
Ketujuh Permata mengeluarkan cahaya masing-masing
mengelilingi bunga teratai. Semakin lama semakin dekat, akhirnya masing-masing
Permata mengambil posisi di tiap kelopak bunga teratai. Cahaya masing-masing
Permata, mengalir melalui masing-masing kelopak bunga ke tengah, tempat batu
bening berada. Ketujuh cahaya membentuk mahkota, menjadi tempat wadah batu
bening.
Pohon Bodhi berhenti menyinari batu bening. Pohon Bodhi
sendiri bersinar keemasan terang benderang. Perlahan cahaya Pohon Bodhi
mengecil dan hanya menyinari teratai salju “apa yang terjadi ?” Shui Ling
bertanya “inilah Xiao Xue yang sebenarnya !” Han Ling tersenyum lembut melihat
teratai salju yang mengutuhkan dirinya.
“Xue Ling jie bukanlah embun yang membantu pertumbuhan teratai
salju, tapi merupakan inti kemurnian itu sendiri… teratai salju tumbuh untuk
menjadi pelindung dari inti kemurnian itu… dibawah naungan Pohon Bodhi…
semuanya melindungi dan menciptakan tujuh permata untuk mendukungnya… kenapa
tidak ada yang pernah menyadarinya ? hal inilah yang menyebabkan Xue Ling jie
bisa mempelajari semua unsur tanpa memiliki energi murni, karena dialah pemilik
semua itu !” Huo Ling berguman.
“Xiao Xue sudah kembali… Tian Zun Tian Hou yang
mengacaukannya dan menyengsarakannya dengan mengambilnya dari tempat
seharusnya… sekarang, Xiao Xue akhirnya kembali bebas…” Han Ling menitikkan air
mata “Shen Jun, inilah yang diinginkan Shen Zun… dia tidak memiliki rumah,
karena dialah rumah bagi lainnya !” Xin Lan tersenyum sedih.
“Xiao Xue, kau adalah rumahku…” Han Ling memegang dadanya
dengan linangan air mata, menatap bunga teratai salju yang sudah mulai menutup.
“Jiefu, apa yang diinginkan jiejie ?” Shui Ling bertanya sambil melihat teratai
salju “Xiao Xue ingin kebebasan… memilih untuk tidak pernah menjelma, menjadi
embun yang menguap dan menghilang.” Han Ling menjawab dengan mata berkaca-kaca
“jiejie memilih ketiadaannya !” Shui Ling terduduk sedih.
Shui Ling berlinang air mata melihat bunga teratai yang
hampir menutup sempurna “jiejie, kau tidak menganggap kami saudara kah ? tidak
menganggap kami keluarga kah ?” Han Ling tersenyum “dari awal, kalian yang
tidak menganggapnya… dari awal tidak ada yang memperhatikannya, hanya
memberinya tugas untuk menjaga dan menjaga… Xiao Xue menganggap dirinya sebagai
‘tanggung jawab’, disebabkan Tian Zun Tian Hou yang menanamkan pengertian itu…
Xiao Xue menganggap dirinya tidak memiliki arti apapun…”
Huo Ling dan Shui Ling menatap Han Ling, memahami
kata-katanya “apa tidak ada yang memberatkannya ? bagaimana dengan anda ?” Han
Ling tersenyum sendu “sama seperti kalian, aku juga berbuat kesalahan…
penolakanku dahulu terhadap Rou Rou sudah menjadi mata pisau yang menusukku
sendiri… Xiao Xue…” “tapi bukankah Xue Ling mencintai anda ?” Cheng Mei
bertanya.
Han Ling mengangguk “dia memberikan restu dan cintanya,
melepasku untuk mencari kebahagiaanku sendiri… mencari wanita idamanku sendiri…
hidup dalam impianku sendiri… Xiao Xue memberiku Si Hai Ba Huang yang damai dan
tentram untuk ratusan ribu tahun…” berlinang air mata, memandang teratai salju
yang hanya meninggalkan lubang kecil yang masih memancarkan cahaya keemasan.
Bersama-sama melihat kuncup teratai salju yang menutup
sempurna “Xiao Xue…” cahaya keemasan menghilang. Teratai salju berputar
mengeluarkan tujuh jenis cahaya, semakin lama semakin mengecil. Han Ling
menjulurkan tangannya dengan mata berlinang air mata “Xiao Xue…” ‘Xiao Xue, aku
mencintaimu ! hukuman ini sangat berat untukku… Xiao Xue, aku tidak akan pernah
lagi menemukan wanita sepertimu… aku mencintaimu…’ “Xiao Xue, jika sebelumnya
keegoisanmu menghasilkan kebersamaan kita, bisakah saat ini aku yang egois ?
Xiao Xue… aku mengaku salah, jangan menghukumku… bisakah jangan membalasku ?”
berguman dengan suara bergetar.
Saat hanya tersisa 1 titik dengan cahaya 7 warna, titik
terang benderang. Perlahan cahaya melemah dan menghilang. Semua daun dan bunga
bermekaran di Pohon Bodhi, terlihat urat-urat pohon yang membawa 7 warna
cahaya. Semakin lama 7 cahaya semakin terang benderang, menyinari sekitar
hingga ke Si Hai Ba Huang, sebelum kembali meredup dan menjadi cahaya lembut
pada urat akar Pohon Bodhi.
“Shen Zun sudah berhasil menuntaskan keinginannya…
permainan hingga mengorbankan nyawa… benar-benar hanya gadis kecil ini yang
mampu melakukannya…” Wei Jiang tersenyum lembut dan sendu, melihat Pohon Bodhi
yang sudah kembali seperti pohon biasa dengan urat akar tujuh warna. “Cahaya
ini akan menjaga kedamaian dan ketentraman untuk waktu yang sangat lama !” Shen
Zhu berguman.
“tapi dalam ramalan mengatakan ‘akan muncul 1 aura murni
yang akan memimpin semua aura lainnya’ apa…” Huo Ling berguman, menarik
perhatian semua kembali padanya “apa bukan jiejie ?” “Zhu Ren…” sebuah cahaya
ungu muncul diikuti kemunculan Zi Zuan “Zi Zuan, ada apa kau kemari ?” Shui
Ling bertanya “Zhu Ren…” Ren er pun muncul “Ren er, ada apa ?” Cheng Mei pun
bertanya.
Zi Zuan dan Ren er tidak menjawab pertanyaan,
bersama-sama menghampiri Pohon Bodhi “Zhu Ren…” menengadahkan kepala, mengamati
Pohon Bodhi “Zi Zuan, Ren er, apa yang kalian cari ?” Shui Ling menghampiri,
menanyakan tingkah keduanya “Zhu Ren…” keduanya berguman bersamaan “Zi Zuan,
Ren er, jiejie sudah tiada…”
Zi Zuan berbalik dengan mata berkaca-kaca melihat Shui
Ling “hati Zhu Ren akan selalu ada dan bersinar…” Ren er pun berbalik dengan
linangan air mata “Zhu Ren adalah penciptaku… kehidupan itu tidak akan
menghilang…” “Zi Zuan – Ren er…” Shui Ling tidak tahu harus mengatakan apa pada
kedua bocah di hadapannya.
Keduanya tidak menggubris Shui Ling, kembali mengamati
Pohon Bodhi. Semua membiarkan keduanya, Han Ling menghampiri, memutari sambil
mengamati Pohon Bodhi. Urat akar Pohon Bodhi berkilauan dengan cahaya 7 warna.
Han Ling tersenyum sedih, memegang Pohon Bodhi, menutup mata ‘Xiao Xue, kau
tidak pergi… inilah dirimu… Xiao Xue, kau disini kan ?’ terbersih cahaya
melewati mata Han Ling.
Han Ling membuka mata karena merasa silau, tapi yang
ternampak hanya hal yang sama seperti saat dia menutup mata. Han Ling
tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya “Xiao Xue… sekarang, bagaimana aku
harus meneruskan hidupku ? impianku adalah dirimu… bagaimana aku bertahan ?”
menitikkan air mata sambil melihat urat akar Pohon Bodhi.
Han Ling mengangkat kepala, melihat dedaunan dan
bunga-bunga Pohon Bodhi, memiringkan kepalanya “teratai salju suci ! inti
kemurnian !’ Han Ling mengerutkan keningnya “inti kehidupan tidak akan
menghilang ! hati yang selalu bersinar !” berguman sendiri, dengan kerutan yang
semakin dalam “ada apa Jiefu ?” Huo Ling bertanya, melihat Han Ling yang
kebingungan.
“Xiao Xue…” Han Ling berguman sambil mengamati Pohon
Bodhi “ada apa dengan Shen Zun ?” Xin Lan bertanya “teratai salju suci ! inti
kemurnian ! inti kehidupan tidak akan menghilang ! hati yang selalu bersinar !”
Han Ling mengulang kata-katanya sekali lagi, melompat ke atas Pohon Bodhi “ada
apa dengan jiefu ?” Shui Ling menghampiri dan melihat tingkah Han Ling yang
mengobrak abrik dedaunan dan bunga-bunga Pohon Bodhi yang rimbun.
Semua segera menghampiri Pohon Bodhi dan mengamati yang
dilakukan Han Ling Shen Jun “hati yang selalu bersinar ! hati… hati… hati –
inti… inti kemurnian… kemurnian…” Han Ling terus berguman dan membuka-buka
daun-daun yang menutupi pandangannya. Walaupun nampak tergesa-gesa, tapi Han
Ling berusaha melakukannya selembut mungkin, hingga tidak mempengaruhi Pohon
Bodhi dan tidak sampai mematahkan daun dan bunga Pohon Bodhi.