Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Menenangkan



Setelah puas memeluk Sukma , Alfandi menarik tangan Sukma dan dibawanya ke sofa lalu duduk di sana.


Sukma menatap lekat-lekat wajah Alfandi yang tampak kacau dan lusuh itu. "Kau kenapa? kok lusuh begini? capek atau apa?" tanya Sukma dengan tutur lembutnya.


"Nggak pa-pa. Aku biasa saja." Jawabnya Alfandi sambil menarik kepala Sukma diletakkannya di bahu serta mendaratkan kecupan hangat di keningnya.


Setelah beberapa saat, Sukma mendongak dan melihat ke arah wajahnya Alfandi. "Apa kamu mau mandi dulu? biar aku siapkan air nya ya? dan sementara kau mandi, aku akan masak untuk mu. Pasti kau belum makan bukan? buktinya perutmu bersuara Ruuk-ruuk, ruuk. Lapar ya?''


"He he he ... sok tahu!" balasnya Alfandi sambil menunjukkan senyumnya yang sedikit dipaksakan.


"Bukan sok tahu! tapi emang gitu adanya, kan? sekarang kau mandi aku akan siapkan pakaian mu. Terus aku masak, mau makan di mana? mau makan di sana atau aku bawakan ke sini saja?" tanya Sukma dengan nada yang sangat lembut, lalu dia mengusap dadanya alfani dan sedikit membuka kancing kemejanya.


"Ha! sebenarnya aku males mandi, tapi kalau permintaan istriku seperti itu ... boleh lah aku mau mandi," ucapnya Alfandi seraya mengisap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Biar lebih segar! kau terlihat begitu capek dan seperti sedang ada banyak masalah. Jadi ... sekarang mandi dulu! terus aku buatkan makanan ya?" tutur Sukma sambil menatap lekat ke arah Alfandi yang bikin hatinya bergetar bila menatap wajah pria itu.


"Baiklah sayang ... aku akan mandi dulu," balas Alfandi sembari mengangguk.


Kemudian Sukma beranjak dari duduknya, berjalan memasuki ke kamar mandi untuk menyiapkan air di bathub. Tidak lama kemudian Sukma pun kembali dan menyiapkan pakaian buat Alfandi di simpannya di atas tempat tidur.


Walau dengan malas. Setelah Sukma kembali dari kamar mandi, Alfandi pun perlahan beranjak dari duduknya berdiri dan membuka pakaian yang masih melekat di tubuhnya itu.


"Aku turun dulu ya? mau masak! nanti kalau udah matang aku bawa ke sini," lagi-lagi Sukma menatap ke arah sang suami namun dengan sekilas ia mengarahkan pandangannya ke daun pintu.


"Iya sayang, aku tunggu!" lanjut Alfandi masuk ke dalam kamar mandi, sementara Sukma keluar dari kamar tersebut untuk menyiapkan makanan buat sang suami.


Di bawah, tampak sangat sepi sekali. Sepertinya Jihan dan Marwan sedang tidur siang dan Bibi ... terlihat sedang berada di kebun samping rumah. Sukma melanjutkan langkahnya mendekati lemari pendingin. Melihat isinya adalah aja, ada sayuran, daging dan ikan yang sekiranya bisa dimasak dengan durasi lebih cepat.


"Kira-kira masak apa ya? biar lebih cepat ada matangnya! ayam, sayuran. Telur, em ... ya udah! aku bikin oseng aja lah," gumamnya Sukma sembari menyiapkan semuanya bahan-bahan yang diperlukan.


Alfandi yang dengan malas masuk ke dalam kamar mandi, langsung menghampiri bathub lantas berendam di sana! untuk merilekskan semua anggota tubuhnya, dan menyegarkan pikirannya.


"Buat apa aku sakit hati? dengan perbuatan Vaula itu! sementara bagaimanapun aku juga sudah menduakannya, kita berdua sudah sama-sama salah walaupun dengan cara yang berbeda. Mungkin saja dia lebih dulu yang melakukannya, sehingga aku berbuat demikian," gumamnya Alfandi sambil mendongak kan wajahnya ke langit-langit.


"Aku berbuat demikian karena kesalahanmu juga yang sudah tidak pedulikan ku lagi, sebagai suamimu aku merasa di abaikan, ya aku juga salah tidak teliti dan selamanya ini tidak mencurigai mu, aku terlalu percaya kepadamu sebagai istriku! kau sudah menodai perkawinan kita!" Alfandi terus bermonolog sendiri.


Tangan Alfandi mengusap-ngusap tubuhnya. "Aku tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa? jika bukti-bukti bertambah kau selingkuh! sementara dalam kamus hidup ku tidak ada kata perceraian, terus apa artinya semua fakta itu? semoga saja kau segera sadar akan semua kesalahanmu itu! demi rumah tangga kita terutama anak-anak."


"Namun ... apa yang harus aku katakan kepada orang tua kita? dan menceritakan dimana letak kesalahan kita berdua, bagaimana seandainya kau hamil dan jelas-jelas bukan anakku? karena selama ini aku tidak pernah menyentuh mu. Hah ... jadi pusing!" Alfandi menghempaskan tangan ke air.


Setelah sekitar 30 menit kemudian, Alfandi sudah selesai membersihkan diri dan sudah rapi dengan pakaian yang disiapkan oleh sang istri, Sukma.


Sebentar Alfandi berjalan ke arah balkon dan berdiri di sana melihat-lihat ke arah bawah dimana Bibi sedang berada di kebun serta terlihat pemandangan. Kolam renang yang airnya tampak biru dan jernih, di sebelahnya kolam ikan yang tampak juga ikan-ikannya banyak berenang-renang menikmati kehidupannya yang entah sampai kapan itu.


"Makanannya udah siap ..." suara Sukma yang menyeruak masuk ke dalam kamar.


Alfandi menoleh ke arah sumber suara dan segera meninggalkan balkon tersebut.


"Masak apa sayang? baunya wangi sekali, membuat perut ku bertambah lapar nih." Sapa Alfandi sambil berjalan mendekati Sukma.


Sukma yang sudah berada di sofa dan menyimpan nampan yang berisi piring makanan. Untuk makan siang yang sudah terlambat itu, karena jam makan siang sudah menunjukkan pukul 03.00 sore.


"Apapun yang kau masak, aku pasti suka sayang. Asalkan tanganmu sendiri yang memasaknya untuk ku," sahutnya Alfandi sembari melihat ke menu makanan yang berada di meja tersebut.


"Em ... Beneran apapun yang aku masak, kau suka? gimana kalau aku masakan daun pisang Emangnya kamu mau makan?" tanya Sukma sambil mesem-mesem.


"Aku mau memakannya, karena masakan daun pisang itu dalamnya daging. Nasi dan sayuran! nggak mungkin masak daun pisang doang. Nggak ada kerjaan banget, ha ha ha ..." Alfandi tertawa lepas.


Kini rautnya wajah Alfandi sudah kembali seperti biasa, tidak kusut seperti di awal mula.


"Tuh ... kan, kalau kamu tampak segar dan tertawa, membuat terlihat tambah tampan. Kalau tadi ... kok begitu lusuh banget kaya orang sedang banyak masalah saja. Apalagi masalahnya keuangan, he he he ..." ucap Sukma sembari menunjukkan giginya yang putih dan berbaris rapi itu.


"Hohoo ... Baru kali ini dengar istriku bilang aku tampan? emangnya baru nyadar ya? kalau suami mu ini sangatlah tampan." Kata Alfandi sambil menunjukkan ekspresi genit nya.


"Ciellah ... baru di puji kayak gitu saja sudah terbang tinggi." Sambungnya Sukma.


"Emang bener, kan? aku ini tampan dan banyak wanita yang menyukai ku?" akunya Alfandi.


"Mungkin mereka banyak menyukai mu bukan cuma karena wajah tampan yang kau miliki, tapi ... lebih-lebih karena uang mu yang banyak, mungkin juga termasuk aku!"


Sukma menunduk, dia mengakui kalau dia sendiri juga mau menikahi Alfandi karena hartanya. Karena kalau bukan karena itu ... nggak mungkin juga Sukma kini sudah menjadi istrinya Alfandi.


Orang jelas-jelas Alfandi punya istri dan anak, begitu pikirnya Sukma. "Aku juga kalau bukan karena uang mu, belum tentu sekarang ini menjadi istri mu. Apa bedanya aku dengan wanita lain yang mengejar harta.


"Sayang, jangan bicara kayak gitu, aku yakin kau tidak seperti itu. Kita sudah di takdirkan bertemu dan Allah menjodohkan kita dalam ikatan suci, kau mau menikah dengan ku karena balas Budi dan suatu saat nanti kau akan mencintai ku," ungkap Alfandi dengan yakin.


Sukma mengakui kalau perkataan Alfandi adalah benar, dia menikahi Alfandi karena balas Budi dan mencari jalan pintas agar kehidupannya lebih terjamin. Dan ... juga dia ingin menjauhkan Alfandi dari perbuatan yang tidak-tidak, atau sebagai pengobat kebutuhan biologisnya sebagai laki-laki.


"Sudahlah, nggak usah bahas itu lagi," jari Alfandi bergerak mengangkat dagu Sukma agar mendongak menatap ke arah dirinya.


Sementara waktu keduanya saling bertukar pandangan, saling bertatapan dalam-dalam seolah ingin menyelami hatinya masing-masing, kemudian wajah Alfandi mendekati wajah Sukma dan menjangkau bibirnya yang lembut dan menggoda itu.


Akhirnya Alfandi sejenak menikmati makanan pembuka yang lebih menggoda dan mahal, sebelum makan siangnya dimulai.


Bibir Alfandi bergerak lembut, menyapu setiap inci permukaan bibir Sukma yang tampak memejamkan manik matanya dan terlihat ikut menikmati sentuhan dari pria yang menjadi suaminya tersebut.


Setelah beberapa saat kemudian, Sukma memundurkan kepalanya lalu menunduk kembali dengan dalam, melihat ke arah lantai. "Makanlah dulu? karena nanti makanannya keburu dingin," ucap Sukma seraya tetap menunduk.


Alfandi menatap dengan tatapan sedikit kecewa karena masih ingin menikmati bibirnya Sukma yang menjadi cantik dan menimbulkan sensasi yang aneh dan membahagiakan.


Lalu bibir Alfandi menyungging menunjukkan senyuman, senyuman puas karena sudah mendapatkan hidangan pembuka yang begitu nikmat dan terlalu sulit di dapatkan di sembarang tempat. Yang hanya bisa di dapat pada tempat yang tepat.


Kemudian Alfandi pun menyantap makanannya dengan lahap. Dengan sekejap Alfandi melupakan semua masalahnya itu. Berganti dengan hati yang berbunga-bunga! karena berada di sisinya Sukma, dapat melihat senyumnya yang menenangkan. Dan wajahnya yang teduh membuatnya nyaman yang memandang ....


.


.


...Bersambung!...