
Sudah seminggu semenjak Michelle bertemu dengan Ny. Alice. Dia masih belum memutuskan jawaban apa yang akan dia berikan. Otaknya tidak bisa diajak kompromi mengenai perjodohan itu. Dia tampak begong dan hanya memaikan sendok yang ada di tangannya. Serapan nasi goreng yang sedari tadi ada di piringnya hanya dia putar.
"Terima, tidak. Terima, tidak. Terima, tidak". Hanya kata-kata itu saja yang ada di otaknya sedari tadi. Bibi Amanda juga beberapa hari belakangan ini memperhatikannya kebanyakan ngelamun. Dia takut jika Michelle punya masalah dan tidak cerita sama dia. Akhirnya bibi Amanda memutuskan untuk bertanya langsung kepada Michelle.
"Cheeell.... Michelle" bi Amanda memanggil. Tapi tidak ada respon dari Michelle.
"Cheeeell....." bi Amanda memanggil lagi sambil menggoyangkan bahu Michelle dengan pelan. Michelle yang dari tadi kalut dengan pikirannya sendiri tersentak kaget. Untung dia tidak teriak.
"Chel, kamu kenapa. Bibi perhatikan kamu belakangan ini suka ngelamun. Kenapa ? Ada masalah di tempat kerjaanmu ?". Michelle berusaha tampak tenang di depan bibinya.
"Aaaah, nggak ada kok bi. Perasaan bibi aja. Kerjaan Michelle baik-baik aja bi". Michelle berusaha tersenyum menjelaskan dengan perasaan tenang.
"Bibi nggak percaya. Kamu pasti nyembunyikan sesuatu. Ayo cerita jangn bikin bibi kawatir chel". Bibi Amanda tahu tahu Michelle tidak pandai berbohong.
Hati Michelle makin nggak tenang. Dia nggak berani menatap bibinya yang ada di depannya itu dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela rumah mereka. Setelah Michelle merasa cukup tenang, akhirnya dia cerita.
"Bi, satu minggu yang lalu Michelle ketemu seorang ibu pelanggan di toko. Terus si ibu itu bilang senang, udah nyaman sama Michelle dan mau menjodohkan Michelle sama anaknya. Menurut bibi gimana ?"
Mendengar penjelasan dari Michelle, tiba-tiba bi Amanda tertawa. Dia pikir masalah apa yang sampai membuat Michelle belakangan ini ngelamun terus. ternyata masalah perjodohan. Melihat bibi Amanda yang tertawa Michell jadi bigung. Apa ada yang salah dengan penjelasannya barusan.
"Bibi kok ngetawain Michelle siiih ? Ada yang lucu atau ada yang aneh dengan Michelle ?"
Setelah bi Amanda berhenti tertawa, dia tiba-tiba mendekatkan badannya ke arah Michelle. kemudian dia mengelus pelan kepala Michelle sambil berkata:
"Aduuuuh, anak bibi ternyata sudah dewasa yaaa. Sebentar lagi mau nikah nihh".
"Bibi ngomong apa sih, Michelle kan belum ada ngasih jawaban mau atau nggak bi".
"Kenapa kamu belum ngasih jawaban ? Kasihan loh anak orang disuruh nunggu".
"Masalahnya bi, aku baru dua kali ketemu sama ibu itu, juga belum pernah ketemu sama sekali dengan anaknya yang mau dijodohkan itu".
"Ya sudah kalau kamu tidak mau dijodohkan, tinggal bilang kamu nggak mau. Kenapa harus dijadiin beban pikiran sih chell ?".
"Masalahnya bi, si ibu itu bilang dia sedang ada masalah yang membuat dia sakit yang bisa mengakibatkan kematian kalau Michelle nggak mau dijodohkan sama anaknya. Kan Michelle jadi takut bi. Masa gara-gara Michelle nggak mau truus ibu itu jadi meninggal".
Mendengar penjelasan dari Michelle, bi Amanda juga terlihat bigung. Kok bisa yaa ada orang yang mau langsung menjodohkan anaknya sama orang lain sementara baru ketemu beberapa kali. Melihat bi Amanda sedang tampak memikirkan sesuatu, Michelle memanggil kembali.
"Bi, gimana dong ?"
"Ya udah, kamu bilang aja sama ibu yang mau jodohin kamu itu kalau kamu ketemu dulu sama anaknya biar saling kenal" kata bi Amanda untuk menenangkan Michelle.
Michelle pun menuruti perkataan bibinya. Dia meneruskan makan dan menghabiskan serapannya. Kemudian dia berangkat kerja. Hari ini dia berusahan kerja dengan tenang dan mencoba menyakinkan dirinya sendiri bahwa akan baik-baik saja. Saat jam istirahat makan siang Michelle dan Mia pergi makan bersama.
Saat mereka sedang asyik menikmati makanan mereka masing-masing, tiba-tiba Handphone Michelle berdering. Dia mengeluarkan dari sakunya dan melihat siapa yang menelepon. Dilihatnya layar handphonenya tapi tidak ada nama, nomor baru. Karena Mia melihat Michelle cuma ngeliatin Handphonenya doang, dia penasaran.
"Kok cuma diliatin doang chell. Siapa ?" tanya Mia penasaran.
"Nggak tahu, ini nomor baru"
"Diagkat atuuh, kasihan orangnya dari tadi nelponin kamu tapi nggak kamu angkat-angkat"
Akhirnya Michell menggeser warna hijau di layar Handphonenya dan menyapa orang yang di seberang.
" Hallo selamat siang dengan Michell, ada yang bisa saya bantu ?"
"Halo siang juga Michelle ini tante, tante Alice. Gimana kabar kamu sayang ?". Menyadari bahwa yang meneleponnya adalan Ny. Alice, jantung Michelle serasa mau copot. Detangkan jantungnya yang dari tadi biasa saja, sekarang lansung bertambah cepat. Michelle merasa seluruh badannya lemas seketika.
"Ooh iya tante, kaa...kabar Michelle baaa...baik tante. Kabar tante gimana ?". Michelle berusaha menjawab walaupun sedikit terbata-bata.
"Tante baik-baik juga. Kamu lagi sibuk nggak sayang ?"
"Nggak tante, ini Michelle lagi istirahat makan siang. Ada apa ya tante ?"
"Ohh syukurlah tante nelpon saat kamu lagi nggak sibuk. Gini, tante mau minta tolong. Di rumah tante sore ini ada acara arisan, cuma kemarin tante lupa beli bolu buat acara hari ini. Tante nggak sempat lagi pergi ke toko, karena tante lagi sibuk nyiapin lain. Gimana, bisa tolongin tante nggak ?"
"Bolu pesanannya yang seperti apa tante ? Dan tante mau pesan berapa banyak ?" Michelle sudah merasa was-was, takutnya Ny. Alice menagih jawabannya.
"Terserah bolunya yang seperti apa, rasanya apa. Tante percayakan sama Michelle, tante yakin kamu lebih paham. Teman-teman tante yang datang sih kira-kira 30 orang. Acaranya nanti jam lima sore".
"Baiklah tante, nanti Michelle langsung packing. Tante kirim aja alamatnya biar bisa nanti teman kerja Michelle antar ke rumah tante"
"Iya, tante akan langsung kirim alamat rumah tante. O iya, tante hampir kelupaan. Tante maunya yang antar pesanan tante Michelle ya ?"
" Apaaaaaaa...?" Saking kagetnya Michelle nggak sadar tubuhnya reflek berdiri dan suaranya sampai kedengaran sama orang-orang yang lagi makan di samping meja mereka. Mia sahabatnya yang dari tadi memperhatikannya sampai kaget juga ngeliat reaksi Michelle yang sedang berbicara.
Michelle langsung membungkukkan badannya tanda meminta maaf. Dia merasa sudah mengganggu ketenangan orang yang sedang makan di tempat itu.
"Maaf tante, iya nanti Michelle antar pesanan tante"
"Makasih ya sayang, baik kalilah calon mantu tante ini. Ya udah, tante tutup teleponnya yaa?"
Wajah Michelle tersipu malu mendengar Ny. Alice memanggilnya calon mantu. "Iya, daaaaaa tante"
"Ada apa ? Kok kamu tiba-tiba lemas gitu ?"
"Ada orang memesan bolu di toko kita dan aku yang diminta untuk mengantar ke rumahnya".
"Truus yang jadi masalahnya apa sampai kamu bertikah konyol seperti itu ? Kan nggak papa kalau kamu yang ngantar. Toh ada yang gantiin kamu di toko kalau kamu yang pergi. Itung-itung sekalian cari udara segar di luar, dari pada di dalam toko terus yang ada otak mumet".
"Yeeee, ya kali dapat udara segar. Di kota seperti ini yang ada polusi kali. Makan debu tahu nggak ?" Michelle belum berani cerita kepada sahabatnya itu apa yang sedang dia alami sekarang. Dia menunggu waktu yang tepat kapan dia akan cerita. Yang jelas bukan sekarang. Tiba-tiba bunyi Handphone Michelle bunyi, menandakan ada pesan masuk. Dia membuka pesan itu yang tenyata alamat rumah Ny. Alice. Setelah mereka selesai membayar makanan, mereka balik lagi ke toko dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Michelle langsung mempacking pesanan Ny. Alice tadi. Dia mengecek lokasi alamat yang di kirim ke Handphonenya. Soalnya dia tidak pernah pergi ke arah alamat yang dibaca barusan.
Michelle pamit keteman kerjanya mau pergi mengantarkan pesanan tadi. Di sepanjang jalan dia memperhatikan banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. Kadang dia berpikir gimana rasanya berkerja di gedung semewah itu ya. Pasti rasanya sangat nyaman.
Punya komputer dan meja kerja sendiri, di ruangan yang berAC. Pasti deh sangat nyaman dan menyenangkan. Dulu dia bercita-cita bekerja di tempat seperti itu. Tapi itu hanyalah impian saja yang bakalan tidak bisa terwujud. Hingga tiba-tiba pandangnya berhenti di pada sebuah bangunan gedung yang mencuri perhatiannya.
Sekarang dia berada tepat di jalan di depan bangunan tersebut. Dia memperhatikan bangunan itu sangat mecolok dengan bangunan-bangunan yang ada di sekelilingnya. Terdapat pilar-pilar besar yang di cat berwarna emas dan silver. Dan itu semakin menonjolkan kemegahan bangunan itu.
Tanpa sadar dia membaca nama bangunan mewah itu "GRISTON COMPANY". Michelle keingat ada orang yang pernah memberitahukan nama tersebut, tapi siapa ya pikirnya. Dia tidak tahu bahwa pemilik rumah tujuan dia yang sekarang adalan pemilik bangunan itu juga. Hingga dia tidak sadar, dari arah pintu keluar bagunan itu ada mobil yang mau keluar dan dia menghalangi jalan mobil tersebut.
Akhirnya sopir mobil itu mengklakson hingga dia tersadar kembali. Dia cepat-cepat menyingkirkan sepeda motornya supaya mobil tersebut bisa lewat sambil membungkukkan kepalanya tanda meminta maaf.
"Ada apa pak, kok sampai diklakson gitu?" kata orang yang duduk di kursi penumpang di belakang mobil itu.
"Ah, itu tuan ada seseorang mungkin lagi memikirkan sesuatu. Dia nggak sadar menghalangi jalan kita mau keluar" kata sopir itu menjelaskan.
Orang yang duduk di kursi penumpang tersebut melihat sekilas ke arah Michelle melalui jendela mobil itu kemudian dia mengalihkan pandangannya ke handphone yang ada di genggamannya. Tampaknya dia sedang membalas pesan dari seseorang.
Setelah kejadian Michelle kembali fokus. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Beberapa saat kemudian dia memasuki komplek perumahan. Dia seakan tidak percaya dengan bagunan-bagunan mewah disekelilingnya. Dia sadar kalau komplek perumahan yang dia datangi itu adalah komplek perumahan orang-orang elit di kota itu. Rata-rata cat bagunan rumah yang lebih mendominasi dia lihat adalah warna putih. Pohon-pohon dan tanaman di sekalilingnya tampak terawat dengan rapi. Dia merasakan sedang memasuki istana megah.
Kemudian dia berhenti di depan sebuah bangunan rumah yang tidak kalah megahnya dengan rumah lainnya. Rumah berlantai tiga dikelilingi tembok besar dan tinggi. Dia memastikan alamat yang tertera di google map tersebut. Setelah dia yakin, dia memencet tombol bel yang ada di depannya. Tidak lama kemudia ada sesorang yang bertanya. Dia menjawab kalau dia sedang mengantarkan pesan dari yang punya rumah. Kemudian pintu gerbang rumah tersebut terbuka. Seorang laki-laki mungkin umur 40 thn an tampak menyambut dia.
"Nona Michelle yaa ? Silakan lansung ke dalam saja, nyonya sudah menunggu anda di dalam. Sini saya saja yang memarkirkan sepeda motornya" kata pak satpam itu menawarkan diri.
"Aaaaah makasih banyak pak" kata Michelle sambil turun dari sepeda motornya. Dia langsung pergi ke dalam rumah sambil membawa pesanan Ny. Alice tadi. Dia semakin kagum melihat sekelilingnya. Luasnya halaman rumah yang terlihat seperti lapangan golf karena ditanami rumput jepang, kemudian dihiasi dengan tanaman-tanaman hias lainnya. Dia juga melihat garasi yang lumayan luas.
Di sana ada beberapa mobil super mewah berjejer rapih. Setelah dia sampai di depan pintu rumah tersebut, dia menekan tombol bel rumah itu. Tidak lama kemudian seorang perempuan paruh baya membukakannya pintu. Dari pakaian yang perempuan itu pakai sepertinya dia salah satu yang bekerja di rumah ini.
"Sore bu, saya Michelle yang mengantarkan pesanan tante Alice" kata Michelle sambil menyodorkan pesanan yang dia bawa.
Tiba-tiba dari dalam rumah ada seseorang yang bertanya. Michelle lumayan kenal dengan suara tersebut.
"Biiii...siapa yang datang ?" tiba-tiba Ny. Alice menampakkan mukanya dari dalam rumah.
"Ooooh nak Michelle sudah sampai rupanya. Disuruh masuk dong bi, masa tamu dibiarin di luar sih. Ayo sayang masuk ke dalam, istirahat dulu"
"Nggak usah tante, Michelle langsung pulang aja. Nggak enak sama teman kerja yang lain, nanti mereka kelamaan nungguin Michelle"
"Nggak papa itu mah, mereka juga pasti ngerti kok kamu kecapean dijalan" kata Ny. Alice sambil menarik lengan Michelle ke dalam rumah. Akhirnya Michelle nggak bisa nolak. Dia mengikuti Ny. Alice dari belakang. Dia memperhatikan ruangan yang dia leawati. Ruang tengah yang sangat luas, ada beberapa set sofa mewah.
Michelle memperhatikan tangga yang sangat besar yang menghubungkan lantai satu ke lantai dua rumah tersebut. Dan mereka duduk di salah satu ruang keluarga. Tidak lama kemudian seorang pembantu di rumah itu datang mengantarkan teh dan beberapa cemilan buat mereka. Ny. Alice yang memperhatikan Michelle hanya diam saja.
"Ayo diminum tehnya sayang. Kamu jangan merasa sungkan lagi sama tante"
Michelle yang sedari tadi merasa gugup dan dia merasa debaran jantungnya semakin kencang. "Iya tante" kata Michelle sambil mengambil cangkir teh yang ada di depannya. Kemudian dia meminumnya.
"Kamu kok makin gugup gitu sih sayang, apa kamu deg deg kan kalau jumpa sama anak tante yaa ?"
Bluuuuuussshh, mendengar kata-kata Ny. Alice barusan wajah kaget Michelle tak karuan. Dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut. Ny. Alice hanya bisa tersenyum melihat tingkah Michelle. Setelah Michelle merasa tidak ada orang di ruangan itu, dia berusaha menenagkan hati dan pikirannya.
Dari tadi dia berdoa dalam hati jangan sampai jumpa dengan laki-laki yang mau dijodohkan itu. Dia belum siap. Ketenangan sesaat yang Michelle rasakan tidak berlangsung lama. Karena dari belakang mereka terdengar suara laki-laki.
"Miii....mami lagi ada tamu yaa ? Siapa? " Mendengar orang itu bertanya, jantung Michelle serasa mau copot. Hawa udara disekelilingnya membuat dia semakin tidak bisa bernapas. Pasokan udara di paru-parunya seakan hilang begitu saja. Michelle pelan-pelan menoleh ke arah suara tersebut. Debaran jantungnya semakin nggak karuan.
Deg.....deg......deg.....deg...deg....Akhirnya dengan perjuangan yang sangat berat Michelle dapat melihat orang tersebut. Ternyata dia adalah Tn. Adam suami Ny. Alice. Rasanya menyiksa yang Michelle rasakan tadi langsung berubah jadi plooong, lega. Michelle langsung berdiri dan membungkuk memberi salam. Kemudian menghampiri Tn. Adam dan menyalaminya.
" Halo om, nama saya Michelle". Tn. Adam menyambut tangan Michelle dan menyalamnya. Tiba-tiba Ny. Alice berdiri menghampiri Tn. Adam dan membisikkan sesuatu. Tn. Adam sesekali melirik ke arah Michelle dengan wajah tanpa ekspresi. Michelle hanya bisa menundukkan kepalanya melihat ke arah lantai. Dia bigung mau melakukan apa. Setelah Ny. Alice selesai dengan bisikannya, Tn. Adam hanya berdehem dan pamit keluar.
Beberapa saat kemudian Michelle izin untuk pulang. Dia melihat jam sudah setengah jam lebih dia ngobrol dengan Ny. Alice. Saat melewati ruang tengah dia memperhatikan orang sudah mulai rame. Teman-teman arisan Ny. Alice sudah berdatangan. Saat Michelle berjalan kearah pintu, beberapa orang bertanya ke Ny. Alice siapa gadis yang disampingnya itu. Mereka pada penasaran. Ny. Alice menjawab dengan senyum sumringah. Kemudian Mengantar Michelle ke depan untuk pulang.
🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞
Hai mentemen semuanyaaaaaa...
Terima kasih masih sudah mampir ke lapak saya ini
Semoga kalian suka dengan karya saya ini yaaaa😘😘😘
Jangan lupa folow, like, jadi bacaan favorit kalian, dan Coment (kritik dan saran ya) supaya author kedepannya bisa memperbaiki mana yang kurang
Terima kasih semuanyaaaaaa
☺☺☺😉