
Michelle terbangun tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa pusing. Dia melihat jam sudah jam enam. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur dengan tenang. Segala cara dan posisi sudah dia coba untuk membuat dia bisa tidur dengan nyaman, tetapi sama aja. Kejadian tadi malam masih terngiang di pikirannya. "Masa sih aku berhalusi, nggak mungkin. Itu suara yang memangil jelas ko suara manusia. Aaah bodo amat" kata Michelle dalam hati. Dia bangun dan mencoba melupakan masalah tersebut. Bisa-bisa dia gila sendiri memikirkannya.
Michelle melakukan rutinitasnya seperti biasanya tiap sebelum dia berangkat kerja. Mencoba seperti tidak ada yang terjadi yang mengganggu pikirannya. Setelah dia siap berangkat kerja, dia pamit sama bibi Amanda. Dia mencoba menikmati perjalanan menuju tempat tempat kerjanya. Dia merasakan udara segar pagi ini dan itu sedikit menolong meringankan beban di pikirannya.
Tempat tinggal Michelle dan bibinya masih didaerah pedesaan yang agak jauh dari pusat kota tersebut. Jika dia mengontrak atau ngekost lagi, itu akan menambah biaya pengeluaran lagi. Jadi Michelle berinisiative sendiri bahwa dia pulang pergi aja kalau kerja. Luman ngirit beberapa ratus ribu pikirnya.
Hari ini Michlle melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia sudah mulai melupakan kejadian kemarin malam . Itu karena kesibukannya hari ini.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Tiga hari kemudian tampak kesibukan di toko tersebut. Baik di pentri mau pun di kasir yang melayani pembeli. Ya, hari ini ada 3 pesanan wedding cake yang harus diselesaikan sebelum jam lima sore. Karena masing-masing yang punya hanjatan meminta harus sudah di tempat sebelum acara dimulai. Sehingga Michelle hanya fokus di pentri saja untuk mengurus wedding cake tersebut.
Tiba-tiba Mia dari depan terdengar memanggil Michelle.
"Chell...bisa ke depan bentar nggak ? Ada yang nyariin kamu tuuuh"
"Siapa? Penting banget nggak? Soalnya aku sibuk banget niiih. Kamu tahu kan kita lagi ada pesanan cake yang harus selesai sebelum jam lima sore ? "
"Iya tahu chell...cuma ibu yang nayariin kamu itu minta tolong banget kamu jumpain dia sana. Lagian kan kamu bisa minta tolong sama teman yang lain untuk gantiin kamu mengurus wedding cake itu" kata Mia mencoba menjelaskan.
"Iya, ya udah bilang sama ibunya tunggu sebentar" .
ππππππππππ
Ny. Alice POV
"Bagaimana dengan tugas yang saya suruh untuk kalian selidiki? Apakah sudah beres?
Salah satu dari orang suruhannya menghampiri Ny. Alice dan menyerah kan sebuah amplop besar. Ya, ternyata diam-diam Ny. Alice Griston menyelidiki Michelle hingga orang suruhannya itu sempat membuat Michelle tidak tenang.
Ny. Alice tampak bersemangat mengeluarkan isi dari amplop tersebut sambil mempersilahkan orang suruhannya itu meninggalkannya. Dia dengan teliti membaca setiap lembaran dari file tersebut. Setelah selesai membaca, terpancar rasa lega di wajahnya.
"Akhirnya aku menemukanmu juga setelah 20 tahunan mencarimu kemana-mana" katanya dalam hati. Rasa senang yang dia rasakan tidak bisa dia sembunyikan yang terpancar di wajahnya. Dibalik itu, ada rasa was-was juga. Apakah dia tetap melanjutkan rencana yang telah dia rencanakan 20 tahan yang lalu itu? Atau dia membirakannya saja. Tapi rasa yang lebih mendominasi di hatinya adalah tetap melanjutkan rencananya itu.
Saking senangnya dia tidak memperhatikan dari tadi suaminya meliahat dia yaitu Tn. Adam Griston yang pulang lebih awal dari hari biasanya dari kantor. Dia adalah pemilik beberapa perusahaan yang ada di pusat kota ini. Yang bergerak dibidang properti, perhotelan dan barang-barang elektronik. Dan sudah beroperasi sampai keluar negeri juga. Semuar orang-orang di negara ini tidak ada yang tidak mengenal pemilik Griston Company tersebut.
Tapi, sekarang dia sudah memberikan kepercayaan kepada anak semata wayang mereka untuk menjalankan perusahaan tersebut. Dia tidak ragu atas kemampuan anaknya itu. Yaa, dia adalah Alex Griston. Berkat kemampuan yang dia miliki, banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dan dia adalah salah satu pemimpin perusahan termuda di kota ini.
"Apa yang membuat mu tampak begitu senang?"
Tn. Adam bertanya ke Ny. Alice istrinya itu. Dia melihat dari tadi Ny. Alice senyam-senyum sendiri. Membuat orang yang melihatnya penasaran. Karena mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dan merasa hanya dia sendiri yang ada di ruangan itu, Ny. Alice tampak kaget sambil menoleh kearah suara tersebut.
"Aduh bikin kaget aja, kirain siapa. Ada deh pa, nanti kalau sudah pasti baru aku beritahukan kepada kalian" kata Ny. Alice menjelaskan.
"Kalian? Memang informasi apa yang sedang kamu sembunyikan sampai harus menunggu kepastian?" kata Tn. Adam semakin penasaran. Dia merasa aneh dan merasa ada sesuatu yang disembunyikan istrinya itu.
"Udah aah. Kepo aja. Aku mau pergi keluar nih. Oya kok kamu pulang lebih awal nggak seperti biasanya? " Ny. Alice menanyakan suaminya itu. Biasanya sorean baru nyampe rumah.
"Aku hanya menghadiri rapat aja untuk melihat perkembanga dari perusahan. Selainnya Alex yang ngurus. Karena tidak ada lagi kegiatan disana aku langsung pulang aja" kata Tn. Adam menjelaskan. Sebenarnya dia tidak datang pun tidak ada pengaruhnya bagi perusahaan. Tapi karena Alex menghargai dia sebagai orangtuanya dan yang pertama kali mendirikan perusahaan itu, makanya Alex memintanya untuk hadir.
"Ooh ya sudah, kamu istirahat aja. Aku masih masih mau pergi keluar" kata Ny. Alice. Buru-buru dia memanggil sopir pribadinya. Sembelum ada sanggahan dari suaminya itu lagi.
"Pak Bagas, tolong antarkan saya ke toko roti langganan saya".
"Baik nyonya"
Pak Bagas membawa majikannya itu ketempat yang dituju. Setelah 20 menitan dari rumah, akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Ny. Alice langsung masuk ke dalam toko dia mendegar karyawan toko tersebut memberikan salam kepadanya. Dan dia membalas dengan senyuman. Dia sibuk memilih apa yang mau dia beli sambil sesekali pemperhatikan para karyawan toko itu. Tapi yang dia cari tidak ada. Setelah dia selesai memilih pesannya, dia langsung ke kasir untuk membayar belajaannya.
Sambil menunggu belanjaannya selesai di cek, dia bertanya ke karyawan kasir yang bernama Mia di nametang karyawan itu.
"Maaf boleh kah saya bertanya? "
"Silahkan, ibu mau menanyakan apa? "
"Apakah yang bernama Michelle karyawan toko ini tidak bekerja hari ini? "
Penjaga kasir itu kaget mendengar pertanyaan ibu tadi. Tapi dia langsung buru-buru mengubah wajah kagetnya itu menjadi biasa saja.
"Oh Michelle, ada bu tapi dia dibagian pentri. Hari ini kami lumayan sibuk, jadi dia fokus di pentri aja bu" .
"Bolehkah kamu memanggilnya? Ada yang mau saya bicarakan sebentar dengan dia".Β
Jadi, dia lumayan sibuk membantu dan memastikan semua pesanan mereka dikerjakan dengan baik. Aku menunggu dia disalah satu ruang terpisah di luar toko ini. Mereka menyediakan tempat tongkrongan atau sekedar untun menunggu jemputan bagi pelanggan toki ini.
ππππππππππππ
Michelle POV
Semenjak Mia memanggilnya tadi, dia berpikir keras siapa yang mencari dia. Dia merasa orang di kota ini tidak ada yang mengenalnya. Palingan para tetangganya di sekitar rumah. Karena dia penasaran, diburu-buru untuk menghampiri orang itu. Dia memanggil Mia untuk menanyakan di mana orang yang mencarinya itu. Mia langsung menunjuk ke arah ruang tunggu di mana si ibu tadi duduk. Michelle dengan rasa penasaran menghampiri ibu itu.
Masih dalam posisi berdiri Michelle memanggil
"Selamat sore bu, apakah ibu yang mencari saya? "
Ibu itu langsung memutar badannya menghadap di mana Michelle masih berdiri.
"Oh iya, sini duduk dulu nak. Maaf sudah mengganggu jam kerjamu. Saya tahu kalau kamu masih repot tapi ada yang mau saya bicarakan sebentar nak, boleh yaaa? "
"Silahkan buuu"
"Sebelumnya saya memperkenalkan diri dulu karena terakhir kita ketemu tidak sempat. Saya Ny. Alice Griston. Kamu boleh memanggil saya tante aja biar berasa lebih dekat" katanya sambil tersenyum. Di dalam hatinya yang terdalam dia menginginkan Michelle memanggilnya dengan mama.
Ny. Alice sebenarnya berusaha untuk membuat dirinya lebih dekat dengan Michelle.
"Eeeh ngomong-ngomong muffin yang kamu berikan sama tante waktu itu, kamu yang bikin yaa? Enak lo rasanya. Semua orang rumah suka. Apalagi anak tante. Tiap serapan pagi muffin itu nggak boleh nggak ada. Makanya sekarang tante setiap ke sini pasti ngeborong itu muffin. Soalnya kalau nggak ada anak tante suka kecarian".
Michelle hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan dari tante Alice. Di dalam hatinya dia bersyukur juga ada yang menyukai muffin buatannya padahal itu baru yang pertama kalinya dia buat. Mengingat anaknya dia sebut tadi Ny. Alice mengingat tujuan utamannya bertemu dengan Michelle.
Dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Melihat Michelle yang duduk diam dan sepertinya dia memikirkan sesuatu yang membuat dia senang Ny. Alice hanya melihat dia dengan senyuman. Kemudian tiba-tiba Michelle bertanya ke Ny. Alice
"Tante, jadi sebenarnya apa yang mau tante tanyakan?" Mendengar pertanyaan Michelle tersebut Ny. Alice langsung fokus. Sebenarnya, walaupun Ny. Alice sudah tahu tapi dia harus menayakan langsung ke Michelle.
"Begini chell, tante mau bertanya apakah kamu sekarang punya pacar nggak? Soalnya tante mau jodohin kamu ke anak tante" kata Ny. Alice to the point. Tanpa ada embel-embel dan tanpa basa-basi. Mendengar pertanyaan dari itu Michelle syok sendiri. Pikirannya tidak karuan.
Bagaimana seorang ibu langsung menjodohkan anaknya kepada seorang wanita yang hanya baru 2 kali bertemu. Michelle masih terdiam dengan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak bisa langsung menjawabnya. Mulutnya terasa digembok.
"Apa? Mau dijodohkan?"
"Aaah tante ini pasti bercanda. Mana mungkin dengan secepat ini. Dia baru bertemu dengan aku baru dua kali"
"Tidak, tidak, tidak mungkin"
"Ini tidak bisa dipercaya"
Kalimat itu saja yang berputar-putar di dalam pikiran Michelle. Dia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Dia masih syok dengan rencana Ny. Alice. Melihat respon Michelle yang hanya mematung dan diam saja, Ny. Alice menyadarkannya dan menepuk pelan bahu Michelle sambil bertanya:
"Michelle, bagaimana? Apakah kamu mau? Tante mohon, tante hanya mau kamu yang jadi mantu saya. Kamu harus bantu tante. Tante sudah sangat senang dan nyaman bersamamu. Berharap kamu bisa bantu tante. Sebenarnya tante punya masalah yang nggak ada satu orang pun tahu. Jika kamu tidak mau menjadi menantu tante. Masalah tante ini akan menjadi penyakit yang sampai suatu saat membuat tante meninggal" tanpa sadar Ny. Alice meneteskan air mata.
Dia tidak bisa menahannya lagi. Dari tadi kedua matanya sudah berkaca-kaca. Dan akhirnya tangisannya juga pecah. Membuat Michelle juga bigung harus berbuat apa. Orang-orang yang keluar masuk toko itu juga dibuat kebigungan. Michelle juga tidak tega melihat. Dia mendekatkan diri dan memeluknya berusaha untuk menenangkan Ny. Alice.
Dan akhirnya Michelle juga berbicara:
"Tante, jangan nangis lagi. Michelle akan coba pikirkan dulu. Michelle nggak bisa ngasih jawaban sekarang dan bingung juga. Tiba-tiba tante ngomong seperti ini, Michelle juga nggak tega. Tante kasih Michelle untuk memikirkan ini semua yaa?"
Mendengar jawaban dari Michelle, Ny. Alice langsung menganggukan kepalanya sambil ngelap air matanya yang dari tadi sudah bercucura. Ada rasa lega yang dia rasakan. Dia tersenyum ke arah Michelle.
"Terima kasih ya sayang, tante tunggu jawaban kamu. Tante berharap banget kamu menerimanya. Mengatakan iya"
" Tante sabar ya, kasih Michelle waktu untuk berpikir"
"Iya tante tunggu, kalau begitu tante pamit pulang dulu ya sayang"
"Iya tante hati-hati di jalan"
Ny. Alice pergi ke mobil yang dari tadi sudah menunggunya. Dia merasa ada sedikit lega di dalam hatinya. Diberharap sekali Michelle mengatakan iya dan menerima perjodohan yang dia rencanakan. Sementara Michelle sendiri sangat bigung dengan apa yang akan dia jawab nanti. Dia belum percaya dengan semua ini.
Kepalanya serasa tertimbun ribuan ton besi. Dari mulai dia masuk ke dalam toko, dia hanya berjalan sambil menunduk. Dia tidak menghiraukan Mia yang dari tadi memanggil dia. Saat Mia bertanya dia kenapa, dia hanya mengeleng kepalanya saja. Membuat sahabatnya itu sangat khawatir melihat kondisinya yang sangat lemas. Menegakkan lehernya saja untuk jalan nggak kuat.
Michelle sudah tidak konsentarsi lagi bekerja. Dia ingin cepat-cepat pulang dan tidur untuk menenangkan pikirannya. Baru aja pikiran nya tenang sudang ada lagi masalah yang lebih berat lagi.
Michelle pamit duluan pulang. Dia sudah tak sanggup lagi meneruskan pekerjaannya. Dia sudah minta tolong kepada temannya yang lain untuk menghendel toko itu untuk hari ini. Nyampe rumah dia langsung pergi ke kamar untuk mandi. Dia berendam hampir 1 jam untuk menenangkan pikirannya.
Panggilan dari bibinya dia tidak hiraukan lagi. Selesai mandi dia langsung tidur pulas. Hingga makan malam pun terlewatkan saking dia ingin melupakan semua yang terjadi hari ini. Dia berharap besok pagi dia bangun, masalah yang terjadi hari ini hanyalah mimpi.....