The Power Of Love

The Power Of Love
Pertengkaran hebat



" Naura tunggu ! , jangan berani kamu melangkah lagi ! " , Teriak Azka menghentikan langkah Naura seraya sedikit mengancam .


Naura langsung menghentikan langkahnya tanpa ada niatan ingin membalikan badan melirik Azka .


" Bereskan semua kekacauan ini ! , kalian semua masih berhutang penjelasan dengan gue ! " , perintah Azka dingin seraya menatap tajam semua anak buahnya .


Setelah mengatakan itu Azka berjalan mendekati Naura dan menarik tangan Naura untuk mengikuti nya .


" Apaan see main tarik-tarik aja ? " , protes Naura seraya melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Azka namun ternyata cengkram tangan Azka begitu kuat bahkan Naura sampai tak bisa melawan .


" Bisa diem gak ? , aku ini suami kamu ! , gak bisa kalau nurut sekali ini aja ? " , Tanya Azka penuh penekanan seraya menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Naura .


" Kalian balik lah ke markas dan tolong bawa moge bang Angga ! " , perintah Naura pada semua anak buahnya seraya memberikan kunci moge milik bang Angga dengan satu tangannya .


Naura terus mengikuti langkah Azka tanpa mengeluarkan sepatah kata pun , kelihatannya Azka kali ini benar-benar marah dengan Naura bahkan ia berani membentak dan memperlakukan Naura dengan kasar .


" Masuk ! " , perintah Azka dingin ketika ia dan Naura sudah berdiri disamping mobilnya .


Naura tak ingin banyak protes lagi , bukan karna takut tapi ia menghargai Azka sebagai suaminya bahkan Naura merasa bersalah karena tadi sudah bersikap tidak baik pada Azka .


Azka memutari mobilnya setelah memastikan Naura sudah masuk mobil . Azka duduk dikursi kemudi setelah menutup pintu mobil dengan sangat keras , Azka menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi .


Naura tak ingin protes , ia hanya duduk seraya memejamkan kedua matanya , sampai akhirnya ia mendengar suara bariton Azka yang menyuruhnya untuk turun .


" Turun ! " , perintah Azka dingin , dan Naura langsung membuka kedua matanya ternyata mobil sudah berhenti didepan halaman rumah namun bukan dihalaman depan rumah Ayah Alex , Naura sebelumnya belum pernah ke tempat ini .


Naura segera turun dari mobil karna Azka sudah menunggunya diluar dengan sorot mata yang masih memancarkan kemarahan.


Azka menarik tangan Naura dan menggenggam nya namun kali ini tak sekuat tadi .


Naura mengikuti langkah Azka untuk masuk ke dalam rumah tersebut , entah itu rumah siapa ? .


Azka melepaskan tangan Naura setelah mereka masuk ke dalam rumah dan tak lupa Azka pun kembali mengunci rumahnya .


" Bisa jelaskan apa yang sudah kamu lakukan tadi ? " , ujar Azka dingin seraya menatap Naura .


" Dan sejak kapan kamu menjadi ketua digeng ini ? " , tanya Azka lagi seraya menunjuk logo yang ada dihoodie yang dikenakan Naura .


" Sudah merasa jagoan sampai berkelahi kaya tadi ? , bahkan kamu keluar dari rumah tanpa izin pada suami " , ucap Azka lagi dengan terus menatap tajam pada Naura .


" Oh atau kamu sudah tidak menganggap Azka ini suami kamu ? " , tanya Azka seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa .


" Bee kamu ngomong apa see ? , gak usah berlebihan deh " , Naura akhirnya angkat suara setelah dari tadi ia hanya diam .


" Apa ? , aku berlebihan ? , aku apa kamu Ra ? " , tanya Azka yang langsung berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Naura .


" Asal kamu tahu tindakan kamu kali ini sudah berlebihan , sudah keterlaluan kamu Ra " , Teriak Azka .


" Dimana tindakan aku yang keterlaluan ? , bukankah kita sama-sama ketua dari sebuah geng ? " , balas Naura yang kini sudah tidak bisa menahan amarahnya .


" Naura tahu Naura salah karna sudah keluar rumah tanpa seizin dari kamu , Naura minta maaf soal itu karna keadaan nya memang mendesak " , ujar Naura masih dengan kemarahannya .


" Keadaan yang mendesak seperti apa yang kamu maksud ? , keadaan ingin berkelahi , ingin menjadi jagoan itu keadaan yang mendesak yang kamu maksud " , balas Azka dengan nada tinggi .


Naura membalikan badan meninggalkan Azka , ia berniat ingin pulang namun ketika akan memutar kunci pintu rumah , Azka langsung mencegahnya dengan menyentuh bahu Naura yang terdapat luka lebab karna pukulan .


" Ahh ", Ringis Naura ketika tangan Azka menyentuh bahunya.


Azka langsung menjauhkan tangannya dari bahu Naura , dan ia menarik tangan Naura untuk duduk diatas sofa .


" Naura mau pulang , lepasin ! " , teriak Naura seraya menatap Azka .


" Duduk ! , Azka obatin luka kamu " , perintah Azka yang sudah kembali lembut namun masih terdengar dingin .


Naura duduk diatas sofa , sementara Azka membawa air hangat dan juga kotak P3K untuk mengobati luka Naura .


Tak lama Azka sudah kembali , ia duduk disamping Naura , dan menyuruh Naura untuk membuka hoodie nya .


Naura menurut karna ia tak mau adu mulut lagi dengan Azka , lagian dirumah ini cuman berdua dan mereka sudah menjadi suami istri .


" Buka lagi bajunya ! " , perintah Azka dingin karna ternyata Naura juga mengenakan kaos panjang .


Lagi-lagi Naura menurut dan ternyata setelah melepas baju kaosnya Naura masih mengenakan kaos daleman tanpa lengan , dan lagi-lagi Azka menyuruhnya melepaskan kaos tanpa lengan tersebut .


Kini Naura hanya menggunakan b*a untuk menutupi benda ke***l miliknya , Azka dari arah samping ia sudah menelan salivanya melihat punggung Naura yang putih mulus namun ketika melihat luka lebam di bahu Naura , Azka merasa sangat bersalah karena itu luka lebam karna perbuatannya . Jika tahu lebih awal Azka tak mungkin memukul Naura , Azka tak mau melukai istrinya yang sangat ia cintai .


Dengan perlahan Azka mulai mengompres luka lebam yang ada di bahu Naura , setelah mengopres nya Azka mengolesi salep agar luka lebam tersebut cepat sembuh .


Naura sedari tadi hanya menggit bibir bawahnya agar ia tak mengeluarkan ringisan .


Setelah diobati , Azka kembali menyuruh Naura untuk mengenakan pakaiannya .


" Masuklah ke kamar ! , kita bermalam disini karna gak mungkin pulang dengan keadaan kamu seperti ini " , Ujar Azka seraya menunjuk kamar utama .


Naura tidak protes sama sekali , setelah memakai bajunya kembali Naura langsung meninggalkan Azka tanpa mengeluarkan sepatah kata pun , ia mulai menaiki anak tangga untuk sampai ke kamar utama .


Naura mengunci pintu kamarnya , dan ia mulai menangis sejadi-jadinya . Air mata yang sedari ia tahan karna tak ingin menangis didepan Azka tumpah begitu saja dikamar ini .


Naura bukan menangis karena sakit akibat luka lebam , tapi Naura menangis karena pertengkaran dengan Azka dan ini merupakan pertengkaran hebat selama ia kenal dengan Azka .


Bahkan Naura kali ini berani melawan dan meneriaki Azka .


Tak peduli jika identitas nya sebagai ketua geng terbongkar oleh Azka , namun Naura memikirkan hubungannya dengan Azka , Apakah hubungannya dengan Azka bisa sedekat dan semanis sebelumnya .


Tidak menyangka sama sekali , niat hati ingin memberi pelajaran dan juga keadilan untuk Kevin ternyata berunjung sangat fatal untuk dirinya sendiri .


😘


😘


😘


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen , vote dan tambahan ke favorit 💙 , terimakasih 🤗🤗🙏 .