
"Ngomong-ngomong, ganteng banget sih ... anak sama Bapak sama saja coba kalau sudah gede?" Mimy menggeleng mengagumi ketampanan ayah dan anak itu.
"Emangnya kalau sudah gede kenapa, Mimy ... naksir gitu?" tanya Sukma sambil menggelengkan kepalanya.
"Tante, aku lapar?" ucap Fikri sambil menggoyangkan tangan Sukma.
"Nah ... mulai si manja, mulai ingin di manja! mau makan? sendiri dong ..." kata Marwan yang ditujukkan pada Fikri seraya mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Yey ... aku juga mau makan sendiri kok, cuma minta diambilkan doang. Siapa juga yang mau disuapin?" sahutnya Fikri sambil mendelik pada Marwan.
"Kali saja mau disuapin? biasanya juga kayak gitu," timpalnya Marwan tidak mau kalah.
"Eeh, Kak Wawan. Itu dekat tas aku ada kantong jajanan, ada dadar gulung dan cilung. Dan apa lagi? aku lupa! aku tadi beli banyak sekali," ucapnya Fikri sambil menunjuk ke arah tas nya.
"Apaan itu? kamu mau menyogok aku ya?" Marwan memicingkan sebelah matanya pada Fikri, lalu melihat ke arah yang Fikri tunjukkan.
"Yang jelas, tadi aku jajan banyak dan nggak habis, Kak Wawan sama kak Jihan saja yang habiskan, kalau Kak Marwan nggak mau? ya, sudah. Kak jihan ... itu di kantong ada banyak makanan, habiskan saja. Kak Wawan nggak usah dikasih," pekik Fikri pada Jihan yang masih nonton televisi.
Jihan menoleh pada Fikri. "Apaan? yang ini bukan?"Jihan mengambil kantong yang berada dekat dengan tas miliknya Fikri.
"Iya, Kak. Itu makan saja habiskan? ada cilor, Dadar gulung, baso garing. Habiskan aja Kak? kak Wawan nggak usah dikasih," ucapnya Fikri pada Jihan.
Marwan pun lantas mengayunkan langkahnya yang lebar ke depan Jihan, dan melihat isi kantong yang Fikri bilang jajanan tersebut.
Ternyata memang benar, isinya sesuai yang dikatakan. "Em ... kayanya enak nih? masih anget juga." Langsung mengambil dadar gulung 1 dan menyantapnya.
"Beneran buat Kakak berdua! Fikri nggak mau lagi?" tanya Jihan ke arah Fikri yang masih duduk kursi meja makan.
Fikri menganggukkan kepalanya seraya berkata. "Nggak mau, Kakak berdua saja yang makan?"
"Fikri, makannya tunggu papa ya? papa katanya mau mandi dulu,jadi nggak akan lama, oke?" lirihnya Sukma sembari menyiapkan piring untuk mereka makan.
"Jadi, Fikri barusan makan jajanan ya?" tanya Mimy sembari menuangkan air ke dalam beberapa gelas.
"He he he ... tadi di mobil, iya. Aku makan jajanan, tapi sampai di rumah ini aku jadi lapar! apalagi mencium wanginya masakan Tante!" anak itu mengangguk jujur.
Sukma tersenyum manis ke arah Fikri, lalu menuangkan nasi ke dalam piring untuk makannya Fikri. "Emang, Fikri mau makan sama apa sekarang?"
Netra Fikri menatap ke arah meja yang ada berapa menu di sana, biarpun tampak sederhana tapi wanginya sungguh mengunggah selera.
"Ya sudah, telor dadar. Sama ... sayur beningnya, yang itu enak nggak?" tanya Fikri sembari menuju ke arah sambal teri.
"Iya ... enak dan nggak nya tergantung selera, mau dicoba? Tante ambilkan dikit dulu ya?" Sukma mengambilkan sedikit saja, di simpannya di samping piring Fikri.
"Fikri? mau makan? bukannya tadi sudah kekenyangan?" suara Alfandi yang baru saja menuruni anak tangga.
"He he he ... iya, Pah lapar!" sahut Fikri sambil nyengir.
"Tapi, kan barusan sebelum masuk rumah! katanya kekenyangan dengan jajanan yang seabrek itu." Tambahnya Alfandi, merasa heran pada anak ini. Tadi makan jajanan banyak, dan sisanya entah di kemana kan?
"Tadi, kan kenyangnya, Papa ... sekarang mau makan nasi. Aku nggak tahan mencium wangi masakan, Tante," jawabnya Fikri dengan lirih.
"Ya, sudahlah ... nggak apa-apa! biarkan dia makan dulu," timpalnya Sukma melihat pada Fikri dan Alfandi bergantian.
"Tadi di mobil dia makan banyak jajanan lho sayang ... seabreg dan sekarang mau makan? apa akan masuk ke perut?" Alfandi mendudukkan dirinya di depan Fikri.
Alfandi tidak segan-segan memanggil Sukma dengan panggilan sayang dihadapan orang-orang terutama putra bungsunya itu.
Membuat Sukma tersipu malu, lalu dia berusaha menyembunyikan senyumnya sembari menunduk.
"Kan sisanya dikasih sama Kak Wawan sama kak Jihan, Papa ... tuh lihat mereka sedang makan," jawabnya Fikri seraya menoleh ke arah Jihan dan Marwan yang sedang asyik makan jajanan darinya.
Alfandi menoleh ke arah dua anak itu. "Kalian sedang apa? kenapa nggak makan? sini makan dulu?sudah, yang itu nanti saja makannya." Alfandi melambaikan tangannya.
"Ini, Om. Dikasih makanan sama Fikri." Sahutnya Marwan sambil mengangkat makanan yang berada di tangannya itu.
"Itu nanti saja dimakannya! sekarang makan nasi dulu," tambahnya Alfandi.
Sukma dan Mimy yang sudah duduk dan bersiap makan, hanya saling melempar senyuman.
Sebelum makan, Alfandi menyuruh Jihan untuk memanggil Firza di kamarnya. Dan Jihan pun langsung mengiyakan perintah Alfandi.
Jihan berjalan menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya Firza untuk menyuruhnya makan.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Maaf, permisi ... kata Om Alfandi makan malam dulu?" pekik Jihan sembari mengetuk pintu.
Firza yang berbaring di atas tempat tidur langsung terbangun mendengar suara seorang gadis yang mengetuk pintu. Dia segera turun dan mengayunkan langkahnya mendekati daun pintu.
Blak!
Pintu terbuka dan Firza berdiri di sana. "Ada apa?"
"Kan barusan aku bilang, Om menyuruhku memanggilmu untuk makan malam. Nggak kedengaran apa?" Jihan menatap aneh pada Firza.
"Kau itu tulus nggak sih? disuruh papa untuk memanggil ku?" ketus Firza dengan menatap tajam ke arah Jihan.
"Kok malah nanya gitu? aku disuruh sama, Om. Untuk memanggil kamu buat makan malam bersama." Jawabnya Jihan sembari mengerutkan keningnya.
Firza memandangi ke arah Jihan, dengan tatapan yang sulit diartikan, sambil berdiri melipatkan tangan di dada.
Sementara Jihan, dia langsung memutar badan kembali ke lantai dasar, meninggalkan Firza yang betah dengan posisinya.
Ketika Jihan mau melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, Jihan kembali menoleh ke belakang yaitu ke arah Firza yang masih juga berdiri. "Kau itu mau turun nggak sih? nanti Om nanyain sama saya!"
"Iya-iya bawel!" Firza menggerakan tubuhnya dan mengayunkan langkah kaki menyusul Jihan.
Keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga dan mendatangi meja makan, dimana Di sana sudah berkumpul untuk makan malam bersama.
"Makan dulu sayang?" ucap Alfandi menyambut kedatangan Firza yang tampak malas berjalan ke ruang makan.
Firza duduk di sampingnya Fikri. dan melihat meja makan yang diisi berapa menu, dan membuat dia tidak berselera untuk makan.
"Cobain dulu, Kak makannya. Pasti suka deh," ucap Fikri sambil melihat pada sang kakak, Fikri sendiri sudah mulai menyantap makannya dengan lahap.
Firza hanya melirik ke arah Fikri dengan tetapan dingin.
Sukma langsung mengambilkan piring dan dituangi nasi. "Firza mau makan sama apa?" melirik pada anak itu.
Sukma terdiam menatap ke arah Firza, perangai anak itu beda dengan Fikri. Dia lebih dingin dan belum bersahabat, mungkin dia memang belum mengenalnya saja.
Kemudian semuanya makan malam dengan seadanya, sambil bercanda ria, terutama dengan Jihan dan Marwan.
"Hem, gak sopan! makan sambil bercanda," batinnya Firza menatap tidak suka.
Mulanya Firza cuma bengong dan lihat orang-orang yang sedang makan, dan lama-lama dia pun menarik piring yang disediakan Sukma tadi. Dia mengambil juga telur dadar dan cah kangkung.
Setelahnya di icip-icip, ternyata enak juga. Sehingga Firza meneruskan makannya.
"Tuh, kan Kak. Enak bukan?" tanya Fikri sambil tersenyum! di mulutnya penuh dengan makanan.
Firza hanya mengangguk pelan sambil tetap fokus makan. Padahal tadi berasa tidak berselera untuk makan, namun setelah di rasain ternyata menjadi berselera juga.
Alfandi melirik ke arah Sukma yang sedang asik makan. "Uang belanja tadi cukup gak?"
"Uang yang tadi, cukup. Aku belanjakan banyak! jadinya untuk beberapa hari banyak stok seperti telor, Mie. Beras dan bumbu-bumbu. Buat besok pagi juga ada ayam." Sahutnya Sukma.
Alfandi menunjukkan senyumnya yang merekah, dia meyakini kalau Sukma itu adalah sosok wanita yang tidak boros dan sederhana.
"Tadi aku sampai kecapean membawa banyak banget belanjaan," timpalnya Jihan. "Kamu sih ... malah tiduran bukannya bantuin." Melirik pada Marwan.
"Iih ... Emangnya Kakak mengajak Aku belanja gak? tidak! cuman bilang mau belanja doang," Marwan melirik ke arah kakaknya itu, Jihan.
"Sudah, sudah ... jangan bertengkar ahk, apalagi di depan makanan! nggak baik," ucap Sukma menatap ke arah dua adiknya tersebut.
"Ia nih ... depan makanan itu jangan suka ngomel, suka debat!nggak boleh! bener itu kata, Tante!" timpal Fikri dan ekspresi wajahnya yang lucu.
Alfandi menunjukkan senyumnya yang penuh dengan kebahagiaan, rasanya ... biarpun belum menikah berasa bagai sudah menjadi keluarga, istri dan anak-anak.
Sehabis makan, seperti biasa Jihan dan Marwan mencuci bekas maknannya masing-masing begitupun dengan Fikri. Dia mau belajar mencuci piringnya sendiri, kecuali Firza. Selesai makan! dia langsung pergi ke ruang tv.
"Kak bekas makannya cuci dong ... semua orang di sini nyuci sendiri, masa bekas makan Kak Firza. Dibiarkan begitu saja di meja makan! kata tante juga itu namanya tidak bertanggung," ucap Fikri pada sang kakak.
"Aah ..." Firza malah mengibaskan tangannya di udara.
"Di sini itu, harus belajar mandiri jangan apa-apa dikerjain sama orang, di sini kan nggak ada asisten ya kan Pah? Tante." Fikri menoleh kepada Alfandi yang masih duduk di meja makan dan Sukma yang sedang mencuci piring.
"Tanya saja sama tantenya, kalau soal asisten ... nanti Papa ada kan asisten buat di sini, tapi bukan berarti harus semana-mana! karena di sini asistennya hanya satu saja, dan tante akan menyuruh semua orang mengerjakan apa yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri, ya kan sayang?" Alfandi menoleh kepada calon istrinya itu.
Sukma hanya mengulas senyumnya sembari mengangguk.
"Tapi ... Papa nggak nyuci sendiri? ya ... Papa manja," kata Fikri yang ditujukan kepada sang papa yang tidak mencuci piringnya.
Bikin Mimy tertawa terbahak-bahak, mendengar Fikri bicara seperti itu. "Bener, Fikri mentang-mentang ya? si papah mentang-mentang ada istrinya? kita aja mengerjakan sendiri, iya kan?" menolehkan kepalanya pada Fikri.
"He he he ... tidak apalah, Kak Mimy, maklum. Papa itu nggak pernah dimanja mama," kata Fikri dengan ekspresi berbisik, menutup mulutnya sambil berbicara. Tampak sangat polos.
"Iya kah? Papa nggak pernah dimanja mama ya? kasihan ... kasihan-kasihan, kasihan!" Mimy sambil tertawa lepas.
"Sama! Fikri juga suka manja, pengennya kan di manja sama tante!" celetuk Marwan.
"Iih ... Kak Wawan, biarin! Tantenya juga mau jadi Mama baru aku kok, bisa saja dong ... kalau aku manja-manja sama tante Sukma, dia kan bentar lagi akan menjadi mama aku, iya kan Pah?" lagi-lagi Fikri menatap ke arah sang ayah.
Alfandi mengangguk pelan. "Bener, Fikri ...."
"Tuh kan ... Tante mau jadi mama aku, yey ..." Fikri mencibir Marwan, sambil mengulurkan lidahnya.
"Sudah, kalian kan jadi keluarga. Jadi harus saling menyayangi, harus saling menjaga, saling menghormati. Apalagi Papa nggak mungkin bisa setiap hari di sini," lirihnya Alfandi seraya memfokuskan pandangannya ke layar laptop miliknya itu.
"Pah? boleh kan? kalau kita tinggal di sini saja ya? Fikri penuh harap.
"Kita? kamu saja kali, aku mah nggak!" celetuk Firza dari depan televisi.
Sukma hanya bisa menatap keduanya bergantian, papa dan anak itu yang mungkin tampak kurang kasih sayang dari istri dari mama. Kemudian melihat ke arah Firza yang tampak dingin.
"Sekali-kali, sih boleh ... tapi kalau teru-terusan gak boleh, nanti Mama nyariin," Jawabnya Alfandi dengan jelas.
Deg!
Serasa hati Sukma ada yang menusuk ke dalam jantung, menyadarkan kalau orang yang akan menjadi suaminya itu adalah milik orang juga, yang nggak bisa setiap hari atau setiap saat bersamanya.
"Sayang ... bikinkan aku kopi ya? gula nya satu sendok saja, dan antarkan ke Balkon," pinta Alfandi melirik ke arah Sukma seraya tangannya menutup laptop lalu dia beranjak untuk berpindah posisi, yaitu mencari angin di balkon atas.
"Ooh iya, nanti ku bikinkan!" Sukma menoleh dan menatap punggung pria itu yang kini mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek tampak santai.
"Uus ....h, jangan di pandangi terus nanti tuh mata keluar bolanya, iih ... takut." Mimy menaik turunkan kedua bahunya tersebut.
"Apaan sih My ... siapa juga yang memandangi? cuma melirik doang. He he he ..." sahutnya Sukma.
"Sudah, bikinkan kopi sana? nanti keburu marah dan anterin sendiri ke balkon?" perintah Mimy sembari menunjuk ke atas.
"Ya sudah, aku bikinkan kopi dulu!" Sukma membuatkan kopi permintaan Alfandi barusan.
Setelah kopinya jadi, Sukma langsung mengantarkannya ke atas.
Jihan, Marwan. Firza dan Fikri juga Mimy berkumpul di ruang televisi. Sambil mengemil jajanan tadi.
Sukma membawa langkah yang teratur menuju balkon, dengan nampan di tangan berisikan sebuah cangkir kopi.
"Ini kopinya sudah siap," Sukma menyimpan nampan tersebut di depannya Alfandi yang sedang fokus dengan layar laptopnya.
Tampaknya Alfandi sedang mendesain sebuah bangunan yang tampak indah. Sukma memutar badannya dengan niat mau kembali ke lantai bawah berkumpul sama yang lainnya.
"Kenapa nggak mau menemani ku duduk!" gumamnya Alfandi yang fokus ke layar laptop.
"Em ... ada apa ya?" Sukma berdiri tidak jauh dari tempatnya Alfandi duduk.
Alfandi menepuk tempat duduk yang berada di sebelahnya itu. "Duduk saja di sini," tanpa dia menoleh sedikitpun kepada Sukma.
Dengan perlahan, Sukma mendudukkan dirinya di samping. Alfandi yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya.
Sejenak mereka terdiam, tak ada seorangpun yang mengucap kata-kata, Sukma mengalihkan pandangannya kepada langit yang tampak begitu cerah, dan berhias bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang di atas sana.
Alfandi hanya senyum-senyum sendiri, melirik ke arah samping dimana Sukma duduk dengan manis menemani dirinya ....
.
.
...Bersambung!...