The Power Of Love

The Power Of Love
Awal Penderitaan



Setelah sepeninggalan Alex, Michelle balik ke kamar tidurnya. Dia menangis memikirkan kenapa Alex tiba-tiba berubah. Seperti bukan diri Alex yang selama ini dia kenal walaupun perkenalan mereka cukup singkat. Pernikahan mereka belum lewat satu hari tapi Alex sudah meninggalkan dia sendirian di rumah. Malam pertama yang harus nya mereka lewati bersama dengan bahagia malah meninggalkan sakit di hati Michelle. Entah sudah berapa lama Michelle menangis hingga dia tanpa sadar tertidur di sofa yang ada di dalam kamar nya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Di lain tempat, Alex yang masih menuju tempat apartemen kediaman Rara kekasihnya itu sangat khawatir. Karena semenjak acara pernikahannya tadi selesai, Alex menelepon sudah berapa puluh kali dan mengirikan pesan kepada Rara, tapi sama sekali dia tidak mendapat respon.


Dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap kekasihnya itu. Sesampai di kediaman Rara, Alex mencoba menelepon Rara kembali. Tapi karena tidak diangkat Alex langsung masuk ke dalam apartemen kekasihnya itu yang sebelumnya code pintu rumah tersebut sudah Alex tahu, karena bukan kali ini dia datang ke situ.


Alex melihat sekeliling apartemen itu sangat gelap, lampu tidak ada yang menyala. Saat dia mendekati salah satu kamar yang ada di dalam apartemen itu, Alex mendengar samar-samar suara tangisan. Karena dia tahu itu suara siapa, dia langsung masuk ke dalam kamar tersebut.


Kemudian dia menyalakan lampu, dan betapa terkejut nya dia melihat ruang kamar itu begitu hancur berantakan. Pecahan vas bunga ada di mana-mana, sebagian isi lemari yang berantakan dan bergeletakan sembarangan, dan yang paling membuat Alex syok adalah melihat kondisi Rara yang sangat memprihatinkan duduk di salah satu sudut kamar itu dengan menundukkan kepalanya. Alex langsung menghampiri Rara.


"Sayang, kamu... Kamu kenapa?" tanya Alex khawatir. Rara tidak merespon sama sekali.


"Ra, kamu kenapa" kata Alex sambil menggoyangkan bahu Rara. Dan akhirnya Rara mengangkat kepalanya melihat ke arah Alex.


"Alex, hiiiks... Hiiiks" Rara memanggil Alex sambil sesunggukan.


"Kamu kenapa sayang? Sampai kamar kamu berantakan begini?"


"Alex, aku pikir setelah kamu menikah kamu akan meninggalkan aku. Kamu akan ngejauhin aku" kata Rara setelah mengingat kejadian tadi siang dimana Alex sudah menikah.


"Kamu ngomong apa sih yang, kan aku da pernah bilang kalau aku itu nggak bakalan ninggalin kamu"


"Ya kamu kan baru nikah lex, aku berpikir kamu bakalan fokus sama keluarga baru kamu dulu" kata Rara yang masih menangis.


"sssstt, jangan nangis lagi yaa. Buktinya sekarang aku kan nyamperin kamu, tadi selesai acara juga aku langsung nelepon dan chat kamu. Tapi kamunya nggak ada respon sama sekali yang" kata Alex mencoba menjelaskan.


"Iya hp aku lowbat tadi lupa nge charger" kata Rara berbohong yang sengaja mematikan hp nya dan dia tidak mau cerita kalau sebenarnya dia mendatangi acara pernikahan Alex hingga melihat jeladian Alex yang mencium istrinya tadi siang.


Dan itu yang membuat Rara berpikir Alex membohongi dia bahwa Alex tidak mencintai istrinya itu. Dan kalau Alex tidak cinta sama istrinya itu kenapa Alex pake nyium-nyium segala pikir Rara. Itu yang membuat dia semakin yakin kalau Alex pelan-pelan akan menjauh dari nya.


Alex mengangguk bahwa dia mengerti.


"Kamu udah makan? Pasti kamu belum makan melihat keadaan mu sekarang. Masih mau makan nggak biar aku pesan saja" kata Alex sambil mengusap sisa-sisa tangisan yang masih berbekas di pipi Rara.


"Iya, mau" kata Rara sambil mengangguk.


"Ya udah mandi dulu gih, kamarnya besok aja aku suruh orang bersihin" kata Alex sambil keluar dari kamar Rara.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Di meja makan mereka saling menyantap makanan masing-masing. Rata mencoba memecahkan keheningan yang ada dia antara mereka berdua.


"Yang, setelah kamu menikah berarti kamu tinggal bareng dong sama istri kamu?" tanya Rara.


"Iya" kata Alex singkat yang masih fokus sama makanannya.


Tidak mendengar lagi suara Rara, Alex langsung melihat wajah Rara yang tampak muram. Alex yang tahu kemana arah dari pertanyaan kekasih nya itu langsung menjelaskan.


"Iya kami tinggal satu rumah tapi aku minta kami pisah kamar. Tadinya kami mau tinggal di apartemen ku tapi mama nggak mau. Mama maunya tinggal bareng sama mama. Tapi karena aku nya nggak mau, jadi kami memutuskan tinggal di rumah yang mama beli" kata Alex.


"Kenapa aku minta tinggalnya pisah, biar mama nggak tahu rencana aku ke depannya yang" kata Alex menambahkan.


Rara hanya ber oh ria menandakan kalau dia mengerti maksud dari Alex. Dia tersenyum di dalam hatinya. Alex benar-benar menepati janjinya. Tapi walaupun Alex sudah meyakinkan dia, hati Rara tidak puas. Dia merasa cemburu sama istri Alex itu, tadinya aku yang harus diposisi itu yang mendampingi Alex seumur hidupnya malah digantikan wanita pikir Rara. Dia yang tidak mau kalah diam-diam merencanakan sesuatu.


Di dalam kamar setelah mereka mengobrol sebentar, Rara yang setengah mengantuk dan merasa haus mau pergi ke dapur.


"Kamu mau kemana?" tanya Alex. Tadinya dia mau pulang lagi setelah memastikan kekasih nya itu baik-baik saja. Tapi karena Rara yang memohon meminta dia untuk menginap, jadi Alex menuruti permintaan kekasihnya itu.


" Mau ke dapur haus, pengen minum, kamu mau diambilin juga nggak yang?" tanya Rara.


"Iya boleh" kata Alex. Beberapa menit Rara balik lagi ke kamar dan menyodorkan air minum yang dibawa nya ke Alex. Alex yang merasa haus juga langsung meminum nya.


Rara langsung ikut berbaring di samping Alex dan kemudian tidur. Alex yang belum ngantuk tiba-tiba memikirkan keadaan istrinya itu di rumah. Dia masih mengingat posisi Michelle yang memantung di tangga sebelum dia keluar tadi. Dia ada rasa khawatir juga.


"Apakah tadi aku terlalu kasar memperlakukan nya? Harusnya malam ini kami lewati berdua malah aku meninggalkannya begitu saja" pikir Alex.


"Aaaaah, lagian ngapain sekarang aku jadi memikirnya, rencana ku yang membuat dia meminta cerai duluan tetap harus dilanjutkan" pikir Alex lagi.


Entah kenapa tiba-tiba Alex sangat merasa badannya kurang nyaman panas, gerah bercampur ngantuk. Kelopak seolah-olah menahan beban berat, susah untuk dibuka. Rara yang masih menunggu dari tadi tersenyum penuh arti merasakan gerakan tidak nyaman dari kekasihnya yang hampir tidur itu.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Alex yang setengah sadar dari tidurnya membuka matanya, dan mengamati sekelilingnya. Setelah sadar penuh dia kaget kalau kamar ini bukan kamarnya. Dia teringat kembali mulai dia keluar dari rumah dan sampai ke apartemen kekasihnya itu.


Saat dia mau ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, dia kaget. Kenapa dia tidak mengenakan pakaiannya? Seingatnya sebelum tidur tadi malam dia masih berpakaian dengan lengkap. Karena Alex tidak mempermasalahkan soal itu, dia langsung pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Alex keluar dengan baju kimononya yang disediakan Rara. Kemudian menelepon Aldo sekretaris nya untuk mengambil baju jas kantornya ke rumah. Karena dia berencana berangkat dari tempat Rara.


Mendengar suara bel rumah yang bolak-balik berbunyi, Michelle terpaksa bangun dengan menahan rasa pening di kepalanya. Tidak tahu berapa lama dia menangis tadi malam. Kelopak matanya yang bengkak dan buka yang sebab menandakan dia menangis cukup lama. Dengan gaya orang baru bangun, rambut yang semberaut belum disisir, belum mandi, masih mekakai baju tidur. Michelle turun ke bawah untuk membuka an pintu rumah. Dia melihat seorang laki-laki yang sudah berpakaian rapi menunggu di luar.


"Selamat pagi nyonya, saya sekretaris Tn. Alex datang untuk mengambil jas nya beliau" kata Aldo menjelaskan.


"Oh masuk ambil aja ada di kamar lantai dua" kata Michelle sambil menunjuk ke arah kamar Alex. Dia ingat bawah dia tidak boleh ke kamar itu tampa seizin Alex.


"Akapakah saya boleh masuk ke..." belum selesai Aldo bertanya Michelle langsung menjawab.


"Kamu sekretarisnya Alex kan? Ya sudah ambil aja".


Aldo yang tampak ragu-ragu berjalan ke kamar yang ditunjuk Michelle. Dia heran juga melihat keadaan istri dari boss nya itu seperti mayat hidup. Boss nya yang entah di mana meminta dia mengambil jas nya kerumah dan mendapati istri Boss nya yang tampaknya kurang baik.


Aldo yang tidak baru berlama-lama di kamar Boss nya itu langsung keluar membawa apa yang dia butuhkan dan langsung pamit ke Michelle dan pergi ke alamat yang Boss nya kirim.


Sepeninggalan dari sekretaris suaminya tadi, Michelle balik ke kamar untuk membersihkan dirinya. Saat melihat di cermin yang ada di kamar mandi ya, dia kaget melihat wajah. Karena dia tidak mau berlama-lama sedih dia yakin Alex berbuat seperti tadi malam punya alasan sendiri, dia cepat-cepat mandi kemudian turun ke bawah untuk membuat serapan.


Sambil serapan Michelle memikirkan dia mau melakukan apa hari ini, karena dia punya beberapa hari cuti. Setelah dia memutuskan untuk merapikan rumah terlebih dahulu. Dia menata ulang kembali perabotan yang ada di rumah itu biar lebih enak di pandang. Setelah selesai, dia pergi ke mall yang dekat dengan kawasan rumahnya, mengingat mereka baru menempati rumah itu dan karena di luar rencana, jadi masih banyak kebutuhan rumah dan dapur yang harus dibeli. Setelah dia selesai belanja, dia kembali ke rumah.


Ditengah jalan, Michelle melihat ada toko penjual bibit bunga. Dia punya ide ingin menanam beberapa macam bunga di taman belakang rumah nya dan akhirnya dia mampir sebentar untuk membeli bibit bunga tersebut.


Setelah sampai di rumah dia langsung menata belanja ya dan kemudian dia pergi ke taman belakang. Di sana masih ada kolam renang, tanah kosong yang tidak terlalu luas, ada juga beberapa pohon hias dan bunga-bunga hias yang tersusun rapi di setiap tembok yang mengelilingi rumah mereka. Karena Michelle tidak bisa berenang, jadi dia tidak tertarik untuk mendekati kolam itu. Dia langsung menyibukkan diri dengan taman mini nya itu.


Saking seriusnya dia, tidak berasa hari sudah mulai gelap. Dia balik ke dalam rumah dan memasak makan malam. Setelah selesai dia ke kamar untuk membersihkan badannya. Kemudian dia pergi ke ruang keluarga menonton sambil menunggu Alex pulang dan mereka makan bersama.


Setelah Michelle menunggu tidak ada tanda-tanda Alex pulang dan jam menunjukkan sudah jam delapan malam akhirnya dia nyerah. Perutnya yang ingin segera minta di isi sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dan dia akhirnya makan sendiri.


Setelah selesai makan Michelle kembali ke ruang tamu menunggu Alex pulang. Dia berharap saat Alex nyampe di rumah ada dia yang menyambut suaminya itu pulang. Tapi tetap sajat tanda-tanda kemunculan Alex nggak ada. Dan dia balik ke kamarnya untuk tidur.


πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒ


Di kantor Alex


Alex yang sedang sibuk tiba-tiba memikirkan cerita dari sekretarisnya itu yang mengatakan Michelle seperti mayat hidup.


"Apakah cara ku itu sungguh terlalu kasar sama dia? Apakah satu malaman ini dia tidak tidur dan hanya menangis?" pikir Alex. Entah kenapa dia merasa sedikit bersalah juga.


Hari ini dia memang sengaja pulang lama. Karena dia tidak mau melihat keadaan Michelle seperti yang diceritakan Aldo tadi pagi. Dia melihat jam sudah setengah sepuluh malam dan memutuskan untuk pulang. Alex berharap Michelle sudah tidur.


Sampai di rumah dia melihat lampu sudah mati dan dari lantai bawah dia melihat hanya lampu tidur yang terpancar keluar dari kamar Michelle. Dia yakin Michelle sudah tidur. Tapi baru dia mau menampakkan kakinya di lantai dua, Alex melihat pintu kamar Michelle terbuka dan dia melihat Michelle keluar sambil menenteng botol minum. Michelle melihat ada yang berdiri didepan nya dan karena penglihatan nya tidak jelas, remang-remang karena lampu dimatiin Michelle kaget dan terkejut. Dia berteriak sambil mundur memojok ke tembok kamarnya.


"Aaaaaa..... Sii... Sii... Siapa kamu?" kata Michelle sambil memeluk tempat minum nya. Mendengar teriakan Michelle yang tiba-tiba, Alex juga kaget.


"Kamu pikir siapa? Bikin kaget aja. Makanya kalo takut gelap lampunya jangan dimatiin" kata Alex kesal.


"Kamu pikir aku pencuri? Perampok? Hantu? Haaaa?" kata Alex lagi. Mendengar suara itu adalah suara Alex, Michelle merasa lega.


"Aku nggak takut sama gelap, kamu aja yang tiba-tiba ada berdiri disitu makanya aku kaget dan lagian juga kamu dari lantai bahwa bukannya nyalain lampu" kata Michelle tak mau kalah.


"Ya sudah, sudah.


Kamu emangnya mau kemana udah hampir tengah malam gini masih bangun bukannya tidur?" tanya Alex. Dia makin merasa bersalah bila Michelle sampai nggak tidur cuma mau nungguin dia pulang.


"Air minum aku habis, mau turun ke bawah mau ngambil" kata michelle.


"Ooh" kata Alex sambil pergi menuju kamarnya. Sebelum dia membuka pintu kamarnya Michelle nanya lagi.


"Lex, kamu dah makan blom?"


"Udah" kata Alex singkat tanpa ada niat untuk memperpanjang obrolan mereka lagi. Melihat Alex sudah masuk kedalam kamar, Michelle turun Menuju dapur dan mengisi botol minum nya. Kemudian dia menuju meja makan dan dengan rasa kecewa dia membuang ke tempat sampah makanan yang sudah ia siapkan buat Alex tadi. Dia berharap suatu saat nanti dia mereka bisa makan bersama. Dan kemudian dia balik ke kamarnya. Michelle berusaha tenang dan tidur, setidaknya malam ini dia melihat Alex pulang ke rumah.


🏑🏑🏑🏑🏑🏑


Hai, hai, hai maaf kalo ceritanya bikin boring dan typo yang masih bertebaran dimana-mana.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Soalnya author masih butuh banyak belajar.


πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Sekian dulu part kali ini


Sampai jumpa di part berikut nya yaaaa


😘😘😘😘😘😘