The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 102 - Inti Kemurnian



            Ketujuh Permata mengeluarkan cahaya masing-masing


mengelilingi bunga teratai. Semakin lama semakin dekat, akhirnya masing-masing


Permata mengambil posisi di tiap kelopak bunga teratai. Cahaya masing-masing


Permata, mengalir melalui masing-masing kelopak bunga ke tengah, tempat batu


bening berada. Ketujuh cahaya membentuk mahkota, menjadi tempat wadah batu


bening.


            Pohon Bodhi berhenti menyinari batu bening. Pohon Bodhi


sendiri bersinar keemasan terang benderang. Perlahan cahaya Pohon Bodhi


mengecil dan hanya menyinari teratai salju “apa yang terjadi ?” Shui Ling


bertanya “inilah Xiao Xue yang sebenarnya !” Han Ling tersenyum lembut melihat


teratai salju yang mengutuhkan dirinya.


            “Xue Ling jie bukanlah embun yang membantu pertumbuhan teratai


salju, tapi merupakan inti kemurnian itu sendiri… teratai salju tumbuh untuk


menjadi pelindung dari inti kemurnian itu… dibawah naungan Pohon Bodhi…


semuanya melindungi dan menciptakan tujuh permata untuk mendukungnya… kenapa


tidak ada yang pernah menyadarinya ? hal inilah yang menyebabkan Xue Ling jie


bisa mempelajari semua unsur tanpa memiliki energi murni, karena dialah pemilik


semua itu !” Huo Ling berguman.


            “Xiao Xue sudah kembali… Tian Zun Tian Hou yang


mengacaukannya dan menyengsarakannya dengan mengambilnya dari tempat


seharusnya… sekarang, Xiao Xue akhirnya kembali bebas…” Han Ling menitikkan air


mata “Shen Jun, inilah yang diinginkan Shen Zun… dia tidak memiliki rumah,


karena dialah rumah bagi lainnya !” Xin Lan tersenyum sedih.


            “Xiao Xue, kau adalah rumahku…” Han Ling memegang dadanya


dengan linangan air mata, menatap bunga teratai salju yang sudah mulai menutup.


“Jiefu, apa yang diinginkan jiejie ?” Shui Ling bertanya sambil melihat teratai


salju “Xiao Xue ingin kebebasan… memilih untuk tidak pernah menjelma, menjadi


embun yang menguap dan menghilang.” Han Ling menjawab dengan mata berkaca-kaca


“jiejie memilih ketiadaannya !” Shui Ling terduduk sedih.


            Shui Ling berlinang air mata melihat bunga teratai yang


hampir menutup sempurna “jiejie, kau tidak menganggap kami saudara kah ? tidak


menganggap kami keluarga kah ?” Han Ling tersenyum “dari awal, kalian yang


tidak menganggapnya… dari awal tidak ada yang memperhatikannya, hanya


memberinya tugas untuk menjaga dan menjaga… Xiao Xue menganggap dirinya sebagai


‘tanggung jawab’, disebabkan Tian Zun Tian Hou yang menanamkan pengertian itu…


Xiao Xue menganggap dirinya tidak memiliki arti apapun…”


            Huo Ling dan Shui Ling menatap Han Ling, memahami


kata-katanya “apa tidak ada yang memberatkannya ? bagaimana dengan anda ?” Han


Ling tersenyum sendu “sama seperti kalian, aku juga berbuat kesalahan…


penolakanku dahulu terhadap Rou Rou sudah menjadi mata pisau yang menusukku


sendiri… Xiao Xue…” “tapi bukankah Xue Ling mencintai anda ?” Cheng Mei


bertanya.


            Han Ling mengangguk “dia memberikan restu dan cintanya,


melepasku untuk mencari kebahagiaanku sendiri… mencari wanita idamanku sendiri…


hidup dalam impianku sendiri… Xiao Xue memberiku Si Hai Ba Huang yang damai dan


tentram untuk ratusan ribu tahun…” berlinang air mata, memandang teratai salju


yang hanya meninggalkan lubang kecil yang masih memancarkan cahaya keemasan.


            Bersama-sama melihat kuncup teratai salju yang menutup


sempurna “Xiao Xue…” cahaya keemasan menghilang. Teratai salju berputar


mengeluarkan tujuh jenis cahaya, semakin lama semakin mengecil. Han Ling


menjulurkan tangannya dengan mata berlinang air mata “Xiao Xue…” ‘Xiao Xue, aku


mencintaimu ! hukuman ini sangat berat untukku… Xiao Xue, aku tidak akan pernah


lagi menemukan wanita sepertimu… aku mencintaimu…’ “Xiao Xue, jika sebelumnya


keegoisanmu menghasilkan kebersamaan kita, bisakah saat ini aku yang egois ?


Xiao Xue… aku mengaku salah, jangan menghukumku… bisakah jangan membalasku ?”


berguman dengan suara bergetar.


            Saat hanya tersisa 1 titik dengan cahaya 7 warna, titik


terang benderang. Perlahan cahaya melemah dan menghilang. Semua daun dan bunga


bermekaran di Pohon Bodhi, terlihat urat-urat pohon yang membawa 7 warna


cahaya. Semakin lama 7 cahaya semakin terang benderang, menyinari sekitar


hingga ke Si Hai Ba Huang, sebelum kembali meredup dan menjadi cahaya lembut


pada urat akar Pohon Bodhi.


            “Shen Zun sudah berhasil menuntaskan keinginannya…


permainan hingga mengorbankan nyawa… benar-benar hanya gadis kecil ini yang


mampu melakukannya…” Wei Jiang tersenyum lembut dan sendu, melihat Pohon Bodhi


yang sudah kembali seperti pohon biasa dengan urat akar tujuh warna. “Cahaya


ini akan menjaga kedamaian dan ketentraman untuk waktu yang sangat lama !” Shen


Zhu berguman.


            “tapi dalam ramalan mengatakan ‘akan muncul 1 aura murni


yang akan memimpin semua aura lainnya’ apa…” Huo Ling berguman, menarik


perhatian semua kembali padanya “apa bukan jiejie ?” “Zhu Ren…” sebuah cahaya


ungu muncul diikuti kemunculan Zi Zuan “Zi Zuan, ada apa kau kemari ?” Shui


Ling bertanya “Zhu Ren…” Ren er pun muncul “Ren er, ada apa ?” Cheng Mei pun


bertanya.


            Zi Zuan dan Ren er tidak menjawab pertanyaan,


bersama-sama menghampiri Pohon Bodhi “Zhu Ren…” menengadahkan kepala, mengamati


Pohon Bodhi “Zi Zuan, Ren er, apa yang kalian cari ?” Shui Ling menghampiri,


menanyakan tingkah keduanya “Zhu Ren…” keduanya berguman bersamaan “Zi Zuan,


Ren er, jiejie sudah tiada…”


            Zi Zuan berbalik dengan mata berkaca-kaca melihat Shui


Ling “hati Zhu Ren akan selalu ada dan bersinar…” Ren er pun berbalik dengan


linangan air mata “Zhu Ren adalah penciptaku… kehidupan itu tidak akan


menghilang…” “Zi Zuan – Ren er…” Shui Ling tidak tahu harus mengatakan apa pada


kedua bocah di hadapannya.


            Keduanya tidak menggubris Shui Ling, kembali mengamati


Pohon Bodhi. Semua membiarkan keduanya, Han Ling menghampiri, memutari sambil


mengamati Pohon Bodhi. Urat akar Pohon Bodhi berkilauan dengan cahaya 7 warna.


Han Ling tersenyum sedih, memegang Pohon Bodhi, menutup mata ‘Xiao Xue, kau


tidak pergi… inilah dirimu… Xiao Xue, kau disini kan ?’ terbersih cahaya


melewati mata Han Ling.


            Han Ling membuka mata karena merasa silau, tapi yang


ternampak hanya hal yang sama seperti saat dia menutup mata. Han Ling


tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya “Xiao Xue… sekarang, bagaimana aku


harus meneruskan hidupku ? impianku adalah dirimu… bagaimana aku bertahan ?”


menitikkan air mata sambil melihat urat akar Pohon Bodhi.


            Han Ling mengangkat kepala, melihat dedaunan dan


bunga-bunga Pohon Bodhi, memiringkan kepalanya “teratai salju suci ! inti


kemurnian !’ Han Ling mengerutkan keningnya “inti kehidupan tidak akan


menghilang ! hati yang selalu bersinar !” berguman sendiri, dengan kerutan yang


semakin dalam “ada apa Jiefu ?” Huo Ling bertanya, melihat Han Ling yang


kebingungan.


            “Xiao Xue…” Han Ling berguman sambil mengamati Pohon


Bodhi “ada apa dengan Shen Zun ?” Xin Lan bertanya “teratai salju suci ! inti


kemurnian ! inti kehidupan tidak akan menghilang ! hati yang selalu bersinar !”


Han Ling mengulang kata-katanya sekali lagi, melompat ke atas Pohon Bodhi “ada


apa dengan jiefu ?” Shui Ling menghampiri dan melihat tingkah Han Ling yang


mengobrak abrik dedaunan dan bunga-bunga Pohon Bodhi yang rimbun.


            Semua segera menghampiri Pohon Bodhi dan mengamati yang


dilakukan Han Ling Shen Jun “hati yang selalu bersinar ! hati… hati… hati –


inti… inti kemurnian… kemurnian…” Han Ling terus berguman dan membuka-buka


daun-daun yang menutupi pandangannya. Walaupun nampak tergesa-gesa, tapi Han


Ling berusaha melakukannya selembut mungkin, hingga tidak mempengaruhi Pohon


Bodhi dan tidak sampai mematahkan daun dan bunga Pohon Bodhi.