
Cheng Mei dan Shui Ling, tidak ingin melewatkan petunjuk
apapun, menunggu dan melihat segala perubahan yang terjadi selama badai
berlangsung. Setelah badai selesai, wanita yang berkobar itu, jatuh tidak
sadarkan diri “Le Le… Le Le…” Li Ming segera memapah dan menggendong istrinya
ke kamar. Cheng Mei dan Shui Ling ikut masuk ke kamar, melihat hal yang
terjadi.
Li Ming mengirimkan energi ke tubuh sang wanita, hingga
sang wanita perlahan sadar. Li Ming memapah sang wanita, menyandarkan pada tubuhnya
“Le Le, bagaimana ?” sang wanita menggeleng “masih tidak bisa !” Cheng Mei dan
Shui Ling mengerutkan kening. Li Ming menghela nafas “Le Le, kita tidak bisa
melawan Tian Zun jika memiliki kelemahan seperti ini !”
Wanita yang dipanggil Le Le itu menunduk “tidak, tidak
bisa menundanya lagi. Jika sampai mereka bergerak terlebih dahulu maka semua
usaha selama ini akan sia-sia. Hu Lu, Re Shui Gu, Hua Yuan Gu, Dong Hua Gu, He
La Shan, Hu Hua Dong sudah hancur. Menunggu lagi, maka semuanya akan hancur,
bahkan aku pun tidak dapat bertahan”
Li Ming tegang, memegang erat Le Le “apa ? apa yang bisa
kita lakukan ? tidak mungkin menghisap para prajurit lagi ! kita membutuhkan
mereka untuk perang !” “Bei Hai…” Le Le berguman “Li Ming, pergilah ke Bei Hai…
apapun yang terjadi, kali ini kau harus berhasil !” Li Ming memijat pelipisnya
“jika saat itu memaksa, aku masih bisa bertarung seimbang, tapi saat ini…”
Le Le menatap Li Ming “kali ini, aku akan pergi denganmu
!” Li Ming terkejut “apa kau yakin ? apa kau bisa ?” Le Le mengangguk mantap
“tidak bisa pun harus bisa. Hanya ini kesempatan satu-satunya… Pusat lava juga
ada di sana… jika mendapat bantuan Bei Hai, aku yakin dapat menjebol lapisan
salju itu…” Di wajah Li Ming, terlihat keraguan yang sangat nyata “Le Le… saat
itu memang Xue Ling sedang terluka, tapi kekuatannya… kita harus memikirkan
kemungkinan terburuknya… bagaimana jika tidak berhasil ?”
Le Le menatap Li Ming dengan kesal “maka harus memaksa
hingga berhasil… walaupun menghabisi satu Bei Hai juga harus berhasil. Bahkan,
aku ingin mengambil kekuatan Bei Hai Ren Yu… dengan kekuatan mereka, tidak
mungkin tidak bisa menumbuhkan satu jiwa murni !” berbicara dengan mata
menyeramkan.
Li Ming yang melihat antusiasme dan kekesalan Le Le,
akhirnya menyetujui usul Le Le. Dalam hati dan fikiran Li Ming, juga ingin agar
semua berjalan lancar, ingin segera mengambil alih posisi Tian Zun. Li Ming
membenci Huo Ling yang memiliki Xue Ling dan Shui Ling, yang selalu
mendukungnya. Disaat Li Ming berjuang keras sendiri untuk mencapai dan mendapat
pengakuan baik dari guru dan lainnya. Huo Ling secara natural dapat menyaingi
prestasinya. Selain itu, Huo Ling memiliki Xue Ling yang selalu bisa diandalkan
dan mengarahkannya.
Bagi Li Ming, Huo Ling hanyalah satu dewa manja yang bernasib
baik. Keberuntungan Huo Ling dimulai karena terlahir dari aura murni dalam
sebuah permata di tempat keramat suku naga. Dari lahir, memiliki Tian Zun Tian
Hou yang selalu memuluskan langkahnya. Disamping ada Xue Ling, yang selalu ada
di sisinya dan selalu membantunya.
Kepintaran
Xue Ling yang diatas rata-rata, sudah terkenal dimana-mana. Dengan usahanya
sendiri, mendapat pengakuan dari banyak pihak, bahkan terakhir Tian Zun Tian
Hou pun tidak dapat mengelak dari kehebatan Xue Ling. Hal inilah juga yang
mendasari rasa suka Li Ming terhadap Xue Ling, merasa senasib. Xue Ling yang
tidak manja, tidak memiliki guru hebat, tapi dengan usaha dan kerja kerasnya
sendiri, berhasil mendapat pengakuan dari berbagai pihak.
Semenjak
mengetahui kisah Xue Ling, Li Ming sudah menentukan pilihan pasangannya hanya
kebutuhan. Bukan dari segi kebutuhan jasmani, tapi kebutuhan akan kekuatan,
dimana kelimanya berpotensi memberikannya kekuatan untuk membantu memuluskan
jalannya, mendapatkan Xue Ling.
Saat
menyukai Xue Ling, Li Ming pernah berfikir untuk berbalik arah, tidak lagi
mengharapkan hal-hal licik. Saat itu adalah Huo Ling yang terus menghalangi
langkahnya untuk mendapatkan Xue Ling. Kebenciannya pada Huo Ling pun semakin
menjadi, mulai dari saat itu, hingga Xue Ling mati di medan perang. Li Ming
sempat bersedih dan semakin membenci Huo Ling, yang tidak bisa memberi
sumbangsih dan menolong Xue Ling.
Mulai
dari saat itu, semakin gencar usaha Li Ming untuk memberontak dan menggulingkan
Huo Ling. Kemudian Li Ming menemukan sosok Rou Rou yang mirip dengan Xue Ling.
Entah karena mirip atau kepribadian Rou Rou yang membuat Li Ming langsung
tertarik padanya. Sayangnya Rou Rou hanya memperhatikan Han Ling Shen Jun dan
tidak mempunyai latar belakang yang dapat membantunya.
Li
Ming awalnya berfikir, tidak dapat mendapatkan Xue Ling, memiliki Rou Rou yang
mirip dengan Xue Ling sebagai istri kecilnya pun tak apa. Rou Rou bisa
mengatasi kerinduannya pada Xue Ling dan penyesalannya. Penyesalan yang selama
ini dia pendam, karena tidak dapat membantu apapun pada saat Perang Shen Mo. Li
Ming melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Xue Ling bertarung dan
kehilangan nyawanya dalam perang. Li Ming yang hanya berupa bayangan, tidak
dapat berbuat apapun saat itu.
Saat
melihat Xue Ling dalam pertemuan perayaan tarian bulan saat itu, harapan Li
Ming kembali berkobar untuk memiliki Xue Ling. Saat itu, disampingnya sudah ada
kelima istri, bagaimana inginnya Li Ming mendapatkan Xue Ling, harus
menyingkirkan kelima istrinya ini terlebih dahulu. Li Ming mengira Xue Ling
akan menunggunya, menunggunya mendapatkan Si Hai Ba Huang dan hidup bahagia
bersama. Li Ming tidak pernah menyangka, pada beberapa pertemuan berikutnya
adalah pernikahan Xue Ling dan Han Ling.
Li
Ming kembali bersedih dan menempatkan kesalahan pada Huo Ling. Kebencian yang
semakin mendalam, hanya untuk menyenangkan hatinya yang gagal mendapatkan apa
yang diinginkannya. Li Ming semakin gencar berusaha untuk menggulingkan Huo
Ling dan kunci semua usahanya ada pada Le Le, istri pertamanya ini. Istri yang
bukanlah dewi normal pada umumnya tapi adalah jelmaan makhluk tanpa jiwa.
Selama
ini, Li Ming sangat menuruti dan melakukan segala sesuatu berdasar pada
perkataan Le Le. Tapi dibalik itu, Li Ming hanya ingin memanfaatkan Le Le,
untuk membalas Huo Ling dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Sudah mencoba
selama puluhan ribu tahun, sudah menuruti semua perkataan Le Le, Li Ming belum
bisa mendapat apa yang diinginkannya. Le Le terobsesi untuk memiliki jiwa dan
aura murni, terutama untuk menghilangkan bau pada tubuhnya. Selama ini, tidak
menghilangkan malah semakin menguatkan bau yang keluar dari tubuh mereka.
Untuk
memiliki jiwa, sudah mengorbankan sangat banyak dewa dewi, menghisap benih
mereka untuk di kelola menjadi benih mereka. Li Ming sudah menanam benihnya dan
sempat menghasilkan di keempat istrinya, hanya pada Le Le tidak berhasil. Demi
ambisi Le Le, Li Ming sudah mengorbankan keempat jiwa anaknya. Saat ini, kedua
istrinya sedang mengandung benih Li Ming. Setelah melihat kegagalan Le Le, Li
Ming tidak ingin mengorbankan anaknya lagi.