
"Apa bisa di mulai hem?" suara Alfandi di samping telinganya Sukma sambil memainkan matanya.
Sukma mengerutkan kening nya. "Apaan?"
"Kok bertanya sih?" Alfandi merubah posisinya menjadi berdiri di hadapan sang istri yang masih terkadang tampak malu-malu.
"Iya, apaan? mau istirahat dulu, boleh." Kata Sukma Sembari melihat ke arah tempat tidur yang langsung membuat manik matanya terbelalak Ngan sangat lebar dan melongo.
Dimana tempat tidur yang putih bersih, bertabur putik bunga mawar merah dan putih. Sepasang angsa yang terbuat dari handuk putih saling berhadapan.
"Masya Allah ... cantiknya ..." gumamnya Sukma sambil berjalan mendekati ke tempat tidur yang berhias bunga dan angsa putih tersebut.
"Kamu suka sayang?" lagi-lagi Alfandi memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya.
"Suka." Sukma mengangguk pelan dengan senyuman yang tak pernah pudar.
"Ini kan bulan madu kita sayang! jadi kita harus menikmatinya dengan baik." Bisik Alfandi dengan nafas yang mulai memburu. Hidungnya mendengus mencium aroma tubuh Sukma yang merasa serba salah dan deg-degan.
Alfandi menggenggam kedua tangan Sukma dan lalu diciumnya bergantian. "Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu di sini tanpa ada yang mengganggu atau aktifitas yang signifikan. Hanya ingin benar-benar menikmati berdua!"
Sukma hanya menunjukan senyum manisnya saja pada Alfandi yang mendekatkan wajahnya ke wajah Sukma. Dan Sukma memejamkan kedua netra nya ketika nafas Alfandi mulai menyapu kulit.
Bibir Alfandi tertarik ke samping membentuk senyuman melihat Sukma terpejam. Dan ketika sekitar lima centi meter lagi, tiba-tiba.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Pah, Mom? buka dulu pintunya?" suara Fikri membuyarkan rencana yang berada di dalam kamar.
Wajah Alfandi mundur dan berdecak kesal.
"Cuma kita berdua kan?" goda Sukma sambil tersenyum lalu melepas tangan dari genggaman nya Alfandi, berjalan mendekati pintu.
"Iya sayang ... tunggu?" pekik Sukma lalu menarik handle pintu.
Blak ....
Pintu terbuka dan Sukma mendapati Fikri dan sang kakak berdiri. "Ada apa, kalian sudah mandi ya?"
"Mommy. Aku minta uang? buat jajan! mau jalan-jalan." Fikri menadahkan tangan nya sambi celingukan ke dalam kamar.
"Mau jalan berdua atau--"
"Sama kak Jihan dan kak Wawan juga pak supir. Mereka pegang uang. Aku sama kak Firza nggak." Rajuk Fikri sambil memanyunkan mulutnya.
"Ooh, tapi jangan jauh-jauh ya? dan takut ke sasar! hah uang? Mommy ... Sukma melihat ke arah Alfandi yang kini duduk di tepi tempat tidur.
Sukma mendekati Alfandi. "Maaf, anak-anak minta uang dan aku tidak ada uang kess! apa ada uang kes?"
"Ooh, ada nih!" Alfandi memberikan dompet pada Sukma.
Sukma melongo. Dia minta uang dan bukan meminta dompet.
"Ambillah," Alfandi menatap sang istri yang tampak bengong itu.
Pada akhirnya, Sukma mengambil dan membukanya. Mengambil beberapa lembar uang untuk Fikri dan Firza.
Tubuh Sukma berbalik. Berjalan ke dekat kedua putra sambungnya itu.
Setelah mendapatkan uang, Firza dan Fikri pun berlalu dari kamar tersebut. Sukma mengembalikan dompet pada sang empu dan berniat untuk membersihkan diri.
Tetapi tangannya Alfandi menangkap tangan Sukma, sehingga dia berhenti dan berbalik kepada Alfandi yang menarik dirinya.
"Jangan mandi dulu sayang, sebaiknya kita bermain dulu! setelah itu barulah kita mandi bersama." Ajak Alfandi sambil memainkan mata genitnya.
"Main apa?" tanya Sukma pura-pura tidak mengerti.
"Hem ... kita belah duren dulu sayang," Suara Alfandi semakin berbisik.
"Hah? belah duren! mana durennya? lagian aku kurang suka sama durian. Baunya buat aku eneg." Sukma celingukan mencari yang katanya Alfandi belah durian, berarti ada duriannya.
"Ya ampun sayang ... masa gak ngerti sih?" tangan Alfandi menepuk jidatnya.
"Apaan sih? aku kan gak ngerti." Sukma tetap saja mencari keberadaan yang mananya durian di seluruh ruang kamar tersebut.
"Ahk, apakah harus ku contoh kan? agar kau mengerti!" Alfandi mendorong bahu Sukma sehingga terjerembab ke atas tempat tidur yang bertabur bunga mawar tersebut.
Sukma merasakan jantungnya berdegup teramat kencang ketika dirinya dibuat terbaring di atas taburan bunga yang tercium wanginya menyumbat lobang hidung.
Alfandi membuka kemejanya sebelum naik dan berada di atas tubuh sang istri. " Mengerti kan sekarang hem? maksud ku apa?"
Sukma hanya bengong melihat wajah sang suami begitu dekat. Dan menatap intens ke arah dirinya.
"Apakah selama liburan ini aku harus melayaninya terus ya? mentang-mentang jarang ketemu!" batin sembari menggaruk keningnya.
"Mikirin apa hem? jangan bilang lagi datang bulan lagi, sebab baru saja selesai." Kata Alfandi sembari menatap dengan intens ke arah wajah sang istri yang begitu dekat.
"Siapa juga yang mau bilang begitu?" Sukma berusaha bangun namun tidak bisa sebab di tindih oleh Alfandi yang tidak membiarkannya beranjak.
"Ya, sudah. Kalau begitu! saya akan memintanya dari mu!" sambungnya Alfandi sambil melepaskan tangannya untuk berjalan-jalan.
Tatapnya Alfandi kian intens kepada Sukma yang sedang mencari cara supaya keluar dari kungkungan suaminya tersebut.
Dalan hitungan detik Alfandi sudah dapatkan yang dia inginkan untuk menyentuh bibir sang istri yang memejamkan kedua manik matanya.
Di saat Alfandi melepaskan karena memberi jeda pada Sukma yang merasa pengap kehabisan oksigen.
Sukma merasa ada angin segar dan memberinya ide. "Aku lupa kalau pintu tidak di kunci!" Sukma menunjuk ke arah pintu.
Alfandi pun menoleh dan melihat ke arah pintu yang tunjuk. Nah ... disaat Alfandi lengah, Sukma langsung melonjak naik dan berlari menuju kamar mandi.
"Aku bersih-bersih dulu ya? sebentar?" pekik Sukma dari balik kamar mandi.
Alfandi tersenyum kesal dan ingin mengejarnya, tapi ingat kalau ponselnya sedari tadi bergetar.
Ketika di cek, benar saja banyak pesan yang di antaranya dari Vaula yang menanyakan keberadaan kedua putranya.
"Huuh ... baru ingat anak mu! kemana saja selama ini?" gumamnya Alfandi sembari menyimpan dawai tersebut di atas nakas.
Kemudian Alfandi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap sepasang angsa putih yang cantik dan berhias pita.
Di saat ini mereka sedang berada di pesisir pantai dan menikmati sunset yang merah, matahari sebentar lagi akan tenggelam. bergantian malam yang berhias bulan serta bintang.
Fikri dan Marwan, Jihan dan Firza bermain di pantai tersebut saling siram dengan air dan pasir. Tampak lah mereka berempat happy dengan dengan liburan di hari pertamanya ini.
Alfandi dan Sukma hanya memperhatikan mereka saja dari kejauhan. Mereka berdua begitu nempel dan seakan tidak mau jauh-jauh. Alfandi terus merangkul pinggangnya Sukma. Sesekali mengecup pipi sang istri yang tengah menikmati senja ini.
Pandangannya melihat ke arah air laut yang terdapat pantulan cahaya dari matahari yang mau tenggelam tersebut. Tampak begitu indah warnanya.
Tiba-tiba ....
.
.
...Bersambung!...