Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Fotografer



Suatu sore. Firza mendatangi tempat yang berdekatan dengan studio tempat mamanya pemotretan, dan mencari tahu tentang pria itu, dan Firza mendapat info kalau pria itu adalah fotografer mamanya.


Karena penasaran, Firza pun mencari ide gimana caranya agar bisa masuk ke studio tersebut. Dengan mengenakan hoodie hitam yang menutupi kepalnya agar tidak mudah dikenali orang, Firza menyelinap ke gedung tersebut.


Dai berharap bisa menemukan mamanya di sana. Dan setidaknya bisa melihat dari jauh kalau apa saja yang dilakukan oleh sang mama dengan pria tersebut.


Bila ada yang bertanya, Firza akan menjawab dengan ringannya. Ingin mencari fotografer untuk dimintai jasanya di acara sekolah, atau acara kenaikan kelas nanti. Begitu dalam pikirannya.


Di sana, Firza banyak ketemu orang yang jelas tidak mengenal dia, begitupun dia tidak mengenal mereka, yang jadi tujuannya iyalah studio di mana mamanya kemungkinan berada.


Dan pada akhirnya, Kedua netra nya menemukan mamanya sedang membuat sesi foto, fotografer nya memang yang dia lihat pada waktu itu. Namun saat ini ada beberapa kru yang berada di sana, mereka yang menemani dan membantu keperluan pemotretan sang mama.


Namun tetap ada kejanggalan di mata Firza, walaupun terlihat biasa saja. Tetapi sangat tampak bahasa tubuh dari sang mama juga fotografer tersebut ada keanehan.


Virza berusaha bersembunyi agar tidak kelihatan oleh sang mama, sorot kedua matanya begitu tajam melihat ke arah Vaula yang sedang membuat berapa pose. Dan alangkah terkejutnya Virza, ketika yang lain lengah! mama dan pria itu berciuman pas ketika orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Sungguh bikin hati Firza bertanya-tanya? apa hubungan pria itu dengan mamanya? kalau hanya hubungan pekerjaan saja, kenapa sampai segitunya? dan itu terjadi ketika orang-orang lengah saja, ketika orang-orang sibuk ngurusin keperluan mamanya, Vaula dan Yudi bersikap biasa saja.


Pikiran Firza mulai travelling, jauh menerawang dan membayangkan yang aneh-aneh antara mama dan pria tersebut, ketika melihat pemotretan itu akan selesai dan mereka bubar. Firza pun segera mundur dan memutuskan untuk pulang segera, karena dia nggak ingin pulang telat lagi! bisa-bisa kena semprot lagi sama papanya.


Firza setengah berlari mencari taksi, dan kebetulan cuaca pun tampak mendung bahkan mulai gerimis.


Salang 30 menit kemudian, taksi yang di tumpangi oleh Firza tiba di depan gerbang rumahnya dan setelah membayar ongkos transpor. Firza langsung masuk melewati pintu gerbang yang sudah dibukakan oleh pak scurity.


"Bi, Papa sudah pulang belum?" tanya Firza pada bibi dan matanya menangkap Fikri yang sedang bermain di ruang tengah.


"Belum, Den. Tuan belum pulang," jawabnya bibi sembari memberikan handuk pada Firza untuk mengelap wajahnya.


Fikri menoleh pada sang kakak. "Dari mana! kok baru pulang? bentar lagi magrib."


"Main tempat teman," jawabnya Firza singkat sambil berjalan cepat untuk menuju kamarnya.


Fikri hanya melihat punggung sang kakak tanpa bicara kembali, lantas dia membereskan mainannya sebagianm Karena dia mau belajar salat magrib dan akan mengajak sang kakak untuk melaksanakannya bersama.


"Kak Firza? kita salat Maghrib bareng yuk!" pekik Fikri sambil mengetuk pintu kamar Firza. Namun tak ada sahutan dari dalam, biarpun beberapa waktu Fikri menunggu. Tetap saja tidak ada respon dari dalam.


"Huuh." Fikri menghela nafas lesu, "Masa tidur sih? jam segini?"


Kemudian dia pergi kembali dan memasuki kamarnya. Langsung mendapat ajakan dari Pak sopir agar Fikri belajar salat bersamanya saja, dan Fikri pun langsung menyambut baik.


Beberapa hari ini Alfandi teramat sibuk, antara kantor di lapangan dan kebetulan dia sedang mendapatkan proyek yang besar sehingga dia tidak punya banyak waktu untuk pulang ke rumah Sukma, sebab pulang ke mension juga. Alfandi lebih memilih sibuk di ruang kerjanya.


Saat ini Alfandi baru saja tiba di rumah tersebut, langsung di sambut mbut oleh Fikri.


"Ye ... Papa pulang? Pah, tadi aku salat sama pak supir dan kak Firza gak mau aku ajak!" celoteh Fikri pada sang ayah yang baru saja menutup pintu mobil dengan membawa tas dan golongan kertas di tangan.


""Ooh ya? pinter dong anak qak Papa ya? sudah makan belum?" sembari melirik ke arah jam yang melingkar di tangan kanannya tersebut.


"Sudah, Pah. Aku dan kak Firza sudah makan tadi," sahutnya anak itu sambil minta tas untuk dia dibawakan.


"Apa Papa sudah makan juga?" tanya balik anak itu sambil mendongak dan berjalan di depan sang ayah.


"Ada di kamarnya, sedang main games. Kayanya, Pah," sahutnya Firza.


"Oo! tolong tas dan kertas ini simpan di ruang kerja Papa ya? Papa mau menemui kak Virza di kamarnya sebentar," Alfandi memberikan kertas yang digolong panjang kepada Fikri agar dia simpan di ruang kerjanya.


"Oke, Papa!" anak itu lanjut berlari membawa peralatan kerja sang ayah.


Semenatar Alfandi membelokkan langkahnya untuk menuju ke kamar Virza.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Alfandi mengetuk daun pintu kamar putra sulungnya, sembari memanggil namanya Firza. "Firza apakah kau sudah tidur?"


Ketika jari Alfandi mau mengetuk kembali, pintu tersebut terbuka. Dan muncullah Virza dari dalam sambil memegang gadgetnya, menatap ke arah sang ayah sembari berkata. "ada apa, Pah?"


Alfandi menatap intens ke arah Virza. "Nggak! gak ada apa-apa! cuma ingin melihat kamu saja, untuk memastikan saja kau baik-baik saja," Alfandi sempat-sempatnya mengecak rambut Firza. "Baiklah lanjutkan kembali main nyaz namun jangan terlalu malam dan cepat tidur ya?agar besok subuh tidak kesiangan kita salat berjamaah bareng."


"Iya Pah!" jawabnya singkat lalu masuk kembali dan pintu kamarnya di tutup.


Alfandi langsung masuk ke dalam kamarnya yang masih tampak sepi, dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya di bawah kucuran air hangat yang akan menyegarkan dan membuat press kotaknya.


Ketika sedang membersihkan dirinya, dia sempat-sempatnya melihat junior miliknya, lantas bibirnya tersenyum. Mendadak ingat pada istri mudanya yang sudah berapa hari ini tidak didatangi, hanya mulai telepon saja mereka berkomunikasi.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian santai, Alfandi gegas mendatangi ruangan kerjanya karena masih banyak kerjaan yang belum rampung.


Namun sebelum memasuki ruang kerjanya, Alfandi berdiri di ujung tangga dan memanggil salah satu asistennya agar membuatkan kopi pahit untuknya.


"Tolong buatkan saya secangkir kopi pahit, dan antar ke ruangan kerja saya?" pinta Alfandi sambil ngeloryor pergi.


Asisten tersebut hanya mengangguk lantas membalikan tubuhnya, pergi ke dapur untuk membuatkan kopi sang majikan.


Sedang duduk di depan layar laptopnya dan sekali menyesap kopi pahit yang sudah datang sedari tadi. Sesekali tangannya memegang alat tulis dan menggambar sebuah bangunan yang tampak sangat cantik.


"Pah, kok belum tidur jam segini ?masih sibuk ya?" tiba-tiba suara itu mewarnai keheningan di ruangan tersebut.


Sontak Alfandi melihat ke arah sumber suara. Yaitu Vaula yang sudah mengenakan pakaian malamnya. "Kapan kau pulang?" tanya Alfandi dengan nada datar.


"Sekitar 30 menit yang lalu," jawabnya sambil berjalan dengan lemah gemulai yang mendekati Alfandi.


Alfandi melihat ke arahnya Vaula dengan tatapan geli dan langsung mengingat pada sang istri muda. Vaula yang di depan mata! Sukma yang menari-nari di ruang mata ....


.


.


...Bersambung!...