The Power Of Love

The Power Of Love
Bab 62 _ Li Ming



            Cheng Mei dan Shui Ling, tidak ingin melewatkan petunjuk


apapun, menunggu dan melihat segala perubahan yang terjadi selama badai


berlangsung. Setelah badai selesai, wanita yang berkobar itu, jatuh tidak


sadarkan diri “Le Le… Le Le…” Li Ming segera memapah dan menggendong istrinya


ke kamar. Cheng Mei dan Shui Ling ikut masuk ke kamar, melihat hal yang


terjadi.


            Li Ming mengirimkan energi ke tubuh sang wanita, hingga


sang wanita perlahan sadar. Li Ming memapah sang wanita, menyandarkan pada tubuhnya


“Le Le, bagaimana ?” sang wanita menggeleng “masih tidak bisa !” Cheng Mei dan


Shui Ling mengerutkan kening. Li Ming menghela nafas “Le Le, kita tidak bisa


melawan Tian Zun jika memiliki kelemahan seperti ini !”


            Wanita yang dipanggil Le Le itu menunduk “tidak, tidak


bisa menundanya lagi. Jika sampai mereka bergerak terlebih dahulu maka semua


usaha selama ini akan sia-sia. Hu Lu, Re Shui Gu, Hua Yuan Gu, Dong Hua Gu, He


La Shan, Hu Hua Dong sudah hancur. Menunggu lagi, maka semuanya akan hancur,


bahkan aku pun tidak dapat bertahan”


            Li Ming tegang, memegang erat Le Le “apa ? apa yang bisa


kita lakukan ? tidak mungkin menghisap para prajurit lagi ! kita membutuhkan


mereka untuk perang !” “Bei Hai…” Le Le berguman “Li Ming, pergilah ke Bei Hai…


apapun yang terjadi, kali ini kau harus berhasil !” Li Ming memijat pelipisnya


“jika saat itu memaksa, aku masih bisa bertarung seimbang, tapi saat ini…”


            Le Le menatap Li Ming “kali ini, aku akan pergi denganmu


!” Li Ming terkejut “apa kau yakin ? apa kau bisa ?” Le Le mengangguk mantap


“tidak bisa pun harus bisa. Hanya ini kesempatan satu-satunya… Pusat lava juga


ada di sana… jika mendapat bantuan Bei Hai, aku yakin dapat menjebol lapisan


salju itu…” Di wajah Li Ming, terlihat keraguan yang sangat nyata “Le Le… saat


itu memang Xue Ling sedang terluka, tapi kekuatannya… kita harus memikirkan


kemungkinan terburuknya… bagaimana jika tidak berhasil ?”


            Le Le menatap Li Ming dengan kesal “maka harus memaksa


hingga berhasil… walaupun menghabisi satu Bei Hai juga harus berhasil. Bahkan,


aku ingin mengambil kekuatan Bei Hai Ren Yu… dengan kekuatan mereka, tidak


mungkin tidak bisa menumbuhkan satu jiwa murni !” berbicara dengan mata


menyeramkan.


            Li Ming yang melihat antusiasme dan kekesalan Le Le,


akhirnya menyetujui usul Le Le. Dalam hati dan fikiran Li Ming, juga ingin agar


semua berjalan lancar, ingin segera mengambil alih posisi Tian Zun. Li Ming


membenci Huo Ling yang memiliki Xue Ling dan Shui Ling, yang selalu


mendukungnya. Disaat Li Ming berjuang keras sendiri untuk mencapai dan mendapat


pengakuan baik dari guru dan lainnya. Huo Ling secara natural dapat menyaingi


prestasinya. Selain itu, Huo Ling memiliki Xue Ling yang selalu bisa diandalkan


dan mengarahkannya.


            Bagi Li Ming, Huo Ling hanyalah satu dewa manja yang bernasib


baik. Keberuntungan Huo Ling dimulai karena terlahir dari aura murni dalam


sebuah permata di tempat keramat suku naga. Dari lahir, memiliki Tian Zun Tian


Hou yang selalu memuluskan langkahnya. Disamping ada Xue Ling, yang selalu ada


di sisinya dan selalu membantunya.


Kepintaran


Xue Ling yang diatas rata-rata, sudah terkenal dimana-mana. Dengan usahanya


sendiri, mendapat pengakuan dari banyak pihak, bahkan terakhir Tian Zun Tian


Hou pun tidak dapat mengelak dari kehebatan Xue Ling. Hal inilah juga yang


mendasari rasa suka Li Ming terhadap Xue Ling, merasa senasib. Xue Ling yang


tidak manja, tidak memiliki guru hebat, tapi dengan usaha dan kerja kerasnya


sendiri, berhasil mendapat pengakuan dari berbagai pihak.


Semenjak


mengetahui kisah Xue Ling, Li Ming sudah menentukan pilihan pasangannya hanya


kebutuhan. Bukan dari segi kebutuhan jasmani, tapi kebutuhan akan kekuatan,


dimana kelimanya berpotensi memberikannya kekuatan untuk membantu memuluskan


jalannya, mendapatkan Xue Ling.


Saat


menyukai Xue Ling, Li Ming pernah berfikir untuk berbalik arah, tidak lagi


mengharapkan hal-hal licik. Saat itu adalah Huo Ling yang terus menghalangi


langkahnya untuk mendapatkan Xue Ling. Kebenciannya pada Huo Ling pun semakin


menjadi, mulai dari saat itu, hingga Xue Ling mati di medan perang. Li Ming


sempat bersedih dan semakin membenci Huo Ling, yang tidak bisa memberi


sumbangsih dan menolong Xue Ling.


Mulai


dari saat itu, semakin gencar usaha Li Ming untuk memberontak dan menggulingkan


Huo Ling. Kemudian Li Ming menemukan sosok Rou Rou yang mirip dengan Xue Ling.


Entah karena mirip atau kepribadian Rou Rou yang membuat Li Ming langsung


tertarik padanya. Sayangnya Rou Rou hanya memperhatikan Han Ling Shen Jun dan


tidak mempunyai latar belakang yang dapat membantunya.


Li


Ming awalnya berfikir, tidak dapat mendapatkan Xue Ling, memiliki Rou Rou yang


mirip dengan Xue Ling sebagai istri kecilnya pun tak apa. Rou Rou bisa


mengatasi kerinduannya pada Xue Ling dan penyesalannya. Penyesalan yang selama


ini dia pendam, karena tidak dapat membantu apapun pada saat Perang Shen Mo. Li


Ming melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Xue Ling bertarung dan


kehilangan nyawanya dalam perang. Li Ming yang hanya berupa bayangan, tidak


dapat berbuat apapun saat itu.


Saat


melihat Xue Ling dalam pertemuan perayaan tarian bulan saat itu, harapan Li


Ming kembali berkobar untuk memiliki Xue Ling. Saat itu, disampingnya sudah ada


kelima istri, bagaimana inginnya Li Ming mendapatkan Xue Ling, harus


menyingkirkan kelima istrinya ini terlebih dahulu. Li Ming mengira Xue Ling


akan menunggunya, menunggunya mendapatkan Si Hai Ba Huang dan hidup bahagia


bersama. Li Ming tidak pernah menyangka, pada beberapa pertemuan berikutnya


adalah pernikahan Xue Ling dan Han Ling.


Li


Ming kembali bersedih dan menempatkan kesalahan pada Huo Ling. Kebencian yang


semakin mendalam, hanya untuk menyenangkan hatinya yang gagal mendapatkan apa


yang diinginkannya. Li Ming semakin gencar berusaha untuk menggulingkan Huo


Ling dan kunci semua usahanya ada pada Le Le, istri pertamanya ini. Istri yang


bukanlah dewi normal pada umumnya tapi adalah jelmaan makhluk tanpa jiwa.


Selama


ini, Li Ming sangat menuruti dan melakukan segala sesuatu berdasar pada


perkataan Le Le. Tapi dibalik itu, Li Ming hanya ingin memanfaatkan Le Le,


untuk membalas Huo Ling dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Sudah mencoba


selama puluhan ribu tahun, sudah menuruti semua perkataan Le Le, Li Ming belum


bisa mendapat apa yang diinginkannya. Le Le terobsesi untuk memiliki jiwa dan


aura murni, terutama untuk menghilangkan bau pada tubuhnya. Selama ini, tidak


menghilangkan malah semakin menguatkan bau yang keluar dari tubuh mereka.


Untuk


memiliki jiwa, sudah mengorbankan sangat banyak dewa dewi, menghisap benih


mereka untuk di kelola menjadi benih mereka. Li Ming sudah menanam benihnya dan


sempat menghasilkan di keempat istrinya, hanya pada Le Le tidak berhasil. Demi


ambisi Le Le, Li Ming sudah mengorbankan keempat jiwa anaknya. Saat ini, kedua


istrinya sedang mengandung benih Li Ming. Setelah melihat kegagalan Le Le, Li


Ming tidak ingin mengorbankan anaknya lagi.