
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Mendengar suara pintu yang di ketuk, Alfandi merasa kaget. Terkesiap melonjak bangun, siapa yang datang? sebelum mendekati pintu, ia sadar kalau hanya mengenakan handuk saja sehingga gegas meraih celana nya dan juga kaos.
Setelah berpakaian lengkap, Alfandi mengarahkan tangan untuk meraih handle pintu yang kemudian ia tarik.
Blak.
Alangkah kagetnya Alfandi melihat keberadaan Vaula di depan pintu. Tersenyum manis dan mengenakan gaun malam yang cukup tipis.
"Ada apa?" Alfandi menatap tajam ke arah wajah Vaula.
Vaula menatap intens ke arah mantan suaminya tersebut. Dari ujung kepala sampai kaki tidak luput menjadi pusat perhatiannya.
"Em ... aku ingin bicara sama kamu, boleh aku masuk?" Vaula menunjuk ke arah dalam kamarnya Alfandi.
"Ngapain mau ngobrol di kamar segala? cari fitnah saja nih." batinnya Alfandi sambil terdiam sejenak.
"Em, sebaiknya besok saja kita bicaranya. Saya mau istirahat." Alfandi menolak apalagi bila harus berbicara di kamar.
"Sebentar kok, aku ingin bicarakan tentang Fikri yang sebentar lagi masuk sekolah menengah!" Vaula berusaha berdalih.
"Aku rasa ... masih banyak waktu untuk membicarakan soal itu dan saat ini aku ingin istirahat! capek maaf ya, met malam.
"Em, sebentar-sebentar, tunggu sebentar." pekik nya Vaula ketika pintu kamar Alfandi mau ditutup sang empu.
Alfandi menahan pintunya serta mata heran pada Vaula. Dan dengan tidak terduga Vaula malah menyelinap masuk ke dalam kamar tersebut. Membuat Alfandi tersentak kaget.
Dan Alfandi boro-boro menghadang langkahnya Vaula. "Kau ini mau apa sih masuk segala ke kamar orang? kan sudah aku bilang! kita bicarakan lain kali saja, sekarang sudah malam aku capek dan ingin istirahat. Kamu jangan nggak sopan kayak gini!" bentaknya alfani saya menghadang langkah nya Vaula.
"Fandi ... aku ingin bicara baik-baik, tentang masalah Putra kita. Kalau besok-besok aku akan sibuk takutnya tidak ada waktu untuk bicara dan cuman sekarang aja ada waktunya!" tutur Vaula dengan lembut dan tangannya mulai menyentuh kedua tangan Alfandi.
Sejenak keduanya saling tatap dan di detik kemudian Alfandi menarik kedua tangannya. Mundur berapa langkah dan pada akhirnya duduk di.
Melihat Alfandi duduk di sofa. Bibir Vaula tersenyum kemenangan dan membawa langkahnya ke sana, duduk tidak jauh dari Alfandi. Sementara pintu Alfandi dibiarkan terbuka begitu saja.
Alfandi duduk dengan mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua siku di atas lutut. "Bicaralah. Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?"
senyuman di bibir bawah tidak pernah pudar Kemudian Anda sedikit mendekat. "Aku ingin bicarakan soalnya kita Fikri kan sebentar lagi keluar dari sekolah dasarnya dan aku ingin dia langsung di sekolahkan di luar Negeri biar pendidikannya lebih terjamin--"
"Emangnya pendidikan di sini kurang terjamin? kalau menurutku ... tergantung otak di manapun pendidikannya yang otak dan akhlak." Alfandi menolak sekilas.
"Iya sih ... aku juga tahu di sini juga bagus-bagus, tapi biar Fikri belajar lebih mandiri dan pokoknya lebih berkualitas aja pendidikannya!" ucap kembali Vaula. "Apalagi aku pernah dengar, dia pengen sekolah bola! ya udah kita ke luar Negeri kan aja!"
"Kalau aku sih tergantung maunya dia gimana dan aku tidak akan mengatur ataupun memaksa kalau soal sekolahnya mau di mana? kecuali kalau dia mau nyantri ... aku yang akan tentukan!" jelas Alfandi tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
Dengan ujung matanya pun Alfandi dapat melihat, kalau posisi duduknya Vaula sedikit menggoda dengan mengangkat sebelah pahanya. Menjadikan kedua paha mulusnya terekspos dengan sangat sempurna.
"Aku maunya Fikri menurut apa yang aku mau, karena akan sesuai dengan keinginannya juga! sudah jelas Firza nggak mau aku atur, keras kepala dan mengikuti kehendaknya sendiri. Tidak bisa aku dekati--"
"Tentu saja, karena kamu kurang pendekatan dengan mereka!" potongnya Alfandi yang berkata sesuai fakta.
"Gimana aku mau mendekati? toh mereka nggak mau aku dekati, yang ada mereka malah menjauh." Vaula menimpali perkataan dari Alfandi.
"Haaaa ... benar, aku mengakui itu. makanya aku menyesal dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu." Vaula menatap ke arah Alfandi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sudahlah, nggak usah bahas itu lagi. Oke sudah malam, sebaiknya kau kembali ke kamar mu! nggak enak sekali bila dilihat orang! nanti akan menimbulkan fitnah." Alfandi berdiri.
Vaula pun berdiri dan mendekat. "Fan, sekali lagi ... aku meminta maaf yang sebanyak-banyaknya sama kamu, selama ini aku bukanlah istri yang baik untuk mu, aku menyesal! sangat menyesal."
"Semua manusia itu tidak ada yang sempurna. Begitupun aku, yang tidak sempurna sebagai suami. Dan ... sudah lah, aku tidak ingin bahas lagi soal itu. Silakan keluar." Malik menunjuk pintu yang masih terbuka.
Tangan Vaula menyentuh tangan Al. "Oke, aku keluar." lalu vaula mengayunkan langkahnya melewati Al.
Namun tiba-tiba tubuhnya melemas dan terjatuh menimpa tubuhnya Alfandi, jelas Alfandi dengan cepat kilat merangkul pinggangnya Vaula agar tidak terjatuh. Sehingga tubuh keduanya tampak berpelukan, tangan Paula pun langsung merangkul pundaknya Alfandi.
"Aduh!" gumamnya Vaula yang barusan pura-pura oleng tersebut.
Pandangan mata mereka pun bertemu, dan Vaula malah mengeratkan rangkulan tangan di pundaknya Alfandi. Tubuh mereka pun begitu rapat, wajahnya pun semakin mendekat.
Dada Alfandi berdebar-debar menatap sendu pada Vaula yang tampak menggoda merekahkan bibirnya yang berwarna merah merona seakan-akan menunggu di kecup oleh lawan jenisnya.
Jantung kaulah berikut dengan sangat kencang melebihi dari detak normal. Dari sekian lama kini bersentuhan lagi dengan pria yang pernah lama mendampingi hidupnya.
"Setelah sekian lama aku merasakan kembali sentuhanmu yang hangat, yang perhatian dan melindungi. Aku menyesal telah menyia-nyiakan mu, Fan!" ucap Vaula lirih sambil mengatakan manik matanya menatap mesra pada Alfandi.
Alfandi tidak merespon dan hanya diam dan menatap wanita yang menjadi ibu dari anak-anak nya dan pernah sangat dia cintai dengan sepenuh jiwa.
"Fan?" terdengar suara Vaula bergetar dan tatapannya semakin lekat dan berkabut hasrat yang lama hilang.
Karena tidak ada pergerakan dari Alfandi. Vaula semakin mengeratkan rangkulan tangan di pundak Alfandi dan menjinjit mendekatkan bibirnya ke bagian wajah Alfandi.
Bugh.
Sebelum bibir Vaula mendarat di tempat tujuan. Alfandi mendorong bahunya Vaula. Sehingga hampir saja terjerembab ke belakang. "Apa-apaan kamu? jangan macam-macam kita itu bukan siapa-siapa."
"Kamu jangan munafik, Fan. kamu di sini kesepian bukan tanpa istrimu yang punya anak kecil itu. Aku tahu jika kamu sedang membutuhkan kehangatan dan belayan seorang wanita." Pekiknya Vaula sambil menegakkan posisi berdirinya.
"Kau itu sok tahu ya?" mata Alfandi melotot dengan sangat sempurna ke arah Vaula seakan-akan ingin menerkam.
"Bukannya sok tahu tapi memang bahasa tubuh mu menunjukkan, kalau sedang kesepian." Teriak ya Vaula sembari membusungkan dada nya ke depan.
"Aku pinta, kamu keluar dari sini," bentak Alfandi sembari menarik tangan Vaula yang dia seret keluar kamarnya.
"Dasar kau munafik, pura-pura dingin dan gak suka, padahal kau itu sangat nginginkan sentuhan wanita bukan?" Vaula kekeh dan berusaha memeluk Alfandi.
Alfandi mendorong dan menjauhkan diri dari wanita yang bikin pusing kepala tersebut.
Brugh.
Pintu kamar Alfandi di tutup setengah di banting dan kunci dari dalam.
"Sial. Ngapain sih dia ke sini segala? mengganggu ku saja. berniat menggoda lagi." Decak kesal Alfandi sambil mengacak rambutnya.
Alfandi tampak marah, wajahnya merah dan hatinya teramat dongkol di buatnya. Dia ingin sekali meluapkan kemarahannya namun pada siapa dan bagaimana caranya. Bisa-bisanya dia bertemu dengan Vaula dan yang parahnya adalah mencoba menggodanya ....
.
Jangan lupa meninggalkan jejak ya. Biar aku tambah semangat makasih.