The Power Of Love

The Power Of Love
Wedding Day



Setelah acara pertunangannya dengan Michelle dilakukan, mereka kembali beraktivitas seperti biasanya. Di kantor Alex sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Menurut dia setelah dia bertunangan dengan Michelle nggak ada yang berubah, tidak ada yang spesial.


Tiba-tiba pintu ruang kantornya terbuka. Dia melihat Rara menghampirinya.


"Sayang, kok kamu nggak mengangkat telepon dari aku sih?" Sapa Rara sambil duduk di pangkuan Alex.


"Kamu nggak ngeliat kerjaan aku ini lagi banyak yang ?" Kata Alex sambil menunjukkan kertas dokumen yang ada di atas mejanya.


"Tapi setidaknya kamu kan bisakan sms in aku kalo kamu lagi sibuk" kata Rara sambil duduk di pangkuan Alex.


"Iya, iya lain kali yaaa" kata Alex sambil mengeratkan pelukannya di pinggang wanita itu.


"Yang, ini dah jam istirahat makan siang dulu yuk baru lanjut lagi kerja" ajak Rara.


Mengingat ada yang akan Alex sampaikan sama Rara, dia menganggukkan kepalanya.


"Ayo, lagian ada sesuatu yang mau omongin sama kamu" kata Alex.


Mereka langsung pergi ke restoran tempat biasa mereka makan. Di sana mereka dengan lahapnya menyantap makanan masing-masing. Tiba-tiba Alex memecahkan keheningan diantara mereka.


"Ra, ada yang mau aku omongin" kata Alex.


"Ya udah ngomong aja" kata Rara yanh masih sibuk dengan makanannya.


"Ini masalah serius sayang kamu harus dengar dulu" kata Alex.


"Iya, aku dengar kok yang. Ngomong aja" kata Rara.


"Yang, aku udah bertunangan" kata Alex akhirnya sambil menatap Rara.


Mendengar ucapan Alex itu, Rara langsung mengdongkakkan kepalanya untuk melihat Alex. Dan seketika itu juga nafsu makannya hilang.


"Apa..? Kamu bilang kamu udah bertunangan? Kamu jangan bercanda deh yang nggak lucu" kata Rara nggak percaya sambil ketawa.


"Yang, aku nggak bercanda ini benaran. Kamu jangan ketawa" kata Alex sambil agak meninggikan suaranya. Wajahnya juga semakin serius melihat tanggapan Rara yang biasa saja.


Melihat wajah Alex yang semakin serius, Rara spontan melihat jari Alex. Di sana sudah terlihat cincin yang menandakan benar Alex sudah bertunangan.


Alex yang memperhatikan Rara melihat ke arah jarinya dan perubahan wajah Rara yang semakin sedih dan juga mau menangis, Alex langsung memeluk Rara.


"Maaf yang sebelumnya aku nggak ngasih tahu kamu. Ini semua karena keinginan mama yang menjodohkan aku. Bukan maunya aku" kata Alex menjelaskan.


"Tapi kan kamu bisa jelasin sama orangtua kamu kan Lex kalau kamu udah punya pacar. Kamu jahat Lex, kamu jahaaaat" kata Rara sambil nangis sesunggukan.


"Yang, aku udah ngomong gitu sama mama. Tapi mama tuh malah ngancam akan mengeluarkan aku dari daftar keluarga Griston sayang. Kamu ngertikan kalau aku sampai keluar dari daftar keluarga gimana. Itu artinya aku nggak kerja diperusahaan papa lagi, dan yang paling parahnya aku nggak jadi ahli waris dari keluarga lagi. Ntar kamu butuh bantuan, aku nggak bisa nolong kamu lagi" kata Alex sambil mengusap air mata Rara.


Rara hanya bisa mengangguk saja mendengar penjelasan Alex. Ada benarnya juga. Kalau Alex sampai bukan bagian dari keluarga Griston lagi, gimana hidupnya ke depan nanti pikir Rara.


"Apakah kamu mencintai wanita yang dijodohkan mamamu itu Lex?" tanya Rara.


"Apa? Cintaaa !!!


Kok kamu nanya gitu sih yang? Siapa coba yang mau dijodohkan apalagi sampai jatuh cinta sama dia. Itu nggak mungkin yang" kata Alex.


"Tapi kan kamu sampai mau bertunangan dengan perempuan itu maksudnya apa coba?" tanya Rara dengan wajah cemberutnya.


"Aku sampai mau gini dijodohin sama mama karena aku punya rencana sayang. Aku mau membuat perempuan itu yang minta cerai duluan bukan aku. Dengan begitu mama tidak akan menyalahkan aku lagi. Jadi, aku bisa minta mama untuk merestui hubungan kita gimana menurut kamu? " kata Alex.


Mendengar penjelasan dari Alex, hati Rara sangat senang. Dia tahu bahwa Alex sangat mencintai dirinya. Alex tidak akan pernah meninggalkan dia.


"Iya, nggak papa. Yang penting kamu harus nepatin janji kamu" kata Rara dengan senyuman dan mencium pipi Alex.


"Iya, kamu jangan nangis lagi. Yang penting kamu harus ingat aku sama sekali nggak suka sama perempuan yang dijodohin mama itu. Apalagi cinta sama dia, nggak. Yang aku cinta dan sayang itu adalah kamu. Kamu harus ingat itu" kata Alex.


Hati Rara sangat berbunga-bunga mendengar penuturan Alex. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda dia paham maksud dan rencana Alex. Cinta mati, kata-kata itu sepertinya yang paling cocok untuk Alex saat ini.


Setelah mereka pulang dari restoran tadi siang, Alex langsung pulang ke rumah orangtuanya. Mengingat hari pernikahannya tinggal beberapa hari lagi, orangtuanya meminta Alex jangan pulang ke apartemenya. Melainkan ke rumah orangtuanya.


Di dalam kamarnya Alex mengingat dan terbayang wajah kekasihnya itu. Dia tidak tega menyakiti perasaan Rara. Tapi, mau bagaimana lagi. Jalan satu-satunya untuk mempertahankan hubungan mereka hanya dengan menerima perjodohan ini. Ada rasa lega juga di hati Alex, melihat Rara yang mau menerima kondisi ya sekarang, yaitu ditinggal nikah sama Alex untuk sementara.


Alex mengelus kening ya. Sepertinya pikirannya juga saat ini sangat pusing. Dia menghembuskan napasnya sambil pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. "Semoga rencanaku ini berhasil" katanya dalam hati.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Di sebuah ruangan hotel yang sangat megah tampak orang-orang sibuk mempersiapkan keperluan acara pernikahan. Memastikan semua yang dibutuhkan dalam acara tersebut tersedia. Yaa, hari ini adalah hari pernikahan Alex dan Michelle. Mereka sedang bersiap-siap di ruangan mereka masing-masing.


Saat mau dimulai, Alex tampak berdiri di depan altar. Dia terlihat sangat tampan, semua orang yang ada di dalam ruangan itu enggan mengalihkan pandangan mereka dari Alex. Para undangan yang ada di ruangan itu hanya beberapa kolega bisnis dan keluarga inti saja.


Itu permintaan dari Alex sendiri. Dia tidak mau pernikahannya di post ke publik. Biarlah hanya beberapa orang saja yang tahu.


Tiba-tiba pintu ruangan tesebut terbuka dan musik pun terdengar menandakan mempelai perempuan akan datang. Dan Alex melihat Michelle berjalan didampinggi oleh Tn. Adam Griston. Dia tampak anggun dibalut dengan gaun putihnya. Wajahnya tampak manis ditambah lagi Michelle yang murah senyum semakin membuat orang yang melihatnya makin terlena dengan wajah lembutnya.


Alex berusaha santai dan biasa saja di hadapan Michelle. Dia tidak mau menampakkan rasa kekagumannya di hadapan perempuan yang sebentar lagi jadi istrinya itu.


Setelah sampai di hadapan Alex, Tn. Adam menyerahkan tangan Michelle ke Alex dan Alex menuntun Michelle kehadapan pendeta yang ada di depan mereka.


Merasa dilihatin, Michelle melirik ke arah Alex. Pandangan mereka bertemu beberapa detik. Mereka langsung mengalihkan pandangan mereka ke depan sambil berjalan pelan-pelan. Michelle tiba-tiba merasa gugup, dia berdoa dalam hati jangan sampai dia pingsan.


Setelah mereka sampai di hadapan pendeta, mereka saling mengucapkan janji pernikahan mereka dihadapkan pendeta, para undangan terlebih dihadapkan Tuhan dan juga mereka saling memasangkan cincin pernikahan mereka.


Akhirnya mereka selesai memasang cincin pernikahan mereka dan itu menandakan mereka sudah sah menjadi suami istri. Pendeta mempersilahkan Alex mencium wanita yang sekarang sudah menjadi istri sahnya itu.


Melihat Alex yang mendekatkan badannya dan membuka tudung yang menutup wajah, Michelle semakin gugup. Irama jantungnya semakin berdegup kencang. Dia spontan mundur satu langkah ke belakang.


Melihat Michelle yang tiba-tiba mau menghindar, Alex langsung menarik badan Michelle supaya lebih mendekat. Dia melihat Michelle berusaha menggelengkan kepalanya. Tapi dia tiba-tiba mendekatkan mulunya ke telinga Michelle.


Michelle yang malihat tindakan Alex langsung menutup matanya rapat-rapat. Dia pikir Alex langsung menciumnya. Tapi, dia mendengar Alex berisik "MULAI DETIK INI KAU HARUS MENANGGUNG RESIKO DARI SEMUA INI". Mendengar bisikan Alex, Michelle langsung membuka matanya. Dan belum sempat dia mengklarifikasi omongan Alex, tiba-tiba dia merasakan ciuman Alex sehingga dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Melihat tindakan mereka berdua, semua orang-orang yang ada di ruangan tersebut bersiul sambil bertepuk tangan. Tidak kalah dengan Tn dan Ny. Griston, mereka geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu. Sementara tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sangat benci dengan acara hari ini. Apalagi melihat adegan ciuman tadi. Orang itu dengan perasaan cemburu bercampur benci pergi meninggalkan acara tersebut.


"Mmmphhh... Apa yang kamu lakukan Lex? bisik Michelle. Wajahnya sudah berubah jadi pink saking malunya.


"Mencium istriku, emangnya kenapa? Nggak boleh? tanya Alex sambil melihat wajah Michelle yang memerah. Dia semakin ingin menjahili yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.


Setelah acara pemberkatan selasai, mereka pergi menjumpai orangtua mereka. Ny. Alice tampak nya orang yang paling bahagia mengingat sekarang Michelle sudah benar-benar menjadi menantunya.


"Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah sah jadi menantu tante" kata Ny. Alice sambil memeluk dan mencium Michelle.


"Makasi tante" balas Michelle malu-malu.


"Aaah, iya. Sekarang kamu jangan manggil tante lagi. Panggil aja mama kayak Alex manggil mama juga ya" pinta NY. Alice.


"I.. Iyaa ma" balas Michelle dengan suara hampir tak kedengaran.


Mendengar jawaban Michelle yang hampir tak kedengaran itu, mereka hanya tertawa.


"Iya, kamu jangan sungkan-sungkan lagi sama kita. Anggap aja kita orangtua mu" kata Tn. Adam mencoba menjelaskan.


Michelle hanya mengangguk menandakan dia mengerti.


"Kamu juga Lex, sekarang kamu sudah nggak sendiri lagi. Kamu sudah punya tanggung jawab yang baru. Jangan memikirkan diri mu sendiri lagi. Kamu sudah punya istri. Dan kamu harus lebih bertanggung jawab lagi dengan keluarga baru mu ini" kata Tn. Adam menjelaskan kepada Alex.


"Iya pak" kata Alex.


Bibi Amanda yang nggak jauh dari mereka juga datang menghampiri dan memeluk Michelle


"Selamat ya nak, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Harus nurut apa kata suami. Nggak boleh melawan yaa" kata bi anda sambil menangis. Dia merasa terharu atas pernikahan Michelle hari ini.


Michelle yang melihat bibi nya jadi ikutan juga menangis. "Iya bibi. Michelle akan ingat nasehat bibi" kata Michelle.


"Sudah-sudah, jangan nangis. Kamu nanti kamu terlihat jelek looh" kata bi Amanda. Michelle hanya bisa tersenyum sambil ngelap air matanya.


"Kamu juga Lex, bibi percayakan Michelle sama kamu. Walaupun dia bukan lahir dari rahim bibi, tapi dia sudah seperti anak kandung bibi. Jadi, kamu jangan sekali-kali menyakiti dia. Kamu yang akan berhadapan langsung sama bibi" kata bi Amanda menasehati Alex.


"Iya bi" kata Alex.


Setelah semua prosesi acara selesai dilakukan, mereka pulang ke kediaman keluarga Griston. Di sana mereka membicarakan tentang berbagai hal. Dan akhirnya dengan kesepakatan bersama, Alex dan Michelle akan tinggal di rumah yang sudah dibeli Ny. Alice sebagai hadiah pernikahan mereka. Tadinya Ny. Alice minta mereka tinggal di rumah utama yang ditempati orangtua Alex yang sekarang, tapi Alex bersih keras tidak mau.


Michelle juga masih tetap boleh bekerja di tempat kerjanya yang sekarang. Padahal dia juga sudah ditawarkan untuk mengelola salah satu perusahaan keluarga Griston walaupun tidak terlalu besar. Tapi Michelle tetap memilih kerjaannya yang dulu. Tapi dengan syarat, Michelle harus sering-sering datang berkunjung ke rumah mertua nya itu.


Akhirnya setelah selesai dengan diskusi mereka. Alex dan Michelle pamit untuk pulang ke rumah baru mereka. Tadinya Ny. Alice sangat berharap mereka berdua menginap dulu, baru besok mulai tinggal di rumah baru mereka. Tapi karena Alex ngotot, jadinya Ny. Alice harus mengalah.


"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan. Jangan lupa juga cepat kalian berdua bikin cucu buat mama" kata Ny. Alice membuat Michelle malu sambil masuk ke dalam mobil.


"Kamu nggak usah dengarkan kata-kata mama tadi" kata Alex tiba-tiba.


"Aaa? Ah iya" kata Michelle yang bingung maksudnya Alex yang mana.


Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hanya keheningan yang ada di antara mereka. Kira-kira setelah setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah berlantai dua. Kawasan itu juga salah satu kawasan elit di kota itu. Nggak kalah mewah nya dengan tempat tinggal orangtua Alex.


Alex turun dari mobil begitu saja. Dia tidak melihat Michelle memperhatikan sekeliling rumah tersebut dari dalam mobil.


"Kamu nggak mau turun atau kamu tinggal di dalam mobil ini aja?" tanya Alex.


"Aah iya, maaf" kata Michelle sambil keluar dari mobil itu. Kemudian dia mengikuti Alex dari belakang.


Setelah sampai di kamar yang ada di lantai dua rumah itu, tiba-tiba Alex berbalik dan melihat Michelle mau menutup pintu kamar itu.


"Kamu ngapain ngikutin aku ke sini?" tanya Alex dengan suara tidak senang.


"Maksud kamu? Bukannya ini kamar kita?" tanya Michelle bingung.


"Hahahaha, kita? Emang nya siapa yang nyuruh kita tidur bareng haa? Tanya Alex.


"Kamar mu ada di sebelah, kamu tidur di situ. Jangan sekali-kali kamu masuk ke kamar ini lagi. Paham?" tanya Alex dengan suara marah nya.


Melihat Alex yang tiba-tiba marah Michelle merasa bingung bercampur sedikit takut. Dia tadi masih melihat Alex biasa-biasa saja. Kenapa sekarang jadi marah-marah. Aah, mungkin karena kecapean kali makanya dia marah-marah. Kan satu harian ini memang sangat melelahkan pikir Michelle. Toh juga kami dijodohkan. Bisa saja dia kurang nyaman kalau kami tidur di dalam satu ruangan pikir Michelle lagi.


"Kamu ngapain masih bengong di situ?" kata Alex.


"Iya maaf" kata Michelle langsung keluar dari kamar itu dan pergi menuju kamar yang di sebelah.


Sambil melihat Michelle keluar dari kamar, Alex berkata di dalam hatinya "ini masih permulaan dan ini belum seberapa. Kamu tunggu saja".


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Di dalam kamar yang lain, Michelle duduk sambil menenangkan pikirannya berusaha menjauhkan hal-hal yang buruk dari otaknya. Karena dia merasa haus, Michelle turun kelantai bawah. Di sana dia berusaha mencari dapur di mana. Karena rumah baru mereka ini juga termasuk besar dan baru kali ini dia datang ke rumah ini, jadi dia agak bingung dengan ruangan-ruangan di rumah itu.


Sepertinya di rumah itu belum ada pembantu rumah tangga. Dan itu memang di sengaja Alex. Ntah apa maksudnya dia meniadakan para maid di rumah itu.


Setelah Michelle ketemu ruang makan, di sana dia langsung minum dan sedikit merasa lega. Kemudian dia membawa bekal minum dia untuk dikamar. Saat dia mau ke kamarnya, dia berpapasan dengan Alex di tangga. Dia melihat Alex sepertinya sudah mandi dan pakaiannya bukan yang tadi lagi. Dan Alex juga hanya melewati dia begitu saja.


Melihat Alex yang sudah di lantai dasar rumah itu, Michelle memberanikan diri untuk bertanya.


"Lex, kamu mau kemana? Ini sudah hampir tengah malam?" tanya Michelle.


"BUKAN URUSAN MU" kata Alex singkat.


Mendengar jawaban Alex itu, Michelle hanya bisa berdiri bagaikan patung di tangga rumah itu. Seperti ada ribuan ton besi yang menimpa dadanya yang mengakibatkan dia merasa sesak. Belum beberapa jam yang lalu mereka sah jadi suami istri.


"Hhhaa... Apa katanya? Bukan urusan aku? Dia yang udah jadi suami aku, tengah malam begini dia mau keluar rumah katanya bukan urusan aku?". Tanpa Michelle sadari dia meneteskan air mata. Dia merasa benar-benar tidak dianggap kehadirannya di rumah ini.


Alex yang sudah membuka pintu rumah itu melihat ke belakang. Dia masih melihat Michelle yang masih dengan posisi nya dia lewati tadi. Berdiri, diam bagaikan patung tidak bergerak sama sekali dan dia melihat samar-samar seperti buliran kristal bening mengalir di wajah Michelle. Tapi dia tidak menghiraukan itu. Dia tetap menutup pintu rumah itu dengan keras dan meninggalkan Michelle dengan perasaannya yang sama sekali Michelle tidak tahu....


😭😭😭😭😭😭


Maafkan kalau ada typo yang bertebaran di mana-mana


Sampai ketemu di part berikut nya,,,,,,


😊😊😊


βœ‹βœ‹βœ‹βœ‹