Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Kini Alfandi dan Sukma sedang berada di tempat peraduannya.


"Aku bahagia bila dapat membantu mereka! seperti dulu ketika aku susah! Mimy yang bantu aku sedikit meringankan bebanku!" gumamnya Sukma dalam pelukan Alfandi.


"Iya, selama kita masih bisa membantu orang, ya bantulah jangan banyak berpikir." Balasnya Alfandi sambil mencium rambutnya Sukma yang memunggungi nya.


Sukma mengeratkan pelukan tangan Alfandi di perutnya seraya berkata. "Makasih ya. Dan gimana, apa sudah menemukan pesantren atau sekolah yang cocok buat Fikri?"


"Belum, masih aku pikirkan. Ach." Alfandi merubah posisi tubuhnya menjadi berhadapan dengan Sukma.


Alfandi menggerakan jemarinya mengangkat dagu Sukma, lalu ******* bibirnya yang ranum menggoda. "Mmmmhc ..."


Sukma membukanya sedikit dan membiarkan Alfandi untuk mengeksplor ke dalamnya. Membuat lawannya merasa senang karena sudah di berikan jalan.


Tangannya mulai traveling di tempat-tempat nan indah yang memanjakan mata. Mencari benda keramat yang menyenangkan di otak dan jiwa nya.


Kedua tangan Sukma melingkar di pundaknya Alfandi yang turun mengeksplor tempat-tempat lain menjelajah keindahannya. Yang mendadak darah yang menjalar dan terasa membakar ke sekujur tubuh.


Malam yang semakin larut menambah syahdunya suasana untuk melakukan traveling yang sesungguhnya.


Alfandi menggoyang tubuh Sukma dengan kekuatan skala Richter. Menyatukan keduanya dalam penuh kasih dan sayang.


Ungkapan kalau mereka mendua saling membutuhkan satu sama lain. Alfandi melenguh panjang setelah mendapatkan puncaknya! yang nikmatnya tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


"Cuph, terima kasih sayang?" suara Alfandi sangat parau dengan nafas yang bergemuruh, terdengar berat.


Sukma mengangguk pelan. Sembari mengontrol deru nafasnya. Mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya.


...----------------...


Firza tengah mengantar Jihan ke mall. Setelah dia selesai kerja.


"Za, gak kenapa-napa kau mengantar ku? nanti Puspa marah gimana?" tanya Jihan dengan nada cemas dan gak enak pada Puspa bila tahu kekasihnya mengantar dia ke mall.


"Emangnya kenapa kalau dia tahu?" Firza malah bertanya sembari berjalan di area mall.


"Lho kok, kamu malah bertanya sih! pasti nya dia marah dong kalau kamu jalan sama aku," Jihan menjadi heran Firza malah bertanya lagi.


"Ya biasa aja, ngapain ambil pusing? mau marah silakan ... nggak syukur." Firza malah sok tidak perduli.


"Ck, kamu ini gimana sih jadi cowok tuh tanggung jawab dong sama cewek! heran." Jihan berdecak kesal.


"Terus kamu sendiri maunya apa sih? marah-marah nggak jelas, dianya nggak marah, kamu yang marah apa sih maunya? sudah di antar juga!" Firza menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Jihan dengan tampak kesal.


Kedah netra mata Jihan mendelik dan pergi begitu saja sambil menjinjing paper bag meninggalkan Firza dengan langkahnya yang lebih dipercepat.


"Eh, marah lagi. Apa sih maunya cewek! nggak ngerti gue!" Firza tak ayal mengekor langkahnya Jihan.


Memang setelah kejadian-kejadian yang sudah menimpa pada Jihan, Firza menjadi protektif untuk melindungi Jihan dari gangguan orang-orang yang iseng bahkan menggodanya. Jihan dilarang pergi sendiri ataupun dengan orang yang tidak dikenal.


"Aku nggak habis pikir deh, makin lama-lama kamu itu semakin protektif! melarang ku begini. Melarang ku begitu, jadi takut ini dan takut itu! sedangkan kamu sendiri tidak dipikirin, gimana dengan cewek kamu. Gimana dengan kerjaan kamu! kuliah kamu!" ucapnya si Jihan sambil berjalan dan sekilas melirik ke arah Firza.


"Aku nggak ada masalah dan nggak pernah mengganggu dengan aktivitas ku, ketika aku belajar. Ketika aku kerja, nggak ada yang terganggu! karena aku tidak perduli dengan apa yang kamu lakukan di saat aku sibuk. Aku hanya melakukan kewajiban ku di saat aku senggang aja!" akunya Firza.


"Terus cewek kamu gimana?"


"Ha ... bosan masa sih? apa alasan saja? tapi memang aku jarang dia dateng!" gumamnya Jihan dalam hati.


"Kamu bisa aja nggak mau aku buntutin, aku jagain! tapi mommy menitipkan kamu sama aku untuk selalu dijaga karena kamu itu perempuan yang tidak bisa apa-apa, tidak bisa menjaga diri. Buktinya?" Firza menambahkan omongannya.


Jihan menolehkan kepalanya. Ia berpikir kalau ia memang lemah dan dan perlu perlindungan. Tapi kan bukan maunya dia menjadi wanita lemah.


"Ooh, ini ... yang menjadi perhatian kamu sekarang, saudara perempuan mu yang membuat kamu tidak ada waktu buat aku?" suara itu di tujukan pada Firza.


Suara itu membuat Jihan dan Firza merasa kaget bukan main, ternyata yang di omongin muncul juga di hadapan mereka berdua.


"Puspa!" gumamnya Firza dengan tatapan yang tidak menyangka kalau Puspa akan muncul di hadapannya.


"Puspa ..." Jihan menatap intens ke arah gadis cantik bergaun merah ati menenteng paper bag.


"Hebat ... sejak kapan dia menjadi bodyguard mu ha?" kini tatapan Puspa di arahkan pada Jihan dan sesekali pada orang-orang yang berlalu lalang.


"Di-dia ..." Jihan tampak gugup untuk menjawab sambil melirik ke arah Firza yang tampak santai.


"Sejak kapan! bibir Puspa bergetar. Tatapannya pun berembun, dia merasa kesal dan kecewa pada Firza yang sering menghindar dan ternyata jalan dengan jihan yang setau dia saudaraan jauh.


"Mommy menitipkan dia pada ku biar ku jaga, jadi sebisa mungkin ku temani dia." Jawabnya Firza dengan santainya.


"Sehingga harus 24 jam, gitu?" Puspa menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.


"Siapa bilang 24 jam? tidak, waktunya ku kuliah dan kerja aku kerjakan tugasku dengan baik. Hanya bila ada kesempatan saja aku temani dia itupun bila keluar." Jelas Firza kembali.


"Sehingga membuat aku tidak bisa menghabiska waktu dengan mu, dan kau lebih memilih temani dia?" ucap Puspa dengan jari yang menunduk ke arah Jihan.


"Kita setiap hari juga bertemu di kampus, biasanya juga kamu suka temani aku sambil berjualan--"


"Iya menjadi patung di tempat kerja mu, membosankan!" Puspa dengan nada tinggi.


"Kalau bosan, ya sudah pergi saja! simpel kan? tidak perlu menyiksa diri mu untuk itu!" Firza tidak kalah tinggi nya.


"Ooh jadi kamu mau aku pergi gitu, ha? oke. Aku pergi dalam artian kita putus.--"


"Terserah, yang menginginkan hubungan ini juga siapa? bukan aku--"


"Oo, aku tahu sekarang. Ternyata kamu memang gak cinta sama aku, kamu pacaran sama aku hanya sebagai kedok saja biar tidak ada yang bilang kamu tampan tapi gak laku--"


"Gue tidak perduli sebenarnya dengan itu, kau saja kenapa mau dan mengejar-ngejar ku? tidak ada pria lain kah?" Firza dengan pedasnya.


"Gue semakin yakin, pantas Lo dingin sama gue karena Lo gak cinta sama gue. Gue nyesel sudah pacaran sama orang yang gak cinta sama gue yang ternyata gue hanya di jadikan sebagai pajangan dan status saja." Gadis cantik berambut pirang itu mengusap air bening dari pipi nya.


Jihan yang menyaksikan Firza dan Puspa saling timpal perang dengan kata-kata membuat Jihan akhirnya mencoba melerai.


"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar di sini, malu. Aku yang salah, aku gadis yang lemah dan tidak bisa menjaga diri sehingga aku hanya merepotkan orang saja kan!" Jihan menatap Firza dan Puspa bergantian.


"Kalian tidak perlu bertengkar, karena semuanya salahku! dan kamu Puspa nggak usah cemburu padaku, karena aku saudara buat Firza nggak lebih." Jihan pun mengundur diri lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Sementara Firza dan Puspa sejenak terdiam sambil memandangi punggung Jihan yang meninggalkan tempat tersebut dengan menjinjing paper bag ....


Bersambung.