The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 44 - Bertemu kenalan lama



Han


Ling menyusul Xue Ling yang ditarik Shui Ling berjalan di depan “Xiao Xue…”


dengan cemberut menarik Xue Ling “wah jiefu sudah menyusul, cepat sekali…” Shui


Ling menggoda, Han Ling cemberut “Xiao Xue, kau mengabaikanku !” Xue Ling


cekikikan “Han ge, aku hanya berbeda beberapa langkah darimu, mana bisa


dikatakan mengabaikan !” Han Ling merengek, tangannya terus menggenggam tangan Xue Ling..


Cheng


Mei mengejek “aiyo Han Ling Shen Jun, ini masih terang hari, harap perhatikan


sikap anda !” Han Ling acuh tak acuh pada Cheng Mei, terus merangkul Xue Ling


“aiyo Han ge, ayo cepatlah… bukankah mau ke Dong Hua Gu…” Xue Ling menarik


tangan Han Ling, berjalan terus ke depan. Bibir Han Ling perlahan terangkat, membentuk senyuman.


“hei…


dia sudah tua… bagaimana kalau kita membawa anaknya saja !” ucap seorang pria


terhadap pria lain yang tidak bergerak “kakak, aku ingin berhenti…” “adik, aku


juga sebenarnya tidak mau, tapi kalau kita tidak membawa pulang mangsa baru,


kitalah yang akan menjadi mangsa itu !” “kakak, bagaimana nasib kita, apa harus


terus menjalani seperti ini ?” “jika tidak, apa kau mau mati sia-sia ?”


curhatan beberapa pria.


Xue Ling dan lainnya melihat semua dari atas kedai “Ren


er…” Xue Ling memanggil, Ren er muncul di hadapan mereka. Xue Ling berbisik di


telinga Ren er dan Ren er pun menghilang “Xue Ling, Gu Zhu disini juga memiliki


sedikit hubungan denganmu !”  Cheng Mei


membuka suara, sukses mendapat perhatian semua, terutama Han Ling.


“kau


masih ingat pemuda yang dulu selalu membawa bunga aster putih ?” Cheng Mei


memberi gambaran “ah… pemuda puitis yang sangat menyukai bunga aster itu !” Xue


Ling teringat, Cheng Mei mengangguk “dia…” Xue Ling mengangkat tangan dan menghentikan kata-kata


Cheng Mei “Cheng Mei, aku tidak memerlukanmu sebagai Yue Shen disini !”


Cheng


Mei tersenyum menggelengkan kepala “Xue Ling, terkadang aku merasa kau lebih


maha tahu dibandingku yang bisa memiliki penglihatan.” Xue Ling acuh tak acuh


“haih jika seperti kalian yang selalu melihat, hidup jadi tidak menarik lagi.”


Cheng Mei memainkan matanya “ya ya ya sepertimu yang hanya memperhatikan Han


Ling Shen Jun, lainnya hanya angin lalu buatmu !” Xue Ling mengangkat bahunya


tidak peduli sementara Han Ling tersenyum mendengar kata-kata Cheng Mei.


“hmm…


tampaknya kita sudah menjadi target !” Ling Siang memperhatikan beberapa pria


yang mendekati mereka “Cheng, masih ingat saat dulu kita ke alam fana ?” Xue


Ling mengkode Cheng Mei, Cheng Mei menaik turunkan alisnya dengan nakal “apa


yang ingin kau lakukan ?” Han Ling bertanya “Han ge, apa kau tahu bertarung di


alam fana ?” Xue Ling bertanya dan Han Ling mengangguk.


Mereka


berjalan dengan santai di jalan besar “tuan-tuan, tolong ikut dengan kami !” beberapa


orang menghadang jalan Xue Ling dan lainnya “hmm… kenapa kami harus ikut ?”


Ling Siang menjawab asal “ikut bersama kami dengan baik atau kami harus memaksa


kalian !” si pria masih berbicara sopan, sangat nampak kesungkanan dan tidak senang dengan perkataannya sendiri.


Xue


Ling acuh tak acuh “sudahlah, untuk apa berdebat disini ! melihat kalian begitu


sopan, yang mulia akan mengambil langkah ini menemui raja bunga putih kalian…


silahkan !” semua yang menahan mereka termenung ‘semudah ini meminta ke-6 pria


mengikuti mereka’ “tuan-tuan silahkan !” mereka pun tidak menunda waktu, segera mempersila.


Han


Ling merangkul Xue Ling “kenapa tidak bermain dengan mereka ?” Xue Ling


cekikikan “lihat mereka begitu kurus, tidak enak bermain !” Cheng Mei mencibir


“bukankah kau hanya menginginkan lapangan yang lebih besar !” Xue Ling


Han


Ling menggelengkan kepala melihat keusilan wanita kecilnya, berbisik di telinga


Xue Ling “bisa bermain tapi harus selalu di sisiku… tidak boleh melirik


siapapun…” wajah Xue Ling tersenyum usil “hmm… sepertinya disini tercium bau


asam…” senyum Han Ling semakin merekah “benar, aku cemburu… dimatamu, hanya


boleh melihatku…” tawa Xue Ling menemani langkah mereka.


Para


penahan membawa mereka ke istana, terlihat seorang pemuda gagah di atas


singgasana. Xue Ling dan lainnya acuh tak acuh di hadapan pemuda itu “beri


hormat pada Da Wang !” ucap salah seorang penahan. Xue Ling tersenyum “hmm…


selama ini belum terlahir seseorang yang pantas mendapat hormat dari yang mulia…”


“hmm… pemuda yang sangat berani… yang mulia dengar, kalian dengan rela datang


kemari…” pemuda di atas singgasana berkata dingin.


“hmm…


mereka meminta kami datang dengan sopan… kenapa kami harus menolak !” Shui Ling


berkata acuh tak acuh. Sang pemuda melihat ke arah para penahan yang mengangguk


dengan gemetar padanya “hmm… menarik… menarik… apa kalian tahu mereka membawa


kalian kemari untuk hal apa ?” “yang mulia tidak perlu tahu keinginan mereka,


tapi kalian harus tahu keinginan yang mulia…” Xue Ling berbicara santai sambil


melangkah melihat-lihat istana.


“ooo…


apakah keinginan anda ?” sang pemuda bertanya “bukankah disini ada inti bunga


yang dapat menolak segala bau busuk ! yang mulia menginginkannya !” Xue Ling


berkata acuh tak acuh. Sang pemuda mengerutkan kening, tersenyum dingin “anda


menginginkan pusaka kami ? hahaha… menarik… menarik…”


Xue


Ling kembali ke sisi Han Ling “hmm… lumayan… kalian tahu memanfaatkan pusaka


untuk menutupi bau busuk itu !” sang pemuda kembali mengerutkan kening “hmm…


kelihatannya kalian tidak sepenuhnya tunduk padanya ! begini saja, serahkan inti


bunga itu dan yang mulia akan membebaskan kalian, bagaimana ?” Xue Ling menatap


sang pemuda dengan senyum nakal.


Sang


pemuda tersenyum miring “pemuda kecil, apa kau sedang bermimpi ! disini adalah


Dong Hua Gu Gong, bukan tempat bermain untukmu ! lagipula, kalian disini memang


berhubungan dengan inti bunga… kalian akan dijadikan penopang untuk inti


bunga…” “aaa… ternyata seperti itu !” Ling Siang mematahkan kata-kata sang


pemuda.


Cheng


Mei dari tadi menahan tawa “haih Da Wang a Da Wang, berapa lamapun, anda tidak


akan pernah berubah… haih nainai, sudahlah… lapangan yang kau inginkan sudah


terbang menghilang kan !” Xue Ling melirik “masih belum tentu ! haih yang mulia


masih mau melihat sendiri pusaka itu !” sang pemuda mengerutkan kening,


berusaha memahami percakapan kedua pria kecil di hadapannya.


“apa


dia bersih ?” Han Ling akhirnya membuka suara. Xue Ling mengangguk “dia masih


bersih !” Huo Ling “aa… pantas saja mereka berbicara seperti itu !” “Zhu Ren…”


tiba-tiba muncul seorang bocah kecil di hadapan mereka. Xue Ling tersenyum


“sudah selesai ?” Ren er mengangguk.


“Apa


yang kalian lakukan ?” sang pemuda berkata dingin, waspada pada keenam pemuda


dan bocah kecil di hadapannya. Xue Ling melirik, kemudian tersenyum usil “anda


ingin kami melakukan apa ?” sang pemuda tercengang “apa yang mulia mengenalmu


?” terlontar dari mulut sang pemuda. Xue Ling cemberut melihat Cheng Mei dan


Shui Ling yang cekikikan, sementara sang pemuda semakin mengerutkan kening.