
Kini Sukma sudah menyiapkan pakaian Alfandi, kemudian membereskan tempat tidur yang berantakan.
Membuat semua gorden. Dan sejenak menghirup udara segar di balkon, lantas kembali lalu mengumpulkan pakaian kotor Alfandi yang menumpuk di sofa.
"Sayang, mungkin aku perginya sore ke luar kota, jangan lupa besok ya?" pesan Alfandi sembari berpakaian.
Sukma menoleh dan menghampiri. "Insya Allah. Aku akan ingat itu." Balasnya Sukma.
"Terima kasih sayang!" kata Alfandi sambil mengancingkan lengan bajunya yang kini di bantu oleh Sukma merapikannya.
Selesai berpakaian rapi dan juga minyak wangi yang beberapa kali Sukma semprotkan ke seluruh tubuh Alfandi.
"Salat dulu, sebelum pergi!" pinta Sukma pada sang suami dengan nada lirih dan tatapan yang penuh harap.
Alfandi tersenyum dan mengangguk. Dia lantas mengerjakan subuh terlebih dahulu.
Sukma menunjukan senyum nya sambil menunduk. Lantas membawa pakaian kotor Alfandi ke kamar mandinya.
Tidak lama kemudian, Sukma Kembali dan melihat Alfandi sudah siap untuk pulang. Dengan tangan memegang kunci mobil.
"Aku pulang dulu ya?" cuph! Alfandi mengecup pipi Sukma dengan singkat.
"Ya sudah, hati-hati?" Sukma seraya mengangguk. Lalu keduanya berjalan keluar kamar, Sukma mau mengantar Alfandi ke teras.
"Lalau sekiranya kau kekurangan uang, ngomong saja ya?" Alfandi melirik pada sang istri yang berjalan di sampingnya.
"Em ... uang, masih ada kok, uang belanja masih sukup untuk beberapa Minggu ini." Jawabnya Sukma.
Alfandi meraih tangan Sukma. "Sayang, dengar? mungkin anak-anak mau makan enak atau makan di luar. Ajak saja! ajak mereka bersenang-senang, buat mereka bahagia. Kau jangan terlalu memikirkan uang itu habis, aku suami mu, kau berhak memintanya dari bila tidak cukup."
"Itu, gampang, kalau mereka mau pasti bicara kok. Lagian kan mereka saka kau kasih juga uang jajan. Jadi mereka pegang sendiri," sahutnya Sukma.
"Semalam, ketika kami makan di luar! Fikri ingat sama mommy dan kak Jihan juga Marwan. Fikri bilang, Pah ajak dong mereka berita makan enak seperti kita! bikin aku sedih sayang. Tadinya aku mau kirim paket ke sini, tapi karena ada pemandangan yang tidak mengenakan dan kami buru-buru pulang."
Sukma tertegun mendengar Fikri yang mengingat dirinya mesti jauh. Sukma menghela nafas panjang.
Cuph! sebelum pergi. Alfandi memeluk dan mengecup kening Sukma, hingga Sukma terpejam sejenak.
Kemudian Alfandi pun mengucap salam. "Assalamualaikum! aku pergi dulu!"
"Wa'alaikum salam ..." sahutnya Sukma lantas melambaikan tangannya sampai mobil Alfandi menghilang.
Sukma memutar tubuh, lantas memasuki rumahnya tersebut dan mendapatkan bi Lasmi sudah berada di dapur.
"Bi, kapan datang!" sapa Sukma menatap ke arah Alfandi.
"Baru saja, Non, Non habis nganterin tuan ya? barusan Bibi melihat Mobil Tuan di depan." Balas bibi Lasmi.
"Iya, Bi." Sukma mengangguk.
"Laki-laki tadi akan berpaling bila kita melayani nya dengan sepenuh hati. Begitupun dengan tuan. Kalau Nona menyanginya dengan tulus, Tuan pasti tidak akan berpaling deh." Timpalnya Bi Lasmi.
Sukma mengerjapkan matanya melihat ke arah Bu Lasmi. "Tapi ... bagaimanapun, aku merasa risih, Bi."
"Lho, risih gimana, Non?" Bi Lasmi merasa heran sambil menyiapkan bahan-bahan yang akan dia buat sarapan.
"Gimana aku gak risih, Bi. Kalau kita sering ke sini! auto dia kehilangan waktu bersama istrinya yang di sana, Bi. Aku gak mau kalau nanti dia di cap tak adil." Keluh Sukma sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"Tapi, Non tidak meminta dia untuk datang setiap hari. Itu kemauan tuan sendiri kok." bela. nya bi Lasmi.
"Memang, aku tidak meminta itu. Tetapi istri istrinya bisa saja tidak menerima suami. Tuan, apalagi kan menikah tanpa setau beliau.'' Sukma menghela nafas panjang.
"Non, kalau Bibi boleh tanya ... Non sayang gak sama Tuan?" tanya bi Lasmi lagi.
"Nanya juga sama suami, Bi. Sayang lah?" akunya Sukma sambil mesem-mesem.
"Aduh, Bi ... di tanya lagi, ya sayang lah ... bagaimanapun keseringan bersama ya pastinya tumbuhlah benih-benih cinta." Siapa Mimy menyambar di antara obrolan mereka berdua.
Sukma melirik ke arah Mimy yang datang membawa sapu dan pel di tangan.
"Bibi, itu jangan nanya gimana perasaannya, orang sudah mulai ada cinta kok." Tambah Mimy lagi.
"Oya Neng. Mimy, sekalipun tanpa cinta sebelumnya. Karena seringnya kebersamaan itu pasti akan menimbulkan rasa cinta," timpal Bi Lasmi juga.
"Kerja, setengah hari. Emangnya kenapa?" Mimy balik bertanya.
"Gue mau ke tempat bibi ku, antar gue gitu maksudnya." Sukma melanjutkan perkataannya.
"Boleh, tunggu saja. Gue ikut!" ucap Mimy sambil menyapu.
"Oke, akan gue tunggu." Sukama mengangguk dan merasa ada teman.
"Penasaran juga gue, sama keluarga mu itu seperti apa?" sambungnya Mimy.
"Kalian ikut ya? ke rumah Bi Lilian nanti?" Sukma mengalihkan pandangan kepada kedua adiknya yang baru muncul di tempat itu.
"Malas ahk, aku malas pergi ke sana, Kak." Marwan menolak pergi.
"Iya, kaka. Aku mau ikut kok." Jihan setuju.
Sukma menatap kedua adiknya dengan lekat.
"Marwan ... jangan begitu, bagaimanapun mereka adalah keluarga kita lho. Dan kita harus menunjukan kebaikan kita," lirihnya Sukma.
Marwan menunduk dalam, dia hanya ingat perlakuan mereka yang kurang mengenakan saja.
"Bagaimanapun ... kita juga pernah numpang tinggal di sana. Dan kita tidak boleh mengingat keburukan seseorang, ingatlah kebaikannya saja, karena bila kita mengingat kejelekan saja. Justru akan mengotori hati kita--" Sukma menjeda perkataan dengan menyesap minumnya.
"Iya, Kak. Aku mau ikut kok!" balas Jihan.
Bi Lasmi dan Mimy yang tidak jauh dari mereka pun mendengarkan apa yang sukma ucapkan.
"Kakak, gak mau ya adik Kakak menyimpan dendam, Seburuk apapun perlakuan orang, kita harus balas dengan kenaikan." Lanjut Sukma.
"Iya Kak. Aku mau ikut." Jawabnya Marwan dengan nada lesu.
"Kita harus tunjukan bakti kita sama mereka. Nanti kita belanja buat oleh-oleh ya?" Sukma mengusap kepala sang adik yang wajah nya yang agak di tekuk.
Sukma bergegas naik, hendak ke kamar dan mau bersih-bersih di lantai atas. Di tengah-tengah tangga, langkah Sukma berhenti dan menoleh pada Mimy.
"Mimy, yang bener kerjanya ya? yang bersih! jangan sampai ada debu sedikit pun menempel. Kalau tidak? jangan harap dapat gaji ya!" canda pada Mimy yang tengah menyapu.
Manik mata Mimy mendelik ke arah Sukma dan mengulang gagang sapu. "Sialan lu? lu pikir gue pembantu apa? ha ha ha ..."
Sukma buru-buru melanjutkan langkahnya. "Kabur ...."
Bi Lasmi hanya tersenyum sambil mengepel. Jihan dan Marwan bagian membuka-buka gorden dan membantu Sukma di lantai atas.
...---...
Di saat Alfandi sampai di rumah, langsung saja melihat kedua putranya apakah mereka sudah bangun dan sudah salat.
Namun ternyata keduanya sudah tidak ada di kamarnya masing-masing. Dan kata bibi mereka sedang berjamaah dengan supir yang bernama Arbani.
"Ooh!" Alfandi mengangguk. "Oya, Bi. Apakah Nyonya menanyakan saya?" tanya Alfandi mengingat semalam ketika dia pergi sang istri belum pulang.
"Nyonya ... gak pulang, Tuan!" kata bibi dengan ragu-ragu.
"Apa? gak pulang?" Alfandi shock dengan jawaban dari bi Nunung. "Kemana dia sampai tidak pulang segala?" Alfandi mengecek ponselnya kali saja ada kabar dari sang istri. Tetapi tidak ada sama sekali.
"Iya, Tuan. Nyonya tidak ada pulang dan juga tidak ada kabar." Bi Nunung meyakinkan.
Alfandi menghela nafas panjang "Huh ... apakah semalam ..." batinnya.
"Ya sudah, Bi." Dan lantas Alfandi berjalan dengan niat menuju ruang kerjanya.
Namun dia mampir dulu ke kamar dia yang memang benar kosong, sepi dan ... Alfandi kepikiran untuk mencari sesuatu yang mungkin akan mencurigakan dari barang-barang milik Vaula ....
.
.
...Bersambung!...