The Power Of Love

The Power Of Love
Emosi Sesaat



Di kantor Alex masih suntuk dengan pikiran nya. Sudah berapa jam dia hanya rebahan doang di sofa setelah sepeninggalan Ny. Alice. Dari tadi dia berusaha mencoba tidur tapi nggak bisa. Bila dia pulang ke rumah dan ketemu sama Michelle malah bikin dia makin emosi. Jadi, dia memutuskan di kantor aja. Tak lama kemudian dia mendengar pintu di ketok.


Tok... Tok... Tok...


Dengan malas dia membuka matanya.


"Iya masuk" kata Alex dengan posisi masih rebahan. Dia mendengar seseorang berjalan semakin mendekat ke arah nya.


"Hei broo....." sapa William sambil melihat sekeliling ruangan Alex yang hancur berantakan. William adalah teman dekat Alex semenjak mereka kuliah sekaligus rekan bisnis nya. Perusahaan keluarga William juga terbilang besar tapi masih dibawah perusahaan keluarga Griston.


William yang satu bulan beberapa bulan belakangan ini mengurus perusahaan keluarganya yang ada di luar negeri sehingga mereka juga akhir-akhir ini tidak pernah ketemu. Berhubung hari ini dia free akhirnya dia memutuskan menjumpai teman nya itu.


"What the......what's going on ?"


William heran melihat ruangan Alex yang sudah seperti kapal pecah. Dia menepuk pelan bahu Alex untuk membangunkan nya karena dari semenjak dia masuk ke ruangan itu dia tidak melihat tanda-tanda Alex akan bangun.


"Heeiii ..."


Alex pun pelan-pelan membuka mata nya. Dia melihat William sudah duduk di salah satu sofa di dekat nya. Dia melihat William masih penasaran dengan apa yang terjadi sama nya.


"Rumit broo...malas gue ceritain nya" kata Alex sambil menutup kembali mata nya dengan salah satu lengan nya.


"Perusahaan lo ada yang bermasalah ? Atau karena masalah lain ? Kali aja gue bisa batu atau cari solusi dari masalah lo".


William yang melihat Alex masih diam seribu bahasa seakan-akan pertanyaan yang dia lontarkan dari tadi seperti angin berlalu saja.


"Come on meeeen......!!!!"


"Sudah lah gue lagi nggak mood ceritain nya sekarang. Gue lagi butuh penenang otak ini" kata Alex sambil berdiri.


"Mau pergi kemana ?" tanya William bingung temannya ini mau dibawa ke mana.


"Kemana aja yang penting jangan di sini" kata Alex meninggalkan William yang masih duduk santai. Saat di luar ruangan nya, Alex meminta sekretaris nya untuk merapaikan ruangan. William juga buru-buru beranjak dari duduk nya menyusul Alex.


Sementara Rara yang sudah sampai di rumahnya juga merasa kesal dengan apa yang terjadi. Terhadap perlakuan pesuruhnya yang seenaknya kepada dia. Dan ini kejadian yang kedua kali nya. Yang pertama perlakuan yang tidak mengenakkan dia terima yaitu di hari pernikahan Alex dengan Michelle. Pesuruh nya itu benar-benar marah besar dan memporak-porandakan seluruh isi rumah Rara.


Dia membiarkan Rara pacaran dengan Alex berharap perjodohan yang direncanakan Ny. Alice beberapa tahun yang lalu tidak terjadi. Ketakutan nya yang selama ini ternyata terjadi. Dia harus mendengar berita laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya sekarang malah menjadi milik orang lain.


Saat ini Rara sedang berpikir rencana apa yang bakalan dia lakukan untuk benar-benar memisahkan Alex dengan Michelle. Dia juga tidak mau menerima ocehan dan tamparan dari pesuruhnya itu lagi. Dia sadar dan tahu betul hukuman apa yang bakalan dia terima bila dia gagal lagi. Makanya kali ini dia harus berhasil.


🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂


"Kamu tahu, aku sudah menikah" kata Alex tiba-tiba membuat William kaget. Karena setahunya dia tidak pernah menerima undangan dari teman nya itu.


"Apa ? Sudah menikah ? Waaah.... Parah lo broo teman sendiri nggak diundang"


"Gimana gue mau ngundang lo ? Lo aja di luar negeri bahkan lo aja baru balik. Dan asal lo tahu aja acara pernikahan ku waktu itu cuma dihadiri beberapa teman bisnis papa dan keluarga inti doang karena gue yang minta"


Oh iya benar juga pikir William mengingat kerjaan dia yang nggak bisa ditinggal. "Tapi bukannya lo pernah bilang kalau mama lo nggak pernah ngerestuin hubungan lo sama si Rara ?"


"Iya benar, masalah nya gue nikah itu bukan sama Rara tapi sama orang lain yang dijodohkan mama gue bro"


"Truus masalahnya sekarang apa ? Kalau perempuan yang mama lo jodohin itu baik orangnya kan nggak ada masalah "


"Iya, tapi gue nggak cinta bro sama dia. Lo tahu gimana rasanya meninggalkan pacar lo sendiri dan tinggal satu atap bersama perempuan yang nggak lo cintai. Tapi yang masalahnya sekarang mama gue tadi pagi nggak sengaja ngeliat gue bertemu sama Rara dan mama gue marah besar menyuruh gue cepat-cepat mengakhiri hubungan gue sama dia"


"Ya bagus lah. Berarti mama lo memilih perempuan yang lebih baik dari pacar lo itu"


"Sok tahu lo, macam sudah punya pengalaman aja. Dan masalahnya itu gue nggak siapa bro berpisah sama dia. Gue udah sayang, cinta banget sama dia"


"Bro gue kasih tahu nih yaa. Nggak mungkin tante Alice menikahkan lo sama perempuan yang nggak baik, sama perempuan yang nggak benar. Atau sebaliknya, mungkin aja pacar lo itu perempuan yang nggak benar makanya tante Alice tidak pernah merestui hubungan kalian"


"Sekarang lo pikir aja. Kalian sudah berapa lama pacaran tapi tetap mama lo nggak setuju. Ada apa ? Pasti ada sesuatu yang tante Alice ketahui dari pacar lo itu sementara lo nggak bisa melihat keburukan nya karena lo sudah dibutakan cinta"


Alex yang mendengar perkataan teman nya itu hanya bisa diam. Dia masih belom bisa mencerna semua yang barusan dia dengar, baik itu perkataan mamanya bahkan kata hatinya sekarang. Dia hanya fokus sama Rara tidak ada yang lain.


William yang melihat Alex yang sudah mabuk dan masih meminum minuman alkohol itu langsung menghentikannya.


"Udah lo jangan lanjutin lagi minum nya. Lo udah mabuk berat ini" kata William sambil merebut gelas dari tangan Alex.


"Aaah... Gue blom kelar minumnya" kata Alex sambil meraih gelasnya yang sudah ditangan William tapi tidak berhasil.


"Udaah kita pulang aja, ini udah mau tengah malam. Istri lo ntar kecarian lagi" kata William sambil berusaha memapah Alex yang sudah setengah tidur. "Lo sekarang tinggalnya di mana biar aku *antar". Sekarang William berusaha memasukkan Alex ke dalam mobilnya dan Alex dengan susah payah memberitahukan dimana dia tinggal.


Kemudian William menjalankan mobilnya ke alamat yang dikasih tahu Alex tadi.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sekian dulu untuk part ini. Sampai ketemu di The Next Part. 😊😊😊*