
Setelah Michelle sampai di rumah, dia langsung pergi membersihkan badannya. Kemudian makan bersama dengan bibinya. Selesai makan mereka keruang tengah duduk sambil mengobrol tentang kesibukan mereka masing-masing hari ini. Michelle yang merasa ngantuk pamit ke bibi Amanda untuk istirahat duluan. Dia masuk ke dalam kamarnya. Saat dia mulai memejamkan matanya, dia teringat kejadian saat di rumah Ny. Alice tadi.
Dia ingat betul bagaimana Ny. Alice memberitahukan dengan bangganya kalau Michelle adalah calon menantunya. Tanpa sadar Michelle tersenyum bahagia, merasa ada perasaan yang berbeda, merasa diakui. Dan dia juga bisa melihat respon dari teman-teman arisan Ny. Alice itu. Ada yang melihatnya dengan tatapan tidak percaya, ada juga yang langsung memberikan selamat, dan ada juga beberapa yang melihat dia dengan tatapan tidak suka.
Melihat sikap dan tindakan dari Ny. Alice yang begitu baik dan perhatian, Michelle mulai membuka hatinya. Dia juga merasa ada sesuatu yang mendorong hati Michelle untuk menerima perjodohan itu tanpa melihat unsur atau latar belakang dari keluarga Ny. Alice.
Saat dia mau pulang tadi, dia mendengar Ny. Alice mengatakan bahwa beberapa hari kedepan akan mengatur pertemuannya dengan anaknya itu. Michelle penasaran juga, bagaimana tampang, sikap, dan karakter dari laki-laki itu. Lama-kelamaan mata Michelle terasa semakin berat dan akhirnya dia tertidur pulas.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Keesokan harinya di rumah kediaman keluarga Griston.
Tuan, Nyonya beserta anak mereka Alex sedang bersama berkumpul untuk serapan pagi. Itu adalah pemandangan yang sangat langka, karena Alex selama ini sudah tinggal di apartemennya sendiri. Dia datang ke rumah bila ada urusan penting saja, seperti hari ini. Alex ingin konsultasi kepada ayahnya mengenai pembangunan proyek yang baru saja dia kembangkan.
Disaat yang lain sibuk menikmati serapan masing-masing, Alex tiba-tiba teringat dengan kejadian kemarin. Di mana saat dia baru sampai di rumah, ada beberapa omongan teman-teman arisan mamanya yang mengganggu pikiranya. Alex tadi malam mau menanyakan langsung ke mamanya. Tapi melihat Ny. Alice tampak kecapean, dia lebih memilih untuk menanyakan pagi ini. Alex ingin memastikan.
"Ma, kemarin Alex dengar dari teman-teman mama mengenai calon menantu. Apakah Rara datang kesini ? Dan apakah mama sudah merestui hungan kami ?" Alex tampaknya sangat penasaran dengan apa yang akan Ny. Alice jelaskan.
Ya, Alex sudah berpacaran dengan Rara hampir lima tahun. Tapi Ny. Alice tidak pernah merestui hungan mereka. Tidak tahu kenapa, Ny. Alice merasa Rara itu hanya mendekati Alex karena kedudukan dan posisi Alex yang sekarang. Ditambah pekerjaan Rara yang seorang model makin membuatnya makin tidak suka.
Pernah sekali Ny. Alice bertemu dengan Rara bersama dengan pria lain, bermesraan, saling pelukan, berciuman tanpa menyadari keberadaannya. Ny. Alice menceritakan apa yang dia lihat itu kepada anaknya Alex. Tapi, sedikit pun Alex tidak percaya, Alex malah membela Rara. Dia merasa mamanya itu hanya mejelek-jelekan Rara karena ketidak sukaannya dari awal.
Ny. Alice sangat marah melihat Alex membela dan lebih percaya sama perempuan itu. Dan Alex pun tidak pernah berani membawa Rara kerumah untuk hanya sekedar bertemu atau berkunjung ke rumah orangtuanya.
Ny. Alice menjawab " jangan pernah berpikir terlalu jauh tentang hubungan kalian berdua Lex. Mama sudah pernah bilang sampai kapan pun mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian". Mendengar penjelasan dari mamanya, Alex merasa kurang senang. Mamanya masih tidak mau menerima hungannya dengan Rara.
" Oh iya, satu lagi. Mama sudah mencarikan jodoh buat kamu yang akan menjadi menantu mama. Dan kamu tidak boleh menolak perjodohan ini. Mama sudah atur waktu untuk pertemuan kalian berdua. Jika kamu menolak, lebih baik kamu bukan bagian dari keluarga Griston lagi" ancam Ny. Alice.
Wajah Alex tampak berubah dia ingin menolak langsung, tapi mendengar perkataan terakhir mamanya dia berpikir lagi. Tn. Adam juga sempat kaget mendengar ancaman istrinya itu. Tapi bila masalahnya sudah mengenai perempuan untuk menjadi istri Alex yang akan menjadi menantunya kelak, dia mempercayakan kepada istrinya itu saja. Dan menurut Tn. Adam istrinya sudah lebih paham mengenai soal perempuan.
"Maksud mama apa menjodoh-jodohkan Alex dengan perempuan lain ? Kalau mama tidak suka dengan Rara, aku juga bisa mencari perempuan yang lain. Bukan dijodoh-jodohkan seperti ini ma !!!" kata Alex tidak terima.
" Mama tidak ada penolakan Lex" Ny. Alice menegaskan.
"Mama yakin dialah yang lebih pantas buat kamu tidak ada yang lain" kata Ny. Alice sambil pergi ke kamarnya.
Alex hanya bisa diam dan memandangi kepergian mamanya itu. Dia yakin sekeras apapun dia menolak perjodohan ini, mamanya tidak akan membiarkan dia begitu saja. Dia melirik ke arah papanya untuk meminta bantuan untuk menolong dia, tapi Tn. Adam hanya mengangkat bahunya saja pertanda bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Alex sudah tida ada mood lagi melanjutkan serapannya.
Dia pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua. Di sana dia hanya bisa mondar-mandir memikirkan hubungannya dengan Rara yang akan berakhir. Dia merasa hubungan yang dia jalin selama ini sia-sia. Apa yang akan dia jelaskan nanti kepada kekasihnya itu. Dia tidak mau hubungan mereka berakhir begitu saja. Karena saat ini pikirannya masih buntu, tidak tahu mau melakukan apa, dia pergi mandi. Tidak lama kemudia dia pergi keruang kerja papanya.
Sudah satu jam lebih Alex dan papanya mendiskusikan proyek yang baru dia kembangkan itu. Banyak saran dan pelajaran yang dia dapat dan papanya jelaskan kepada dia. Alex memang masih terkadang kurang yakin mengambil keputusan sendiri kalau sudah berhungan dengan perusahaan.
Dia takut salah mengambil keputusan saat dia memutuskan sesuatu dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan yang dia pimpin. Dia tahu bagaimana susahnya dulu membangun perusahaan itu dari mulai nol hingga sebesar sekarang. Makanya dia masih selalu berdiskusi dengan papanya.
Setelah Alex rasa sudah cukup, dia pamit untuk pergi ke kantor.
"Ayah Alex mau balik dulu, terima kasih sudah mengajari Alex" kata Alex pamit.
"Iya. Jangan sungkan-sungkan bertanya sama papa kalau kamu tidak tahu. Jika kamu butuh sesuatu papa siap bantu kamu" kata Tn. Adam.
" O iya Lex. Mengenai yang mama mu bilang tadi pagi, papa ngggak bisa bantu. Papa pikir lebih baik kamu nurut saja sama mama mu" kata Tn. Adam sambil tersenyum.
Alex hanya bisa diam. Dia berpikir perempuan seperti apa sih yang membuat mamanya sampai mau mengeluarkan dia dari keluarga ini kalau menolak perjodohan itu. Kenapa papa juga seperti tidak ada penolakan atau berkomentar mengenai hal itu. Dulu saat papanya tahu dia menjalin hubungan dengan Rara, dia langsung diintrogasi seperti tawanan. Kenapa yang satu ini nggak. pertanyaan itu aja yang selalu muncul dibenak Alex.
Dengan pikiran yang masih kalut, dia berpamitan ke kedua orangtuanya.
"Paaa, maaa Alex pergi dulu ?"
"Iyaaa", jawab kedua orangtua nya bersamaan.
"Bilang sama pak Min hati-hati nyertirnya" kata Ny. Alice mengingatkan. Takut terjadi lagi sesuatu yang buruk sama anaknya itu. Karena dulu Alex pernah kecelakaan yang membuat dia trauma berat yang membutuhkan waktu yang cukup lama menyembuhkannya. Alex hanya mengangguk mengiyakan mamanya.
"Ingat Lex tentang pesan mama tadi. Hari minggu ini mama sudah mengatur pertemuan kamu dengan calon yang mama sudah bilang tadi. Nanti mama kirim alamatnya tempat nya ke handphone kamu" kata Ny. Alice sambil menunjukkan senyumnya yang selama ini sudah jarang Alex lihat.
"Iya, terserah mama aja" kata Alex tidak mau mau memperpanjang masalah ini lagi. Dia juga tahu bawah dia anak satu-satunya sebagai peneruh dikeluarga ini yang membuat dia tidak rela sampai dikeluarkan dari daftar penerus keluarga Griston.
🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲
Di kantor Alex tidak bisa konsentrasi, dia melemparkan berkas yang ada di tangan ke atas meja. Dia menumpukan kepalanya di kedua tanggannya. Dari tadi dia hanya memikirkan bagaimana caranya dia mempertahankan hubungannya dengan Rara tanpa membatalkan perjodohan ini. Alex sangat mencintai Rara dan dia juga tidak mau mengecewakan mamanya.
Alex tahu selama ini mamanya tidak pernah menuntut sesuatu kepadanya. Baru kali ini mamanya meminta dia untuk menikah dengan wanita pilihan mamanya. Dan Alex berpikir itu sangat tidak baik, bagaimana sebuah rumah tangga di bangun tanpa berdasarkan cinta. Tiba-tiba Handphone nyan berbunyi. Dia mengabil dari saku jas nya dan membaca pesan tersebut. Ternyata itu pesan dari mama nya yang mengirimkan alamat sebuah restoran di mana tempat dia akan bertemu dengan perempuan itu yang semakin membuat hati Alex kesal. Kemudian dia melemparkan Handphonya begitu saja di atas meja.
Drrrrt drrrrrrt drrrrrt
Bunyi Handphone alex berdering lagi. Dia mebiarkan begitu saja. Dan dia lagi malas berbicara sama siapa pun. Tadi aja sekretaris nya datang membawa berkas yang mau dia tanda tangani dibentak habis-habisan dan menyuruh meng cancel semua kegiatannya hari ini. Bahkan pertemuan dengan rekan bisnis nya yang harus beberapa menit lagi dialihkan ke lain hari. Sudah hampir limat menit dia membiarkan handphone nya berdering.
Drrrt drrrt drrrt
Karena Alex saking kesalnya, akhirnya dia menganggkat telepon tersebut tanpa melihat nama sipenelepon dan menjawab orang yang ada di seberang dengan bentakan.
"Alex kamu kenapa, kenapa nge bentak aku sih ?" tanya orang tersebut
Mendengar suara orang yang diseberang, buru-buru dia melihat layar handphonenya. tertera nama Rara di sana dan dia langsung minta maaf.
"Sayang, aku minta maaf yaa, di kantor lagi ada masalah jadi kebawa emosi. Maaf ya sayang....?" Alex meminta maaf.
"Iya nggak papa sayang, tapi kamu nggak lupa kan kalau siang ini kita makan bareng ?"
"Ok aku tunggu lo yang, jangan kelamaan datangnya "
"Iya, ini aku langsung jalan kok"
"Ya udah daaaa sayang"
"Byeeee" kata Alex lalu mematikan teleponnya. Kemudian dia langsung keluar dari kantornya menuju lift untuk pergi ke parkiran.
Kira-kira sepuluh menit Alex sampai di restoran favorite dia dan kekasihnya itu. Ternyata Rara sudah memesan makanan buat mereka berdua.
"Hai sayang" sapa Alex sambil mengecup singkat pipi Rara.
"Hai juga yang" balas Rara. Alex langsung duduk di kursi samping Rara. Mereka langsung menyantap makanan masing-masing. Rara melihat Alex sangat fokus dengan makanannya dan akhirnya dia yang membuka pembicaraan.
"Lex,,, sayaaang"
"Napa yang" jawab Alex sambil melihat ke arah Rara.
"Nggak jadi yang, terusin aja makannya" kata Rara sambil meneruskan memakan makannya
Alex yang melihat tingkah Rara yang tiba-tiba berubah membuat dia bertanya kembali.
"Sayang kenapa, kamu ada masalah ? HHmmm ?" tanya Alex
Rara melihat ke arah Alex sambil memasang muka sedihnya. "Yang, mama aku sakit lagi, penyakitnya kambuh lagi dan mama lagi di rumah sakit sekarang. Aku lagi nggak megang duit buat biaya rumah sakit mama" kata Rara mencoba menjelaskan kepada Alex.
Rara memang pernah menceritakan kalau mama nya sudah tua dan sakit-sakitan. Semua gaji yang dia dapat sebagai model dipakai untuk pengobatan mamanya. Boleh dibilang Alex sudah berapakali membantu biaya pengobatan mama Rara. Mungkin kalau ditotalin semua ada ratusan juta. Belum lagi dengan permintaan Rara buat kebutuhannya sendiri dan Alex tidak memperhitungkan itu. Alex pernah meminta Rara untuk bertemu dengan orangtua kekasihnya itu, tapi Rara selalu menjawab " mama nggak mau, blom waktunya kata mama". Alex pun nggak ambil pusing dengan hal itu.
"Emang kamu butuh berapa buat biaya rumah sakit ibu?"
" Sepuluh juta yaang" kata Rara sambil menyeka air mata nya. Dia tahu Alex nggak bakalan pernah menolak kalau dia minta bantuan.
"Sudaah jangan nangis, nanti aku transfer ke kamu" kata Alex sambil mengelus punggung Rara untuk menenangkan kekasihnya itu. Dia juga tidak enak dilihatin orang-orang sekitar, dikirain orang mereka berantam padahal nggak.
"Makasih yaa sayang, aku jadi nggak ngerasa enak minta batuan kamu terus"
"Udah, nggak usah dipikirin" jawab Alex.
Setelah mereka selesai makan, mereka mereka pulang. Alex kembali lagi ke kantornya dan Rara kembali ke tempat kerjanya juga. Alex melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat terbengkalai tadi.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Tidak terasa sudah tiga hari berlalu. Alex yang tinggal di apartemennya sedang malas-malasan untuk bangun. Dia seperti itu karena dia tahu hari ini hari minggu hari liburnya dan ingin menikmati hari ini tanpa gangguan dari siapa pun.
Alex mendengar deringan handphone nya. Dia langsung duduk menyandarkan punggunya sambil mengambil handphonenya yang ada di atas nakas di samping kasurnya.
"Pagi maaa, ada apa ? Kok pagi-pagi gini mama sudah nelpon Alex ?"
Mendengar jawaban anaknya itu Ny. Alice heran. Perasaan dia sudah memberi tahu hari ini adalah acara pertemuannya dengan Michelle.
"Alex, jangan bilang kamu nggak ingat dan membaca pesan mama waktu itu ?"
Alex berpikir sejenak dan mencoba mengingat ada acara apa hari ini.
"Benaran ma, Alex nggak ingat apa-apa. Hari ini kan hari minggu waktunya Alex liburan maaa" jelas Alex
"Mama nggak habis pikir sama mu ya Lex, coba kamu buka pesan mama tiga hari yang lalu. Jangan sampai kamu buat mama malu. Dan kamu jangan sampai telat dan membuat dia menunggu kamu" kata Ny. Alice dan langsung mematikan panggilannya.
Mendengar penjelasan dari mamanya barusan, Alex langsung membuka pesan yang pernah mamanya kirim ke dia. Untung dia nggak menghapus isi kotak pesan di handphonenya. Kalau sampai itu terjadi dari mana dia bisa mengingat kembali ternyata hari ini hari di mana dia harus bertemu dengan perempuan itu.
Dengan ogah-ogahan dia melangkah ke arah dapur dan membuat serapan untuk dia makan. Dia sudah terbiasan dengan dapur. Selama dia kuliah di luar negeri dan jauh dari orangtuanya, dia belajar sendiri untuk memasak. Kalau tidak, bagaimana dia bisa makan.
Selesai serapan dia langsung pergi mandi. Dia berusaha untuk santai seolah-olah tidak ada yang akan dia hadapi nanti. Kemudia dia keruang tengah untuk melihat beberapa berita sekalian meghabiskan waktu sebelum dia pergi menemui perempuan itu.
Michelle yang duluan sampai di restoran yang telah dipesankan Ny. Alice. Ternyata salah satu restoran seafood mewah yang menyajikan berbagai macam makan laut di kota itu. Dia memarkirkan sepeda motornya lalu masuk ke dalam restoran. Dia disambut seorang pelayan
"Selamat Siang, selamat datang di restoran kami" sapa pelayan tersebut
"Siang juga" balas Michelle
" Ada yang bisa saya bantu "
"Iya saya pengunjung, yang tempat saya sudah dipesan atas nama Ny. Alice"
"Oh, ok ikut saya aja, tempatnya kami sudah siapakan"
Alice mengikuti pelayan tersebut dari belakang. Dia melihat sekeliling beta megahnya restoran ini. Michelle berpikir berapa harga makanan disini sekali makan ? Mungkin ratusan bahkan jutaan kali pikir Michelle. Tidak lama kemudian dia sampai di sebuah ruangan. Pelayan itu mempersilahkan dia masuk. Ternyata ruang itu salah satu ruang makan private yang dipesan bagi orang-orang khusus saja.
Michelle Sudah hampir satu jam menunggu di ruangan itu. Untung saja dia membawa salah satu novel kesukaannya. Dia membaca dengan serius sambil meminum minuman yang disediakan di dalam ruangan itu. Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan di mana dia sedang menunggu. Michelle melihat sekilas, dia berpikir kalau orang itu salah masuk ruangan. Dia kembali fokus membaca novelnya dan karena Michelle melihat sekilas tampang orang yang membuka pintu tadi. Dan pada akhirnya dia mendengar kursi yang di depannya berbunyi karena ada yang menggeser.
Dia hampir tidak percaya orang yang membuka pintu tadi ada di depannya. Michelle masih dengan ekspresi bengongnya, dia masih belom mau mengalihkan pandangannya dari orang yang masih berdiri tersebut. Orangnya tinggi, berbadan atletis, ditambah lagi muka blasterannya makin membuat Michelle tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria yang di depannya itu. Hingga Michelle menjatuhkan novel yang pada akhirnya membuat dia sadar daaaaan.....
Tunggu kelanjutannya di part berikut nyaaaaa
😁😁😁