The Power Of Love

The Power Of Love
Wanita Tak berperasaan



Naura ingin segera masuk menyusul Mauryn , namun Azka langsung menarik tangannya .


" Sabar Ay jangan gegabah , kita tidak tahu didalam itu ada berapa orang , kalau kamu terluka bagaimana ? " , Bisik Azka yang teramat mengkhawatirkan keadaan Naura .


Naura langsung menatap Azka dengan tatapan penuh arti , lalu ia menghempaskan tangan Azka , dan berlalu masuk tanpa mendengarkan perkataan Azka .


Naura tidak peduli didalam ada berapa orang , yang jelas ia ingin segera bertemu dengan Aira , ditambah ia sudah tak tega mendengar suara Aira yang terus menangis .


Brugh... Naura menendang pintu ruangan itu dengan sangat keras sehingga langsung membuat pintunya terlepas .


Prok , prok , prok , Suara tepuk tangan Mauryn ketika melihat Naura berdiri diambang pintu .


" Wah ada pahlawan kesiangan ni " , ujar Mauryn dengan senyum smriknya .


" Dasar wanita tak berperasaan beraninya sama anak kecil " , sindir Naura penuh penekanan seraya menatap tajam pada Mauryn .


" Bunda , Bunda ... " , teriak Aira yang duduk dikursi dengan tangan dan kaki teringat , dan ia sudah menghentikan tangisnya ketika melihat kedatangan Naura .


Mauryn merasa tak terima dikatai sebagai wanita tak berperasaan , ia langsung memanggil orang bayarannya untuk menghabisi Naura .


" Penjaga... , habisi wanita itu ! " , perintah Mauryn dan berbarengan dengan itu Azka langsung masuk ke ruangan , dan membuat Mauryn kaget sekaligus tak bisa berbuat apa-apa .


" Azka " Lirih Mauryn pelan .


" Iya ini gue , dan gue gak nyangka lu bisa berbuat selicik ini " jawab Azka dingin .


Mauryn menatap Azka dengan tatapan penuh arti .


" Penjaga habisi mereka berdua ! " , perintah Mauryn seraya membuang muka .


Terjadilah baku hantam antara Azka , Naura dan beberapa orang suruhannya Mauryn yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang .


Ketiga teman Mauryn mereka ketakutan melihat Naura ataupun Azka ternyata keduanya sangat pandai berkelahi bahkan keduanya sudah mengalahkan beberapa orang suruhan Mauryn .


" Mauryn bagaimana ini ? " , tanya salah satu teman Mauryn ketakutan .


" Kalian tenang dan ikuti perkataan gue , sekarang kalian bawa pergi sejauh mungkin anak kecil ini ! , " Instruksi Mauryn seraya menunjuk Aira .


" Ayo cepetan , tunggu apa lagi ! " , intruksi Mauryn lagi karena ketiga temannya hanya berdiam diri .


" Iya iya " Jawab ketiga teman Mauryn lalu segera melepaskan ikatan tangan dan kaki Aira dan dan segera membawanya pergi .


" Bunda .... " , teriak Aira histeris dan menangis menolak untuk dibawa pergi .


" Aira " , lirih Naura seraya melirik ke asal suara .


" Ay awas " , Teriak Azka yang melihat orang suruhan Mauryn bersiap memukul Naura menggunakan tongkat kayu .


" Auw " , Naura meringis ketika tongkat kayu itu mengenai pelipisnya .


Azka langsung menghajar habis orang yang sudah berani melukai Nuara .


Begitu pun Naura ia kembali fokus menghabisi semua orang suruhan Mauryn tak peduli dengan luka di pelipis nya .


Dalam sekejap semua orang suruhan Mauryn sudah tak sadarkan diri dilantai .


" Dimana Aira ? " , tanya Naura dengan amarahnya .


" Gu gue gak tahu " , jawab Mauryn gugup .


" Dimana Aira ? '' Tanya Naura sekali lagi dengan berteriak .


" Gue ga tahu , Azka tolongin gue Azka , gue gak tahu apa-apa " , jawab Mauryn sekaligus mencari pembelaan dengan bergelayut manja ditangan kekar Azka .


" Ck " Decak Naura kesal .


Begitupun dengan Azka ia langsung menghempaskan tangan Mauryn sampai Mauryn terjatuh dilantai .


Dan berbarengan dengan itu polisi datang .


" Jangan bergerak ! , anda semua sudah kami kepung ! " , Ujar pak Polisi tegas seraya masuk ke ruangan .


Begitu pun dengan ketiga temannya , mereka sudah ditangkap oleh polisi ketika tadi akan melarikan diri membawa Aira pergi .


" Bunda ... " , Teriak Aira dalam gendongan bang Angga .


Iya bang Angga dari semalam terus menanyakan informasi tentang Mauryn , dan ketika Naura mengrimkan alamat yang dicurigai sebagai tempat penyekapan , ia langsung menyusul dengan membawa beberapa anak buah Naura yang lainnya .


" Aira " , lirih Naura seraya langsung berlari ke arah bang Angga .


" Dek kepala kamu berdarah " , ujar bang Angga panik ketika melihat pelipis Naura yang mengeluarkan darah segar .


Naura langsung menyentuh pelipisnya , lalu tersenyum .


" Oh ini gapapa ko bang tadi cuma ke gores sedikit " , ujar Naura seraya menampilkan barisan gigi putih , bersih dan rapinya , lalu segera membawa Aira kedalam dekapannya .


" Bunda Aira takut " lirih Aira yang langsung memeluk Naura dan menyembunyikan kepalanya diceluk leher Naura .


" Aira jangan takut ya , Aira sekarang sudah aman , ada bunda disini " , Jawab Naura seraya mengelus punggung Naura lembut , tak lupa ia pun mengecup berkali-kali pucuk kepala Aira .


Polisi langsung membawa Mauryn bersama semua orang suruhannya begitu pun dengan ketiga temannya .


" Awas kalian ! , tunggu pembalasan gue " , ujar Mauryn ketika ia melewati Naura dan Azka .


*****


Azka dan Naura segera pulang membawa Aira , begitupun dengan bang Angga dan semua anak buah Azka , mereka kembali pulang ke tempatnya masing-masing .


Anak buah Naura yang lainnya mereka sudah kembali lebih dulu ketika mendapat intruksi dari bang Angga , karna takut ketahuan oleh Azka .


Didalam mobil , Aira tak sedikit pun melepaskan pelukannya , ia terus menempel pada tubuh Naura .


" Aira , sekarang Aira jangan takut lagi , Aira sudah sama Ayah dan Bunda ya nak " ,Ujar Azka seraya mengelus sayang kepala Aira .


Namun tak ada jawaban atau pergerakan sedikit pun dari Aira .


" Aira " , panggil Naura seraya memegang bahu Aira dan mencoba melepaskan pelukannya .


Naura langsung kaget ketika mendapati Aira yang tak sadarkan diri .


" Aira , Aira kamu kenapa nak ? " , tanya Naura panik seraya mengguncang pelan tubuh kecil Aira.


" Ya Allah bee , Ada apa dengan Aira ? " , tanya Naura pada Azka .


" Kita langsung saja bawa Aira ke rumah sakit sepertinya Aira mengalami syok " jawab Azka dan ia langsung menambahkan sedikit kecepatan mobilnya untuk segera sampai di rumah sakit terdekat .


Sesampai dirumah sakit , Aira langsung ditangani oleh dokter , dan Azka ia meminta salah satu perawatan untuk mengobati luka yang ada di pelipis Naura , walau Naura menolak namun Azka tetap meminta perawat untuk mengobati luka Naura dan meminta jangan mendengar perkataan Naura .


Akhirnya Naura pasrah mengikuti perawat , dan membiarkan Azka yang menunggu Aira seorang diri didepan ruang UGD .


Tak lama Naura sudah kembali , beruntung lukanya tak serius jadi hanya dibersihkan dan beri obat luka lalu dikasih perban dan plester agar tak terkena debu .


Naura merasa kaget ketika kembali ke depan ruang UGD , semua anggota keluarganya sudah kumpul disana .


" Kak , kamu gak apa-apa kan nak ? " , tanya bunda Shakwa seraya langsung memeluk Naura .


" Naura tidak apa-apa Bun , ini hanya luka kecil saja " , jawab Naura seraya membalas pelukan sang Bunda .


" Syukurlah kalau begitu nak " , balas bunda Shalwa lega .


" Kamu yakin kak gapapa ? " , tanya mamih Kamila yang ikut khawatir melihat Naura.


" Naura yakin mih , Naura gapapa , Naura baik-baik saja ko " , jawab Naura tersenyum .


😘


😘


😘


Jangan lupa tinggalkan jejak, like , komen , vote dan tambahkan ke favorit 💙 , terimakasih 🤗🤗🙏.