Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Belanja



"Iya, Kakak juga dengar," sahut Sukma sambil memeluk bahu keduanya.


"Dan sebelumnya, aku ucapkan terima kasih banyak? kepada bapak yang sudah berbuat baik, ditambah lagi kebaikannya yang berniat menyekolahkan adik-adik saya," suara Sukma lirih yang ditujukan pada Alfandi.


"Sama-sama!" Alfandi mengangguk.


"Ya ampun ... anda baik sekali. Sesuai dengan wajahnya yang tampan."


"Besok saya akan masukan kalian berdua ke sekolah yang ternama, dan kalian besok pagi-pagi kalian harus siap-siap saja ya? akan saya jemput setelah mengantar anak-anak saya sekolah." Tatapan Alfandi ditujukan pada Jihan dan Marwan.


"Maaf, apakah benar Anda akan memasukkan adik-adik saya sekolah tanya Sukma dia masih sedikit ragu.


Alfandi mengangguk. "Tentu, saya merasa berdosa sekali bila membiarkan kalian terputus sekolah atau hidup susah."


"Makasih, Pak? makasih banyak." Sukma menunjukan senyumnya yang manis.


"Hore ... aku mau sekolah," Marwan kegirangan.


Gimana kalau sekarang kita keluar belanja peralatan sekolah Alfandi mengedarkan pandangannya pada Sukma dan adik-adiknya.


Iya mau-mau!" Marwan langsung menyambut dengan sangat antusias.


"Boleh, kebetulan sekali keperluan sekolah kami sudah tidak ada," kata Jihan menimpali.


"Iya, makanya sekarang kita belanja semua keperluan kalian berdua!" sambungnya Alfandi sambil beranjak dari duduknya yang bersila di lantai sama yang lain.


Diikuti oleh Jihan dan Marwan, keduanya sangat bersemangat untuk membeli keperluan sekolah besok.


Sementara sukma hanya bengong, namun Mimy segera membuyarkan lamunannya.


"Hei, pergi belanja sana?" Mimy menepuk bahu Sukma yang melamun.


"Ha? belanja apa? Sukma malah bertanya tampak kebingungan.


"Belanja keperluan sekolah adik-adik mu dong. Mimi menunjuk pada adik-adik Sukma yang sudah berada di teras sama Affandi yang berjalan mendekati mobilnya.


Ketika Alfandi menoleh ke belakang melihat Sukma dan Mimy masih berada di dalam, lantas dia menyuruh Marwan untuk menjemput Sukma dan Mimy, Marwan pun langsung kembali masuk ke dalam kontrakannya tersebut.


"Kakak? kata si Om ayo kita belanja sekarang?" ajak Marwan.


"Tapi Kakak nggak ada duit, belanja pakai apa?" jawabnya Sukma dengan masih duduk simpuh di lantai.


Marwan terdiam sejenak, kemudian dia melanjutkan perkataannya. "Tapi, kan Om itu yang mengajak, Kak. berarti Om itu yang membayarkan kita, ayolah Kak jangan sia-siakan kesempatan ini, mau kapan lagi? akan dapat duit dari mana Kak?jangankan untuk sekolah kita, Kak. Buat makan saja dan uang kontrakan Kakak itu kesusahan kalau nggak ada Om itu," ujar Marwan menatap tajam pada sang kakak.


Sukma dan Mimy saling melempar pandangan, memang benar kata-kata Marwan barusan. Kalau nggak ada Alfandi, Sukma ditolong siapa lagi dan mungkin hanya akan menyusahkan Mimy, itu pun nggak akan menjadikan mereka masuk sekolah.


Sukma menghela nafas panjang. Pada akhirnya dia berdiri juga mengikuti Marwan. "Ayo My kau juga ikut aku?"


"Tapi, gue kan nggak diajak. Malu," jawabnya Mimy.


"Kata si om itu, Kak Mimy juga ikut." Tambahnya Marwan.


"Beneran, Kak Mimy diajak?" tanya Mimy pada Marwan ingin menyakinkan hati.


"Iya, barusan si om itu bilang begitu, ayo cepetan? sebelum keburu malam." Marwan langsung berlari ke arah mobil Alfandi di mana Jihan pun sudah berada di dalamnya.


"Pak, kami nggak mau diculik, kan?" celetuk Mimy. "Jangan-jangan kami mau diculik ha ha ha ...."


"Karena di belakang penuh oleh Mimy, Jihan dan Marwan. Sukma pun duduk di depan bersama Alfandi yang menyetir.


Mobil tersebut melaju dengan cepat, tujuan ke sebuah mall terdekat untuk belanja semua keperluan sekolah.


Heningh!


"Sebenarnya, saya nggak punya uang untuk belanja keperluan sekolah adik-adik." Sukma membuka pembicaraan di tengah keheningan yang terdengar hanya suara mesin yang super halus.


Alfandi melirik sekilas ke arah Sukma yang berada di sampingnya, bibir Alfandi sedikit tertarik melengkungkan sebuah senyuman. "Kau pikir saya mengajak mereka, berbelanja dan akan meminta uang darimu? tidak, tentu saya yang akan membayar semuanya! kau tenang saja."


"Saya janji, suatu saat nanti saya akan mengembalikan uang yang telah dikeluarkan buat kami, khususnya buat adik-adik saya," kata Sukma kembali.


Lagi-lagi Alfandi senyum simpul. "Saya ikhlas kok untuk menyekolahkan mereka dan kamu nggak pernah khawatir soal itu, semua keperluan, biaya ataupun bekal saya akan tanggung semuanya." Jawabnya Alfandi yang tampak bersungguh-sungguh.


Setibanya di sebuah Mall, mereka pun gegas masuk dan Alfandi membawa mereka ke konter peralatan sekolah dari mulai seragam, sepatu. Tas buku, alat tulis dll nya.


"Kalian pada pilih semua yang kalian butuhkan buat sekolah ya? oke?" kata Alfandi kepada Jihan dan Marwan.


"Baik Om, kan kita emang gak punya semuanya ada juga pakaian sekolah yang kemarin, masih ada nggak sih Kak?" Marwan malah bertanya pada Jihan.


"Ada, kalau seragam sih, masih ada yang kemarin," jawabnya Jihan.


"Nggak, sekarang kalian pilih saja lah semua keperluannya, tidak hanya seragam saja, biar semuanya baru dan ada buat sekali-kali ganti juga." Tambahnya Alfandi.


Sukma pun membantu memilihkan semua keperluan jihan dan Marwan karena dia sendiri yang tahu ukuran mana yang pas buat adik-adiknya itu, khususnya buat seragam dan sepatu.


"Masing-masing ambil seragamnya 2 setel, nanti kan kalau seragam yang lainnya kemungkinan ada di sekolah,.seperti seragam olah raga, sepatu pun sama satu orang dua pasang." Perintah Alfandi dari pojokan sana.


"Banyak sekali Pak? Sudah, satu saja nggak pa-pa, kan masih ada satu seragam yang kemarin buat nanti gantinya," kata Sukma sambil mantap ke arah Alfandi yang sedang sibuk dengan ponselnya itu.


"Nggak pa-pa ambil saja, takutnya hujan atau gimana," sahutnya Alfandi sambil memasukan ponsel ke saku celananya.


"Bener itu, ambil saja. Biar ada ganti," timpal Mimy yang ikut memilihkan tas buat Jihan.


Pada akhirnya Sukma mengambilkan seragam untuk kedua adiknya dua setel buat satu orang, begitupun sepatu dua pasang untuk Jihan dan 2 pasang buat Marwan dengan ukuran yang berbeda agar ke pake lama kalau ukuran agak besar. Menurut Sukma.


Alfandi hanya tersenyum sambil memperhatikan mereka semua, terutama pada Sukma. Entah kenapa ada rasa ketertarikan kepada gadis itu, apalagi dengan sikapnya yang lembut dan keibuan, juga bertanggung jawab pada kedua adiknya itu.


Namun alanglah terkesiapnya mereka, ketika melihat banrol barang-barang tersebut yang terbilang mahal.


"Sebentar ya? kalian tunggu sebentar di sini," kata Sukma pada adik-adiknya dan Mimy untuk menunggu di sana, sementara Sukma sendiri menghampiri Alfandi.


"Pak maaf? apa nggak sebaiknya belanja di toko biasa saja, di sini mahal-mahal banget," ucap Sukma setelah berada dekat dengan Alfandi.


"Emangnya kenapa? kalau di sini?" Alfandi malah balik bertanya.


"Harganya mahal-mahal, biar belanja di toko biasa saja ya? di toko biasa itu harganya akan lebih murah." Sukma tidak mau terlalu membebankan sosok pria ini.


Bibir Alfandi menunjukkan senyumnya yang manis dan memperlihatkan lesung pipinya. "Buat apa sih saya ajak kalian ke sini? kalau saya tak mampu bayar! Sudah ambil aja yang kalian suka."


.


...Bersambung!...