
Naura ingin segera masuk menyusul Mauryn , namun Azka langsung menarik tangannya .
" Sabar Ay jangan gegabah , kita tidak tahu didalam itu ada berapa orang , kalau kamu terluka bagaimana ? " , Bisik Azka yang teramat mengkhawatirkan keadaan Naura .
Naura langsung menatap Azka dengan tatapan penuh arti , lalu ia menghempaskan tangan Azka , dan berlalu masuk tanpa mendengarkan perkataan Azka .
Naura tidak peduli didalam ada berapa orang , yang jelas ia ingin segera bertemu dengan Aira , ditambah ia sudah tak tega mendengar suara Aira yang terus menangis .
Brugh... Naura menendang pintu ruangan itu dengan sangat keras sehingga langsung membuat pintunya terlepas .
Prok , prok , prok , Suara tepuk tangan Mauryn ketika melihat Naura berdiri diambang pintu .
" Wah ada pahlawan kesiangan ni " , ujar Mauryn dengan senyum smriknya .
" Dasar wanita tak berperasaan beraninya sama anak kecil " , sindir Naura penuh penekanan seraya menatap tajam pada Mauryn .
" Bunda , Bunda ... " , teriak Aira yang duduk dikursi dengan tangan dan kaki teringat , dan ia sudah menghentikan tangisnya ketika melihat kedatangan Naura .
Mauryn merasa tak terima dikatai sebagai wanita tak berperasaan , ia langsung memanggil orang bayarannya untuk menghabisi Naura .
" Penjaga... , habisi wanita itu ! " , perintah Mauryn dan berbarengan dengan itu Azka langsung masuk ke ruangan , dan membuat Mauryn kaget sekaligus tak bisa berbuat apa-apa .
" Azka " Lirih Mauryn pelan .
" Iya ini gue , dan gue gak nyangka lu bisa berbuat selicik ini " jawab Azka dingin .
Mauryn menatap Azka dengan tatapan penuh arti .
" Penjaga habisi mereka berdua ! " , perintah Mauryn seraya membuang muka .
Terjadilah baku hantam antara Azka , Naura dan beberapa orang suruhannya Mauryn yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang .
Ketiga teman Mauryn mereka ketakutan melihat Naura ataupun Azka ternyata keduanya sangat pandai berkelahi bahkan keduanya sudah mengalahkan beberapa orang suruhan Mauryn .
" Mauryn bagaimana ini ? " , tanya salah satu teman Mauryn ketakutan .
" Kalian tenang dan ikuti perkataan gue , sekarang kalian bawa pergi sejauh mungkin anak kecil ini ! , " Instruksi Mauryn seraya menunjuk Aira .
" Ayo cepetan , tunggu apa lagi ! " , intruksi Mauryn lagi karena ketiga temannya hanya berdiam diri .
" Iya iya " Jawab ketiga teman Mauryn lalu segera melepaskan ikatan tangan dan kaki Aira dan dan segera membawanya pergi .
" Bunda .... " , teriak Aira histeris dan menangis menolak untuk dibawa pergi .
" Aira " , lirih Naura seraya melirik ke asal suara .
" Ay awas " , Teriak Azka yang melihat orang suruhan Mauryn bersiap memukul Naura menggunakan tongkat kayu .
" Auw " , Naura meringis ketika tongkat kayu itu mengenai pelipisnya .
Azka langsung menghajar habis orang yang sudah berani melukai Nuara .
Begitu pun Naura ia kembali fokus menghabisi semua orang suruhan Mauryn tak peduli dengan luka di pelipis nya .
Dalam sekejap semua orang suruhan Mauryn sudah tak sadarkan diri dilantai .
" Dimana Aira ? " , tanya Naura dengan amarahnya .
" Gu gue gak tahu " , jawab Mauryn gugup .
" Dimana Aira ? '' Tanya Naura sekali lagi dengan berteriak .
" Gue ga tahu , Azka tolongin gue Azka , gue gak tahu apa-apa " , jawab Mauryn sekaligus mencari pembelaan dengan bergelayut manja ditangan kekar Azka .
" Ck " Decak Naura kesal .
Begitupun dengan Azka ia langsung menghempaskan tangan Mauryn sampai Mauryn terjatuh dilantai .
Dan berbarengan dengan itu polisi datang .
" Jangan bergerak ! , anda semua sudah kami kepung ! " , Ujar pak Polisi tegas seraya masuk ke ruangan .
Begitu pun dengan ketiga temannya , mereka sudah ditangkap oleh polisi ketika tadi akan melarikan diri membawa Aira pergi .
" Bunda ... " , Teriak Aira dalam gendongan bang Angga .
Iya bang Angga dari semalam terus menanyakan informasi tentang Mauryn , dan ketika Naura mengrimkan alamat yang dicurigai sebagai tempat penyekapan , ia langsung menyusul dengan membawa beberapa anak buah Naura yang lainnya .
" Aira " , lirih Naura seraya langsung berlari ke arah bang Angga .
" Dek kepala kamu berdarah " , ujar bang Angga panik ketika melihat pelipis Naura yang mengeluarkan darah segar .
Naura langsung menyentuh pelipisnya , lalu tersenyum .
" Oh ini gapapa ko bang tadi cuma ke gores sedikit " , ujar Naura seraya menampilkan barisan gigi putih , bersih dan rapinya , lalu segera membawa Aira kedalam dekapannya .
" Bunda Aira takut " lirih Aira yang langsung memeluk Naura dan menyembunyikan kepalanya diceluk leher Naura .
" Aira jangan takut ya , Aira sekarang sudah aman , ada bunda disini " , Jawab Naura seraya mengelus punggung Naura lembut , tak lupa ia pun mengecup berkali-kali pucuk kepala Aira .
Polisi langsung membawa Mauryn bersama semua orang suruhannya begitu pun dengan ketiga temannya .
" Awas kalian ! , tunggu pembalasan gue " , ujar Mauryn ketika ia melewati Naura dan Azka .
*****
Azka dan Naura segera pulang membawa Aira , begitupun dengan bang Angga dan semua anak buah Azka , mereka kembali pulang ke tempatnya masing-masing .
Anak buah Naura yang lainnya mereka sudah kembali lebih dulu ketika mendapat intruksi dari bang Angga , karna takut ketahuan oleh Azka .
Didalam mobil , Aira tak sedikit pun melepaskan pelukannya , ia terus menempel pada tubuh Naura .
" Aira , sekarang Aira jangan takut lagi , Aira sudah sama Ayah dan Bunda ya nak " ,Ujar Azka seraya mengelus sayang kepala Aira .
Namun tak ada jawaban atau pergerakan sedikit pun dari Aira .
" Aira " , panggil Naura seraya memegang bahu Aira dan mencoba melepaskan pelukannya .
Naura langsung kaget ketika mendapati Aira yang tak sadarkan diri .
" Aira , Aira kamu kenapa nak ? " , tanya Naura panik seraya mengguncang pelan tubuh kecil Aira.
" Ya Allah bee , Ada apa dengan Aira ? " , tanya Naura pada Azka .
" Kita langsung saja bawa Aira ke rumah sakit sepertinya Aira mengalami syok " jawab Azka dan ia langsung menambahkan sedikit kecepatan mobilnya untuk segera sampai di rumah sakit terdekat .
Sesampai dirumah sakit , Aira langsung ditangani oleh dokter , dan Azka ia meminta salah satu perawatan untuk mengobati luka yang ada di pelipis Naura , walau Naura menolak namun Azka tetap meminta perawat untuk mengobati luka Naura dan meminta jangan mendengar perkataan Naura .
Akhirnya Naura pasrah mengikuti perawat , dan membiarkan Azka yang menunggu Aira seorang diri didepan ruang UGD .
Tak lama Naura sudah kembali , beruntung lukanya tak serius jadi hanya dibersihkan dan beri obat luka lalu dikasih perban dan plester agar tak terkena debu .
Naura merasa kaget ketika kembali ke depan ruang UGD , semua anggota keluarganya sudah kumpul disana .
" Kak , kamu gak apa-apa kan nak ? " , tanya bunda Shakwa seraya langsung memeluk Naura .
" Naura tidak apa-apa Bun , ini hanya luka kecil saja " , jawab Naura seraya membalas pelukan sang Bunda .
" Syukurlah kalau begitu nak " , balas bunda Shalwa lega .
" Kamu yakin kak gapapa ? " , tanya mamih Kamila yang ikut khawatir melihat Naura.
" Naura yakin mih , Naura gapapa , Naura baik-baik saja ko " , jawab Naura tersenyum .
😘
😘
😘
Jangan lupa tinggalkan jejak, like , komen , vote dan tambahkan ke favorit 💙 , terimakasih 🤗🤗🙏.