The Power Of Love

The Power Of Love
Makan Malam di Caffe Part II



Sesampai dilantai atas ternyata interior bangunannya tak kalah bagus dari lantai bawah dan suasananya pun sama ramai namun masih ada beberapa meja yang belum terisi .


" Kita duduk disana saja " , tunjuk Ayah Alex pada meja disebelah pojok kanan .


Semua setuju dan mengangguk lalu mengikuti Ayah Alex ke arah meja yang menjadi pilihan tempat duduk mereka .


Tak lama setelah mereka duduk , salah satu pelayan datang dengan membawa buku menu .


" Silahkan " , Ujar nya sopan seraya menyodorkan buku menu .


Tanpa sengaja pelayan itu bertatapan dengan Azka .


" Eh maaf pak saya tadi sempat tidak mengenali bapak , mohon maaf pak " , Ujar nya lagi seraya mengangguk hormat pada Azka .


" Iya tidak apa-apa bang " , jawab Azka seraya mengangguk dan tersenyum kikuk .


Ternyata yang mengantarkan buku menu kenal dengan Azka , dan semua orang langsung mengalihkan pandangannya pada Azka dan pelayang tersebut .


Dan lagi-lagi pelayan tersebut bertatapan dengan Naura , walau hanya beberapa detik tapi ia cukup mengenali Naura .


" Bu Boss , maaf Bu saya lancang , saya kira ibu pengunjung , Mau makan apa Bu ? " , Ujarnya lagi ketika melihat Naura sekaligus langsung menawarkan makanan .


" Degh... " , Naura langsung terpaku mendengar perkataan karyawannya yang tak lain adalah bang Galih .


Iya bang Galih yang waktu itu ia tolong dan memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup dengan bekerja dicaffe Zana .


" Maaf Bu boss siapa maksudnya ya mas ? " , tanya Ocha bingung , begitu pun dengan yang lain .


" Aduh gimana ini ? , dan kenapa juga bang Galih bisa ngenalin Naura padahal waktu itu Naura pakai penutup wajah " batin Naura bertanya .


" Emm - " , bang Galih ragu-ragu ingin menjawab namun beruntung ia langsung dipanggil oleh bang Anggi .


" Bang Galih.. , tolong antarkan ini ke meja no 33 sebelah sana ya , biar ini gue yang kerjain " pinta bang Anggi , lalu ia mendekat ke arah meja keluarga Naura .


" Maaf mau pesan apa ? " , tanya bang Anggi ramah , dan sepertinya ia belum menyadari kehadiran Naura disana .


" Sebentar ya mas " , jawab Ayah Alex ramah , dan langsung dianggukan oleh bang Anggi .


Bang Anggi tidak terlalu fokus dengan semua orang yang datang ke Caffe ditambah malam ini keadaan Caffe benar-benar sangat ramai sehingga ia harus turun tangan membantu mengantarkan makanan .


" Dek " , panggil bang Anggi ragu-ragu ketika kedua netranya melihat sosok Naura yang duduk bersebelahan dengan Azka .


" Ya Allah dek , kenapa gak bilang-bilang mau datang kesini ? , dan maaf Abang baru lihat kamu , oh ya kenapa kamu duduk disini , biasanya langsung ke ruangan ? , mau makan apa dek , biar Abang bikinin ? " , tanya bang Anggi beruntun .


Naura sudah dari tadi mencoba memberi isyarat dengan matanya kalau ia kesini tak hanya seorang diri , melainkan dengan keluarga dan para sahabatnya , namun sayang ternyata bang Anggi tidak bisa memahami isyaratnya .


" Dek kamu kenapa sii ? " , tanya bang Anggi seraya menirukan yang diisyaratkan oleh Naura .


" Ekhem " , Suara Alex berdehem.


" Astagfirullah hal'adzim " , ujar Bang Anggi yang langsung beristigfar dan menutup mulutnya dengan tangan .


" Eh maaf sepertinya saya salah orang " , Ujar bang Anggi seraya menampilkan barisan giginya yang putih dan rapi .


" Bentar mas , apa boleh saya bertanya ?" , ujar Ayah Alex .


" Emmm boleh boleh silahkan pak " , jawab bang Anggi gugup dan ia terus melihat ke arah Naura , ia benar-benar mengutuk dirinya karna keceroboh yang tidak bisa menjaga kedua bibirnya .


" Kalau saya boleh tahu pemilik Caffe Zana ini siapa ya ? , saya sudah beberapa kali mengajukan kerja sama dan membuat janji ingin bertemu tapi tak ada respon sama sekali " , Tanya Alex penasaran .


" Ekhem " , sebelum menjawab pertanyaan Ayah Alex , terlebih dahulu bang Anggi berdehem untuk menetralkan dirinya dan berharap ia tak salah lagi dalam berucap .


" Oh jadi pemilik Caffe ini seorang perempuan mas ? " , tanya Zaky ikut bertanya .


Dan Bang Anggi hanya mengangguk lemah seraya menundukkan kepalanya .


" Maaf semuanya jadi mau pesan apa ? " , tanya bang Anggi gugup dan ia tak berani menatap Naura .


" Oh iya maaf ya mas jadi lama menunggu " Ujar bunda Shalwa ramah .


" Iya bu tidak apa-apa " jawab bang Anggi dengan senyum yang dipaksakan .


Lalu Ayah Alex diikuti yang lainnya mulai mengutarakan apa yang ingin mereka pesan dan Bang Anggi dengan cepat langsung mencatat semua pesanannya dan ketika sudah selesai ia langsung pamit pergi .


Naura tak banyak bicara , ia tahu pasti kedua orang tua dan para sahabat nya saat ini tengah bingung dan bertanya-tanya , pasalnya sudah dua orang yang bersikap aneh pada Naura dan sudah pasti mereka mengira ada apa-apanya .


" Kak kamu kenal dengan masa-masanya tadi ? " , tanya bunda Shalwa memecahkan keheningan dimeja itu .


" Emmm gimana Bun ? " , tanya balik Naura gugup .


" Ra lu kenapa sii ? , Tante Shalwa tanya lu kenal dengan mas yang manggil lu dengan sebutan dek tadi ? " , tanya Ocha panjang lebar .


" Mmm kenal , karna Naura kan sering makan disini bareng kak Azka , iya kan bee ? " Jawab Naura gugup seraya meminta dukungan dari Azka , dan Azka hanya menganggukan kepalanya .


" Kok malah berbohong lagi sii Ay ? " batin Azka seraya menatap Naura .


Tak lama pesanan mereka datang namun kali ini yang mengantarkannya bukan bang Anggi ataupun bang Galih .


" Selamat menikmati " Ujar pelayan ketika semua makanan sudah dihidangkan dimeja .


" Makasih mas " , jawab bunda Shalwa ramah dan yang lain hanya mengangguk seraya tersenyum .


" Eh mas tunggu sebentar , mas tahu gak siapa pemilik Caffe Zana ini ? " , tanya Temmy yang penasaran dan memang Caffe Zana ini tidak diketahui siapa pemilik sebenarnya .


" Uhukh..Uhukh " , Naura yang sedang meminum jus ia langsung tersedak mendengar pertanyaan Temmy .


" Ay "


" Kak "


" Ra "


panggil Azka , bunda Shalwa , Ayah Alex dan para sahabat Naura berbarengan karna khawatir .


" Minum Ay " , ujar Azka seraya menyodorkan gelas yang berisi air mineral .


" Maaf saya permisi " , Pamit pelayan tadi .


Dan tak lama Naura pun pamit untuk ke kamar mandi , namun Naura bukan benar-benar ingin ke kamar mandi ia bermaksud ingin menemui kedua abangnya dan ia langsung menuju ruangannya ketika dirasa aman , tak lupa Naura pun mengirimkan pesan pada kedua abangnya agar segera ke ruangan .


Tanpa Naura sadari ternyata secara diam-diam ada yang mengikutinya dan mencoba menguping semua pembicaraan Naura dengan kedua abangnya , namun sayang ternyata ruangan Naura kedap suara dan sialnya bang Angga menutup pintunya dengan rapat .


😘


😘


😘


Jangan lupa tinggalkan jejak like , komen , Vote dan tambahkan ke favorit 💙 , terimakasih 🤗🤗🙏.