
Di rumah Michelle sedang menunggu Alex pulang. Dia sudah hampir ketiduran di ruang tamu. Tadinya dia sambil menonton TV untuk mengusir rasa kantuknya, tapi sepertinya bukan dia lagi yang menonton TV. Malah TV yang bakalan menonton Michelle ketiduran. Dia melihat jam sudah jam sebelas malam. Akhirnya Michelle memutuskan untuk pergi tidur. "Mungkin dia tidurnya balik ke apartement nya lagi" pikir Michelle. Michelle juga ingat mereka beberapa hari ini tinggal bersama karena mama mertuanya lagi datang berkunjung ke rumah mereka.
Saat Michelle menaiki anak tangga, dia mendengar suara bell rumah bunyi. Dia langsung balik lagi turun untuk membukakan pintu rumah. Betapa kagetnya dia melihat kondisi Alex yang mabuk sedang dipapah seseorang. Baru kali ini dia melihat alex mabuk.
"Hai, kamu pasti istrinya Alex. Kenalkan saya William temannya Alex" sapa William
"Aaa iya benar. Silahkan masuk, sepertinya kamu sudah kelelahan memapah Alex. Apakah perlu saya bantu ? Kamar Alex ada di lantai dua" kata Michelle sambil menunjuk ke arah kamar Alex.
"Tidak apaapa, saya bisa sendiri". William berjalan memapah Alex menuju kamarnya. Michelle berada di samping Alex takutnya William tibatiba membutuhkan bantuan.
"Kenapa Alex bisa sampai mabuk seperti ini ?" tanya Michelle
"Iya dia tadi kebanyakan minum alkohol. Dia butuh menenangkan pikirannya karena ada masalah katanya tadi"
"Masalah apa ? Masalah kerjaan ?" tanya Michelle penasaran sambil merapikan Alex. Melepaskan sepatu yang dan jas dengan pelanpelan yang dikenakan Alex. Sesekali William juga ikut membantu Michelle. Dia melihat Michelle sangat telaten mengurus Alex. Gimana tante Alice nggak ngotot menikahkan Alex dengan perempuan ini. Aku aja yang pertama kali meliahat dia langsung jatuh hati. Udah baik, cantik, perhatian lagi". Huuuus mikirin apa sih lo Will, dia kan istrinya teman lo sendiri kata William merutuki dirinya sendiri yang sempatsempatnya dia tertarik melihat Michelle istri temannya itu.
"Aaa... Mengenai itu kamu bisa membicarakannya langsung setelah Alex sadar. Takutnya saya nanti salah memberi informasi" kata William. Dia tak mau mendahului Alex menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi. Toh itu masalah keluarga Alex dengan Michelle. Itu privasi mereka berdua. Dia tidak mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
Setelah selesai merapikan Alex, mereka berdua keluar dari kamar.
"Aku pulang dulu yaa, sudah tengah malam"
"Iya, terima kasih banyak sudah capekcapek mengantar Alex ke rumah"
"Iya santai aja. nggak apaapa ko". Kemudian William mengendarai mobilnya meninggalkan kompleks perumahan temannya itu.
Besok paginya, Alex bangun dengan kepalanya yang terasa pusing. Dia melihat cahaya dari selasela gorden jendela kamarnya. Dia melihat sekelilingnya ternyata dia ada di kamar rumah dia tinggal dengan Michelle. "Sial, perasaan aku bilang tadi malam diantar ke apartemen ku. Kenapa jadi ke sini sih" pikir Alex. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 08.00 wib. Telat deh berangkat ke kantor.
Saat dia mau pergi ke kamar mandi, Michelle datang membawa nampan berisi serapan buat Alex.
"Kamu udah bangun ? Ini aku bawain serapan buat kamu" Michelle meletakkan nampan di atas nakas dekat tempat tidur Alex. Dia melihat ke arah Alex yang hanya memandanginya. "Kamu masih pusing ? Atau kamu butuh dibuatin sesuatu ?" tanya Michelle, tapi Alex masih tetap diam. Michelle yang lamakelaman merasa canggung memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
"Apa yang kamu ceritain sama mama kemarin ?" tanya Alex dengan suara sangat dingin dengan mimik muka seperti singa yang siap menerkam mangsa nya.
"Nyeritain apa maksud mu Lex, aku nggak ngerti ?" kat Michelle yang tampak kebinggungan maksud pertanyaan Alex dan dia meresa cengkeraman Alex pada lengannya sangat kuat sehingga Michelle meringis kesakitan.
"Nggak usah kamu bohong. Kamu yang nerima panggilan telepon dari satpam kemarin pagi. Kamu pasti ngasih sama mama kalau aku menemui Rara". Michelle berusaha melepaskan lengannya dari ngenggaman Alex tapi tidak berhasil.
"Sakit Lex, lepasin tangan aku" kata Michelle masih berusaha menarik tanggannya supaya lepas.
"Jawab dulu pertanyaan aku". Alex masih tidak mau melepaskan lengan Michelle, malah dia semakin mengeratkan genggamannya yang semakin membuat lengan Michelle semakin terlihat memerah.
"Aku kan dah bilang, aku nggak ada cerita sama mama. Lagian dari mana aku tahu yang menelepon kemarin itu Rara. Aku samasekali nggak tahu. Mama kemarin langsung pamit pulang nggak lama setelah kamu pergi". Mendengar penjelasan dari Michelle, Alex menatap wajah Michelle mencari adakah kebohongan di sana. Tapi sepertinya Alex tidak menemukan apa yang dia cari di sana.
"Lex lengan aku sakit, lepasin Lex..."
"Ya itu salah kamu sendiri, lagian sudah tahu mama lagi di sini ngapain kamu bertemu sama pacar mu itu" kata Michelle yang semakin Alex menatap nya tajam. Sepertinya Alex tidak terima disalahkan disini. Dia melepaskan lengan Michelle dengan menghentakkannya membuat Michelle semakin merasa kesakitan. Kemudian dia langsung pergi ke kamar mandi dengan sengaja atau tidak, Alex menyenggol badan Michelle sehingga Michelle terdorong ke belakang.
Alex tanpa merasa bersalah pergi begitu saja dan menutup pintu kamar mandi dengan kasar sehingga menimbulkan suara dentuman kencang tanpa memperdulikan Michelle yang menahan kesakitan. Michelle terdiam melihat kelakuan Alex. Dia langsung turun ke dapur, disana dia mencari es batu untuk mengkompres lengannya yang susdah memerah akibat ulah dari suaminya itu.
Sudah hampir setengah bulan dari kejadian itu Alex masih tetap beperilaku dingin. dan sifatnya kembali seperti awal. Untungnya sekarang dia lebih sering tinggal di rumah dari pada beberapa bulan sebelumnya yang dia lebih memilih tinggal di apartemennya. Walaupun sikap Alex yang seperti itu, Michelle tetap menjalankan tugas nya sebagai istri.Dia sepertinya lebih memilih untuk tidak membuat hubungan nya dengan Alex semakin renggang. Walaupun dia tahu suaminya itu masih belum mengakhiri hubungannya dengan pacarnya itu, tapi Michelle tetap setia menunggu Alex berubah. Dia yakin Alex tidak akan seperti itu selama nya.
Dan semenjak kejadian itu pula Ny. Alice mengirimkan ada enam orang maid ke rumah anak dan menantunya itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Pada awalnya Michelle menolaknya, dia merasa masih mampu melakukan pekerjaan rumah sendiri. Dibalik itu juga, dia takut Alex akan marah sama dia. Tapi melihat tidak ada respon yang kurang baik dari Alex, akhirnya dia menerima maksud baik dari mama mertuanya itu.Michelle pun semakin terbantu dengan adanya para maid tersebut. Dia melakukan perkerjaan rumah hanya yang penting saja salah satunya memasak atau menyiapkan serapan pagi harus dia yang melakukannya.
🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲
Thanks para readers yg masih setia membaca novel ku ini. Maaf kalau masih ada typo
See you in the Next part....
😍😍😍😍