
bab 55
.
.
.
Meski tak terlalu dalam, tapi Dania mendapat beberapa jahitan dibekas pisau yang mengenai lengannya.
Saat melihat Dokter dan para perawat keluar, buru-buru Tio memberondong tenaga medis itu.
" Bagaimana istri saya ??" tanya Tio.
" nona sudah saya tangani tuan. lukanya juga tidak terlalu dalam."balas sang dokter.
" tidak terlalu bagaimana ?? apa matamu buta ?!! darahnya keluar banyak sekali !!!" protes Tio.
" Iya tuan. tapi sekarang sudah tidak keluar lagi darahnya. wajar saja keluar darah banyak, karna tusukan benda tajam dikulit." balas sang dokter lagi.
" Minggirlah !!" Tio dengan kesal menerobos dokter dan langsung masuk kedalam. kekawatirannya tidak akan mereda sebelum melihat keadaan Dania secara langsung.
Didalam Dania perlahan hendak turun dari tempat tidur brankar rumah sakit sembari memegangi lengannya.
Tio yang melihat hal itu buru-buru berlari mendekat dengan posesifnya.
" Apa yang kau lakukan ?? kau mau kemana ??" tegur Tio seraya memegangi tubuh Dania.
" Tentu saja keluar dari ruangan ini !! kau kenapa sih ??!!" balas Dania keheranan dengan Tio.
" Kau ini bagaimana, tanganmu saja masih seperti ini kenapa kau mau keluar ??!!" Tio segera mencegah Dania dan meneliti luka dilengan Dania yang telah diperban oleh sang dokter.
" Tio.. aku tidak apa-apa. lagian lukanya tidak begitu dalam juga" tutur Dania.
" tetap saja sakit. kau mengeluarkan darah Dania.." balas Tio.
" Jangan selebay itu. oh ya, Bagai mana riana ??" Tanya Dania saat teringat Temannya tadi yang sempat dibekap menggunakan bantal.
" Dalam kondisi seperti ini yang kau fikirkan malah temanmu ??!! lihatlah, kau sendiri terluka karna dia !!" tegur Tio yang tak habis fikir dengan Dania.
" Tapi dia sedang lemah Tio, kau tidak tau kan Widi sialan itu mau membunuh Riana !!!? bagaimana bisa aku tidak memikirkan dia ?!!?" timpal Dania.
" Aku tau itu, tapi setidaknya fikirkan dulu dirimu, belum tentu jika kau yang terluka temanmu akan sekawatir ini !!" Balas Tio.
" kenapa kau jadi meragukan teman-temanku ??!!" Dania mulai terpancing emosinya
" bukan meragukan. tapi sebelum kau memikirkan orang lain, fikirkan dulu dirimu, Lihatlah ini kau terluka, apa kau tidak ingat anakmu ?!! jika sampai davi melihat lukamu bagaimana ?!! Bahkan matamu buta sampai tidak melihat aku yang begitu menghawatirkanmu !! Kita memang harus menolong teman jika mereka membutuhkan, tapi kita juga harus menjaga diri yang begitu disayangi banyak orang, " terang Tio dengan serius. Tio memilih memutar tubuhnya, ia tidak mau sampai emosi juga.
Dania mendegus kesal saat Tio langsung pergi tanpa mendengar ucapannya.
Jujur dihati dania merasa tidak enak pada Tio. yang dikatakan Tio tidak semua salah. hanya ego Dania saja yang belum bisa turun dari tempatnya. Segera pula Dania keluar dari ruangan itu.
Dan benar saja. baru keluar dari ruangannya dua pria berpakaian hitam menyambutnya dengan sopan.
" kalian siapa ??" tanya Dania.
" Kami diperintah Tuan Tio untuk menjaga nona." jawab salah satu pria itu.
"dia serius dengan ucapannya..??" batin Dania. yang langsung melangkah menuju ruangan Riana.
Netranya kembali menangkap beberapa pria dengan setelan senada serba hitam seperti yang mengekor dibelakang Dania berlalu lalang dan beberapa sudah siap berdiri didepan ruangan Riana.
" Kalian juga suruhan Tio ??" tanya Dania. pada penjaga didepan ruangan rawat Riana.
" iya nona." balas salah satu.
Dania membuang nafasnya dengan kasar. ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya. tapi kenapa harus sebanyak ini ?? Dania terus berkutat dengan hati kecilnya. seraya masuk kedalam.
Wanda nampak sudah didalam dan segera menghampiri Dania saat melihat Dania masuk.
" Dan.. Riana bilang kau terluka ??" Wanda memberondong Dania dengan pertanyaan.
" hanya luka kecil. Ri. kau baik-baik saja kan ??" tanya Dania pada Riana
" aku baik Dan, terima kasih sudah menolongku."jawab Riana masih dengan suara lemah
" Dan. Tuan Tio benar-benar menjagamu, dia memerintahkan semua anak buahnya menjaga rumah sakit ini." ucap Wanda.
" Iya. kau beruntung Dan. aku bisa melihat emosi tuan Tio tadi saat menghajar widi yang melukaimu." tambah Riana
" dia terlihat tulus." tambah riana lagi.
Dania tak bergeming saat kedua temannya membicarakan Tio, ia tak tau harus berkata apa. rasa bersalah kembali muncul dihati Dania.
.
.
.
.
.