The Power Of Love

The Power Of Love
Bertanya-tanya



Tok......tok.....tok.....


"Naaaak....... banguuuuun"


Tok.....tok......tok......


"Cheeeeel........bangun sayang udah jam setengah enam ini. Nanti kamu telat berangkat kerja chel", bibi Amanda membangunkan Michelle. Ya, dia adalah bibi Michelle keluarga satu-satunya yang Michelle punya semenjak kedua orangtuanya pergi meninggalkannya karena sebuah kecelakaan. Saat itu usia Michelle masih 5 tahun. Bibi Amanda tidak punya anak semenjak dokter mendiagnosa bahwa dia tidak bisa memperoleh keturunan, dan semenjak itu juga suami bi Amanda meninggalkan dia. Alhasil hanya mereka berdualah yang tinggal dalam rumah sederhana ini.


"Iya biiiiii......."


Michelle bangun. Dia sudah melihat bi Amanda sibuk menyiapkan sarapan dan dia membantu mmbersihkan dan merapikan rumah. Setelah selesai, Michelle langsung pergi mandi. Dua puluh menit kemudian dia keluar dari kamar sudah rapi dan siap berangkat kerja. Dia langsung menuju meja serapan. Bibi Amanda juga sudah menunggu dia di sana.


Bi Amanda melihat Michelle mendekat ke arah meja makan."Aduuuuuh anak bibi ini laah cantik sekali". Sambil mencubit pipi Michelle dengan gemes.


"Aaaaarrgh..... Bi, bibi sakiiiit......" Michelle tampak kesakitan sambil mengelus pipinya yang tampak kemerahan karena cubitan dari bibinya.


"Ayooo... makan serapanmu nanti kamu telat berangkat kerja" kata bi Amanda mengingatkan Michelle. Karena sekarang sekarang sudah hampir setengah tujuh, menandakan Michelle harus berangkat.


Dengan lahapnya Michelle menghabiskan serapannya sampai dia terbatuk-batuk hampir keselek makanan yang ada di tenggorokannya. Buru-buru bi Amanda langsung menyodorkan air minum ke arah Michelle.


"Pelan-pelan dong chel, nggak usah kayak nancap gas motor gitu makannya. Nanti kalau kamu kenapa-napa bibi juga yang repot" kata bi Amanda sambil geleng-geleng kepala melihat Michelle.


Michelle langsung meminum air minum yang sudah ada di depannya. Dia hampir menghabiskan isi gelas tersebut untuk membebaskan makanan yang mengganjal di kerongkongannya.


"Maaf bi, Michelle nggak kenapa-napa ko" hanya itu kata yang keluar dari mulut Michelle untuk menenangkan bibinya itu. Setelah Michelle merasa aman, dia langsung buru-buru lari ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya. Kemudian dia pamitan untuk berangkat.


"Cheeeel...... jangan lari-lari nanti jatuh" bi Amanda hanya bisa menggeleng-ngelengkan kepalanya sambil senyum melihat tingkah Michelle. Dia menyusul Michelle ke teras rumah.


"Iya bibi cantiiiik" kata Michelle sambil menyalakan motornya.


"Michelle berangkat ya bi...???"


"Iya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa motornya."


"Iya bi, Michelle ingat kata bibi. Daaaah biiii....." sambil melambaikan tangannya ke arah bi Amanda.


"Daaaaah....." bi Amnda juga melambaikan tangannya sampai Michelle nggak kelihatan dari pandangannya dan dia baru masuk ke dalam rumah.


Michelle mengendarai sepeda motornya. Jalan sudah mulai dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang dan orang-orang juga sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sudah lima tahun lebih sepeda motor tersebut menemani Michelle menjalani lika-liku kehidupannya. Bibi Amanda memberikan sepeda motor tersebut sebagai hadiah setelah Michelle lulus dari khursus lesnya dibidang tata boga khusus bagian mengolah cake, roti, dll.


Bibi Amanda tidak mempunyai cukup materi untuk membiayai bila Michelle melanjut kuliah. Untungnya Michelle anak yang pengertian. Orangtua Michelle juga dulu waktu hidup bukan keluarga yang berada. Hanya punya usaha warung kecil-kecilan yang sekarang diteruskan oleh bibi Amanda. Dan bersyukur juga rumah yang sekarang mereka tempati adalah rumah peninggalan orangtua Michelle. Entah di mana mereka tinggal jika tidak ada rumah tersebut.


Setelah tiga puluh menitan Michelle mengendarai sepeda motornya, akhirnya dia sampai juga di tempat kerjanya yang ada di pusat kota daerah tersebut.


Ya, Michelle bekerja di sebuah toko yang menjual berbagai macam cake, roti, bolu, pastry, dll. Dan dia salah satu orang yang pintar mengolah makanan tersebut. Dia hanya punya skill dibidang itu. Dari toko itulah Michelle memperoleh gaji untuk melanjutkan kehidupannya. Walaupun gaji yang dia peroleh tidak sebesar gaji orang lain yang pekerjaannya lebih bagus dari Michelle, tapi dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyalahkan kenapa dulu orangtuanya meninggalkan dia, dia tidak pernah menyalakan keadaannya.


Dia punya prinsip selagi pekerjaan yang dia kerjakan itu adalah pekerjaan yang halal dia akan semangat menjalaninya. Dan suatu hari nanti Michelle juga berharap dapat membuka toko sendiri. Maka sebagian dari gajinya dia sisihkan untuk cita-citanya tersebut.


Beruntung toko tempat dia berkerja sekarag sudah banyak perusahan-perusahaan, orang-orang yang melangsungkan pernikahan yang memakai jasa mereka untuk menyediankan kebutuhan pelanggan. Bisa dibilang toko tempat Michelle bekerja ini sudah dikenal banyak orang. Baik dari kalang orang biasa, menengah sampai orang-orang kelas atas. Sehingga para karyawan toko itu tidak capek-capek mempromosikan, membagi-bagikan brosur toko mereka. Cukup mereka promosi dari acount medsos toko dan dari mulut ke mulut para pelanggan mereka.


Jam menunjukkan pukul 08.45 wib menandakan 15 menit lagi toko akan dibuka. Michelle sudah setengah jam lebih merapikan dan sudah mulai membuka jendela-jendela toko, menyiapkan bahan-bahan olahan mereka supaya nanti lebih gampang saat mereka memasak. Karyawan toko tersebut ada dua puluh orang lebih. Hanya di satu toko itu dan mereka dibagi-bagi shift jam kerja. Karena toko tersebut buka dalam 24 jam. Michelle selalu dapat shift pagi karena dia adalah orang kepercayaan dari pemilik toko.


Ya, pemilik toko itu adalah ibu Ratih. Dia mempercakan Michelle untuk mengurus tokonya. Dia melihat Michelle orangnya rajin dan bertanggungjawab. Biasanya dia datang sekali seminggu dan akhir bulan untuk memantau kerja para karyawannya. Untuk masalah lain dia mendiskusikannya dengan Michelle lewat telepon saja.


Michelle mendengar bunyi lonceng pintu toko berbunyi. Itu tandanya ada orang yang masuk ke dalam toko. Dia mengeceknya, dan benar aja. Mia teman kerjanya sekaligus sahabatnya itu sudah sampai.


"Pagiii..... Mia, ternyata kamu yang datang kirain siapa" kata Michelle


"Pagi juga chel... kamu pikir siapa yang datang hhmm ? Pacar mu? Setahu ku kamu itu jomblo karatan chell. Siapa yang datang pagi-pagi gini nyariin kamu ha ?" kata Mia dengan senyam-senyum buat godain sahabatnya itu. Dia tahu selama ini Michelle tidak pernah dekat bahkan punya hubungan serius dengan laki-laki.


"Iiiiiih Mia, kamu ya suka banget ngusilin aku, aku kan cuma mastiin siapa yang datang. Ini malah sampai bahas pacar" kata Michelle sambil meninggalkan Mia. Dia pergi lagi ke pentri belakang untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.


Mia juga pergi keruang loker mereka untuk ganti seragam kerja sambil nyengir melihat Michelle yang pergi meninggalkannya. Teman-teman kerja mereka yang lain juga sudah berdatangan.


Mereka pun mulai melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang jaga kasir untuk melayani Pembeli, ada yang dipentri untuk memasak stok-stok jualan mereka yang habis. Sekali-kali Michelle bantuin juga jaga kasir kalo di pentri tidak terlalu sibuk. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk memesan cake, roti, bolu, pastry, dll. Ada yang sekedar buat stok dirumah, ada juga yang memesan buat acara pesta, arisan, dan buat oleh-oleh.


Nggak terasa hari sudah siang, mereka bergantian untuk makan. Michelle lebih memilih belakangan. Dia yang menjaga kasir supaya teman-temannya yang lain duluan makan.


Kurang lebih 10 menitan dia jaga kasir, lonceng pintu toko berbunyi. Dia melihat seorang ibu masuk ke dalam toko. Michelle berdiri menyapa pembeli tersebut.


"Selamat siang ibu, selamat datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu ?" Michelle menawarkan bantuan.


"Oh, selamat siang juga" balas ibu itu juga sambil berjalan ke arah lemari kaca/etalase tempat berbagai macam cake, roti, dlll yang di susun rapi. Ibu itu masih melihat-lihat mana yang mau dibeli. Saking banyaknya macam roti, dll yang disediakan di toko ini jadi bingung mau beli yang mana.


Setelah beberapa menit melihat-lihat, ibu tadi langsung memesan beberapa roti dengan berbagai isian. Ada roti isi coklat, slei buah, keju, daging. Setelah ibu itu merasa cukup, dia memberikan ke pada Michelle untuk dibayar. Michelle dengan sigap menerima dan mengecek total harga belanjaan ibu itu. Michelle juga tidah lupa menawarkan olahan baru mereka.


"Bu, toko kami ada mengeluarkan olahan baru yaitu muffin rasa coklat, kacang mete, dan rasa keju. Ibu boleh ambil secara cuma-cuma tanpa perlu bayar karena kami baru memproduksinya" kata Michelle menjelaskan kepada ibu tadi. Karena saking seriusnya Michelle mengecek belanjaan ibu itu sambil memberkan penjelasan tadi, dia tidak melihat ibu itu memperhatikan nya, seperti menyelidiki sesuatu di wajah Michelle. Ibu itu juga tidak memperhatikan kalau Michelle sudah selesai dengan kerjaannya tadi.


"Ibuuu, haloooo bu" sapa Michelle sambil melambaikan tangannya di hadapan ibu itu.


Michelle memanggil sekali lagi sambil menepuk pelan bahu ibu itu "Buuuu, ibuuuuu".


Akhirnya ibu itu sadar kembali dan menanyakan berapa semua total belanjaannya. Michelle pun memberitahukan berapa total harga yang akan ibu itu bayar. Ibu itu pun membuka dompetnya dan menyerah kan untuk membayar.


"Bagaimana bu mengenai yang tadi saya jelaskan ??? Ibu mau nggak ???" Tanya Michelle.


"Aaaaa ???"


"Mengenai apa ???" Tanya ibu itu lagi.


Melihat ibu itu bingung, Michelle pun langsung mengambil dua dua buah dari masing-masing muffin yang baru mereka jual hari ini. Dan langsung memberikan kepada ibu itu.


"Ibu untuk hari ini mufiin nya kami kasih gratis, kalau ibu suka lain hari boleh beli lagi kesini" kata Michelle to the poin.


"Aduuuh maafkan ibu tadi tidak ibu dengar kamu bicara, makasih ya nak ???"


"Iya bu sama-sama" kata Michelle.


"Namamu Michelle yaa nak ???"


"Iya bu, ko ibu tahu ???"


"Itu kan ada nametag kamu, jadi ibu bisa tahu" kata ibu itu.


"Oooh iya yaa...." kata Michelle sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga merutuki kebodohannya di dalam hati. "Ya iya lah ibu itu tahu karena aku punya nametag" kata Michelle dalam hatinya.


"Ya udah ibu pamit ya, makasi loo sudah dikasih gratis muffinnya. Kalau ibu suka nanti ibu beli lagi" kata ibu itu sambil keluar dari toko.


"Terima kasih juga bu, selamat datang kembali ke toko kami" balas Michelle sambil membungkukkan badan melihat kepergian ibu itu.


Tidak lama kemudia setelah kepergian ibu tadi Michelle agak kepikiran sama si ibu itu. Dia sempat melihat siibu itu memperhatikannya saat mengecek belanjaan tadi. Cara melihatnya seperti orang yang antara penasaran, tidak percaya atau kaget Michelle tidak yakin.


Tiba-tiba Mia datang mengagetkannya dari belakang.


"Mikirin apa lu sampai begong gitu ???" tanya Mia penuh selidik. Untung aja jantung Michelle nggak copot.


"Aaaarrggh.... Mia kebiasaan deh ngagetin orang, gimana kalo jantung aku tiba-tiba berhenti kamu mau tanggungjawab ??? Haaaa ??? tanya Michelle dengan suara agak tinggi saking kagetnya.


"Maaf chel, maaaffff.....


Lagian kamu kebiasaan ngelamun disiang bolong gini. Ntar kesambet baru tahu rasa" kata Mia. Dia merasa bersalah juga ngeliat sahabatnya itu berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan mengelus-ngelus dadanya. Muka Michelle juga kelihatan pucat banget dikagetin gitu. Mia juga meninta maaf sekali lagi karena perbuatan nya itu.


" Chell.... maaf yaaa, aku pikir respon mu nggak akan sehoror ini" kata Mia sambil memeluk Michelle. Dia berusaha menenangkan kembali hati Michelle sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.


"Iya nggak papa, lain kali jangan kebiasaan ngagetin orang" kata Michelle sambil menjewer kuping Mia.


"Iya ampun, ampun tuan putri" kata Mia seakan-akan jeweran Michelle itu terasa sakit padahal tidak. Michelle pun melepaskan jewerannya itu. Karena Mia penasaran apa yang membuat sahabatnya itu melamun, dia pun berusaha menanyaka Michelle.


"Sebenarnya yang membuat lu bengong apa sih chlee ???"


"Nggak ada, cuma begong aja" kata Michelle.


"Masa sih nggak ada, kalau nggak ada hal-hal yang perlu dipikirkan jangan suka bengong deh chell " kata Mia.


"Kau pun, emang kalau ngelamun itu perluh berjamaah, perlu kita ngajak teman ngelamun ??? Ada- ada aja kau ini. Sudah aaah, aku mau makan. Gantian jaga kasirnya" kata Michelle sambil pergi untuk makan.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Hari ini Michelle merasa badannya sangat cape banget. Tapi rasa cape itu terasa terbayar dengan hasil penjualan mereka yang lumayan dan tidak ada komplen dari pelanggan aja, itu sudah lebih dari cukup.


Tidak terasa hari sudah gelap. Michelle milihat jam sudah pukul 20.30 WIB. Setegah jam lagi dia baru pulang. Karena harus menunggu teman-temannya yang giliran jaga toko malam hari. Dia harus memberitahukan pembukuan hari ini dan apa ajaΒ  yang masih tersedia untuk dijual malam ini.


Letak toko tempat mereka bekerja ini memang sangat strategis. Dekat dengan daerah perkantoran, rumah sakit, kampus. Sehingga toko ini buka 24 jam/hari. Kecuali hari minggu, mereka libur. Karena dihari itu lah mereka berkesempatan berkumpul dengan keluarga di rumah.


Setelah Michelle selesai bertukar shif dengan temannya, dia pun bersiap untuk pulang. Dia pergi ke area parkiran khusus karyawan yang ada di belakang toko tersebut. Michelle tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia berjalan dengan santai di mana dia memarkirkan sepeda motornya. Dia tidak melihat ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi semenjak dia keluar dari toko.


Michelle menaiki motornya, saat dia menyalakan mitornya tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggil namanya. Dia melihat sekeliling tidak ada orang. Dia kemudian menjalankan motornya. Tapi karena suara yang memanggil namanya makin jelas, dia tiba-tiba ngerem mendadak. Dia kaget sambil menoleh ke ara belakang, kanan kiri nya.


Tapi dia tidak dapat melihat sipemilik suara. Dia tiba-tiba merasa merinding, bulu kuduknya pada berdiri. Di dalam hati dia berkata "kalau kita tidak bisa melihat siapa yang memanggil kita, berarti itu SETAAAN Dong!!"


Michelle langsung tancap gas, dia tidak memperdulikan siapa lagi yang memangilnya itu.


Setelah sampai di rumah Michelle langsung pergi mandi. Kemudian dia mengecek bibi Amanda sudah tidur pulas. Michelle kembali ke kamarnya. Dia rebahan di kasurnya dan berusaha untuk memejamkan matanya tapi nggak bisa. Tiba-tiba dia teringat kejadian yang di tempat parkiran kerjanya tadi. Michelle bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.


"Siapa yang memangil-mangil ku tadi ya ???"


"Siapa yaaa ???"


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Haiiiiiiii, hai,Β  hai semuanya. Akhirnya awal dari cerita ini sampai disini dulu ya. Bagi teman-teman yang membaca ceritaku ini mohon divote, like, follow dan dikomen ya jangan lupa ditambakah jadi bacaan favorit kalian. Supaya kedepannya bisa membuat karya yang lebih bagus lagi.


Terima kasih banyaaaaak semuaaanya......


😘😘😘