
bab86
.
.
.
Seakan tak ingin mengulur waktu, Tio tak berhenti bergerilya diatas Tubuh Dania. ia pun juga mulai membuka jas dan kemejanya.
Nafas keduanya memburu dengan senyum yang terus menghias diwajah keduanya. Dan lagi Tio meraup bibir Dania lagi.
Bahkan Dania dibuat menggelincang diatas ranjang kala Lidah Tio menyusuri leher hingga tubuh Dania. keduanya juga telah melucuti pakaian masing-masing tanpa sehelai benang pun.
" Aahhh sshhtt.." Dania menggigit bibir bawahnya saat merasakan geli dan tubuhnya meremang saat Ia sudah berada Dalam lautan asmara Buaian Tio.
" Aku sangat mencintaimu Dania.." Bisik Tio yang siap memasuki Dania kembali.
Dania menggigit bibir bawahnya saat Deru detak jantungnya tak menentu. kenangan dimana mereka melakukan pertama kali dulu tiba-tiba terbesit dibenak Dania.
Rasa sakit yang dulu Dania rasakan saat pertama Tio memasukinya ikut timbul. Dania nampak tegang sekali saat bayang-bayang ingata itu kembali menari-nari diotaknya.
Tio mulai mengarahkan senjata andalannya, namun secepat pula Dania menahan Dada Tio. "Tio..tunggu !!"
" Ada apa sayang ?? kau belum siap ??" tanya Tio suaranya amat parau, bahkan matanya nampak memerah akibat kubangan na f su yang sudah menguasai dirinya.
" Tio.. apa..apa.. akan sesakit dulu ??" tanya Dania dengan ragu.
Tio menerbitkan senyum dan mengecup kening Dania dengan penuh kelembutan.
" Aku akan melakukan dengan perlahan. seperti dulu.." balas Tio yang selalu bisa membuat ketegangan Dania memudar.
Tak mau mengulur waktu, Tio menyambar bibir Dania lagi dengan mengarahkan senjatanya. agar Dania tak kesakitan.
Dania memejamkan mata kala senjata Tio terbenam sempurna dilembah kenikmatan miliknya.
sumpah demi apapun, Dania benar masih merasakan sakit lagi.
Namun Tio pandai sekali mengalihkan perhatian Dania. ia terus menghujani Dania dengan cumbuan penuh cinta, hingga lama kelamaan Dania pun mulai menikmati permainan Tio.
Kamar temaram itu sudah dipenuhi lenguhan dan ******* dari dua anak manusia yang saling merindu satu sama lain. mencurahkan semuanya dimalam kedua mereka.
Hingga Saat Tio berhasil menyemburkan kembali bibit-bibit kehidupan pada Dania, lenguhan panjang sebagai akhir dari penyatuan mereka.
.
.
.
" Loh.. kok Davi tidak tidur-tidur ?? ini sudah malam loh sayang ??!" ucap Denis.
" Tapi Davi mau menunggu ayah dan ibu." balas Davi.
" kenapa ditunggu sayang ?? besok kan pasti ketemu Ibu dan Ayah." timpal Denis.
" Mau sama Ayah dan Ibu Paman.." Rengek Davi. entah mengapa malam itu Davi sulit diajak bicara. mungkin efek kelelahan atau karna memang tidak tau ada apa dengan orangtuanya.
Denis menggaruk rambutnya ia bingung akan bagaimana. " aduh.. mama pasti juga sudah tidur.. tidak mungkin aku membangunkannya ??!!" gumam Denis yang terus memutar otaknya mencari solusi.
" Ayah.. Ibu.." rengek Davi yang hampir mengamuk. Davi juga terlihat hendak menjambak jambak rambutnya lagi.
" Eh.. sayang jangan begitu..Nanti sakit loh.. Tenang ya ??" Denis berusaha menenangkan Davi.
" Mau Ayah.. Mau Ibu.. aaahhhh...!!" Davi semakin histeris hingga Denis kuwalahan dibuatnya.
Tanpa sengaja Riana yang hendak beristirahat karna pekerjaannya sudah selesai tak sengaja mendengar jeritan Davi yang berada dikamar Denis. Bahkan denis sampai terlupa.menutup pintu dengan rapat, Hingga Riana bisa mendengarnya.
" Suaranya Davi.." gumam Riana. yang sadar Davi memiliki keterbatasan segera Riana berlari masuk kekamar Denis tanpa mengetuk.
Riana membulatkan mata saat melihat denis tertunduk dibawah karna Davi berteriak dan membuang bantal kemana-mana.
" Astaga Davi.." Riana buru-buru menghampiri Anak temannya itu.
" Bibi.. mau Ayah.. mau Ibu.." Davi terus mencari apapun untuk dilempar.
" Kak.. tolong aku.." Pinta Denis yang tidak tau akan bagaimana.
Riana mendegus kesal dan mencoba mendekati davi. "Davi sayang.. Davi tenang ya.. Kan ada bibi disini.. Ayo sayang.. kemarilah.."
" bibi peluk.." Pinta Davi. Riana menerbitkan senyum saat Davi mulai.bisa mendengarkan kembali.
Riana langsung memeluk Davi dengan belaian penuh kasih sayang. Davi pun mulai berangsur membaik, bahkan histerisnya juga sudah berhenti. "tenang ya.. ada bibi disini.. nanti bibi peluk kalau tidur.."
" Tidur bersama Paman juga ya.. biar kaya Ibu dan Ayah Davi ??" Pinta Davi.
Riana membulatkan mata begitupun dengan Denis. mereka saling tatap bingung akan menjawab apa.
.
.
.