
bab 67
.
.
.
" mbak Dania.. apa kabar.." sapa Ibu sarah dengan senyum keramahannya. saat Dania masuk dari pintu.
" Ibu sarah.. kabar baik buk, Ibu bagaimana dengan keluarga ??" tanya Dania balik.
" kami baik juga mbak. silahkan duduk. Wah..hari ini benar-benar tidak saya duga, saya kedatangan tamu.." ucap Ibu sarah.
" maaf buk sarah jika kedatangan Davi mungkin membuat Ibu sarah tidak nyaman." tutur Dania.
" Tentu saja tidak mbak. Saya senang malahan." timpal Ibu sarah.
Tak lama Tio nampak hendak masuk tak lupa ia memberi salam terlebih dulu.
" Oh..tuan.. silahkan duduk." Ibu sarah mempersilahkan Tio duduk.
Netra Tio menelisik mencari Putranya berada.
" anda mencari Davi ya tuan ??" terka Ibu sarah.
" Iya. dimana dia ??" tanya Tio.
" ada diruang tengah bermain dengan Fania. ditemani bibi Sumi juga."terang Ibu sarah.
" oh.. iya." balas Tio singkat yang kemudian memilih duduk.
" Ayah...Ibu.." Davi yang mendengar suara Ibu dan Ayahnya buru-buru berlari keluar dan menghambur mendekati kedua orangtuanya.
Orang pertama yang dipeluk Davi adalah sang ayah.
" Wah.. anak Ayah senang sekali ya main.." ucap Tio.
" Iya. Ayah sama Ibu dari tadi ya ??" tanya Davi.
" Tidak. baru saja." balas Tio yang tak lupa mengecup kening Davi.
Ibu sarah bisa melihat kedekatan yang sangat intim antara bapak dan anak itu.
Tak lama Fania keluar perlahan dengan wajah pucatnya.
" Hay Fania..kau cantik sekali sayang.." sapa Dania.
" Hay bibi.." balas Fania yang duduk disisi sang Ibu
" Kenapa Fania pucat sekali buk sarah ??" tanya Tio saat sadar Teman anaknya itu sangat pucat.
" Ayah.. dia juga sakit. Katakan pada om dokter baik suruh obatin Fania juga." pinta Davi seraya memberitau keadaan Fania.
" Iya tuan. putri saya memang sakit. tapi berbeda dengan Davi, Putri saya terkena kanker darah." terang Ibu sarah.
" Ya ampun.. benarkah ?? Kanker ??" Tio amat terkejut.
" iya..Sejak usia Dia 4 tahun."balas Ibu sarah.
"Apa tidak melakukan kemo atau pengobatan ??" Tanya Tio.
" Pengobatan pastilah.." timpal Dania.
" Kami terkendala Biaya tuan. Ayahnya Fania hanya pekerja pabrik biasa." balas Ibu sarah.
" kasihan sekali.." ucap Tio lirih.
" Ayah.. beritau om dokter baik. suruh ngobatin Fania ya ??" pinta Davi.
" hmm.. baiklah. ayah akan beritau om dokter nanti." balas Tio
" Tuh kan Fania.. Ayahku baik.. kau juga akan sembuh sepertiku.." Davi membanggakan sang Ayah
Namun Fania hanya membalas dengan senyuman saja. Fania sangat tau sakit mereka sangatlah berbeda.
.
.
.
Disepanjang perjalanan pulang Davi yang kelelahan sudah tertidur dipangkuan bibi sumi.
Dania juga nampak lelah seharian ini mereka berkeliling ditempat orang-orang yang kesusahan.
" apa yang kau fikirkan lagi..??" tanya Tio pada Dania
" Tidak..aku hanya merasa selama ini kurang bersyukur." ucap Dania.
" kenapa bicara begitu ??" Tanya Tio lagi
" Iya.. selama ini aku selalu merasa.. menjadi orang paling sial didunia. hidup sulit diusia muda, Melahirkan anak sendiri dengan kondisinya yang istimewa, Aku fikir penderitaan yang aku alami adalah yang tersulit dari semua orang dimuka bumi ini. Nyatanya, Diluar masih banyak yang mendapat ujian lebih berat dari aku. dan mereka sangat tegar sekali.."Terang Dania.
Jemari Dania digenggam erat oleh Tio. "Maafkan aku yang dulu membuatmu sulit. Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk kalian."
" Buktikan saja. karna aku sudah tidak percaya pada janji." balas Dania seraya menatap Tio dengan senyum tipis menghias wajahnya.
"Iya Dania..aku akan segera membuktikan. aku akan segera meresmikan hubungan kita."batin Tio yang juga membalas tatapan Dania.
.
.
.