
Sesampainya di Caffe Zana bang Angga segera menuju ke ruangan CCTV , jari-jari tangannya dengan lihai menari di atas keyboard komputer , dan ia mencari rekaman CCTV kemarin malam .
" Nah ini dia " , gumam Bang Angga , lalu ia langsung memutar rekamannya dan ia dengan teliti memperhatikan secara baik-baik wajah siperempuan yang memanggil nama Azka , apakah sama dengan perempuan yang menubruk ia tadi di minimarket ? .
Bang Angga tak merasa kesusahan sedikitpun karna perempuan tersebut duduk dimeja yang sangat mudah dicangkau oleh CCTV sehingga untuk menambah keyakinannya , bang Angga bisa ngzoom atau memberbesar wajah perempuan tersebut .
" Iya sama , perempuan ini sama persis dengan perempuan tadi yang nubruk gue diminimarket " batin bang Angga .
" Dari raut wajahnya ia terlihat begitu kesal mendapat perlakuan dingin dari Azka " , gumam bang Angga berpendapat .
" Tapi apa mungkin dia pelakunya ? " , gumam bang Angga sedikit ragu .
Tapi sampai detik ini tak ada yang patut untuk dicurigai kecuali perempuan tersebut , Naura atau pun Azka mereka tidak sedang punya masalah dengan orang lain .
Bang Angga segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel lalu mencari nomor Naura dan langsung menelponnya .
Setelah sambungan telepon terhubung , bang Angga langsung menceritakan semua kecurigaannya terhadap teman Azka yang kemarin malam datang ke Caffe Zana , yang memanggil nama Azka dengan berteriak namun Azka malah bersikap sangat dingin .
" Maksud Abang , Mauryn ? " , tanya Naura disebrang sana .
" Iya siapalah itu namanya Abang kurang tahu dek , tapi Abang menaruh kecurigaan sama dia , menurut kamu mungkin gak sii teman Azka pelakunya ? " , jawab bang Angga panjang lebar sekaligus bertanya balik .
" Ya di dunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin bang bisa saja sii , tapi Naura kurang yakin kalau dia bisa berbuat setega itu , kenapa harus Aira juga yang jadi korban ? " , timpal Naura tak habis pikir .
" Entahlah dek Abang juga belum tahu kebenarannya , namun untuk saat ini tak ada orang yang patut dicurigai kecuali perempuan itu , Abang melihat jelas raut wajah kesal tak terima ketika dapat perlakuan dingin dari Azka " , balas bang Angga .
Naura hanya diam mendengarkan perkataan abangnya , memang yang dikatakan bang Angga ada benarnya juga karna ia atau pun Azka saat ini tak punya masalah dengan orang lain .
" Sebaiknya kamu tanyakan pada Azka tentang Mauryn , siapa tahu Azka tahu Mauryn tinggal dimana atau tempat tongkrongan favoritnya selain diCaffe Zana , soalnya hari ini dia tak terlihat datang ke Caffe " , Saran bang Angga .
" Baik bang " , jawab Naura , dan tak begitu lama sambungan telepon pun ditutup .
Naura sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencoba selalu tenang , ia tak mau bersikap bodoh seperti tadi dan bisa saja ia mengambil langkah yang salah .
" Aira kamu yang sabar ya nak , bunda pasti secepatnya bisa menemukan kamu " , batin Naura seraya memeluk dirinya , membayangkan jika Aira berada dalam pelukannya .
*****
Saat ini Azka dan Naura tengah duduk di sofa yang ada dikamarnya , mereka sibuk dengan ponsel masing-masing , mereka sibuk mencari informasi tentang keberadaan Aira melalui anak buahnya .
" Bee " , panggil Naura pelan seraya melirik ke arah Azka .
" Kenapa Ay ? " , tanya Azka seraya menaruh ponselnya diatas meja .
Semua anak buahnya belum ada yang menentukan tanda-tanda keberadaan Aira dimana , dan benar dugaannya kalau mereka sudah dipermainkan oleh orang yang menculik Aira , penculik itu sudah mengelabui mereka dengan memakai SIM card yang jika dilacak menunjukan alamatnya di Riau dan ketika didatangi alamatnya oleh anak buah Azka ternyata itu menunjukan ke sebuah TPU .
Entah orang suruhannya yang ada di Riau atau siapa yang sudah mengirim sebuah ancaman pada Azka , lalu SIM card nya dibuang begitu saja diTPU .
" Bee kenal Mauryn sudah lama ? " , tanya Naura ragu-ragu .
Azka langsung mengerutkan dahinya bingung , seraya menatap Naura dengan lekat .
" Bee jangan salah paham dulu , Naura hanya ingin bertanya saja dan ini masih ada hubungannya dengan Aira " , tutur Naura panjang lebar .
" Apa mungkin yang menculik Aira adalah Mauryn " , lirih Naura pelan .
" Ay kamu jangan suudzon , tidak baik menuduh orang sembarangan tanpa ada bukti " , balas Azka sambil menggelengkan kepala .
" Naura bukan suudzon bee , tapi ini kecurigaan bang Angga dan bang Angga menaruh kecurigaan pada Mauryn karna ada alasannya , ditambah bee atau Naura tidak sedang punya masalah dengan orang lain saat ini " , Tutur Naura panjang lebar .
Azka langsung diam , ia mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan Naura .
" Iya memang benar Bee tidak sedang punya masalah dengan siapa pun , lalu alasannya menaruh kecurigaan pada Mauryn apa ? " , ucap Azka sekaligus bertanya balik .
" Bee ingat kejadian kemarin malam waktu diCaffe Zana ? , ketika Mauryn memanggil nama bee bahkan ia sampai berteriak " , tanya Naura , dan Azka langsung menganggukan kepala sebagai jawaban.
" Raut wajah Mauryn terlihat sangat kesal dan seperti tidak terima mendapat perlakuan dingin dari bee , bang Angga sudah melihatnya dari rekaman CCTV , dan ia merasa curiga kalau Mauryn dalang dari semua ini " , tutur Naura menjelaskan .
Azka terdiam , ia langsung memikirkan apa yang dikatakan Naura .
Azka langsung meraih ponselnya yang ia taruh diatas meja , lalu ia segera mencari nomor telepon temannya ketika diluar negeri untuk mencari informasi tentang Mauryn.
" Bee ngapain ? " , tanya Naura yang penasaran pasalnya Azka tidak berbicara apa-apa , ia malah langsung kembali berkutat dengan ponselnya .
" Bee lagi coba mencari informasi tentang Mauryn melalui teman Bee waktu diluar negeri " , jawab Azka jujur .
" Jadi bee setuju dengan kecurigaan bang Angga ? " , tanya Naura lagi .
" Bee tidak terlalu yakin , tapi tak ada salahnya jika kita selidiki terlebih dulu " , jawab Azka , dan Naura hanya menganggukan kepalanya pertanda setuju .
Naura atau pun Azka mereka kembali fokus dengan ponselnya masing-masing , mereka terus mencari informasi keberadaan Aira , bahkan mereka sudah kembali menghubungi polisi , berharap mereka sudah menemukan petunjuk keberadaan Aira dimana .
Sampai hampir larut malam , belum ada satu pun yang menemukan atau ada petunjuk keberadaan Aira dimana .
Azka ia masih mencari informasi tentang Mauryn , jika memang benar Mauryn pelakunya , ia tak akan segan-segan untuk menghajarnya dan langsung menjebloskannya ke penjara .
Akhirnya salah satu teman Azka semasa diluar negeri mengirimkan alamat tempat tinggal Mauryn , tapi sayangnya ini sudah larut malam untuk Azka melakukan penyelidikan tentang Mauryn nanti yang ada ia dikira maling .
Azka dan Naura sama-sama tidak bisa tidur mereka terus memikirkan tentang Aira .
" Bee bagaimana ? , apa sudah ada informasi tentang Mauryn ? " , tanya Naura melirik Azka .
" Bee sudah tahu tempat tinggal Mauryn dimana tapi - " , jawab Azka apa adanya seraya menjeda perkataannya .
" Tapi kenapa bee ?'' , tanya Naura lagi .
" Tapi ini sudah larut malam , jika bee melakukan penyelidikan sekarang nanti yang ada dikira maling " , timpal Azka dan Naura hanya menganggukan kepala .
😘
😘
😘
Jangan lupa tinggalkan jejak like , komen , Vote dan tambahkan ke Favorit 💙 , terimakasih 🤗🤗🙏 .