The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 78 - Putri Arogan



            Mereka berjalan dari Nan Hai ke Xi Hai. Langkah Xue Ling


tidak sebebas sebelumnya dari Tian Zhu ke Da Hai. Di sepanjang perjalanan kali


ini, Xue Ling banyak mengamati dari berbagai segi. “Xiao Xue, ada apa ?” Han


Ling mulai penasaran. Xue Ling memegang dagunya “Han ge, apa kau tidak merasa aneh


sepanjang perjalanan ini ?” semua mengerutkan kening “apa yang aneh ?” Shui


Ling bertanya.


            Xue Ling memainkan wajahnya “kehadiran kita di Nan Hai


sudah diketahui semuanya… bukankah perjalanan ini terlalu tenang ?” Shui Ling


mengamati sekitar “memang tenang… tidak baikkah ?” Cheng Mei ikut melihat


sekitar “hmm… memang aneh… apa ada yang lebih menarik darimu ?” dengan wajah


usil, Xue Ling hanya melirik.


            “Xiao Xue, tidak usah difikirkan… tidak lama lagi akan


sampai di Xi Hai…” Han Ling tersenyum menenangkan, menggandeng tangan Xue Ling.


Xue Ling tersenyum, mengangguk “ah kalau saja ada kue arak yang menemani, akan


lebih baik !” Han Ling tertawa kecil “kau ini ! hingga saat ini, hanya bisa


menahan efek 2 kue arak, masih saja terus mencoba…” menyentil kening Xue Ling.


Xue Ling tertawa kecil, menggosok keningnya “kue arak sangat wangi !” Han Ling


tertawa melihat tingkah menggemaskan Xue Ling “setelah kembali, kita akan


menemui dewa arak itu !” Xue Ling mengangguk dengan senyuman manis.


            Memasuki wilayah Xi Hai, mereka disambut oleh keramaian,


para tamu yang datang untuk melihat perayaan bersatunya lumba-lumba merah dan


biru. Berbagai macam souvenir yang di jual dan pertunjukan-pertunjukan kisah


penyatuan-penyatuan sebelumnya. Penduduk Xi Hai bersuka cita menyambut perayaan


yang langka di Si Hai Ba Huang dan sampai saat ini hanya Xi Hai mereka yang


memiliki kisah penyatuan kedua jenis Lumba-Lumba.


            Xue Ling yang paling antusias melihat keramaian. Demi


keleluasaan mereka, keempatnya sudah merubah penampilan seperti penduduk Xi Hai


“wah semuanya sangat lucu…” Xue Ling berlari kesana kemari, melihat-lihat


pernak pernik yang ada. “Aku menyukai yang ini, bungkus !” seorang wanita


datang, merampas barang di tangan Xue Ling dengan kasar dan mendorong Xue Ling


yang tidak bergerak di tempatnya “nona, aku yang pertama melihat mainan ini !”


Xue Ling masih berbicara dengan baik.


            “jadi kenapa ? yang mulia putri menyukainya, jadi ini


hanya bisa menjadi milikku !” wanita itu melirik sinis Xue Ling dan berbicara


dengan sombongnya “yang mulia putri ? apa karena anda yang mulia putri jadi


bisa berbuat seenaknya !” nada bicara Xue Ling mulai mendingin “Xiao Xue, ada


apa ?” Han Ling yang sudah tiba disamping Xue Ling, mencemaskan Xue Ling yang


sudah kehilangan senyuman cerianya.


            Xue Ling mendorong Han Ling ke samping “ayi, seseorang


yang sombong, tidak akan pernah memiliki akhir yang baik… seseorang yang tidak


menghargai orang lain, tidak akan menghargai barang yang dimilikinya !” berkata


tegas “kau ! berani sekali kau mengataiku !” wanita itu meninggikan suaranya.


Xue Ling tersenyum miring “apa aku ada mengatakan itu dirimu ? jika anda


merasa, maka itu juga bukan urusanku !”


            Xue Ling tersenyum lembut pada si penjual “ayi…” “nona


ini, ayi bersalah padamu, tapi… tapi…” si penjual merasa serba salah. Xue Ling


memegang tangan si penjual “ayi… ayi tidak bersalah… aku belum membayar mainan


ini, mainan ini masih milik ayi. Ayi ingin menjualnya pada siapa saja, itu


adalah keputusan ayi…” memberi senyuman menenangkan.


            “ambilkan mainan itu !” wanita yang mengaku putri itu


memberi perintah pada bawahannya “putri…” sang bawahan segera mengambil mainan


dari tangan penjual dan memberikannya pada sang putri “cih demi mainan ini,


yang mulia bertengkar dengan gadis ingusan sepertimu…” membanting mainan itu ke


tanah dan menginjak-injaknya hingga rusak. Si penjual hanya bisa pasrah, dengan


mata berkaca-kaca.


dengan dingin ke wanita yang mengaku putri itu “cih mainan rusak begini, kau


ingin yang mulia putri membayarnya ? apa otakmu bermasalah !” menendang mainan


rusak itu. Xue Ling tersenyum, mengambil mainan rusak dari tanah “apa yang


mulia bisa menanyakan nama besar putri ?” Cheng Mei tersenyum, bertanya pada


wanita arogan itu.


            “Cheng…” Xue Ling membersihkan mainan rusak itu dan


berdiri kembali di hadapan wanita arogan “ini mainanmu, bayar pada ayi !”


langsung memberikan mainan rusak itu ke tangan wanita arogan. Wanita arogan itu


tertawa sinis, melempar mainan itu sembarangan, membuang muka dan membalikkan


badannya dari Xue Ling.


Xue


Ling tersenyum dingin, berbalik ke penjual, mengerahkan sihir. Sebuah kantong


permata muncul di tangan Xue Ling “ayi, ini bayaran nona itu atas mainan yang


di rusaknya !” tersenyum lembut dan memberikan kantongan permata ke si penjual.


“Nona, ini terlalu banyak !” si penjual yang menerima, menjadi tidak enak pada


Xue Ling. Xue Ling menggeleng “anggap saja permintaan maafnya atas sikapnya


tadi !” si penjual menundukkan kepalanya “terima kasih nona… terima kasih


nona…” Xue Ling mengangguk “nona, kau ingin mainan yang mana, ambil saja…


anggap hadiah dari ayi…” si penjual menawarkan. Xue Ling menggeleng “tidak


perlu ayi, ayi bisa menjual pada yang lain !”


“hei…


kau pencuri…” si wanita arogan kembali, menunjuk Xue Ling dan si penjual. Xue


Ling menggoyangkan tangannya ringan, si wanita terhempas jauh ke jalanan. “ayi,


tidak usah dengarkan dia… dia tidak akan berani mengganggu anda…” si penjual


terus berterima kasih pada Xue Ling “nona, anda berhati-hatilah !” memperingati


Xue Ling. Xue Ling hanya mengangguk sebagai balasan atas kata-kata si penjual.


Xue


Ling melanjutkan jalannya, acuh tak acuh. Beberapa pengawal wanita arogan itu


telah memapah wanita itu “putri, anda baik-baik saja ?” sang dayang bertanya


“kalian ! hajar dia… yang mulia ingin gadis ingusan itu bertekuk lutut di bawah


kaki yang mulia…” memerintah para pengawalnya untuk menghajar Xue Ling.


Xue


Ling berjalan santai menuju si putri arogan. Para pengawal mengeluarkan jurus,


menyerang Xue Ling. Belum mengenai Xue Ling, semuanya sudah terpelanting ke


tanah. Xue Ling memainkan jari-jarinya “hmm… ingin menghajar yang mulia ! hanya


berdasar kearogananmu itu ? apa Xi Hai sekarang sudah begitu tidak berguna !”


mengejek dengan suara tegas yang bisa di dengar semua yang berdiri di sekitar


mereka.


“siapa


kau ? apa kau tahu siapa aku ? berani sekali kau memainkan tanganmu pada yang


mulia !” si wanita arogan masih mempertahankan nada arogannya walau sudah ada


sedikit getaran dalam suaranya. Xue Ling dengan nada malas, bahkan tidak


melirik pada si wanita arogan, sibuk memainkan jari-jarinya “yang mulia tidak


tertarik padamu… siapapun dirimu, bahkan orang tuamu yang melahirkan anak


seperti dirimu pun tidak menarik di mata yang mulia !”


“brengsek…”


si wanita arogan melancarkan serangan ke Xue Ling. Han Ling dengan satu kibasan


menangkis serangan itu, merangkul pundak Xue Ling. Xue Ling tersenyum manis


pada Han Ling. Han Ling kembali menggerakkan tangannya, si wanita arogan


kembali terhempas lebih jauh dari sebelumnya “apa ingin melemparnya ke asalnya


?” Han Ling bertanya dengan datar ke Xue Ling. Xue Ling tersenyum nakal


“biarkan saja seperti ini… aku ingin mulutnya itu menjadi rata hihihi…” Han


Ling tersenyum manis, memeluk Xue Ling “baik, mengikuti pengaturan Fu Ren…”