
bab 80
.
.
.
Pintu besar yang menjadi jalan utama Dania untuk keluar menuju ruang dimana Ijab kabul akan dilakukan perlahan terbuka.
Dada Dania bergemuruh tak karuan. semua serba cepat, tanpa ia duga sama sekali dan tanpa persiapan pula. Beberapa kali Dania mengatur nafas agar rasa grogi yang kini menyelimuti dirinya sedikit berkurang.
Davi mendongak keatas menatap sang Ibu yang nampak begitu tegang. "Ibu kok tidak senyum ??" tanya Davi.
Seketika Dania menerbitkan senyum seraya menatap Davi.
Disisi lain Dania juga ada wanda yang bisa merasakan dinginnya jemari Dania yang ia pegang.
" Tenanglah Dania..Kenapa kau nampak tegang begitu ??" Bisik Wanda.
" Ini tanpa persiapan. aku harus bicara apa nanti disana" balas Dania.
" Ijab kabul hanya akan ditanya iya dan tidak to.." timpal Wanda.
" shuut !! pintu sudah terbuka." Tambah Riana mengingatkan kedua temannya itu.
Semya tamu undangan menatap pintu besar yang terbuka dan memperlihatkan mempelai wanita, pandangan semua tamu pun tertuju pada Dania,
Nampak semua tamu undangan sudah duduk ditempat mereka, Netra Dania kembali disuguhkan sebuah Dekorasi indah penuh dengan bunga dan kupu-kupu dimana ijab kabul akan dilaksanakan.
" Astaga Tio..kapan kau menyiapkan semua ini.." batin Dania yang tak bisa membayangkan bagaimana kekasihnya itu mempersiapkan semua itu.
Wanda membawa Dania duduk disisi Tio yang sudah siap terlebih dahulu dihadapan Penghulu.
Davi pun juga dipersilahkan duduk disisi sang Ibu.
Tio sedikit melirik Dania yang nampak kebingungan dengan semua yang terjadi. "Kau pasti bingung Daniaku.." batin Tio. Sunggingan senyum tipis terlihat diwajah Tio, namun buru-buru ia menyudahinya. karna Acara sakral yang telah ia tunggu akan segera dimulai.
" Sudah bisa dimulai ??" tanya penghulu saat semua Telah sempurna.
" Iya pak silahkan." balas Attalah yang menjadi pendamping Tio.
Dania tertunduk. entah mengapa ia teringat papa dan mamanya yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.
Air mata juga tiba-tiba menetes dikedua pipi Dania, seharusnya dipernikahannya ia ditemani keluarga yang begitu ia rindukan. namun apalah daya, kesalahannya dulu telah membuat Dania diusir dan tidak diakui oleh keluarga besarnya.
Tio yang sadar Dania mengusap air matanya segera menoleh menatap dania. menggenggam jemari Dania yang tertopang dibawah.
" Jangan sedih. mereka akan datang." ucap Tio lirih.
sontak Dania menatap Tio yang terus tersenyum padanya.
Tio menganggukkan kepala seolah tau maksud Dania.
hentakan suara sepatu terdengar masuk kearea ruangan ijab kabul, membuat Dania dan semua tamu undangan menatap kesana. nampak Pria tampan yang masih muda, menuntun Wanita paruh baya berjalan memasuki altar.
Beberapa air mata lolos seketika dari mata Dania kala melihat siapa yang berjalan menuju tempat dimana ia duduk.
wanda Dan riana saling tatap dan menerka-nerka. " Apa mereka keluarga Dania ??" terka Wanda.
" aku rasa iya. tapi pria itu masih muda sekali.." balas Riana.
" mama.." gumam Dania dengan suara bergetar.
Tio segera berdiri dan menyambut wanita paruh baya yang disebut mama oleh Dania.
Segera Tio mencium tangan calon mertuanya itu. "Selamat Datang mama..Terima kasih kalian sudah berkenan hadir menjadi saksi pernikahan kami." ucap Tio dengan penuh sopan.
Wanita paruh baya itu amat terharu dan mengangguk pelan seraya kembali menatap Dania.
Perlahan wanita itu membuka tangan seolah meminta Dania memeluknya, Nampak sekali tumpukan kerinduan dimata wanita paruh baya itu.
" Mama.." Dania yang tak kuasa menahan kerinduan yang juga telah menggunung segera berlari mendekati sang mama saat sudah dekat, Dania mengangkat tangan yang nampak bergetar itu, memegangi pipi wanita paruh baya yang berada tepat dihadapannya.
" Mama.." panggil Dania lagi. ia benar-benar tidak sedang bermimpi.
" Iya Dania.. ini mama Nak.. mama.." balas wanita itu yang menarik dania dalam dekapannya.
.
.