
Seteah tersadar, Xue Ling menikmati kehidupannya bersama
Han Ling. Tidak banyak berkegiatan, lebih mengoptimalkan waktu mereka untuk
beristirahat. Cheng Mei sudah kembali ke Yue Shen Gong. Masing-masing melakukan
tugasnya sendiri-sendiri, sambil memantau kondisi dan kegiatan Xue Ling.
Semuanya
memahami, kegiatan santai yang dilakukan Xue Ling saat ini adalah untuk
menyongsong kegiatan besar setelahnya. Setelah Xue Ling tidak memiliki beban
lagi di hatinya, maka selanjutnya adalah masalah penyatuan Permata Nila dan
Permata Merah pada Pohon Bodhi. Mereka masih memiliki satu harapan untuk
memperlambat Xue Ling, yaitu pada Permata Merah.
“Xiao
Xue… bisa seperti ini denganmu… aku merasa sangat bahagia…” Han Ling memeluk
Xue Ling di ranjang mereka “Han ge, kebahagiaanmu… kenapa tubuhku yang sakit
semua ?” Xue Ling menggerutu dengan mata yang masih tertutup. Han Ling
tersenyum “jangan salahkan aku, pesonamu sangat luar biasa… kau sangat
menggodaaku…” mencium bibir Xue Ling “Han ge, tulangku sudah patah semua…” protes
dengan nada memelas.
Han
Ling tersenyum, menindih tubuh polos Xue Ling “sekali lagi… kau sudah
membangkitkan gairahku, harus bertanggung jawab padaku…” Xue Ling meronta tapi
tak berdaya pada suami yang sudah menguasai tubuhnya. Han Ling tersenyum lembut
melihat Xue Ling yang tertidur dengan wajah menggemaskannya “Xiao Xue, sangat
ingin menahanmu seperti ini selamanya…”
Mata
Han Ling berkaca-kaca. Han Ling mengelap air matanya yang hampir menetes. Wajah
Han Ling berubah sedih, matanya memerah ‘Xiao Xue, kenapa aku merasa kau sangat
jauh ? aku merasa akan segera kehilanganmu… Xiao Xue, aku takut… aku sangat
takut… kumohon, bisakah jangan pergi ! apa ini hukuman untukku atas perbuatanku
padamu dulu ? Xiao Xue, bisakah mengganti hukumannya ? jangan membalasku
seperti ini ! kau ingin aku melakukan apapun, aku akan melakukannya… jangan
tinggalkan aku…’
Han
Ling terus menatap wajah tidur Xue Ling. Semakin hari, Xue Ling semakin ceria,
tubuhnya semakin kuat. Kepulihan Xue Ling adalah berita bahagia dan juga berita
menyedihkan buat semua, terutama Han Ling. Xue Ling terlihat sangat menikmati
hari-harinya, tidak melewatkan apapun.
Permata
Nila sudah berada di tangan Xue Ling untuk waktu yang lama. Xue Ling belum
memberitahu mereka, kapan akan menyatukan Permata Nila ke Pohon Bodhi. Setiap
menanyakan Permata Merah, mereka hanya mendapat jawaban acuh tak acuh dari Xue
Ling ‘akan ditemukan pada saatnya’.
“Jie,
sebenarnya kau sudah tahu keberadaan Permata Merah kan ?” Shui Ling mulai tidak
sabar pada Xue Ling. Xue Ling membuka mata besarnya mendengar hardikan Shui
Ling “Jie, bisakah memberitahu kami ? apa yang kau fikirkan ? kapan kau akan
menyatukan Permata Nila ?” Xue Ling menghela nafas kasar “kalian terlalu
cerewet… sebentar ingin aku istirahat… sebentar ingin aku menikmati hidup…
sebentar tanya Permata Merah… Permata Nila… apa yang kalian inginkan sebenarnya
?” bertanya dengan kesal.
Shui
Ling memegang tangan Xue Ling “Jie, kau bukan tidak tahu semua
mengkhawatirkanmu kan ! Jie…” Xue Ling memijat pelipisnya “ah… kalian bisa
membuatku gila…” menghempaskan tangan Shui Ling. Shui Ling menunduk dengan
sedih “Jie…” Xue Ling menatap dingin Shui Ling “apa yang kau inginkan ?”
Shui
Ling mengangkat kepala, menatap Xue Ling “Jie… aku ingin menemanimu… Jie, kita
adalah keluarga, tapi selalu jiejie yang melindungi kami… Jie, kami sudah
besar, sudah bisa memegang tanggung jawab… aku ingin berdiri di sisi jiejie…
aku ingin berjuang bersama jiejie…” Xue Ling mengerutkan kening, menghela nafas
kasar.
“Xiao
Xue…” Han Ling menghampiri dengan senyuman. Xue Ling meliriknya, tersenyum
apa kalian yakin bisa menghadapi akhirnya ? sekali kalian melangkah, sudah
tidak mempunyai jalan mundur !” berbicara dingin dan tegas, nada seorang Xue
Ling Shen Zun, bukanlah Xue Ling – istri, saudara, atau sahabat siapapun.
Han
Ling memeluk Xue Ling “aku siap… apapun akhirnya, selama kita bersama, aku siap
menghadapinya !” Xue Ling menatap Han Ling sesaat, tersenyum sinis “Han Ling
Shen Jun, jika pada akhirnya anda harus mengangkat senjata padaku ?” “aku akan
mengangkatnya !” Han Ling langsung menjawab, membuat Xue Ling tersenyum dingin
“jangan lupakan kata-kata anda !” “tidak akan lupa !” Han Ling menggeleng.
Han
Ling menahan wajah Xue Ling, tersenyum lembut “Xiao Xue, sebagai Han Ling Shen
Jun, aku akan mengangkat senjataku pada apapun ! sebagai Fu Jun-mu, aku akan
selalu menemani Fu Ren-ku, menemani dan mendukung di setiap langkahmu ! Xiao
Xue, jangan meragukanku ! aku sanggup melakukannya, tidak akan mengecewakanmu !
tapi jangan melarangku untuk menemanimu !” Xue Ling terpana mendengar kata-kata
Han Ling.
“Jie,
kau sudah tidak sendiri lagi ! Xue Ling adalah Shen Zun, anda mempunyai
tanggung jawab dan beban anda… kami akan menemani sebagai Tian Zun dan Xian
Zun… yang menjadi tanggung jawab kami, akan kami lakukan hingga tuntas… Xue
Ling Jie sebagai saudara kami, kami ingin berada disisimu berbagi suka dan duka
bersama, sebagai satu keluarga…” Huo Ling berdiri di hadapan Xue Ling.
Xue
Ling mengerutkan kening, menghela nafas “persiapkan saja diri kalian ! tiba
saatnya jangan melupakan kata-kata kalian hari ini !” “Shen Zun, tidak akan
melupakan ! anda pun tidak bisa melakukannya sendiri, kenapa masih begitu keras
kepala ?” Wei Jiang Zheng Zhu masuk bersama Xin Lan.
Xue
Ling melihat keduanya, tersenyum “hei ekor arogan… dikatakan keras kepala,
siapa yang bisa mengalahkanmu ?” mengejek “oh tentu saja anda…” Wei Jiang tanpa
sungkan, membalikkan kata-kata Xue Ling “cih… kau minta dihajar…” Xue Ling
mencibir “aih belum saatnya… tiba saatnya yang mulia akan memberikan perlawanan
maksimal…” Wei Jiang Zheng Zhu berbicara dengan sombongnya, membuat Xue Ling
berdecak “hidup begitu lama, tidak ada yang meningkat selain kearogananmu itu…”
Wei Jiang mengangkat bahu, acuh tak acuh.
Xin
Lan tersenyum melihat perdebatan kedua sahabat ini “haih Shen Zun, kalian
berdua sangat berisik…” mengejek keduanya, membuat Xue Ling dan Wei Jiang
sama-sama membelalakkan matanya melihat Xin Lan yang cekikikan bersama lainnya.
Xue Ling dan Wei Jiang saling melihat sesaat dan membuang muka bersama-sama
“cih…”
Cheng
Mei melerai “sudah… sudah… sudah seperti ini, masih saja seperti anak kecil…
Xue…” “hei, apa maksudmu seperti ini ? aku memang masih kecil !” Xue Ling protes
“iya… iya… kau masih kecil… Xue Ling yang terkecil, termuda, tercantik, dan
terimut… begini sudah bisa kan !” Cheng Mei segera memperbaiki kata-katanya,
sementara yang lain menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Xue
Ling.
“ayo
kemarilah…” Cheng Mei menarik Xue Ling duduk “sekarang sudah bisa mengatakan rencanamu
kan !” semua ikut duduk, dengan wajah serius melihat Xue Ling yang masih
cemberut. Xue Ling melihat arah tatapan semuanya, menghela nafas dan menunduk.
Han
Ling berlutut di depan Xue Ling, mengangkat wajah Xue Ling “Xiao Xue…”
tersenyum lembut “tidak akan ada masalah… kami bisa mengatasinya… tidak akan
menghalangimu…” Xue Ling menatap Han Ling, menutup mata “Han ge, dulu kau
selalu mengusirku ! sekarang, aku mungkin akan pergi, tidak bisa mencarimu lagi
! keinginanmu saat itu akan terwujud ! Han ge, tidak ada Xiao Xue di sisimu,
kau harus hidup dengan baik” berkata perlahan dan kecil, tapi semua tetap bisa
mendengarnya.