
Besok paginya Michelle tampak sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Hari ini dia merasa cukup senang karena kepulangan Alex tadi malam. Saat dia lagi sibuk menata masakannya di meja makan, dia melihat Alex sudah rapi dengan pakaian kantornya.
Melihat Alex tidak ada niat menuju meja makan, Michelle buru-buru menghampirinya.
"Lex, kamu mau langsung ke kantor nggak serapan dulu?"
"Nggak usah, aku nanti serapan di kantor aja"
"Aku udah buatin kamu sarapan lo, makan dulu."
"Emang yang nyuruh kamu buatin sarapan siapa? Aku nggak ada minta. Jadi, kamu nggak usah sok perhatian gitu" kata Alex sambil pergi.
"Lex,,,"
"Udah nggak usah berisik, aku mau berangkat" kata Alex sambil pergi dari hadapan Michelle. Alex yang hendak membuka pintu rumah, tiba-tiba berhenti dan berbalik kearah Michelle.
"Oya, satu lagi. Kamu nggak usah nungguin aku pulang kerja, nggak usah saling mencampuri urusan satu sama lain, dan kamu mau ngapain aja, mau ngelakuin apapun terserah. Dan asal kamu tahu, aku sudah punya pacar sebelum kita menikah. Aku terpaksa menyetujui pernikahan ini karena mama" kata Alex sambil membuka pintu rumah dan kembali menutupnya dengan kencang. Kemudian dia menuju mobilnya lalu pergi ke kantor.
Michelle yang mendengar suara mobil Alex semakin menjauh dan suara mobil itu lama-kelamaan hilang dari pendengarannya. Kemudian dia tersadar dengan ucapan Alex tadi dan tiba-tiba Michelle terduduk di lantai. Dia memikirkan apa yang dikatakan Alex. Dia mengusap air matanya yang tanpa sadar sudah menetes. Ada rasa sakit di dadanya yang tidak bisa Michelle jelaskan rasanya seperti apa.
"Apa ini ? Kenapa jadi seperti ini ?
Apa katanya tadi, dia sudah punya pacar ?
Kalau dia sudah punya pacar, kenapa dia tidak menolak atau dari awal dia ngasih tahu sama aku kalau dia terpaksa menerima perjodohan ini. Kenapa sampai pernikahan ini diadakan dan Alex tidak ada penolakan sama sekali.
Michelle yang sedari tadi menangisi keadaannya tiba-tiba teringat dengan bibi Amanda. Apa yang akan dia bilang nantinya jika bi Amanda sampai tahu pikir Michelle.
Nggak.... Nggak boleh....
Bibi nggak boleh sampai tahu masalah ini. Jika bibi sampai tahu, nanti dia jadi kepikiran dan itu akan membuat bibi stres dan jatuh sakit. Dan Michelle nggak mau hal itu sampai terjadi.
Michelle nggak mau bibi Amanda jatuh sakit hanya karena memikirkan nasip pernikahannya. Michelle nggak mau bibi sakit dan pada akhirnya pergi meninggalkan dia sendirian. Michelle menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memegang dadanya yang terasa sakit bila sampai bibi Amanda ikutan juga pergi meninggalkannya seperti kedua kedua orangtua nya.
Cukup Michelle sendiri yang tahu tentang masalah pernikahannya. Orang lain tidak perlu tahu. Masalah ini adalah masalah pribadinya dan menurut dia, jika masalah rumah tangganya diketahui orang luar, itu sangat tabu dan sangat privasi. Jadi, cukup dia dan Alex saja yang tahu. Bila perlu kedua mertua nya juga jangan samapai tahu.
Michelle yang sedari tadi terduduk dilantai akhirnya bangkit dan pergi ke meja makan untuk serapan sendiri. Setidaknya dia mengisi sedikit perutnya walaupun tidak ada nafsu makan. Dia harus tetap punya tenaga untuk menghadapi semua kenyataan yang ada dihadapannya.
Mulai saat itu Michelle bertekat, walaupun Alex mencintai orang lain dan bahkan tidak menganggap dia sebagai istrinya, Michelle akan tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri yang baik. Dia akan tetap bertahan sampai sejauh mana dia mampu menghadapi sikap suaminya itu. Dia tidak mau menjadi Michelle yang cengeng, dia harus tetap kuat. Jikalau pun pada akhirnya mereka berpisah setidaknya Michelle tidak akan menyesal pernah menjadi seorang istri, karena dia memang benar-benar menjalankan perannya sebagaimana peran seorang istri. Dia yakin Tuhan tidak akan memberikannya masalah melebihi batas kemampuannya. Dia yakin pasti ada solusi disetiap permasalahan yang dihadapi setiap orang.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Satu bulan setelah kejadian itu berlalu. Michelle kembali kerutinitasnya semula. Walaupun mama mertua nya menyuruh dia untuk berhenti bekerja tetapi Michelle nggak mau. Mengingat hubungannya dengan Alex masih seperti langit dan bumi.
Alex masih tetap cuek dan masa bodo dengan kehadiran Michelle. Walaupun mereka satu rumah, mereka jarang bertemu. Alex lebih sering menginap di salah satu apartementnya. Mengobrol juga mereka jarang. Jika tidak ada hal-hal yang sangat penting, mereka berdua tidak akan bertegur sapa. Alex sepertinya benar-benar melakukan apa yang pernah dia katakan kepada Michelle.
Terkadang michelle juga merasa bosan, sedih, campur aduk dengan sikap Alex. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri akan tetap jadi istri yang baik dan dia harus menepati itu.
Di toko tempat Michelle bekerja tampak sibuk. Biasanya dari toko mulai buka sampai siang disitu jam-jam paling sibuk mereka. Ditambah bila ada pesanan khusus, mereka harus extra nambah tenaga. Nggak terasa hari sudah jam makan siang, mereka ada yang memilih istirat duluan. Michelle dan beberapa teman kerja mereka memilih menjaga toko.
Tiba-tiba salah satu dari teman kerjanya bertanya ke Michelle.
"Waaaah, nyonya besar ternyata sudah masuk kerja niih. Bukan nya masih bulan madu Chell..?"
Mendengar pertanyaan temannya itu Michelle mengangkat alis mata nya sebelah.
"Nyonya besar? Siapa yang kamu panggil nyonya besar?" tanya Michelle.
"Kamu lah, emang di sini yang baru menikah siapa Chell kan cuman kamu doang. Secara suami mu kan salah satu orang terpandang dan punya bisnis dan perusahaan di mana-mana" kata temannya itu.
"Kalian aku bilangin yaaa, nggak ada yang namanya di sini panggilan nyonya-nyonyaan. Kalian tetap manggil aku dengan Michelle, pahaaam?
Lagian juga yang punya bisnis dan perusahaan kan suami ku bukan aku" kata Michelle menjelaskan.
"Iya, iya dehh. Kamu setelah menikah kayaknya makin cerewet deh Chell. Apa tadi malam kamu nggak dapat jatah kali yaa? Goda temannya sambil melirik ke arah Mia sahabatnya Michelle. Sepertinya mereka berdua benar-benar mau ngejahilin Michelle.
"Ngomong apaan siiih? Nggak ngerti" kata Michelle.
"Ya kali aja kan tadi malam nggak dapat jatah. Soal nya bulan madu kalian sudah selesai".
Sudah ada debay blom di sini? tanya Mia sambil mengeluh perut rata Michelle.
"Miaaa, apaan sih?" Kata Michelle sambil mendukkan kepalanya. Entah dia malu temannya menanyakan hal seperti itu atau dia menyembunyikan sesuatu, teman dan sahabatnya itu nggak tahu.
Michelle nggak mungkin cerita sama sahabatnya itu tentang masalahnya. Nggak mungkin dia cerita walaupun dia sudah menikah, tapi yang namanya berhubungan suami istri itu sama sekali belum pernah mereka lakukan. Bahkan saat malam pertama mereka dulu, Alex pergi meninggalkan nya sendirian di rumah. Biarlah para teman kerja dan sahabatnya itu tahu hubungan dia dan Alex suaminya itu baik-baik saja.
"Chell... Sepertinya kamu ada janji cerita deh sama aku gimana dulu kamu dan suami mu ketemu dan sampai akhirnya kalian menikah? Soalnya setahu aku kamu itu nggak lagi dekat sama laki-laki" tanya Mia.
Michelle pun teringat dengan janjinya itu. Dulu setiap Mia bertanya, dia selalu menghindar. Ada aja alasan nya supaya sahabatnya itu tidak jadi mengintrogasinya. Tetapi sekarang dia tidak punya alasan lagi untuk menghindar.
Akhirnya Michelle pun cerita awal mulanya dia menerima perjodohannya itu. Mulai dari pertama kali saat dulu Mia memanggilnya untuk menemui yang sekarang menjadi mama mertua nya, disaat dia nggak tega mendengar cerita mertuanya, hingga mama mertuanya yang sangat-sangat menginginkan Michelle jadi menantunya. Salah satu yang membuat Michelle ingin bertahan juga dan ingin memperjuangkan pernikahannya karena kedua mertuanya yang sudah dia anggap seperti ayah dan ibunya dan kedua mertuanya itu sangat sayang sama dia.
Mendengar cerita Michelle, Mia dan teman kerjanya itu merasa Michelle sangat beruntung. Biasanya kalau kita dengar sering kali menantu dengan mama mertua tidak pernah akur. Tapi beda dengan Michelle, sepertinya dia benar-benar menantu pilihan keluarga Griston.
"Waaoooo, mama mertua mu baik banget siiih ? Jadi iri dengarnya. Mau dong mama mertua kayak gitu" kata Mia.
"Iya, kamu beruntung banget punya mama mertua yang sayang sama kamu. Padahal kalian belum lama kenal, tapi sudah suka sama kamu Chell" kata temannya yang lain.
Michelle hanya bisa tersenyum mendengar ocehan teman-temannya itu. Dia juga berasa sangat beruntung punya mama mertua seperti Ny. Alice Griston. Michelle tidak pernah merasakan sakitnya dimarah-marahin, dikomen-komentarin yang nggak-nggak, dipukulin sama mama mertua. Nggak, Michelle nggak pernah ngerasain itu.
Michelle tiba-tiba teringat bagaimana dulu mama mertuanya memperkenalkan dia ketemuan-teman arisan mama mertuanya itu dengan bangganya. Padahal dulu Michelle belom yakin untuk menerima perjodohan itu. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri sampai kedua orang di depannya itu melihat dia dengan kebingungan.
"Aaaah, nggak ada apa-apa ko" kata Michelle sambil menggelengkan kepalanya. Ayo kita pergi makan siang, teman yang lain sudah kelar" ajak Michelle.
Mereka bertiga pun pergi ke salah satu tempat makan yang nggak jauh dari tempat kerja mereka. Sampai di tempat yang di tuju mereka langsung memesan makanan mereka, kemudian mereka menikmati makan siang mereka sambil ngobrol pelan-pelan.
Ditengah mereka asyik menikmati makanan mereka masing-masing, tiba-tiba Michelle merasakan HP nya mergetar. Dia kemudian mengeluarkannya dari saku bajunya lalu melihat layar Hp nya itu.
Mama mertua ? Ada apa dia siang-siang gini nelpon pikir Michelle. Sepernya Ny. Alice juga sudah hapal betul jam istirahatnya Michelle. Karena Michelle nggak mau membuat mama mertuanya itu menunggu lama, maka dia langsung menggeser tanda hijau di layar Hp nya itu.
"Halooo selamat siang ma, mama apa kabar? tanya Michelle.
" Siang sayang, puji Tuhan kabar mama sehat-sehat aja. Bagaimana kabar kalian? "
Michelle yang langsung ngeh mama mertuanya itu menanyakan kabar dia dengan suaminya langsung menjawab walaupun sudah dua hari ini Alex nggak pulang ke rumah.
"Kami baik-baik juga ma. Ada apa mama nelpon Michelle ma?"
"Mama cuma mau ngasih tahu doang Chell, kalau besok mama mau datang ke rumah kalian. Mungkin mama berangkatnya setelah kamu selesai kerja. Atau sekalian mama mampir ketempat kerjamu biar kita pulang bareng gimana?" tanya Ny. Alice
"Nggak ngerepotin mama nanti kalau datang ke tempat kerja Michelle dulu ?" tanya Michelle merasa nggak enak hati.
"Nggak papa sayang, toh juga yang bawa mobilkan sopirnya mama"
"Ya udah Michelle tunggu besok sore ya ma?"
"Ok sayang, sampai ketemu besok"
"Iya maaa" kata Michelle sambil menutup pembicaraan mereka lalu mematikan HP nya kemudian menyimpannya kembali ke dalam saku nya. Kemudian Michelle melihat kedua temannya itu saling bergantian. Sepertinya mereka butuh dijelaskan siapa yang barusan nelpon walaupun mereka mendengar sekilas obrolan Michelle tadi.
"Tadi itu mama mertua nelpon mau ngasih tahu besok mau datang ke rumah" kata Michelle. Kemudian dia menghabiskan makanan nya yang sempat tertunda dia makan tadi. Kedua temannya itu hanya menganggur tanda mereka paham.
Setelah mereka selesai makan, mereka bertiga kembali ke toko. Mereka kemudian sibuk dengan kerjaan masing-masing. Sampai tidak terasa jam sudah menunjukkan jam pulang. Sopir Michelle yang siap mengantar jemput dia pun sudah menunggu nya. Sebenarnya Michelle tidak nyaman dan tidak biasa dengan punya sopir pribadi. Dia lebih nyaman dengan mengendarai sepeda motornya sendiri. Tapi karena mertuanya tidak mau mendengar penolakan dari Michelle, akhirnya dia menerimanya.
Setelah sampai di rumah langsung menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Tapi saat masih di ruang tengah, dia dikagetkan sosok yang tiba-tiba keluar dari dapur. Sontak dia melangkah mundur sambil memegang dadanya saking kaget nya.
"Aaaarrrgh" kata Michelle sambil menutup matanya. Siapa itu? Ko ada orang ? Pikir Michelle
"Kamu kenapa sih ?" tanya orang itu bingung
Setelah Michelle mendengar suara dan dia kenal suara orang itu, kemudian dia membuka matanya dan melihat ke arah suara itu.
"Aleeex"
Nggak lama kemudian setelah Michelle menyadari dan memanggil Alex, dia tiba-tiba langsung memutar badannya membelakangi Alex sambil berkata
"Lagian kamu tiba-tiba nongol di situ kan bikin aku kaget"
"Kaget mulu, kamu pikir aku apa ? Tukang bikin orang kaget? Kayak nggak ada kerjaan aja ngagetin orang".
"Makanya lain kali jangan tiba-tiba muncul dong. Kayak hantu aja"
"Apaa ? Apa kamu bilang, hantu ? Emang siapa yang tahu kamu bakalan pulang tiba-tiba" kata Alex nggak terima dikatain hantu.
"Iya kamu kayak hantu" kata Michelle semakin memperjelas pula. Tanpa sadar rasa kaget yang Michelle rasakan perlahan-lahan mulai hilang.
"Oh iya Lex, tadi siang mama nelpon ka...."
Michelle belum selesai ngomong sudah dipotong Alex duluan.
"Kamu kenapa lagi siiih Chell ? Kalau bicara itu lihat orangnya. Sejak kapan ada orang bicara tapi membelakangi lawan bicaranya, itu namanya nggak sopan. Tahu nggak?" kata Alex yang semakin bingung dengan tingkah Michelle.
Karena Michelle merasa sepertinya dia ditegur, perlahan-lahan dia memutar badan nya menghadap ke arah Alex. Dia semakin marasa tidak nyaman.
Ya, tadi setelah Alex sampai ke rumah dia langsung mandi dan turun ke bawah, ke dapur untuk minum dengan telanjang dada. Badan nya yang sispack, tinggi, kulit yang bersih yang menonjolkan setiap bentuk dari otot-otot nya yang dia bentuk dan dia rawat selama ini terpampang jelas di hadapan Michelle. Dan yang tadinya dia masih berdiri di pintu dapur sekarang sudah tinggal beberapa meter dihadapkan Michelle.
Michelle tidak tahu sejak kapan Alex berdiri sedekat itu membuat Michelle semakin tergugup melanjutkan omongannya yang dipotong Alex tadi.
"Mama ta taa.. Tad.. Tadi siang nelpon Michelle
Kaa ka... Katanya besok sore maa.. ma.. mau datang ke rumah" kata Michelle terbata-bata sambil melihat ke arah lain dan sesekali melihat ke arah Alex.
Alex yang sadar akan ketidak nyamanan istrinya itu membuat Alex tersenyum dan semakin ingin mengerjain Michelle. Alex semakin mendekat kan badannya ke arah Michelle dan juga wajahnya yang tinggal beberapa senti di depan Michelle.
"Truuuus tadi mama bilang ada urusan apa mau datang ke sini ?" tanya Alex.
Jarak antara kedua wajah mereka yang tinggal beberapa senti lagi, membuat Michelle semakin merasakan aroma khas badan Alex yang baru selesai mandi dan nafas ya yang beraroma mint membuat Michelle terhipnotis sesaat ingin berlama-lama di dekat suaminya itu. Dengan posisi mereka yang sangat dekat membuat Michelle bisa melihat jelas wajah mulus dan tampan suaminya itu, hidung ya yang mancung, bibirnya yang tipis dan seksi.
Tapi setelah Michelle tersadar, dia kaget dan spontan mencondongkan badannya ke belakang. Karena Michelle yang tidak ada pegangan dia di belakang, pada akhirnya dia.........
πππππππππππππ
Hai semuanya, sekian dulu untuk part ini yaaaa. Mata author's udah nggak kuat lagi. Sekarang sudah jam 03:40 WIB soal'a mau istirahat dulu. Bagi Men-temen yang suka dengan cerita author jangan lupa di like, follow, serta komen'a ya. Maaf juga kalau masih ada typo di manaΒ² ππππ
Author'a penulis baru soalnya, masih butuh byk belajar. Jadi jgn bosan bosan ya kalau Author'a selalu mengingatkan para reders utk meninggalkan jejak
Terima kasih semuanyaaaaa
ππππππππ buat kalian
βΊβΊβΊβΊ