
bab 152
.
.
.
Sementara dirumah sakit. Willy yang terbangun karna baru saja diperiksa oleh perawat membenahi duduknya. ia mengulas senyum tipis saat melihat Denis masih terlelap disofa panjang,bahkan ia tidak terbangun meski Perawat tadi sempat berbicara singkat dengannya.
Sesekali Denis terlihat mengeliat meski matanya belum mau terbangun.
Hingga Tiba-tiba saja pintu ruang rawat Willy terbuka tanpa diketuk. hal itu sontak mengejutkan Willy yang memang tidak tidur.
Netranya semakin membulat saat melihat bos nya masuk dengan tatapan tak bersahabatnya.
" Tuan.. Nona.." Willy hendak turun. namun baru saja willy akan menurunkan kakinya, Dania segera mencegahnya. "Tidak usah turun !!? Tidurlah saja.. astaga..Willy, kau sampai dirawat begini.."
Tio melipat kedua tangan didepan dada. Ia sangat tidak suka jika istrinya menghawatirkan pria lain.
" Maaf kan saya Nona, Tuan. sebenarnya saya tidak mau dirawat, tapi Tuan denis memaksa saya." Ucap willy menjelaskan.
Dania beralih menatap kearah Denis yang terlelap disofa panjang.
" Jadi benar Denis yang membawamu ?? Lalu apa kata dokter ??" Tanya Dania.
" Baby.. Jangan berlebihan begitu !! lihatlah, dia sudah bisa duduk." Tegur Tio bernada tidak suka.
Hal itu membuat Willy tersadar. "Nona tidak perlu kawatir.. saya sudah lebih baik. sebaiknya Nona membangunkan tuan denis agar dia bisa istirahat dirumah."
" Hubby !!? Jangan membuat Willy takut !!? dewasalah sedikit. !!" Protes Dania pada Tio.
" Kok aku yang disalahkan ??? aku kan hanya bicara fakta, Jika duduk saja sudah tegap begitu berarti sudah akan sembuh !?!" Balas Tio.
Dania mengerucutkan kedua bibirnya. " Kau menyebalkan !!" umpat Dania dengan kesal.
Denis mengeliat seketika saat mendengar perdebatan dari Dania dan Tio.
" Kalian berisik sekali sih ??!!" Tegur Denis suaranya masih terdengar serak khas bangun tidur.
Dania langsung menoleh kearah sofa panjang, bahkan sejak tadi ia tak menyadari jika sang adik tidur disitu. "Denis !! kau ini menunggu orang sakit atau mau pindah tidur ?!!" Balas Dania Seraya berjalan mendekati Denis yang terduduk seraya mengusap matanya beberapa kali.
" Aku tidak tau hati istriku terbuat dari apa. bahkan dia baru mengenalmu, tapi dia sangat kawatir padamu !!? awas saja jika kau sampai macam-macam !!" Ancam Tio ketika Dania sudah sedikit menjauh.
Meski mendapat ancaman, hal itu malah tak membuat willy marah atau takut. melainkan ia cukup bahagia. Bosnya juga tengah menghawatirkannya, namun begitulah dramanya, Tio akan berkilah dan mengatakan tentang orang lain sebagai perumpamaan.
" Anda tenang saja tuan. setelah ini saya akan lebih berhati-hati." Balas Willy.
" sembuhlah dulu !! jangan kebanyakan janji." Timpal Tio
Dania yang sudah didepan sang adik tanpa permisi segera menarik telinga Denis.
" Aww !!! kakak !!! kenapa menarik telingaku !!!" Ronta denis.
" Rasakan kau anak ayam !! Kau tau, mama menghawatirkanmu sejak pagi tadi, Jika ingin tidak pulang itu kabari mama !!! Jadi begini kelakuanmu saat dirumah berdua dengan mama ??!!! kau tidak kasihan mama dirumah sendiri, hah ??!!!" Omel Dania.
" Kakak !!! Telingaku bisa putus kalau seperti ini !!!?? dengarkan penjelasanku dulu.." Balas Denis membela diri.
" penjelasan apa ??!! kau mau gunakan Willy ??!! begitu ??" tuduh Dania
" Bukan ?!!! aisshhh.. Lepaskan dulu, Aku tau suamimu kaya kak, tapi jika telingaku putus kau mana bisa mengganti telingaku !!!???" Kembali Denis meronta.
Willy yang melihat merasa tak tega dengan kondisi Denis. Sementara Tio hanya menjadi seorang penonton saja.
" Nona..tolong jangan marahi Tuan Denis..dia tidak salah.." Ucap Willy mencoba menghentikan.
"Aku hanya sedang menghukum dia Willy, supaya lain kali dia mengabari mama kami !!" Balas Dania seraya melepaskan telinga Denis.
sembari meringis Denis memegangi telinganya. "Jika bukan kakakku aku sudah melaporkanmu kak Dania.." Gumam Denis yang memilih menuju kamar mandi saja.
.
.