The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 76 - Dimana Permata Merah ?



            Cheng Mei tersenyum “setidaknya kau harus menampakkan


diri sekali di Bei Hai kan Shen Zun yang terhormat !” mata Xue Ling sempat


menyipit dan ada senyuman tipis di bibirnya, semua menyadarinya “Jie, apa lagi


yang kau rencanakan ?” Huo Ling was-was “Xiao Xue…” Han Ling pun penasaran. Xue


Ling melihat semua, satu persatu “hmm… apa yang kurencanakan ? tidak ada… yang


mulia tidak merencanakan apapun…” menyangkal dengan acuh tak acuh.


            “Jie, katakan apa yang kau rencanakan ? apa ada


hubungannya dengan Permata Merah ? kau sudah menemukannya ?” Shui Ling memegang


bahu Xue Ling, menatapnya dengan dingin. Xue Ling menyingkirkan tangan Shui


Ling “Xian Zun, nikmati saja hidupmu ! kenapa begitu banyak yang kalian


tanyakan dan fikirkan ? tidak bisakah kalian membiarkan yang mulia ini


bersantai…” “Tidak…” Shui Ling menghardik, menghentikan kata-kata Xue Ling.


            Xue Ling mendelik pada Shui Ling “kenapa anak nakal ini


menjadi begitu menyeramkan !” bersembunyi di pelukan Han Ling. Han Ling


tersenyum, memeluk Xue Ling “Xiao Xue, tangan anak nakal ini juga sangat gatal


!” menertawai Shui Ling. Xue Ling menatap Han Ling, ada senyum nakal di


wajahnya “jadi Xiao Xue ku yang tersayang, apa yang ingin kesayanganku ini


lakukan ?” Han Ling bertanya sambil mengelus-ngelus punggung Xue Ling dalam


pelukannya.


            Xue Ling tersenyum manis pada Han Ling “bertamu di Da


Hai…” menjawab santai. Han Ling menyipitkan matanya, mengamati Xue Ling sesaat.


Sesaat kemudian mata Han Ling Shen Jun membesar “Xiao Xue, kau bukan…” Xue Ling


memeletkan lidahnya. Han Ling cekikikan “Jiefu, apa yang akan dilakukan jiejie


?” Shui Ling bertanya dengan penasaran “ada yang sudah terlalu lama


bersenang-senang, akan di kembalikan ke habitatnya !” Han Ling berkata sambil


tersenyum melihat Xue Ling, yang tersenyum manis.


             Han Ling memeluk


erat Xue Ling, berbisik di telinganya “Xiao Xue, apakah ini hukuman karena dulu


mengganggu ketenangan Rou Rou ?” Xue Ling membuka mulutnya seperti terkejut,


kemudian tersenyum mengangguk. Han Ling menggeleng-gelengkan kepalanya “jadi Fu


Ren akan bagaimana menghukum Fu Jun ?” dengan suara kecil, yang hanya bisa di


dengar mereka berdua.


            Xue Ling tersenyum nakal, sambil menaik turunkan alisnya


“satu persatu hahaha…” Xue Ling melepas Han Ling “ah… aku ingin mendapatkan


mandi yang nyaman, kemudian tidur nyenyak…” Shui Ling cemberut, memegang tangan


Xue Ling “jiejie, kau ingin bermain, mana bisa tidak membawaku !” “aku juga aku


juga…” Shui Ling dan Cheng Mei bersahut-sahutan.


            Xue Ling melepas Shui Ling dengan tawa ringan, kemudian


memalingkan wajah “cari permainan kalian sendiri…” “Xue…” “Jie…” Shui Ling dan


Cheng Mei merengek. Xue Ling memeletkan lidahnya, tertawa terbahak-bahak


meninggalkan ruangan, diikuti Han Ling yang menggeleng-gelengkan kepala.


            Shui Ling menghentakkan kakinya kesal, Cheng Mei


cekikikan “untuk apa kesal ? kau awasi saja jiefumu itu !” menasehati Shui Ling


yang masih cemberut “apa yang ingin dilakukan jiejie ?” Ling Siang bertanya


“jika aku tidak salah, sepertinya berhubungan dengan Lin Yang Shui Jun !” Huo


Ling berguman “sudah tahu !” Shui Ling berkata dengan kesal.


            “Shui Ling, apa kau tidak berlebihan ? hanya menemani


jiejie bermain, untuk apa kau begitu serius ?” Huo Ling tidak faham dengan


sikap Shui Ling, bertanya dengan penasaran “ge…” Shui Ling cemberut,


menghampiri Huo Ling, duduk di sisinya “ada apa ?” Huo Ling menjadi khawatir


pada adiknya yang sedang cemberut dan menunduk dengan sedih di sisinya “aku


hanya ingin lebih lama bersama jiejie !”


            Huo Ling tersenyum “Shui Ling, biarkan berjalan apa adanya


!” Shui Ling menghela nafas “aku tahu… ge… aku ingin mengulang masa kecil


bersenang-senanglah… sudah, aku mau beristirahat…” berlalu bersama Ling Siang,


meninggalkan Shui Ling dan Cheng Mei berdua.


            Han Ling beristirahat bersama Xue Ling, memikirkan


ketujuh Permata. Bukanlah sifat Xue Ling untuk menunda masalah seperti saat


ini. Permata Nila sudah berada di tangan Xue Ling, tapi hingga saat ini, Xue


Ling belum ada tanda-tanda akan menyatukannya ke Pohon Bodhi. Mungkin saja


seperti yang dikatakan Xue Ling, ingin bersenang-senang dahulu. Jika menyatukan


Permata ke Pohon Bodhi, Xue Ling perlu beristirahat kembali. Dengan sifat Xue


Ling yang begitu aktif tidak mungkin dapat bertahan diam untuk jangka waktu


lama. Xue Ling yang belum lama chuguang, tidak mau menyia-nyiakan waktu


bermainnya untuk kembali beristirahat karena penyatuan Permata.


            Han Ling cemas karena tidak mengetahui pemikiran Xue


Ling. Sebelumnya, Xue Ling langsung menyatukan kedua Permata sekaligus.


Keberadaan Permata Merah belum diketahui, Xue Ling juga tidak memberi petunjuk


apapun. Tidak ada yang tahu, apakah Xue Ling sudah mengetahui keberadaan


Permata Merah itu atau sama seperti mereka yang tidak memiliki petunjuk.


            Berdasarkan pemahaman Han Ling terhadap Xue Ling, dalam


kata-katanya akan tersirat petunjuk. Selama Xue Ling chuguang, Han Ling tidak


menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Permata Merah. Han Ling sendiri


tidak pasti dengan pemikirannya, tidak pasti tidak ada petunjuk dalam kata-kata


Xue Ling. Mencoba mengulang beberapa kali kata-kata yang dikeluarkan Xue Ling,


tetap saja tidak mendapat petunjuk apapun.


            Han Ling menghela nafas, melihat kegiatan Xue Ling dan


keceriaannya, tidak berani menurunkan kewaspadaan. Segala hal yang terjadi pada


Xue Ling merupakan rencana jangka panjangnya tapi merupakan kejutan-kejutan


yang sangat menegangkan bagu mereka. Sesuai dengan hal ini, harusnya Xue Ling


sudah memiliki rencana ataupun petunjuk mengenai Permata Merah.


            Di Bei Hai Ren Yu, Wei Jiang Zheng Zhu dan Chang Yi Tai


Zi sudah mengetahui berita perang Huo Ling Tian Zun dan Li Ming Shen Jun. Wei


Jiang Zheng Zhu sendiri merasa aneh, tidak berhasil menunggu kedatangan Xue


Ling ke Pusat Lava, malah muncul di Perang Huo Ling Tian Zun dan Li Ming Shen


Jun. Kemenangan Huo Ling Tian Un adalah sesuatu yang pasti, semua juga sudah


mengetahui Li Ming Shen Jun tidak mempunyai kesempatan menang sama sekali.


            Saat ini, ahli keluarga Li Ming Shen Jun hanya tersisa


putranya yang berada di bawah pantauan Chang Yi Tai Zi dan Lin Da Han Shui Jun


di Bei Hai Gong. Sementara kelima istri Li Ming Shen Jun telah merenggang nyawa


dengan alasan sakit menular. Kejadian sebenarnya keempat istri Li Ming Shen Jun


yang mati karena kehilangan energi kehidupan dan auranya, hanya diketahui


beberapa pihak.


            Perang Huo Ling Tian Zun dan Li Ming Shen Jun yang


melibatkan pertarungan Xue Ling Shen Zun dan Le Le si makhluk api, tidak


menyebarkan banyak rumor, hingga hanya sedikit yang mengetahui kejadian sebenarnya.


Wei Jiang Zheng Zhu mengetahuinya dari Ren er, yang dipanggilnya kembali ke Bei


Hai Ren Yu Gong, beberapa hari setelah perang Huo Ling Tian Zun dan Li Ming


Shen Jun berakhir.


            Sementara itu, berita Xue Ling Shen Zun yang akan


mengunjungi Da Hai juga sudah terdengar di telinga Wei Jiang Zheng Zhu. Wei


Jiang Zheng Zhu bersama Xin Lan Shui Hou dan Chang Yi Tai Zi berusaha


menerka-nerka hal yang ingin dilakukan Xue Ling Shen Zun di Da Hai. Wei Jiang


Zheng Zhu pun masih mengkhawatirkan keberadaan Permata Merah. Berdasarkan


penyelidikannya, Permata Merah tidak berada di Da Hai, jadi apa yang akan


dilakukan Xue Ling Shen Zun ???.