seraya memejamkan kedua matanya.
Meski lirih tapi denis masih bisa mendengarnya.
" Kak Tio tidak marah. dia hanya mau Anda menenangkan diri dulu. Ayo saya antar pulang dulu."Ajak Denis.
Wanda menggigit bibir bawahnya. "Tidak perlu repot tuan. Saya bisa pulang sendiri. saya permisi.." Wanda hendak pergi namun secepatnya denis menarik lengan Wanda. Wanda yang tak siap cukup terkejut hingga membuatnya sedikit oleg hingga hendak jatuh. Seketika Denis merengkuh pinggang ramping wanda dan menarik menangkapnya.
" aaahhh !!!" Pekik Wanda yang terkejut.
degup jantung dua orang beda usia itu sama-sama memacu cukup cepat apalagi saat mata mereka saling beradu.
Keduanya tersadar saat ponsel Denis kembali.berdering.
Segera Wanda melepaskan diri dari dekapan Denis dan menundukan pandangannya.
Sementara Denis memilih meraih ponsel didalam jas yang ia kenakan. tertera nama Kakak ipar dilayar ponselnya.
" Halo kak.. ada apa ??" tanya Denis saat sudah tersambung.
" Kau masih dengan wanda ??" tanya Tio balik.
" Iya kak. ada apa ??" Balas Denis seraya melirik Wanda yang nampak tertunduk malu.
" kenapa belum diantar pulang ??!!!" Protes Tio.
" Ini sudah mau jalan kak."Balas Denia yang enggan berdebat.
" Bagus. antar pulang saja dia. Katakan saya tidak akan menghukumnya kali ini."Ucap Tio yang langsung mengakhiri panggilannya.
Denis menaruh kembali ponselnya didalam jas. kemudian beralih menatap wanda. "Maaf Nona..saya tidak sengaja tadi. Anda mengenal kakak ipar saya kan, jika saya tidak mengantar anda pulang saya bisa kena marah, mari saya antar pulang." tutur Denis dengan sopan.
" Terima kasih. saya kembali saja kekantor. belum waktunya saya pulang."Balas Wanda dengan jelas.
" anda yakin ??" Denis memastikan.
Wanda nampak menggangguk pelan.
" Baiklah mari." Denis mempersilahkan wanda berjalan lebih dulu. meski nampak canggung Wanda akhirnya menurut.
.
.
.