Dania Strong Women and Single Moms

Dania Strong Women and Single Moms
Belum datang



bab 153


.


.


.


Selesai membersihkan diri Denis berpamitan dengan Willy untuk kekantor. Drama diomeli sudah usai setelah sang kakak menginginkan makanan sesuatu.


" Will. aku kekantor dulu ya ?? kau jangan pergi dulu kalau dokter belum mengizinkan. tenang saja, Kak Tio faham kok bagaimana keadaanmu."Ucap denis seraya membenahi sepatunya.


" Terima kasih tuan.. anda begitu baik sekali.." Balas Willy


" Wil ?!! aku sudah bilang jangan panggil aku Tuan." Protes denis.


" Ya sudah.. tidurlah dan beristirahatlah," Denis segera keluar menuju pintu.


Willy hanya menjawab dengan anggukan saja. sebab Denis sudah lebih dulu pergi.


.


.


DiKantor Tio, Riana dan Wanda hendak memulai pekerjaan mereka. melanjutkan membuat laporan-laporan.


dengan setumpuk berkas ditangannya, wanda menuju ruangan Riana, Separuh ia langsung letakkan di atas meja Riana.


" Tuan Tio sudah datang belum ya ?? aku mau minta tanda tangannya."Tanya Wanda


" mana aku tau.. kau ini kenapa menambahi pekerjaanku terus ??!!" protes Riana.


" Sedikit. pagi ini aku harus menemani tuan Tio menemui klien lagi. huh..sebenarnya aku ragu Ri.." curhat Wanda.


" Kenapa ?? takut bertemu mantan tamumu dulu ?? mana semangatmu dulu Wan !!" Balas Riana yang memilih menyudahi pekerjaannya sebentar.


" Entahlah. aku hanya tidak mau nama tuan Tio jelek nanti."kata Wanda seraya berpangku dagu.


" Kemarikan, aku yang keruangan tuan Tio saja !! kau terlalu banyak berfikir.." Riana merampas berkas ditangan Wanda.


" Terima kasih.." Wanda terlihat cengengesan dengan bantuan Temannya itu.


Riana hanya mendegus pelan lalu segera melangkah keluar.


" Jadi tuan Tio belum datang ?? tumben sekali ??" Gumam Riana.


ia pun meraih ponselnya dan segera menghubungi bos besarnya.


cukup lama, akhirnya panggilan terhubung.


"halo.. tuan selamat pagi.." sapa Riana dengan sopan.


" Ada apa ?!!" Tio menjawab dengan sangat tegas. Riana hampir saja terperajak, sebab Tio seperti orang yang tengah kesal terdengar dari suaranya.


" Em..itu, saya mau minta tanda tangan tuan, Tuan belum akan berangkat ??" Tanya Riana dengan ragu.


" bawa saja kerumah sakit Merdeka. aku ada disana."Setelah berkata demikian, Tio langsung mengakhiri panggilannya.


Riana pun kebingungan. rumah sakit ?? siapa yang sakit ?? Riana langsung turun kebawah dengan sedikit berlari, ia kawatir jika Dania ataupun Davi yang tengah dirawat, Riana sampai lupa tak memberitau Wanda, ia langsung memesan taksi dan segera pergi.


.


.


Didepan rumah sakit dimana Willy dirawat, Ada sebuah rumah makan sederhana yang menjadi tujuan Dania yang ngidam menginginkan makan Nasi goreng pete.


Meski Tio tak menyukai aromanya, namun demi sang istri akhirnya Tio pasrah dan menurut saja.


"Hubby.. kau tidak suka dengan makanan yang aku pesan ??" Tanya Dania saat sadar Suaminya nampak tak berselera.


Tio menghela nafasnya dengan cukup berat. "Aku masih kenyang baby..kau habiskan saja ya ??" balas Tio selembut mungkin.


" Kau mau aku gendut ??!! milikku saja belum habis, bagaimana menghabiskan punyamu juga !!!" Protes Dania nampak kesal seketika.


" bukan begitu sayang..Kan kau yang menginginkan makan nasi goreng ini.. tadi sarapan aku sudah terlalu banyak makan."Tio mencob Menjelaskan.


Meski dengan cemberut, Dania hanya bisa membuang tatapan kearah lain dan melanjutkan acara makannya.


Tio kembali bernafas lega, setidaknya Dania tidak marah-marah lagi. Ia harus ekstra bersabar menghadapi istrinya yang saat ini hamil anak kedua mereka.


.


.