The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 85 - Zi Zuan



            Han Ling menatap Xue Ling dengan senyum lembut dari


bawah. Terdengar nyanyian merdu dari seluruh lumba-lumba. Kejutan tidak


berhenti sampai disana, nyanyian kedua jenis kawanan Lumba-Lumba itu ternyata


menjadi sinyal untuk memanggil Lumba-Lumba lainnya. Segera di lautan terlihat


ribuan Lumba-Lumba yang berdatangan dan berenang dengan cepat kearah mereka.


            Semua dewa dewi menyingkir, memberi jalan bagi ribuan


lumba-lumba. Xue Ling digiring Lumba-Lumba Ungu ke tengah lautan, diikuti oleh


kedua jenis kawanan Lumba-Lumba. Han Ling dan keempat lainnya juga di giring ke


lautan oleh para Lumba-Lumba Merah dan Biru.


            Xue Ling yang awalnya terkejut, tubuhnya terangkat tanpa


kendali karena menurunnya kewaspadaannya langsung tersadar. Tertawa melihat


Lumba-Lumba Ungu yang mengitarinya “hihihi… apa yang kau lakukan ? tubuhku


sudah kedinginan sebelumnya, sekarang kau membuatku tertepa angin lagi !”


memprotes Lumba-Lumba Ungu di hadapannya.


            Lumba-Lumba Ungu mengeluarkan suara-suara merdu,


terbentuk gelembung-gelembung yang berkumpul membungkus tubuh Xue Ling, menjadi


sebuah gelembung raksasa. Xue Ling merasakan kehangatan di dalam gelembung


raksasa, mengerahkan sihir sederhana, mengeringkan pakaiannya sendiri.


Lumba-Lumba Ungu berhenti di hadapan Xue Ling, menundukkan kepalanya


berkali-kali. Xue Ling tersenyum lembut, mengulurkan tangan, membelai kepala


Lumba-Lumba Ungu “terima kasih !”


            Lumba-Lumba Ungu mengeluarkan suara-suara lembut, menyuarakan


kebahagiaannya. Siripnya menyentuh tangan Xue Ling, mengarahkannya untuk mengikuti


ke lautan “haih… baiklah… baiklah… ayo…” Lumba-Lumba Ungu yang mendapat


persetujuan Xue Ling, menjadi sangat bersemangat, mengelilingi Xue Ling dan


mendorong gelembung raksasa ke tengah lautan.


            “wow… begitu banyak yang berdatangan… hmm… siapa dia ?


bisa membuat lumba-lumba begitu menghormatinya !” “hmm… aku tidak tahu siapa


dia, tapi yang jelas pemuda itu adalah dewa besar suatu saat nanti… bisa


mendapat kesetiaan dari semua lumba-lumba ini, bukanlah dewa biasa” “hmm…


mereka adalah pemuda-pemuda berbakat… tadi saja sudah mendapat hormat dari


Lumba-Lumba Ungu. Tidak menyangka, Lumba-Lumba Ungu memilih salah satu dari


mereka!” “tapi yang terpilih adalah pemuda termuda di antara mereka… sepertinya


pemuda ini yang paling cemerlang dan memiliki masa depan yang cerah…”


pembicaraan di antara dewa dewi.


            “wah meimei, dari tadi kau terus tersenyum melihat pemuda


itu… bahkan pada erge pun, kau tidak pernah tersenyum secerah itu…” Pangeran


Kedua menggoda Sang Putri Arogan. Sang Putri Arogan merengek “er ge…” “hahaha…


gadis sudah besar… hmm… sepertinya setelah ini Fu Wang perlu mendekati pemuda


itu untuk Putri yang berubah menjadi pemalu ini hahaha…” Xi Hai Shui Jun ikut


menggoda putrinya.


            “hmm meimei, sepertinya kali ini kau harus kecewa…”


Pangeran Pertama berguman, langsung mendapat sorotan dari saudara dan ayahnya “ge,


apa maksudnya ? kau tidak menyukai pemuda itu ?” Pangeran Kedua bertanya.


Pangeran Pertama menggeleng “jadi apa salahnya meimei menyukai pemuda itu ?”


Pangeran Kedua semakin tidak mengerti.


            Pangeran Pertama memberi kode “lihatlah wajahnya…” semua


mengalihkan pandangan ke Xue Ling “sangat tampan…” Sang Putri Arogan berguman,


terpesona pada wajah Xue Ling. Pangeran Pertama yang mendengar cekikikan


“hihihi Heng er, beliau memang sangat tampan…” “jadi apa masalahnya ge ?”


Pangeran Kedua kembali bertanya. Pangeran Pertama tersenyum penuh arti pada


ketiganya “terlalu tampan untuk seorang pemuda…” ketiganya terbelalak, berbalik


mengamati Xue Ling.


            “a… apa… Da Ge… mak… maksudmu… dia… dia seorang wanita ?”


Sang Putri Arogan tercengang hingga sulit berkata-kata. Pangeran Pertama


memainkan wajahnya, tidak menjawab pertanyaan Sang Putri Arogan. Sang Putri


Arogan yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, berbalik kembali melihat


Xue Ling, mengamati wajahnya dengan seksama “hmm… kenapa aku merasa pernah


            Ketiga pria berbalik melihat Sang Putri yang sedang


mengingat-ingat pertemuannya bersama Xue Ling, tapi tidak bisa menyamakan sang


pemuda Xue Ling dengan gadis ingusan yang menghukumnya. Sang Putri Arogan yang


tidak dapat mengingat, hanya bisa menggelengkan kepala kepada ketiga pria di


hadapannya. Semuanya kembali fokus melihat yang terjadi pada Xue Ling bersama


ribuan Lumba-Lumba.


            Ribuan Lumba-Lumba berenang berkelompok membuat tarian


yang harmoni dengan suara yang membentuk nada lembut menjadi nyanyian yang


terdengar nyaman di telinga setiap yang mendengarnya. Lumba-Lumba Ungu dan


kedua jenis kawanan Lumba-Lumba, berenang mengelilingi Xue Ling. Perlahan gelembung-gelembung


bercahaya naik dari lautan, membentuk sebuah mahkota dengan inti sebuah berlian


ungu di tengahnya.


            Setelah mahkota terbentuk sempurna, perlahan terpasang ke


kepala Xue Ling “Zhu Ren, terimalah hormat Zi Zuan… Zi Zuan bersumpah setia


pada Zhu Ren…” terdengar suara halus yang lembut dari Lumba-Lumba Ungu berhenti


di hadapan Xue Ling dan menundukkan kepalanya, tanda memberi hormat diikuti


kedua jenis kawanan Lumba-Lumba. Xue Ling tersenyum, mengambil mahkotanya “Zi


Zuan kan ! baru saja bersatu sudah begitu nakal…” “Zhu Ren…” Lumba-Lumba


menunduk, mengeluarkan nada sedih. Xue Ling tersenyum usil “apakah kalau yang


mulia tidak menerima hormatmu, kau akan menenggelamkan Xi Hai ?”


            Lumba-Lumba Ungu mengangkat kepalanya sesaat, dengan mata


berkaca-kaca menunduk kembali “Zhu Ren…” Xue Ling cekikikan “hihihi sudahlah…


melihat dari segala usaha yang kau lakukan untuk memukau yang mulia… yang mulia


menerima hormatmu…” Lumba-Lumba Ungu segera mengangkat kepala, bersalto-salto


ria menampakkan kebahagiaannya diikuti lainnya, membuat Xue Ling tertawa.


            Xue Ling tertawa “tapi…” melihat-lihat mahkota di


tangannya “mahkota ini terlalu besar… tidak leluasa membawanya…” dengan mimik


wajah yang tidak senang. Dari mulut Lumba-Lumba Ungu keluar cahaya mengenai


mahkota dan merubahnya menjadi sebuah kalung dengan liontin berlian. Cahaya


memasukkan kalung liontin berlian ke leher Xue Ling. Xue Ling melihat kalung


liontin barunya “hmm… tidak buruk !” tersenyum manis pada Lumba-Lumba Ungu.


            Lumba-Lumba Ungu, berubah menjadi seorang gadis kecil


yang manis, berlutut memberi hormat pada Xue Ling “Zi Zuan menghadap Zhu Ren…”


Xue Ling mengamati gadis kecil di hadapannya “berdirilah…” “terima kasih Zhu


Ren…” Zi Zuan tersenyum ceria pada Xue Ling. Xue Ling membelai kepala Zi Zuan


“Zi Zuan, yang mulia menerima hormatmu tapi kau tidak perlu selalu berada di


sisi yang mulia.” Zi Zuan langsung berkaca-kaca melihat Xue Ling “Zhu Ren tidak


menyukaiku ?”


            Xue Ling tertawa “gadis kecil, belajar nakal dari mana ?


apa kau fikir dengan air mata bisa memaksa yang mulia ?” Zi Zuan menunduk


dengan wajah sedih “gadis bodoh… yang mulia menyukaimu… jika tidak menyukaimu,


apa yang mulia akan menerimamu ?” Zi Zuan mengangkat kepala kembali menatap Xue


Ling dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


            Xue Ling tersenyum, memegang pundak kecil Zi Zuan “Zi


Zuan, kau baru saja menyatu, tidak bisa menjelma dalam jangka waktu lama. Kau


masih harus menempa diri dan ketahananmu bersama kawananmu. Zi Zuan, yang mulia


memiliki ini, kita bisa bertemu kapan saja. Yang mulia tidak akan mengekang


kebebasanmu, kau bebas melakukan apapun dalam batasanmu sendiri. Apa kau


mengerti !” “Zi Zuan mendengarkan ajaran Zhu Ren…” Zi Zuan kembali memberi


hormat dengan senyum lembut.


            “Zhu Ren…” beberapa lumba-lumba lain mendekati mereka.


Xue Ling menyipitkan matanya melihat lumba-lumba yang baru saja memanggilnya


‘Zhu Ren’ “yang mulia menerima Zi Zuan, bukan berarti menerima kalian…” dengan


nada mencibir “Zhu Ren… Zi Zuan adalah pemimpin baru kami… anda menerimanya,


berarti menerima kami semua…” ucap salah satu lumba-lumba “cih kalian bermimpi


saja…” Xue Ling mencibir “Zhu Ren…” lumba-lumba serentak berteriak, mengagetkan


semua dewa dewi disana “ih berisik sekali…” Xue Ling protes.