The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 96 - Apa yang direncanakan Xue Ling ?



            Seteah tersadar, Xue Ling menikmati kehidupannya bersama


Han Ling. Tidak banyak berkegiatan, lebih mengoptimalkan waktu mereka untuk


beristirahat. Cheng Mei sudah kembali ke Yue Shen Gong. Masing-masing melakukan


tugasnya sendiri-sendiri, sambil memantau kondisi dan kegiatan Xue Ling.


Semuanya


memahami, kegiatan santai yang dilakukan Xue Ling saat ini adalah untuk


menyongsong kegiatan besar setelahnya. Setelah Xue Ling tidak memiliki beban


lagi di hatinya, maka selanjutnya adalah masalah penyatuan Permata Nila dan


Permata Merah pada Pohon Bodhi. Mereka masih memiliki satu harapan untuk


memperlambat Xue Ling, yaitu pada Permata Merah.


“Xiao


Xue… bisa seperti ini denganmu… aku merasa sangat bahagia…” Han Ling memeluk


Xue Ling di ranjang mereka “Han ge, kebahagiaanmu… kenapa tubuhku yang sakit


semua ?” Xue Ling menggerutu dengan mata yang masih tertutup. Han Ling


tersenyum “jangan salahkan aku, pesonamu sangat luar biasa… kau sangat


menggodaaku…” mencium bibir Xue Ling “Han ge, tulangku sudah patah semua…” protes


dengan nada memelas.


Han


Ling tersenyum, menindih tubuh polos Xue Ling “sekali lagi… kau sudah


membangkitkan gairahku, harus bertanggung jawab padaku…” Xue Ling meronta tapi


tak berdaya pada suami yang sudah menguasai tubuhnya. Han Ling tersenyum lembut


melihat Xue Ling yang tertidur dengan wajah menggemaskannya “Xiao Xue, sangat


ingin menahanmu seperti ini selamanya…”


Mata


Han Ling berkaca-kaca. Han Ling mengelap air matanya yang hampir menetes. Wajah


Han Ling berubah sedih, matanya memerah ‘Xiao Xue, kenapa aku merasa kau sangat


jauh ? aku merasa akan segera kehilanganmu… Xiao Xue, aku takut… aku sangat


takut… kumohon, bisakah jangan pergi ! apa ini hukuman untukku atas perbuatanku


padamu dulu ? Xiao Xue, bisakah mengganti hukumannya ? jangan membalasku


seperti ini ! kau ingin aku melakukan apapun, aku akan melakukannya… jangan


tinggalkan aku…’


Han


Ling terus menatap wajah tidur Xue Ling. Semakin hari, Xue Ling semakin ceria,


tubuhnya semakin kuat. Kepulihan Xue Ling adalah berita bahagia dan juga berita


menyedihkan buat semua, terutama Han Ling. Xue Ling terlihat sangat menikmati


hari-harinya, tidak melewatkan apapun.


Permata


Nila sudah berada di tangan Xue Ling untuk waktu yang lama. Xue Ling belum


memberitahu mereka, kapan akan menyatukan Permata Nila ke Pohon Bodhi. Setiap


menanyakan Permata Merah, mereka hanya mendapat jawaban acuh tak acuh dari Xue


Ling ‘akan ditemukan pada saatnya’.


“Jie,


sebenarnya kau sudah tahu keberadaan Permata Merah kan ?” Shui Ling mulai tidak


sabar pada Xue Ling. Xue Ling membuka mata besarnya mendengar hardikan Shui


Ling “Jie, bisakah memberitahu kami ? apa yang kau fikirkan ? kapan kau akan


menyatukan Permata Nila ?” Xue Ling menghela nafas kasar “kalian terlalu


cerewet… sebentar ingin aku istirahat… sebentar ingin aku menikmati hidup…


sebentar tanya Permata Merah… Permata Nila… apa yang kalian inginkan sebenarnya


?” bertanya dengan kesal.


Shui


Ling memegang tangan Xue Ling “Jie, kau bukan tidak tahu semua


mengkhawatirkanmu kan ! Jie…” Xue Ling memijat pelipisnya “ah… kalian bisa


membuatku gila…” menghempaskan tangan Shui Ling. Shui Ling menunduk dengan


sedih “Jie…” Xue Ling menatap dingin Shui Ling “apa yang kau inginkan ?”


Shui


Ling mengangkat kepala, menatap Xue Ling “Jie… aku ingin menemanimu… Jie, kita


adalah keluarga, tapi selalu jiejie yang melindungi kami… Jie, kami sudah


besar, sudah bisa memegang tanggung jawab… aku ingin berdiri di sisi jiejie…


aku ingin berjuang bersama jiejie…” Xue Ling mengerutkan kening, menghela nafas


kasar.


“Xiao


Xue…” Han Ling menghampiri dengan senyuman. Xue Ling meliriknya, tersenyum


apa kalian yakin bisa menghadapi akhirnya ? sekali kalian melangkah, sudah


tidak mempunyai jalan mundur !” berbicara dingin dan tegas, nada seorang Xue


Ling Shen Zun, bukanlah Xue Ling – istri, saudara, atau sahabat siapapun.


Han


Ling memeluk Xue Ling “aku siap… apapun akhirnya, selama kita bersama, aku siap


menghadapinya !” Xue Ling menatap Han Ling sesaat, tersenyum sinis “Han Ling


Shen Jun, jika pada akhirnya anda harus mengangkat senjata padaku ?” “aku akan


mengangkatnya !” Han Ling langsung menjawab, membuat Xue Ling tersenyum dingin


“jangan lupakan kata-kata anda !” “tidak akan lupa !” Han Ling menggeleng.


Han


Ling menahan wajah Xue Ling, tersenyum lembut “Xiao Xue, sebagai Han Ling Shen


Jun, aku akan mengangkat senjataku pada apapun ! sebagai Fu Jun-mu, aku akan


selalu menemani Fu Ren-ku, menemani dan mendukung di setiap langkahmu ! Xiao


Xue, jangan meragukanku ! aku sanggup melakukannya, tidak akan mengecewakanmu !


tapi jangan melarangku untuk menemanimu !” Xue Ling terpana mendengar kata-kata


Han Ling.


“Jie,


kau sudah tidak sendiri lagi ! Xue Ling adalah Shen Zun, anda mempunyai


tanggung jawab dan beban anda… kami akan menemani sebagai Tian Zun dan Xian


Zun… yang menjadi tanggung jawab kami, akan kami lakukan hingga tuntas… Xue


Ling Jie sebagai saudara kami, kami ingin berada disisimu berbagi suka dan duka


bersama, sebagai satu keluarga…” Huo Ling berdiri di hadapan Xue Ling.


Xue


Ling mengerutkan kening, menghela nafas “persiapkan saja diri kalian ! tiba


saatnya jangan melupakan kata-kata kalian hari ini !” “Shen Zun, tidak akan


melupakan ! anda pun tidak bisa melakukannya sendiri, kenapa masih begitu keras


kepala ?” Wei Jiang Zheng Zhu masuk bersama Xin Lan.


Xue


Ling melihat keduanya, tersenyum “hei ekor arogan… dikatakan keras kepala,


siapa yang bisa mengalahkanmu ?” mengejek “oh tentu saja anda…” Wei Jiang tanpa


sungkan, membalikkan kata-kata Xue Ling “cih… kau minta dihajar…” Xue Ling


mencibir “aih belum saatnya… tiba saatnya yang mulia akan memberikan perlawanan


maksimal…” Wei Jiang Zheng Zhu berbicara dengan sombongnya, membuat Xue Ling


berdecak “hidup begitu lama, tidak ada yang meningkat selain kearogananmu itu…”


Wei Jiang mengangkat bahu, acuh tak acuh.


Xin


Lan tersenyum melihat perdebatan kedua sahabat ini “haih Shen Zun, kalian


berdua sangat berisik…” mengejek keduanya, membuat Xue Ling dan Wei Jiang


sama-sama membelalakkan matanya melihat Xin Lan yang cekikikan bersama lainnya.


Xue Ling dan Wei Jiang saling melihat sesaat dan membuang muka bersama-sama


“cih…”


Cheng


Mei melerai “sudah… sudah… sudah seperti ini, masih saja seperti anak kecil…


Xue…” “hei, apa maksudmu seperti ini ? aku memang masih kecil !” Xue Ling protes


“iya… iya… kau masih kecil… Xue Ling yang terkecil, termuda, tercantik, dan


terimut… begini sudah bisa kan !” Cheng Mei segera memperbaiki kata-katanya,


sementara yang lain menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Xue


Ling.


“ayo


kemarilah…” Cheng Mei menarik Xue Ling duduk “sekarang sudah bisa mengatakan rencanamu


kan !” semua ikut duduk, dengan wajah serius melihat Xue Ling yang masih


cemberut. Xue Ling melihat arah tatapan semuanya, menghela nafas dan menunduk.


Han


Ling berlutut di depan Xue Ling, mengangkat wajah Xue Ling “Xiao Xue…”


tersenyum lembut “tidak akan ada masalah… kami bisa mengatasinya… tidak akan


menghalangimu…” Xue Ling menatap Han Ling, menutup mata “Han ge, dulu kau


selalu mengusirku ! sekarang, aku mungkin akan pergi, tidak bisa mencarimu lagi


! keinginanmu saat itu akan terwujud ! Han ge, tidak ada Xiao Xue di sisimu,


kau harus hidup dengan baik” berkata perlahan dan kecil, tapi semua tetap bisa


mendengarnya.