
Author POV
Tiba-tiba Alex terbangun. Ternyata dia ketiduran sambil menonton TV tadi. Ini da jam berapa pikirnya sambil melirik jam tangannya. Aduh ****** gue, udah hampir satu jam perempuan itu menunggu. Gimana ini ? Pasti dia udah marah-marah dan berpikiran yang jelek tentang gue. Secara gue kan pimpinan perusahan. Masa masalah gini aja nggak tapat waktu pikir Alex. Tapi, aaaaah.... emang siapa dia ? Bodoh aaah....
Alex langsung mengambil kunci mobil nya dan pergi ke alamat yang mamanya kirim. Setelah dia sampai di restoran itu, dia langsung menuju ruangan di mana Michelle sedang menunggu. Dia membuka knop pintu ruangan itu dengan asal. Dia melihat seorang wanita duduk sambil menunduk. Apakah dia sampai ketiduran gara-gara gue lama datang pikir Alex. Tiba-tiba Michelle yang melihat sekilas ke arah Alex dan mengalihkan pandangannya lagi.
Whaaaat theee......!!!
Gue datang bukannya di sapa, atau bilang apa kek pikir Alex. Dia menutup pintu pelan-pelan dan berjalan menuju meja di mana Michelle duduk. Dia menarik kursi tanpa sengaja akibat gesekan kursi dengan lantai menimbulkan suara membuat Michelle mendongkak melihat kearahnya yang masih berdiri.
Saat mereka saling memandang, Alex tanpa sadar juga mengagumi wajah Michelle yang nggak kalah cantik dari pacarnya, putih mulus, rambutnya yang digerai panjang dan hitam. Dia juga merasa sepertinya pernah bertemu tapi di mana pikir Alex. Tapi Alex langsung sadar dan duduk.
"Apakah kamu tidak ada sopannya ? Orang datang cuma diplototin doang ?" tanya Alex. Michelle yang mendengar suara dari orang di depannya itu langsung sadar dan kaget. Novel yang dia pengan sampai jatuh.
"Maaf, saya pikir tadi anda salah masuk ruangan makanya saya tidak menyapa" Michelle mencoba menjelaskan , lalu mengambil novel nya yang terjatuh dan menyimpannya ke dalam tas. Michelle masih tidak percaya dengan ketampannan laki-laki yang di depannya itu.
"Apakah belum cukup menikmati ketampanan ku nona ?"
Michelle langsung mengalihkan pandangannya, dia merasa malu mengakibatkan pipinya merah seketika.
"Maaf" hanya itu yang bisa michelle ucapkan.
Alex tersenyum melihat tingkah Michelle yang tersipu malu.
"Apakah kamu kamu sudah makan ?"
"Belum" kata Michelle sambil menggelengkan kepalanya.
"Belum ? Ini sudah jam berapa belum makan ? Kenapa nggak mesan duluan ? "
Michelle hanya bisa diam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alex kepada dia. Dia tahu tempat ini sebagian besar menunya adalah seafood dan dia alergi terhadap makanan itu. Dan dia baru tahu restoran ini khusus untuk menjual makanan seafood setelah dia sampai tadi.
"Kalau aku tadinya nggak datang, jadi kamu nggak bakalan makan ?" tanya Alex lagi. Melihat Michelle tidak ada respon, Alex langsung memanggil pelayan restoran itu dan memesan beberapa macam makanan.
Dalam hatinya Michelle berkata "emang yang datang lama siapa ? Iya kali aku main makan-makan aja"
Setelah makanan datang, mereka langsung makan. Michelle hanya makan beberapa potong saja. Sebenarnya dia alergi makanan laut, cuma karena Ny. Alice sudah memesan tempat itu duluan dia nggak merasa nggak enak untuk ngomong.
Melihat Michelle makannya sangat sedikit, Alex bertanya.
"Mengapa makannya sedikit ? Apa tempat ini tidak sesuai selera mu ? Atau mau kita pindah ke tempat yang lebih mewah lagi ?"
"Aaaah maaf, aku nggak terlalu suka makanan laut, cuma karena tante udah duluan pesan aku nggak enak bilangnya" Michelle mencoba menjelaskan secara halus dan cepat menggelengkan kepalanya.
Mereka makan sambil ngobrol, dan setelah mereka sekian lama duduk baru mereka saling memperkenalkan diri masing-masing. Lucu juga yaaa, udah panjang lebar ngobrolin apa baru tahu nama masing-masing. Michelle menceritakan kalau dia bekerja di salah satu toko roti di kota itu. Dan begitu juga dengan Alex, dia bercerita kalau dia bekerja di salah satu perusahaan di kota itu.
Dan sejauh ini Michelle melihat Alex adalah orang yang baik,sikapnya yang tegas, berwibawa hanya terkadang keras kepala. Tidak ada perasaan yang membuat Michelle tidak nyaman.
Tiba-tiba handphone Alex berdering. Lalu Alex menjawab teleponnya dan sesekali melirik kearah Michelle. Setelah Alex selesai menjawab teleponnya dia langsung meminta Michelle ikut bersama dia.
"Chell, mama meminta kita untuk ke rumah" kata Alex
"Sekarang ? Ngapain tante nyuruh kita datang ke rumah?"
"Nggak tahu mama mau ngapain. Ayoo..."
Setelah membayar pesan, mereka keluar dari restoran dang menuju parkiran. Alex melihat Michelle pergi ke lain arah dan memanggilnya
"Chell, kamu mau ke mana ?"
"Mau ngambil motor. Kita mau ke rumah tante kan ?"
"Truuus yang nyuruh kamu naik motor siapa ? Naik mobil ku aja, ntar kamu keserempet di tengah jalan lagi" jelas Alex
"Keserempet ??? Helloooo, aku aku nggak sekali dua kali naik motor kali ?" kata Michelle mencoba menjelaskan.
Melihat Michelle tidak ada niat untuk ikut naik mobil milik Alex, Alex langsung menarik tangan Michelle dan berjalan ke arah mobilnya.
"Heeei, lepasin. Tangan aku sakit kali kamu tarik-tarik gitu. Emang aku karung apa ? Lepasiiiiin." Michelle mencoba menarik dan ngelepasin tangannya dari genggaman Alex, tapi nggak berhasil karena tenaga Alex lebih kuat.
"Lagian apa susahnya siiih cuma naik mobil, bukan kamu yang capek nyetir" kata Alex sambil melihat ke arah Michelle tanpa melepaskan ngenggamannya.
"Nanti motor aku gimana ? Masa aku tinggalin di sini ?"
"Itu gampang, nanti sopir aku yang bawa" kata Alex sambil membuka pintu mobilnya dan mendorong Michelle untuk duduk di kursi samping kemudi.
"iiiiiiiiihhhh, jadi orang maksa banget siih" kata Michelle dalam hatinya.
Alex menjalankan mobil nya menuju rumah orangtuanya. Dia juga bingung, ngapain mamanya menyuruh datang berdua dengan Michelle ke rumah. Selama dalam perjalanan mereka tidak ada ngobrol malah sibuk dengan pikiran masing-masing.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Author's POV
Tadi pagi setelah Ny. Alice mengingatkan Alex untuk pertemuan mereka hari ini, dia pergi ke rumah Michelle. Di sana dia bertemu dengan bibinya Michelle dan menyampaikan niat kedatangannya. Dia merasa sangat senang Michelle diizinkan menjalin hubungan dengan dengan anaknya. Dan terlebih Michelle akan jadi menantunya.
Setelah selesai dari rumah Michelle, dia pergi kesalah satu toko perhiasan langganannya. Saking senangnya, dia ingin mempersiapkan segala sesuatu untuk kepernikahan anak dan calon menantunya tersebut.
"Aduuuuh Ny. Alice ini memang benar-benar mertua idaman ya" ☺
Ny. Alice yang sedang duduk di ruang keluar sambil senyum-senyum menghayalkan sebentar lagi Michelle akan menjadi menantunya. Tiba-tiba hanyalannya itu harus dia hentikan karena Alex memanggilnya.
"Sore ma, sore tante " sapa mereka serempak. Mendengar suara mereka, Ny. Alice melihat ke arah mereka.
"Soreee, wah anak dan calon mantu mama udah nyampe rupanya" sapa Ny. Alice. Setelah selesai acara cipika-cipiki mereka, Ny. Alice mempersilahkan mereka duduk.
"Jadi apa tujuan mama memanggil kami berdua ke sini ma?" tanya Alex to the point.
"Kamu ya Lex, nggak ada basa-basinya, nanya mama apa sehat atau apa kek, ini nggak ada " kata Ny. Alice.
"Ngapain mama, Alex udah liat mama sehat-sehat kok"
"Ya sudah, nggak usah di perpanjang. Yang jelas mama memanggil kalian berdua ke sini karena ada yang mau mama sampaikan. Jadi, mama sudah merencanakan acara pertunangan kalian akan dilakukan dua minggu lagi sedangkan acara pernikahan kalian satu bulan lagi" kata Ny. Alice dengan tenang.
Kedua orang yang di depannya itu syook mendengar penjelas Ny. Alice.
"Maa, apa ini nggak kecepatan ? Kita baru bertemu hari ini loo ma ?" tanya Alex
"Nggak Lex, sebelumnya mama sudah bilang tidak ada kata penolakan".
Mendengar kata-kata mamanya, Alex hanya bisa diam, mencoba menerima perkataan mamanya. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang mamanya sekarang lakukan adalah hal yang terbaik buat dia. Dia mencoba berpikir positif. Tidak ada di dunia ini yang mengaharapkan kehidupan anaknya hancur melainkan ingin yang terbaik pikir Alex dalam hati. Alex melihat mama pergi meninggalkan mereka berdua.
Alex kemudian melihat ke arah Michelle yang hanya diam melihat ke pergian mamanya. Michelle yang merasa dilihatin terus merasa gugup dan hanya mengangkat bahunya menandakan dia tidak tahu mau berbuat apa.
Alex hanya bisa menghela napasnya dan pergi ke kamarnya meninggalkan Michelle sendirian di ruang keluarga. Michelle bingung sendiri tidak tahu mau ngapain. Ini rumah bukan rumahnya. Dia keluar dari ruang keluarga dan mencoba melihat sekitar ruangan apakah ada orang. Dia berjalan dan menemukan ruang dapur.
Michelle melihat sekilas ke arah ruang dapur tersebut. Ada beberapa orang yang sedang sibuk memasak. Kemudian dia berjalan dan menemukan pintu taman belakang. Disana dia melihat bebagai macam tanaman yang sangat rapi dan terawat. Ditambah lagi sebuah kolam renang yang sangat luas. Walaupun hari sudah mulai gelap, tidak mengurangi keindahan taman dan kolam itu. Karena dilengkapi lampu taman.
Melihat dan merasakan suasana taman yang tenang membuat Michelle semakin betah berlama-lama di tempat itu. "Waaaah cocok banget di sini bisa menghilangkan rasa penat dan strees" kata Michelle dalam hati. Tiba-tiba Michelle mendengan suara Ny. Alice menggil dia.
"Chell, Alex mana ? Ko kamu sendirian aja ?"
"Nggak tahu tante, tadi dia langsung pergi nggak bilang mau ke mana " kata Michelle
"Anak itu yaa, tante sengaja ninggalin kalian biar bisa leluasa ngobrol malah main tinggal-tinggal aja sih"
Michelle hanya diam mendengar Ny. Alice. Dia merasa wajar juga Alex kesal. Mengingat pembicaraan mereka tadi Michelle mencoba berbicara dengan Ny. Alice.
"Tante, apa acara ini nggak kecepatan dilakukan tante?"
"Chell, tantekan sudah bilang. Dan kamu juga sudah menerima perjodohan ini. Apalagi yang mau ditunggu sayang. Tante juga sudah janji sama diri tante sendiri, apapun yang kamu inginkan tante akan penuhi".
"Bukan masalah itu tante. Aku sama Alex juga kan baru ketemu, kita berdua sama-sama ingin lebih mengenal tante" kata michelle mencoba menjelaskan.
"Chell, tante sudah yakin banget kamu orang yang cocok buat anak tante. Masalah baru kenal, perasaan dan yang lain tante yakin seiring berjalan waktu kalian akan nyaman satu sama lain" jelas Ny. Alice.
"Ah, ayo masuk ke dalam, ini sudah malam. Biar sekalian kita makan malam" kata Ny. Alice. Mereka tidak tahu ternyata ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
Di meja makan ternyata sudah ada sudah ada Tn. Adam, mereka berdua bergabung untuk makan bersama. Ny. Alice melihat keberadaan Alex. Saat dia meminta pembantunya untuk memanggil, ternyata Alex tiba-tiba muncul dengan muka datarnya.
Saat mereka fokus dengan makanan masing-masing, Michelle merasa ada yang memandanginya. Dia melihat Alex yang menatapnya dengan tatapan mendelik membuat Michelle tidak nyaman.
Setelah selesai makan, dia mengobrol sebentar dengan Tn. Adam. Kemudian dia pamit untuk pulang. Ny. Alice meminta Alex untuk mengantarnya.
"Tidak usah tante, tadi saya bawa motor" kata Michelle merasa tidak enak.
"Emang siapa yang bilang motor itu dibawa ke sini?" tanya Alex tiba-tiba.
"Tadi sebelum kita ke sini kamu bilang sopir mu yang membawa" kata Michelle.
Michelle kaget melihat Alex yang tiba-tiba berdiri dan menarik lengannya sambil berkata "ayoo..."
Michelle langsung pamit ke kedua orangtua Alex dan mengikuti Alex dari belakang. Di lama mobil dia masih melihat muka Alex yang masih tanpa ekspresi dan fokus mengemudi. Di sepanjang jalan hanya keheningan yang terjadi di antara mereka.
Setelah sampai di depan rumah Michelle, Alex menghentikan mobilnya. Saat Michelle pamit dan mau membuka pintu mobil, tiba-tiba lengannya ditahan oleh Alex.
"Berapa banyak bayaran mu yang dijanjikan mama supaya kamu mau menerima perjodohan ini" tanya Alex. Mendengar pertanyaan itu Michelle bingung sendiri.
"Bayaran apa maksud kamu Lex ?" tanya Michelle kaget karena dia benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan Alex.
"Alaaaaaah, kamu jangan pura-pura nggak tahu. Semua ini gara-gara uang kan ? Berapa yang mama janjikan biar aku saja yang bayar" kata Alex lagi.
Michelle yang semakin bingung merasa bandan kurang nyaman. Sepertinya hari ini dia benar-benar salah memakan makanan yang harusnya tidak boleh dia makan .
"Tanya aja sama tante langsung" kata Michelle dan buru-buru membuka pintu mobil Alex dan turun dari mobil itu.
"Terima kasih atas tumpangannya, hati-hati di jalan" kata Michelle. Michelle merasa sakit hati bahwa Alex mengangap dia menerima perjodohan itu karena masalah uang. Dia semakin merasa tidak nyaman ditambah dadanya semakin sesak. sepertinya dia benar-benar salah makan.
Ya, tadi saat Michelle dengan mamanya Alex ngobrol di taman belakang rumah orangtuanya itu dia mendengar sekilas pembicaraan mereka. Dan Alex salah mengartikan, salah paham dengan obrolan kedua orang itu. Alex memukul setir mobilnya merasa kesal sendiri."Kenapa semua hanya tentang uang" pikir Alex.
Saat Michelle keluar dari mobil tadi, dia sempat melihat Michelle merasa kurang nyaman dan melihat seperti sesak nafas. Tapi karena dia sedang merasa kesal, dia membiarkan dan melihat Michelle pergi berlari masuk ke dalam rumahnya sambil menahan air matanya jatuh. Kemudian dia langsung balik ke apartemennya.
Bibi Amanda yang melihat Michelle buru-buru masuk ke dalam rumah merasa bingung.
"Bi, obat Michelle bi, obat alergi biii" Michelle mencoba meminta bantuan bibinya. Bi Amanda yang tanggap dengan kondisi Michelle langsung mengabil obat yang diminta Michelle.
Setelah dia meminum obatnya dan setelah dia merasa baikan, Bibi Amanda bertanya apa yang terjadi. Bibi Amanda tahu sesak yang dialami Michelle bisa terjadi bila dia makan makan seafood kalau nggak bila dia mengalami tekanan. Michelle hanya menjelaskan kalau dia hanya salah memakan makanan tadi.
Kemudian Bibi Amanda bercerita jika orangtua Alex datang tadi pagi untuk meminta izin sama dia. Michelle yang mendengar cerita bibinya hanya biasa tersenyum. Betapa sangat inginnya Ny. Alice menjadikan dia sebagai menantunya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Dua minggu setelah pertemuan itu, Michelle mengundang teman satu kerjanya untuk menghadiri acara pertunangannya. Mendengar kabar tersebut teman-temannya sangat merasa senang. Terlebih Mia, kanget mendengarnya. Selama ini dia tidak pernah tahu Michelle dekat dengan laki-laki mana tiba-tiba langsung mendengar undangan saja dari sahabatnya itu.
"Kamu berhutang penjelasan sama ku" kata Mia
"Iya, tapi nggak sekarang" kata Michelle sambil tersenyum.
Tiba hari dimana acara pertunangannya dengan Alex dilakukan. Pagi-pagi buta Michelle sudah di sibukkan dengan persiapan acaranya nanti. Acaranya dilakukan di sebuah hotel mewah milik keluarga Griston. Michelle melihat sekilas ruangan tempat di mana acaranya nanti dilakukan.
Ruangan yang di dekor dengan megahnya. Warna bunga-bunga pink muda dan biru langit yang mendominasi disertai hiasan warna kilat dari kristal-kristal yang semakin membuat ruangan itu semakin waaaah untuk dipandang.
Saat waktunya acara akan dilangsungkan michelle masuk keruangan tersebut. Dia melihat beberapa teman kerjanya sudah duduk di tempat yang disediakan. Begitu juga keluarga inti dari Alex sudah ada di ruangan tersebut.
Saat Michelle berjalan dan duduk di depan Alex, pandangan mereka saling bertemu. Alex seakan-akan tidak percaya yang di depannya itu Michelle apa nggak. Beda banget Michelle yang tanpa make up, padahal Michelle minta sama orang yang yang merias dia make upnya dibuat senatural aja. Pandangan Alex tidak pernah beralih dari Michelle hingga pada saatnya tiba diacara mereka saling memberikan cincin ke jari manis kiri masing-masing menandakan bahwa mereka sudah terikat dengan yang nama nya "BERTUNANGAN".
Saat mereka sudah duduk bersama ditempat yang sudah disediakan khusus buat mereka berdua, tiba-tiba Alex membisikkan sesuatu di telinga Michelle.
"Chell, hari ini kamu sangat cantik" kata Alex sambil tersenyum. Michelle yang mendengarnya langsung tersipu malu sambil tersenyum.
"Terima kasih pujiannya" kata Michelle. Baru kali ini Alex memujinya sambil tersenyum. Senyuman yang tidak pernah Michelle lihat.
Tiba-tiba Alex mengeluarkan handphonenya yang diseting mode getaran dari saku jasnya. Dari tadi Michelle memperhatikan sudah berapa kali Alex mematikannya. Mungkin ada beberapa pekerjaan yang nggak bisa dia tinggalkan pikir Michelle. Tapi saat Alex mau menon aktifkan handphonenya, Michelle sempat melihat nama yang tertera di layar handphone Alex.
Siapa ???
RARA !!!!!!
Tunggu kelanjutan di part berikutnya............