The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 73 - Perang Huo Ling Tian Zun vs Li Ming Shen Jun



            Han Ling memberikan Permata Nila “Xiao Xue, apa kau akan


langsung memasukkannya ke Pohon Bodhi ?” Xue Ling menggeleng sambil mengamati


Permata Nila “dan menunda waktu bersenang-senangku… hmm kenapa yang mulia mau


melakukan hal itu ?” Han Ling tersenyum manis “baik, kita bersenang-senang.”


Xue Ling menyimpan Permata Nila dan tersenyum manis.


            Tanpa sepengetahuan siapapun, sepasang suami istri ini ke


alam fana bersenang-senang. Mereka menikmati perayaan, melupakan semua masalah


yang ada, menikmati waktu berdua. Saat kembali adalah saat genderang perang


telah dibunyikan dari pihak Li Ming Shen Jun. Han Ling dan Xue Ling yang


mengetahui perang telah terjadi, menuju medan perang dan memantau dari tempat


yang tinggi.


            Xue Ling dengan antusias melihat medan perang “Han ge…”


menatap Han Ling dengan mata berbinar. Han Ling tersenyum, menggelengkan kepala


“pergilah ! jangan sampai kelelahan…” Xue Ling langsung mengeluarkan cambuk,


tersenyum manis pada Han Ling dan masuk ke medan perang. Xue Ling tidak


membunuh hanya mencambuk setiap prajurit Li Ming yang berada di jalannya.


            “Lihat, sudah kukatakan, dia akan datang untuk melakukan


kata-katanya…” Cheng Mei Yue Shen mencibir “Xue, jangan mengambil semua


kesenangan…” ikut turun ke medan perang dan mulai mencambuk tubuh para


prajurit. Huo Ling Tian Zun menggeleng “haih… medan perang ini menjadi lahan


permainan untuk mereka…” “Xue Ling… Huo Ling, setelah ini kau tidak akan ada di


antara aku dan Xue Ling…” Li Ming Shen Jun menghardik.


            “Li Ming, walaupun tidak ada aku, kau juga tidak akan


mendapatkan Xue Ling jie… memang kesalahanku tidak menjelaskan padamu,


membuatmu hingga sampai seperti ini…” Huo Ling mencoba menjelaskan “tutup


mulutmu ! kau mengatakan ini sudah sangat terlambat. Setelah menggantikanmu,


aku akan pantas bersanding dengan Xue Ling” Li Ming berkata dengan penuh


amarah.


            Huo Ling menggeleng “Li Ming, berhentilah… baik kau, aku,


atau siapapun, tidak ada yang bisa menggenggam Xue Ling jie…” Li Ming semakin


emosi “kau dengan jelas tahu aku mencintai Xue Ling. Kenapa kau harus selalu


menghalangiku ? Jika bukan kau, aku sudah bersama Xue Ling dari dulu, tidak


akan menjadi seperti sekarang” “Li Ming, satu-satunya kesalahan yang kuperbuat


hanya karena tidak menjelaskan apapun padamu. Sedangkan mengenai aku yang


menghalangi pertemuanmu dengan Xue Ling Jie, aku tidak akan pernah merasa


bersalah…” kata-kata Huo Ling, membuat Li Ming emosi dan kembali menyerangnya.


            “Li Ming, bahkan jika kau pantas pun tidak akan pernah


mendapat kesempatan itu. Lihat dirimu saat ini ! dulu kau tidak pantas,


sekarang semakin tidak pantas !” Huo Ling dengan dingin menatap Li Ming. “aku


pantas atau tidak, bukan kau Huo Ling yang bisa mengatakannya” Li Ming pun


membalas dengan tidak kalah dinginnya. “Kau mengira perjuanganmu sama seperti


Xue Ling jie, hingga membuatmu pantas bersamanya. Apa kau tahu apa yang telah


kau lakukan selama ini ? apa yang telah kau lakukan yang bisa dibandingkan dengan


Xue Ling jie ?” Huo Ling bertanya dengan sinis.


            Li Ming yang sudah dikuasai emosi, disebabkan oleh Huo


Ling, hal-hal yang terjadi di Lan Hua Guo sendiri, dan berbagai masalah


lainnya, meluapkan dalam peperangan ini. Li Ming menyerang Huo Ling membabi buta,


tapi tidak dapat mengalahkannya. Saat menjadi saudara seperguruan, kemampuan


mereka tidak jauh berbeda. Tapi sudah sekian lama, Huo Ling berlatih dengan


baik, sedangkan Li Ming walaupun juga berlatih tapi energinya banyak terganggu


oleh makhluk api.


            Pertarungan sengit antara Huo Ling dan Li Ming, terpisah


dengan perang para prajurit. Huo Ling sengaja menjauhkan dirinya dan Li Ming


dari para prajurit, terutama dari Le Le yang mengawasi pertarungan. Le Le tidak


Ling masuk ke medan perang.


            Le Le mencoba menyerap jiwa-jiwa prajurit yang tewas di


medan perang. Diluar perkiraannya, mulai disaat Xue Ling masuk ke medan perang,


Le Le tidak bisa menyerap jiwa-jiwa para prajurit lagi. Xue Ling dan lainnya


yang keasikan mencambuk tapi tidak membunuh mereka, membuat Le Le kehilangan


kesempatannya. Setelah lama berselang, terlihat para prajurit yang saling


terikat satu sama lain, kelelahan dan kesakitan akibat cambukan.


            “yey…” Xue Ling bertepuk tangan dengan Cheng Mei, setelah


berhasil membereskan semua prajurit Li Ming Shen Jun “bagaimana Xue Ling Shen


Zun, apa gatal di tangan anda sudah sembuh ?” Cheng Mei Yue Shen mengejek. Xue


Ling tertawa kecil “lumayan… lumayan… hihihi…” Han Ling sudah merangkul


pinggangnya “terluka ?” Xue Ling menggeleng.


            “Jie, bagaimana dengannya ?” Shui Ling menunjuk Le Le


yang sedang terbelalak melihat Xue Ling “iuh… dia bau sekali…” Xue Ling


mengejek “kalian saja yang…” belum menyelesaikan kata-katanya, sebuah serangan


sudah menghantam Xue Ling. Xue Ling bergerak cepat, menangkis serangan


tiba-tiba yang ditujukan padanya.


            Le Le sudah berdiri di hadapannya “kau ! Xue Ling Shen


Zun, aku akan mengambil jiwamu !” Xue Ling acuh tak acuh “ooo… apa kau sanggup


mengambilnya ?” mengejek Le Le dan menyuruh lainnya memberi ruang untuknya dan


Le Le. “Kau yang menyegel Pusat Lava ?” Le Le bertanya sambil menunjuk Xue Ling.


Xue Ling mengangguk dengan acuh tak acuh.


            Mata Le Le memerah “karena kau yang menyegelnya, aku akan


mengambil jiwamu untuk membukanya !” Xue Ling berdecak “ck… jika kau sanggup,


lakukan saja ! jangan terlalu banyak omong kosong, yang mulia jijik dengan


baumu itu cih…” “bukan hanya itu, beliau juga yang telah menghancurkan Re Shui


Gu, memurnikan Hu Lu dan Dong Hua Gu…” Cheng Mei memprovokasi. “Cheng, apa yang


kau lakukan ?” Shui Ling protes, Cheng Mei acuh tak acuh.


            Mata merah Le Le semakin menyeramkan “dari awal, kaulah


yang menghalangiku !” Xue Ling dengan tampang acuh tak acuhnya, mengangguk


“yang mulia sudah mengatakannya sebelumnya ! jika mencium bau menjijikkan ini


lagi, yang mulia akan mencambuk pantat setiap yang memiliki bau itu. Persiapkan


pantatmu itu untuk menerima cambukan yang mulia” mengeluarkan cambuknya,


menghentak-hentakannya ke tanah beberapa kali.


            Le Le langsung berubah menjadi makhluk api dan mulai


menyerang Xue Ling. Xue Ling bergerak santai, terus memainkan cambuknya,


memukul pantat makhluk api “kau sudah terlalu lama berada di luar… baumu sangat


menjijikkan… haih sudah kukatakan jangan memainkan asap menjijikkan ini, tidak


ada yang mendengarku… lihatlah kau, menyebar kebusukan dimana-mana cih… jika


bukan pusaka Dong Hua Gu, aku sudah muntah-muntah mencium bau menjijikkanmu ini


ck…” mulai kesal.


            Di setiap bekas cambukan Xue Ling, terlihat asap merah


yang keluar dan luka terbukanya terlihat seperti aliran lava “haih mau


salahkan, salahkan saja para tetua itu yang mengalihkan ambisinya pada asap


bau…” “kau…” makhluk api dengan nafas ngos-ngosan, berubah kembali menjadi Le


Le “kau tahu !” Xue Ling mendelik pada Le Le “aku yang menyegel Pusat Lava !


aku yang menghabisi para tetua itu ! aku juga yang tidak mengijinkanmu kembali


ke Pusat Lava ! hal seperti ini, bagaimana aku tokoh utama ini tidak tahu ?”


mengejek Le Le.


            Le Le tercengang “jadi kau tahu…” “jiwa lemah yang


dimasukkan ke dalam asap baumu !” belum selesai Le Le berkata-kata, Xue Ling


sudah mendahuluinya. Ucapan Xue Ling membuat semua mengerutkan kening. Le Le


berguman “jadi…”