The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 97 - 5 hari lagi



            Tubuh Han Ling tersentak, bagai tersengat listrik,


terdiam sesaat. Han Ling kembali tersenyum lembut, membelai wajah Xue Ling,


mengecup bibir mungil itu “apakah ini balasan atas perbuatanku ?” Xue Ling


membuka mata, melihat Han Ling, ada senyum miring muncul di wajahnya “balasan


kecil untuk Han Ling Shen Jun…” Han Ling ikut tersenyum miring dan mengangguk


“baik, aku sudah tahu…”


            Xue Ling mengangkat wajah Han Ling yang menunduk,


memandangnya dengan mata berkaca-kaca “Han ge, akan ada suatu saat, kau


menemukan seorang wanita yang lebih baik dariku, yang bisa menggenggam tanganmu


selamanya. Sampai saat itu… aku…” kata-katanya tercekat, setetes air mata turun


dari wajahnya, berusaha tersenyum “sampai saat itu, lupakanlah aku…  aku hanya seseorang yang mampir ke hidup


anda…” menatap mata Han Ling yang juga berkaca-kaca.


            Han Ling memegang tangan Xue Ling, mengecupnya “Han ge,


Han Ling Shen Jun, maaf… demi keegoisanku sesaat sudah mengambil waktu berharga


anda, maaf… selanjutnya…. Selanjutnya, aku tidak akan seegois itu lagi…” Xue


Ling menunduk. Han Ling menatap kepala Xue Ling, memasukkannya dalam pelukannya


“baik…” mengelap air matanya sendiri “baik Xiao Xue, aku menerimanya… akan


memberikan waktu berhargaku untuk menemani langkahmu sampai akhir…” mengecup


kepala Xue Ling.


            Han Ling mengangkat kepala Xue Ling, menggeleng, mengelap


air mata Xue Ling “Xiao Xue, aku menerima kata-katamu… tidak perlu minta maaf,


ini adalah pilihanku sendiri… jangan menangis lagi, matamu sudah bengkak…


menangis lagi tidak akan cantik…” tersenyum lembut mengelap air mata Xue Ling “sudah


bisa ?” bertanya dengan lembut, Xue Ling mengangguk. Semua berkaca-kaca dan


sempat mengelap air matanya, mendengar kata-kata Xue Ling.


            Melihat anggukan Xue Ling, Han Ling berdiri dan duduk di


sisi Xue Ling “mulailah !” Xue Ling menatap semua, menghela nafas “Permata Nila


sudah siap !” mengeluarkan beberapa kata tanpa penjelasan. “Jie, kapan kau akan


membawanya ke Pohon Bodhi ?” Shui Ling bertanya dengan serius. “dalam beberapa


hari ke depan” Xue Ling menjawab spontan.


            Semua saling melihat “bagaimana dengan Permata Merah ?”


Huo Ling bertanya. Xue Ling menggeleng, ada muncul harapan kecil di hati semua


“kalian semua sudah mengetahuinya ! Permata Merah bukan didapatkan tapi


ditumbuhkan !” semua menegang kembali mendengar kata-kata Xue Ling “Shen Zun,


anda sudah tahu dimana keberadaan Permata Merah ?” Xin Lan bertanya.


            Xue Ling menggeleng “aku tidak tahu, tapi…” semua menahan


nafas mendengar kata-kata Xue Ling “aku memiliki perasaan Permata Merah itu


akan muncul sesaat lagi !” “Jie, apa ?” Huo Ling ingin bertanya, tapi tidak


tahu bagaimana memulainya.


            Xue Ling tersenyum “Huo, aku tidak pernah memikirkan yang


terjadi di masa lalu. Ramalan-ramalan yang ingin kalian jadikan alasan atau


batu loncatan itu sama sekali tidak berarti untukku” “Jie, kau tahu ramalan itu


?” Huo Ling terkejut, langsung bertanya. Xue Ling menggeleng “aku tidak tahu !


yang kuketahui hanyalah yang kalian katakan dengan ramalan itu, berhubungan


dengan energi murni dan ketujuh Permata aura.”


            “Jie, apa kau tidak mau tahu ramalan itu ?” Shui Ling


bertanya. Xue Ling menggeleng “tidak tertarik !” “jadi apa yang membuat anda


tertarik ?” Wei Jiang bertanya. Xue Ling tersenyum “sebenarnya, yang kalian


khawatirkan itu hanyalah jalanku untuk melarikan diri dari yang kalian katakan


tanggung jawab. Huh, aku ini paling tidak suka terkungkung…”


            “jadi anda mencari cara untuk terlepas dan berhasil


mengetahui kekuatan Permata-Permata itu, hingga anda memutuskan untuk


menggunakan ketujuh Permata Aura untuk menggantikan anda menjalankan tanggung


jawab Shen Zun ?” Cheng Mei berbicara dengan nada candaan. Xue Ling mengangkat


dagunya dan mengangguk “haih aku memang mengetahui anda sangat nakal, tapi


nakal hingga seperti ini… hmm…” Cheng Mei menggeleng-gelengkan kepalanya.


            “nakal hingga mengorbankan nyawa… hmm… sungguh hanya anda


acuh tak acuh “kau suka berdiam di Bei Hai, ya disana saja !” Xin Lan mengambil


tangan Xue Ling “Shen Zun, kami menyukai Bei Hai karena menganggap disana


adalah rumah kami. Anda sedang mencari rumah anda kan ?” Xue Ling menatap Xin


Lan, tidak menjawab.


            Xin Lan mengangguk “Shen Zun… seperti yang sudah


dikatakan sebelumnya… apapun yang anda fikirkan dan inginkan, lakukan saja…


kami akan menemani anda hingga langkah terakhir… hanya meminta anda, jangan


menghalangi kami melakukannya…” Xue Ling tersenyum dan mengangguk.


            Xue Ling berbalik, tidak menatap semua “jika kalian sudah


yakin, 5 hari lagi, kita akan bertemu di Pohon Bodhi…” “Jie…” Shui Ling hanya


memanggil. Xue Ling tidak berbalik “Shui, aku tidak tahu apa yang terjadi saat


penyatuan Permata Nila… saat menyatukan kedua permata sebelumnya, dampaknya


sudah sangat besar… aku sendiri tidak tahu kali ini akan sanggup atau tidak…”


berbicara dengan suara pelan. Semua mendengar kata-katanya dengan seksama,


tidak memotongnya, membiarkan Xue Ling menyelesaikan kata-katanya.


            Xue Ling mengangkat kepala dan membusungkan dadanya,


berdiri tegak “Aku memiliki perasaan, pada penyatuan kali ini akan terjadi


sesuatu… dan aku…” berbalik menatap semua, tersenyum sedih “aku sudah tidak


bisa kembali !” kata-katanya membuat semua terpana melihat Xue Ling.


            Xue Ling menghampiri Han Ling, memegang pundak Han Ling,


menatap mata Han Ling “entah Permata Merah akan muncul atau tidak, aku akan


melakukannya semaksimalnya. Setelah 6 permata berhasil disatukan, akan sangat


susah menemukan kekuatan yang sanggup menghancurkan dan memisahkannya. Tanpa


Permata Merah pun, kekuatan ke 6 Permata sudah sanggup menopang ketentraman Si


Hai Ba Huang. Ini akan memberikan waktu bagi kalian untuk beristirahat…”


mengangguk pada Han Ling.


            Cheng Mei mengangguk “baik… lakukan saja yang ingin kau


lakukan… sisanya, kami yang akan melakukannya…” Xue Ling tersenyum menunduk


“kalian… memiliki takdir kalian sendiri… Cheng, ada kalanya berhenti… tidak


tahu apapun, hidup akan lebih menarik… baik kebahagiaan maupun kemalangan,


memiliki takdirnya masing-masing… hadapi saja apa yang ada di hadapan kalian…


hidup dengan baik, tanpa keraguan…” berkata seperti menasehati cheng Mei, tapi


juga ditujukan pada semua.


            Cheng Mei tersenyum “Xue Ling, aku sudah mengerti


kata-katamu… melihat atau tidak melihat, semua hanya seperti buku cerita di


hadapanku… yang harus di temui, pasti akan datang, tidak akan dapat


menghindarinya…” Xue Ling tersenyum, mengangguk “kalian masing-masing memiliki


unsur dari keenam permata aura. Permata Aura tidak akan melukai kalian, apapun


yang terjadi”


            “baik… 5 hari lagi, kita akan siap !” Wei Jiang berdiri,


menarik Xin Lan pergi. “Jie, istirahatlah… 5 hari lagi, kita akan bersama-sama


menghadapinya !” Shui Ling membelai kepala Xue Ling “ah… kenapa anda sangat


menggemaskan ?” gemes dan tersenyum ceria, berbalik meninggalkan Xue Zuan Shi


Gong, diikuti Cheng Mei, Huo Ling, dan Ling Siang.


            “huh… akhirnya mereka pergi juga !” Xue Ling membuang


nafas lega, memegang perutnya “ah sudah lapar… Han ge, apa yang ingin kau


makan, aku akan membuatkannya ? hmm… begini saja, Han ge ikut aku ke dapur, Han


ge bisa memilih ingin makan yang mana ! ayo…” menarik Han Ling ke dapur. Han


Ling hanya tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya.


            “Xiao Xue, kenapa kau hanya terus memakan kue itu ?


bukankah kau berkata lapar !” Han Ling bertanya, melihat Xue Ling menolak semua


masakan yang dimasaknya sendiri “Han ge, semua masakan itu kubuatkan untukmu,


jadi kau harus menghabiskannya. Hoam…” menguap “aku hanya ingin mengisi sedikit


perutku sebelum tidur. Han ge, aku sudah mengantuk, tidak menemanimu lagi…”


berdiri “aaa… kau memberiku makan begini banyak dan kau sendiri pergi tidur ?”


Han Ling protes, melihat begitu banyak makanan di hadapannya.