
2 bulan kemudian, Han Ling sadar, mencari Xue Ling yang
tidak terbaring di sampingnya “Xiao Xue…” langsung keluar dari kamar. “Jiefu,
anda sudah sadar…” Huo Ling menghampiri “dimana Xiao Xue ?” langsung bertanya
tanpa basa basi “jiejie ? apa jiejie sudah sadar ?” Huo Ling tidak menjawab,
memberi pertanyaan lain pada Han Ling. Han Ling mengerutkan kening “apa Xiao
Xue belum sadar ?” segera kembali ke kamar.
Han Ling tidak menemukan Xue Ling dalam istana utama “dimana
Xiao Xue ? uhuk… uhuk…” dalam kecemasan, tidak mempedulikan dirinya sendiri
“jiefu, istirahatlah… aku akan mencari Xue Ling jie…” Huo Ling menyarankan. Han
Ling menggeleng, tiba-tiba mengangkat kepalanya “Pohon Bodhi ! Permata Nila…”
Huo Ling mengerutkan kening “aku harus ke Pohon Bodhi…” Han Ling memaksakan
dirinya, ingin menerobos keluar. Han Ling terjatuh, karena tubuhnya masih lemah
“jiefu…” Huo Ling segera memapah.
“ada apa ini ?” suara seorang wanita mematahkan kecemasan
keduanya. Han Ling segera berdiri, menghampiri dan memeluk Xue Ling yang baru
masuk dari gerbang utama “Xiao Xue…” “Han ge…” melihat dan mendengar suara Xue
Ling, Han Ling menghela nafas lega “Xiao Xue, aku sadar tidak melihatmu…”
mengadu pada Xue Ling.
Xue Ling tersenyum “aku membuatkanmu ramuan pemulih…” Han
Ling melirik tangan Xue Ling yang tidak memeluknya, masih memegang sebuah baki
dengan sebuah mangkok berisi ramuan diatasnya. Han Ling melerai pelukan dan
menimang baki Xue Ling “kau juga masih lemah, kenapa membuat ini ?” protes pada
Xue Ling. Xue Ling tersenyum “terlalu banyak tidur, kepala agak pusing jadi
mencari sedikit kegiatan…” menjawab spontan. Han Ling merangkul Xue Ling,
mengajaknya duduk agar tidak kelelahan.
“jie, lain kali hal seperti ini, biarkan dayang saja yang
membuatnya… istirahatlah dengan baik !” Huo Ling menasehati. Xue Ling memainkan
wajahnya “Huo, mana Shui Ling dan Cheng Mei ?” mendengar pertanyaan Xue Ling,
wajah Huo Ling langsung cemberut “apa ada masalah ?” Xue Ling yang tidak
mendapat jawaban dan melihat perubahan raut wajah Huo Ling menjadi bingung.
Huo Ling berdecak “ck… bisa ada masalah apa ! kenakalan
mereka sampai melibatkan Siang er…” berguman dengan nada kesal. Han Ling dan
Xue Ling saling melihat “apa yang mereka lakukan ?” keduanya penasaran. Huo
Ling melirik mereka dengan malas dan berkata dengan kesal “Shui dan Cheng Mei
itu, mengajak Siang er, menemui dewa arak…”
Han Ling dan Xue Ling mengerutkan kening. Sesaat
kemudian, terdengar tawa Xue Ling “hahaha… kau di tinggalkan Ling Siang, merana
sendirian…” “masih tertawa, aku ini bukankah menjaga kalian !” Huo Ling
menghardik Xue Ling yang menertawakannya. Xue Ling menutup mulutnya “ooo…
terima kasih padamu kalau seperti itu !” tersenyum sambil menahan tawa. Han
Ling tersenyum melihat Xue Ling, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Huo Ling menghela nafas “sudahlah, tidak membicarakan
itu… Jie, bagaimana kondisimu ? aku akan memanggil Yao Wang…” Huo Ling berdiri.
Xue Ling melambai-lambaikan tangannya “tidak perlu, aku baik-baik saja, hanya
perlu beristirahat…” “jie, apa yang terjadi ?” Huo Ling sudah penasaran dari
saat mengetahui Xue Ling yang kembali mengambil alasan bersenang-senang untuk
menyelesaikan misi penyetabilan Pusat Salju dan Pusat Lava.
“hal yang sudah kau ketahui ! tapi dengan bantuan Han ge,
tidak sampai terluka parah… Wei Jiang sana juga mempersiapkan semua dengan
baik, membuat beban lebih mudah…” Xue Ling menjelaskan. Han Ling tersenyum
merangkul Xue Ling “kau masih harus banyak beristirahat !” Xue Ling mengangguk
“Han ge juga perlu memulihkan diri… oh minumlah…” memberikan ramuan pemulih
pada Han Ling.
Han Ling melihat ramuan pemulih yang hanya ada satu
Ling menggeleng dan mendorong mangkuk ke mulut Han Ling “aku sudah minum di
dapur tadi… ini bagian Han ge…” Han Ling mengangguk dan langsung meminum habis
ramuannya “sangat menyegarkan…” Xue Ling tersenyum.
Xue Ling beralih ke Huo Ling “apa Wei Jiang ada datang ?”
Huo Ling menggeleng “Wei Jiang Zheng Zhu tidak dapat, tapi mengutus Chang Yi
Tai Zi untuk melapor. Oh mengenai ini, jie, misi yang anda berikan pada Wei
Jiang Zheng Zhu untuk menyatukan Da Hai…” “ada apa ? tidak mau…” Xue Ling
menatap Huo Ling acuh tak acuh.
Huo Ling menghela nafas, dengan tenang meminum tehnya
“jie, tidak ada saat terakhir, mereka…” Xue Ling memainkan wajahnya “tidak
masalah… dalam kesenangan, hati mereka masih bersatu…” dengan santai
mencerahkan Huo Ling “jie…” Huo Ling berguman sambil menghela nafas “katakan !”
Xue Ling acuh tak acuh “Dong Hai…” Huo Ling menyebutkan dua kata. Xue Ling
tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala “bawakan pesanku ke Dong Hai ‘angin
berhembus, peluit ungu berbunyi… perputaran… tidak menyisakan apapun…’. Sudah,
masalah ini tidak perlu dibahas lagi”.
“Xiao Xue, kapan kau ke Dong Hai ?” Han Ling bertanya
dengan kerutan di keningnya. Xue Ling tersenyum manis, menatap Han Ling. Han
Ling menatap mata Xue Ling “Xiao Xue, kau… kau nakal sekali…” mengetuk kening
Xue Ling. Xue Ling menggosok keningnya “aiyo Han ge, aku harus memastikan
semuanya, sebelum melakukan semuanya kan !” berkata acuh tak acuh.
Huo Ling mendengar pembicaraan keduanya “jie… kau sudah
ke Dong Hai ?” Xue Ling menatap Huo Ling dan mengangguk. Huo Ling melirik malas
Han Ling “jie…” Xue Ling menghentikan kata-kata Huo Ling “haih… mau
bagaimanalagi ? pesonaku terlalu luar biasa… Han ge, bahkan kedatanganku pun
menjadi rebutan, bagaimana menurutmu ?” memainkan wajahnya dengan nakal,
menggoda Han Ling.
Han Ling acuh tak acuh “apa yang bagaimana ? siapa yang
mempedulikan semua itu ? kau ‘Xue Ling Shen Zun’ hanya milik Han Ling Shen Jun
sendiri…” Huo Ling menghela nafas “jie, tubuhmu sendiri masih lemah, untuk apa
mempedulikan semua itu…” ikut protes. Xue Ling cekikikan “Huo, apa aku nampak
dewi yang mempedulikan semua itu ? haih itu hanya sekalian jalan saja !”
Huo Ling melirik malas “jadi, apa yang anda temukan di
Dong Hai ?” Xue Ling mengangkat alisnya “Xi bijaksana dan terlalu kolot, Dong
ceria dan nakal… bagaimana menurutmu ?” memainkan alisnya, menatap Huo Ling.
Huo Ling berdehem “hmm… masing-masing mempunyai karakter sendiri… mereka bisa
membentuk harmoni sendiri…” Han Ling membelai kepala Xue Ling “keempatnya bisa
menyeimbangkan sendiri… karakter mereka terbentuk sudah dari leluhur mereka…
sampai masa ini masih mempertahankannya, sudah sangat baik” Xue Ling
mengangguk.
Han
Ling melihat Huo Ling “Huo Ling, ikuti saja kata-kata Xiao Xue, sampaikan
pesannya… biar mereka puas dan tidak memendam keirian…” Huo Ling mengangguk
“baik, aku akan mengurusnya… Jie – Jiefu, kalian istirahatlah… berhubung kalian
sudah sadar, aku akan meminta yaowang menyiapkan ramuan pulih… jie, kau tidak
perlu melakukan hal ini, beristirahatlah…” Xue Ling mengangkat alisnya “sudah
tahu…” Huo Ling pun pamit undur diri.
Han
Ling menatap Xue Ling dengan senyum lembut “sudah berkegiatan begitu banyak
hari ini, apa kau tidak lelah ?” Xue Ling memegang belakang lehernya “agak
lelah… kepala masih agak pusing !” Han Ling menggenggam tangan Xue Ling “kita
berendam kemudian istirahat kembali…” menariknya ke tempat perendaman.