
bab 78
.
.
.
Dania menutup kotak p3k dengan kasarnya, seolah meluapkan kekesalannya pada Tio.
" Jangan cemberut terus dong, nanti cantiknya hilang." goda Tio.
" ha..ha..ha..Aku geli sekali.." Seketika Dania menatap tajam Tio. "Bahkan aku akan menjadi tua seketika jika kau terus seperti ini." ucap Dania dengan serius.
Tio terkekeh saat melihat betapa lucu Dania. " baiklah aku akan bayangkan bagaimana saat kau tua nanti." Tio menopang dagu seraya mendekatkan wajahnya pada Dania.
" kau menyebalkan !!!" Dania buru-buru berdiri dari duduknya dan pergi. Ia tidak akan sanggup jika bertatap muka terlalu lama dengan Tio.
Tio tertawa seketika saat melihat sekilas wajah Dania yang memerah.
.
.
.
Sinar mentari belum menampakkan diri, Dania juga masih nampak terlelap diranjangnya.
namun tiba-tiba, terdengar suara tembakan yang mengejutkan Dania.
dorrr !!!
Dania langsung terperajak bangun. Tanpa berfikir apapun, ia langsung keluar dari kamar. sebab yang ia fikirkan adalah davi, Davi bisa histeris jika mendengar suara tembakan seperti itu.
Dania tak panik ia nampak waspada dengan cahaya lampu temaram diluar.
" Kemana yang lain ?? apa tidak dengar suara tadi ??" gumam Dania sendiri.
Hening sepi tak ada suara apapun. Segera pula Dania menuju kamar Davi.
dengan penuh hati-hati Dania membuka pintu kamar Davi lalu segera masuk. baru saja Dania akan menutup kembali pintu kamar Davi, Mulut Dania sudah dibekap dengan sapu tangan.
" mmppttt !!!" Dania meronta dengan sekuat tenaga. namun lama-kelamaan kesadarannya hilang. Dania pingsan dan hampir terjatuh, segera pula yang membekap mulut Dania tadi membopong tubuh Dania keluar dari kamar Davi.
.
.
.
Tio berdiri tegap didepan cermin besar yang memperlihatkan dirinya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Tuxedo putih yang ia kenakan sangat pas dan menyatu dengan kulitnya. Seolah tak percaya jika yang dicermin adalah dirinya, Tio beberapa kali merubah posisi berdirinya.
Tio
" Memangnya kenapa ??!! ini hari spesialku, kau iri ya ??" Balas Tio.
" Cih.. aku sudah pernah. tapi aku tidak selebay dirimu !!" timpal Attalah.
" Kak Hans pasti senang jika ia disini."ucap Tio tanpa sadar.
Mendengar itu, Attalah mendekati Tio dan membalikkan tubuh Tio agar menghadap dirinya.
" Kau adik terbaik yang dia punya. Dia selalu senang dan akan bahagia karna kau tidak sendiri lagi. Selamat ya, akhirnya kau menikah juga, wanita yang begitu kau harapkan akan resmi menjadi istrimu." ucap Attalah penuh ketulusan.
Tio mengembangkan senyum seketika dan meraih tubuh Attalah lalu mendekapny.
bagi Tio, Attalah adalah satu-satunya keluarga Tio.
" Terima kasih..terima kasih.." balas Tio lirih
" hey jangan terharu segala !! Kau tidak cocok dengan hal-hal seperti itu.?" Canda Attalah.
Tio mengangguk dengan cepat seraya melepas pelukannya. tak lupa ia tertawa kecil dengan Candaan Attalah barusan.
" Bagaimana dengan dania ?? apa dia sudah siap ??" tanya Tio saat teringat mempelai wanitanya.
" Entahlah. jika sudah siap akan ada yang kemari memberitau."balas Attalah.
" aku tidak bisa membayangkan ekspresi dia saat melihat semua ini." ucap Tio
" Aku yakin kau tidak akan mendapat malam kedua." Balas Attalah.
" enak saja. tentu dapat dong !!" timpal Tio.
" Dania akan marah karna kekonyolanmu yang menculiknya, Dilihat dari sifatnya,Dania pasti marah." Attalah menerka.
" Itu hanya fikiran negatifmu saja !! aku kan hanya mau memberinya kejutan."timpal Tio lagi.
" Ha..ha..ha.. aku baru tau kejutan pake acara penculikan segala." Attalah tertawa lepas dibuatnya.
" Ayah.." panggil Davi yang sudah rapi dengan setelan jas senada pada warna jas yang dikenakan Tio.
Davi
" Hey.. anak Ayah tampan sekali.." Balas Tio yang langsung menggendong Davi
" Ayah tampan juga." balas Davi.
" tentu. ayah kan akan menikah dengan Ibu." ucap Tio.
" Menikah ?? menikah itu apa yah ??" tanya Davi.
Tio bingung hendak menjawab apa. ia melirik Attalah yang menyunggingkan senyum mengejek padanya seraya menjulurkan lidah.
.
.