
Mereka berjalan dari Nan Hai ke Xi Hai. Langkah Xue Ling
tidak sebebas sebelumnya dari Tian Zhu ke Da Hai. Di sepanjang perjalanan kali
ini, Xue Ling banyak mengamati dari berbagai segi. “Xiao Xue, ada apa ?” Han
Ling mulai penasaran. Xue Ling memegang dagunya “Han ge, apa kau tidak merasa aneh
sepanjang perjalanan ini ?” semua mengerutkan kening “apa yang aneh ?” Shui
Ling bertanya.
Xue Ling memainkan wajahnya “kehadiran kita di Nan Hai
sudah diketahui semuanya… bukankah perjalanan ini terlalu tenang ?” Shui Ling
mengamati sekitar “memang tenang… tidak baikkah ?” Cheng Mei ikut melihat
sekitar “hmm… memang aneh… apa ada yang lebih menarik darimu ?” dengan wajah
usil, Xue Ling hanya melirik.
“Xiao Xue, tidak usah difikirkan… tidak lama lagi akan
sampai di Xi Hai…” Han Ling tersenyum menenangkan, menggandeng tangan Xue Ling.
Xue Ling tersenyum, mengangguk “ah kalau saja ada kue arak yang menemani, akan
lebih baik !” Han Ling tertawa kecil “kau ini ! hingga saat ini, hanya bisa
menahan efek 2 kue arak, masih saja terus mencoba…” menyentil kening Xue Ling.
Xue Ling tertawa kecil, menggosok keningnya “kue arak sangat wangi !” Han Ling
tertawa melihat tingkah menggemaskan Xue Ling “setelah kembali, kita akan
menemui dewa arak itu !” Xue Ling mengangguk dengan senyuman manis.
Memasuki wilayah Xi Hai, mereka disambut oleh keramaian,
para tamu yang datang untuk melihat perayaan bersatunya lumba-lumba merah dan
biru. Berbagai macam souvenir yang di jual dan pertunjukan-pertunjukan kisah
penyatuan-penyatuan sebelumnya. Penduduk Xi Hai bersuka cita menyambut perayaan
yang langka di Si Hai Ba Huang dan sampai saat ini hanya Xi Hai mereka yang
memiliki kisah penyatuan kedua jenis Lumba-Lumba.
Xue Ling yang paling antusias melihat keramaian. Demi
keleluasaan mereka, keempatnya sudah merubah penampilan seperti penduduk Xi Hai
“wah semuanya sangat lucu…” Xue Ling berlari kesana kemari, melihat-lihat
pernak pernik yang ada. “Aku menyukai yang ini, bungkus !” seorang wanita
datang, merampas barang di tangan Xue Ling dengan kasar dan mendorong Xue Ling
yang tidak bergerak di tempatnya “nona, aku yang pertama melihat mainan ini !”
Xue Ling masih berbicara dengan baik.
“jadi kenapa ? yang mulia putri menyukainya, jadi ini
hanya bisa menjadi milikku !” wanita itu melirik sinis Xue Ling dan berbicara
dengan sombongnya “yang mulia putri ? apa karena anda yang mulia putri jadi
bisa berbuat seenaknya !” nada bicara Xue Ling mulai mendingin “Xiao Xue, ada
apa ?” Han Ling yang sudah tiba disamping Xue Ling, mencemaskan Xue Ling yang
sudah kehilangan senyuman cerianya.
Xue Ling mendorong Han Ling ke samping “ayi, seseorang
yang sombong, tidak akan pernah memiliki akhir yang baik… seseorang yang tidak
menghargai orang lain, tidak akan menghargai barang yang dimilikinya !” berkata
tegas “kau ! berani sekali kau mengataiku !” wanita itu meninggikan suaranya.
Xue Ling tersenyum miring “apa aku ada mengatakan itu dirimu ? jika anda
merasa, maka itu juga bukan urusanku !”
Xue Ling tersenyum lembut pada si penjual “ayi…” “nona
ini, ayi bersalah padamu, tapi… tapi…” si penjual merasa serba salah. Xue Ling
memegang tangan si penjual “ayi… ayi tidak bersalah… aku belum membayar mainan
ini, mainan ini masih milik ayi. Ayi ingin menjualnya pada siapa saja, itu
adalah keputusan ayi…” memberi senyuman menenangkan.
“ambilkan mainan itu !” wanita yang mengaku putri itu
memberi perintah pada bawahannya “putri…” sang bawahan segera mengambil mainan
dari tangan penjual dan memberikannya pada sang putri “cih demi mainan ini,
yang mulia bertengkar dengan gadis ingusan sepertimu…” membanting mainan itu ke
tanah dan menginjak-injaknya hingga rusak. Si penjual hanya bisa pasrah, dengan
mata berkaca-kaca.
dengan dingin ke wanita yang mengaku putri itu “cih mainan rusak begini, kau
ingin yang mulia putri membayarnya ? apa otakmu bermasalah !” menendang mainan
rusak itu. Xue Ling tersenyum, mengambil mainan rusak dari tanah “apa yang
mulia bisa menanyakan nama besar putri ?” Cheng Mei tersenyum, bertanya pada
wanita arogan itu.
“Cheng…” Xue Ling membersihkan mainan rusak itu dan
berdiri kembali di hadapan wanita arogan “ini mainanmu, bayar pada ayi !”
langsung memberikan mainan rusak itu ke tangan wanita arogan. Wanita arogan itu
tertawa sinis, melempar mainan itu sembarangan, membuang muka dan membalikkan
badannya dari Xue Ling.
Xue
Ling tersenyum dingin, berbalik ke penjual, mengerahkan sihir. Sebuah kantong
permata muncul di tangan Xue Ling “ayi, ini bayaran nona itu atas mainan yang
di rusaknya !” tersenyum lembut dan memberikan kantongan permata ke si penjual.
“Nona, ini terlalu banyak !” si penjual yang menerima, menjadi tidak enak pada
Xue Ling. Xue Ling menggeleng “anggap saja permintaan maafnya atas sikapnya
tadi !” si penjual menundukkan kepalanya “terima kasih nona… terima kasih
nona…” Xue Ling mengangguk “nona, kau ingin mainan yang mana, ambil saja…
anggap hadiah dari ayi…” si penjual menawarkan. Xue Ling menggeleng “tidak
perlu ayi, ayi bisa menjual pada yang lain !”
“hei…
kau pencuri…” si wanita arogan kembali, menunjuk Xue Ling dan si penjual. Xue
Ling menggoyangkan tangannya ringan, si wanita terhempas jauh ke jalanan. “ayi,
tidak usah dengarkan dia… dia tidak akan berani mengganggu anda…” si penjual
terus berterima kasih pada Xue Ling “nona, anda berhati-hatilah !” memperingati
Xue Ling. Xue Ling hanya mengangguk sebagai balasan atas kata-kata si penjual.
Xue
Ling melanjutkan jalannya, acuh tak acuh. Beberapa pengawal wanita arogan itu
telah memapah wanita itu “putri, anda baik-baik saja ?” sang dayang bertanya
“kalian ! hajar dia… yang mulia ingin gadis ingusan itu bertekuk lutut di bawah
kaki yang mulia…” memerintah para pengawalnya untuk menghajar Xue Ling.
Xue
Ling berjalan santai menuju si putri arogan. Para pengawal mengeluarkan jurus,
menyerang Xue Ling. Belum mengenai Xue Ling, semuanya sudah terpelanting ke
tanah. Xue Ling memainkan jari-jarinya “hmm… ingin menghajar yang mulia ! hanya
berdasar kearogananmu itu ? apa Xi Hai sekarang sudah begitu tidak berguna !”
mengejek dengan suara tegas yang bisa di dengar semua yang berdiri di sekitar
mereka.
“siapa
kau ? apa kau tahu siapa aku ? berani sekali kau memainkan tanganmu pada yang
mulia !” si wanita arogan masih mempertahankan nada arogannya walau sudah ada
sedikit getaran dalam suaranya. Xue Ling dengan nada malas, bahkan tidak
melirik pada si wanita arogan, sibuk memainkan jari-jarinya “yang mulia tidak
tertarik padamu… siapapun dirimu, bahkan orang tuamu yang melahirkan anak
seperti dirimu pun tidak menarik di mata yang mulia !”
“brengsek…”
si wanita arogan melancarkan serangan ke Xue Ling. Han Ling dengan satu kibasan
menangkis serangan itu, merangkul pundak Xue Ling. Xue Ling tersenyum manis
pada Han Ling. Han Ling kembali menggerakkan tangannya, si wanita arogan
kembali terhempas lebih jauh dari sebelumnya “apa ingin melemparnya ke asalnya
?” Han Ling bertanya dengan datar ke Xue Ling. Xue Ling tersenyum nakal
“biarkan saja seperti ini… aku ingin mulutnya itu menjadi rata hihihi…” Han
Ling tersenyum manis, memeluk Xue Ling “baik, mengikuti pengaturan Fu Ren…”