Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Saat ini keluarga Sukma dan Alfandi sudah berada di rumah kediamannya. Dan mereka tampak lelah setelah perjalanan yang cukup melelahkan tersebut.


Mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing dan segera beristirahat, yang kebetulan sampai rumah waktu sudah menunjukan pukul 21.30 setelah makan malam di luar sebelum tiba di rumah.


"Sayang, hah ... lelah sekali!" Alfandi menoleh pada sang istri yang baru saja masuk kamar setelah menidurkan Syakila di kamarnya.


"Mau aku pijit?" tawar Sukma sambil mendekati lemari mengambil piyama nya yang lalu ia bawa ke kamar mandi untuk menggantinya di sana.


Detik kemudian Sukma kembali dengan kostum yang berbeda. Berjalan gontai mendekati suaminya yang memandanginya dengan intens.


Tangan Alfandi meraih tangannya Sukma yang ia tarik agar mendekat ke dalam pelukannya. Dan beberapa kali di kecup kedua pipi nya dengan lembut.


Selanjutkan Sukma memijat Alfandi dengan plus-plus dari ujung kaki, tangan sampai bagian tengahnya yang tidak luput minta di pijat dengan alat khusus.


...--------...


"Kamu mau mengajak ku kemana sih?" Jihan bertanya sambil berjalan dengan mata tertutup oleh sapu tangan.


"Jangan banyak bicara, yang penting aku tidak akan berbuat jahat sama kamu--"


"Emangnya orang jahat itu bilang-bilang? kan nggak. Tetap aja mereka diam-diam juga," potongnya Jihan sambil berjalan.


"Emangnya kamu mau aku jahat sama kamu dan ngapa-ngapain kamu?" tanya Firza sambil terus mendorong bahunya Jihan untuk berjalan hingga sampai di tempat tujuan dan menyuruhnya untuk berhenti.


"Ya nggak, nggak mau kayak gitu! lagian memangnya kamu tega kalau berbuat jahat sama aku?" Jihan balik bertanya.


"Nggak mungkin lah aku jahat sama kamu! bagaimana pun aku harus menjaga kamu, begitu kata mommy dan juga Papa." Firza posisikan Jihan duduk di sebuah kursi menghadap meja yang sudah ada kue tart yang sudah ada lilin menyala dan hidangan lainnya, minuman buah dan juga air putih.


"Sudah bisa dibuka nih?" tanya Jihan sembari memegang sapu tangan yang menutupi matanya.


"Boleh buka saja!" jawabnya Firza yang sudah duduk di hadapannya Jihan dengan tersenyum manis.


Dengan perlahan tangan Jihan pun membuka sapu tangan yang menutupi mata dan langsung saja kedua manik matanya yang indah mendapati Firza tengah duduk manis dan tersenyum padanya.


Jihan mengedarkan pandangan ke suasana sekitar yang penuh dengan balon-balon berwarna pink dan bertuliskan happy birthday Jihan. Membuat kedua sudut bibir Jihan tertarik membentuk sebuah senyuman yang indah.


Itu pun Jihan belum melihat apa yang ada di meja. "Siapa yang buat ini buat aku?" dengan tatapan yang sangat dalam kepada Firza. Lalu menutup mulutnya setelah dia melihat apa yang ada di meja.


"Apakah kamu suka dengan semua ini?" tanya Firza.


Sebelum menjawab Jihan mengulas kan terlebih dahulu senyuman yang manis di bibirnya dan wajahnya tampak begitu sumringah, memancarkan sebuah kebahagiaan. Dia tidak menyangka kalau Firza akan memberikan kejutan seperti ini padanya.


"Tentu aku sangat bahagia, tapi untuk apa kamu memberikan kejutan seperti ini?" Jihan menatap dengan lekat.


"Kamu tidak perlu bertanya! cukup kamu nikmati dan syukuri apa yang sudah aku berikan! aku tahu kamu nggak pernah merayakan ulang tahun seperti ini bukan? merayakan sih ... cuma untuk memperingati doang! Selamat ulang tahun Jihan ... Semoga kamu panjang umur dan semua cita-cita mu tercapai dengan mudah!" ucap Firza kepada Jihan.


"Terima kasih ya! terima kasih banget, aku sampai terharu." Jihan mengusap sudut matanya yang berkaca-kaca dan tak kuasa menahan haru dengan semua ini.


"Sekarang potonglah kuenya!" sambung Firza sambil menunjuk ke arah kue tart yang lilinnya masih menyala.


"Tapi, Za ... kan dalam Islam tidak boleh meniup lilin karena itu menyerupai sebuah kaum" Jihan menatap lilin yang masih menyala.


"Ck. Jihan-Jihan ... kan kamu bisa mematikannya tanpa meniup, dengan cara mengipas atau gimana! bisa," jelasnya Firza.


"Oh iya ya, aku lupa!" Jihan tersenyum lalu mengipas-ngipas lilin yang masih menyala dengan Kedua telapak tangannya.


Hingga akhirnya mati juga dengan bantuan dari Firza.


Kemudian Jihan menyodorkan sendok yang berisi kue tart dari piring tersebut yang lalu ia suap kan kepada Firza.


"Boleh, tapi suapan kecil saja dan kamu harus makan, menghabiskan potongan kue itu." Firza sambil membuka mulutnya.


"Aku kan nyupin kamu biar aku tahu aja, kalau kue ini tidak beracun! kalau beracun kan otomatis kamu duluan yang kena ha ha ha ..." ucapnya Jihan sambil diakhiri dengan tertawa.


"Sialan, dalam saat seperti ini saja kamu masih bisa bercanda tidak menghargai pengorbanan ku," Firza menggeleng sambil mengunyah kue nya.


"Siapa bilang? nih aku makan, masih juga dibilang tidak menghargai gitu?" Jihan mesem sambil kini menyuapkan pada mulutnya sendiri.


Firza menatap kue yang kini mulai Jihan nikmati. "Makan! semuanya."


Jihan pun makan kue sesendok demi sesendok. Namun di suapan terakhir ia merasakan sesuatu benda yang keras di mulutnya dan tidak bisa terkunyah. Sehingga ia mengeluarkan benda keras tersebut dari mulutnya.


"Apa ini?" gumamnya Jihan meneliti benda yang kini berpindah ke tangannya.


"Kenapa? jorok kau ini!" Firza bergidik.


"Apa ini, cincin ... kamu?" Jihan menjuk ke arah Firza yang langsung menunjuk pada dirinya sendiri.


"Aku, maksudnya?" Firza berlagak tidak mengerti.


"Ini cincin ada di dalam kue ulah siapa? gak mungkin kalau tidak ada yang sengaja memasukannya ke dalam kue dan kamu sendiri yang sengaja kan?" lagi-lagi Jihan menatap curiga.


"Mana ku tahu!" Firza mengelak dan tidak mau mengakui.


"Ck, aku kira punya kamu, ya sudah aku buang saja. Eeh ku simpan saja di sini, siapa tahu itu cincin nanti ada yang nyari. Mana cincin emas lagi." Jihan menyimpan cincin di piring kue nya.


"Eeh, jangan! maksud ku itu--"


"Bener kan ini punya kamu?" Jihan menatap ke arah Firza.


"Em, mau kan kau menerimanya?" Firza menatap penuh harap.


"Cincin buat apa?" Jihan menatap dengan sebenarnya hati berbunga-bunga. Menatap cincin yang indah itu.


"Mau kah kau menjadi istri aku? tapi bukan untuk sekarang ini sih ... tapi suatu saat nanti bila kita sudah sama-sama sukses dan menggapai cita-cita." Ungkap Firza dengan kata yang hati-hati.


Senyuman dan indah terbit dari wajahnya Jihan sembari memegangi cincin yang hampir saja dia telan. "Kamu serius emang?"


"Emangnya kamu melihat aku tidak serius? aku serius tapi seperti yang pernah aku bilang ... kita punya tujuan yang sama yaitu menikah! tapi sebelum itu kita bebas kok, kamu mau jalan sama siapa atau mungkin kamu mau pacaran sama siapa? terserah! yang penting kamu bisa menjaga diri dan menjaga hati hanya untuk ku nantinya!" ujar Firza dengan tatapan yang dalam pada lawan bicaranya tersebut.


"Ya ... aku tahu! bagaimanapun kita harus kembalikan bahwa jodoh itu Allah yang mengatur dan manusia hanya bisa berencana! begitu pun dengan kita, apalagi notabene kita sebagai keluarga atau saudara yang mungkin saja akan ditentang oleh keluarga kita sendiri." Timpalnya Jihan seraya menatap kosong cincin yang kini dalam genggaman.


"Kamu benar, tapi karena jalan kita masih panjang ditentang pun masa bodoh. Karena aku akan menikahi kamu bukan untuk saat ini tapi berapa tahun ke depan yang kita sendiri pun tidak tahu tepatnya di tahun kapan!" tambahnya Firza.


Tangan Firza bergerak mengambil cincin tersebut dan menyematkannya di jari manis kanan kiri Jihan.


"Makasih, Za ..." Jihan menunjukan senyumnya pada pemuda yang tiada lain adalah nak sambung kakaknya tersebut.


Lalu kemudian mereka pun menyantap hidangan yang ada di meja. Yang sesekali dihiasi dengan candaan serta senyuman dari wajah-wajah yang sedang dilanda bahagia ....


Bersambung.