
"Papa? mommy pingsan. Papa, mommy!" teriak lagi Fikri.
Mendengar suara Fikri yang teriak-teriak. Alfandi yang berada di ruang kerja langsung melompat keluar. "Ada apa, Abang ada apa?"
"I-itu, mama pingsan di teras." Fikri menunjuk ke arah bawah.
Alfandi semakin panik lantas buru-baru dan setengah berlari melewati anak tangga, di susul oleh Fikri dari belakang.
Di teras. Sukma dikerubungi Bu Puji, pak Sardi. Mimy dan Marwan. Bi Lasmi yang tampak panik dan sangat cemas. Firza memegangi kepalanya Sukma dengan tampak khawatir.
"Mom, bangun? Mom." Firza memanggil-manggil Sukma.
"Neng, kenapa Neng?" suara pak Sardi.
"Non, Non kenapa?" Bi Lasmi pun tidak kalah cemas.
"Hik-hik-hik, Mommy ... kenapa?" Fikri menangis, melihat mommy nya.
"Sayang?" Alfandi buru-buru menyelinap di antara mereka dan langsung menggendong tubuh Sukma di bawanya ke dalam.
"Bi, minum? ambilkan air minum! juga minyak angin? buruan?" perintah Alfandi sembari menidurkan Sukma di atas sofa.
"Mommy? Mommy bangun?" Fikri bergumam lirih dengan tatapan yang nanar ke arah Sukma.
"Tenang sayang, mommy cuma pingsan biasa kok!" ucap Bu Puji menenangkan Fikri.
"Mommy, Mommy sadar dong Mommy." Kini Firza yang bergumam memanggil mommy nya.
Alfandi menggosokkan minyak angin pada pelipis dan telapak tangan juga kaki.
Meskipun begitu. Tatapan Alfandi begitu cemas kepada sang istri.
"Bawa saja ke dokter. Pah ... kasian Mommy ..." Fikri menatap sang ayah dan mommy nya bergantian.
"Tenang Abang ... Mommy pasti sadar kok," ucap Alfandi setenang mungkin.
Alhamdulillah ... sesaat kemudian. Sukma tersesat dan langsung diberikan minum.
Semua yang berada di sana mengucap syukur karena Sukma sudah sadar. Kemudian Sukma bangun dan duduk sembari memegangi kepalanya.
Melihat wajah-wajah cemas dari orang-orang yang berada di hadapannya itu membuat Sukma terheran-heran.
"Kalian kenapa? menatap ku seperti itu? aku gak kenapa-napa kan!" suara Sukma pelan.
"Syukurlah kau sudah sadar sayang." Alfandi memeluk Sukma dengan sangat erat dan di kecup pucuk kepalanya berkali-kali.
"Kau sudah, bikin kami semua cemas sayang!" lirihnya Alfandi kembali.
"Ma. Lu kenapa?" tanya Mimy yang baru saja datang dari kerjanya.
Bu Puji menoleh pada keduanya Mimy. "Tadi pingsan."
"Lu pingsan. Ma? kenapa lu pingsan, Ma ..." Mimy mendekat pada Sukma.
"Gue gak tau, My. Lu baru pulang? belum gue. Masih di jalan. Iya lah gue baru pulang, kalau gue tau lu pingsan! gue pasti dah heboh dan gue khawatir." Balas Mimy.
"Mommy?" Fikri mendekat dan memeluk Sukma. "Abang takut mommy kenapa-napa."
"Mommy, gak pa-pa sayang. Mommy baik-baik saja." Timpal ya Sukma sambil membalas pelukan dari Fikri.
Firza membuang mukanya dan mengusap air bening dari sudut matanya.
"Alhamdulillah ... Neng sadar." Kata pak Sardi sambil mengusap wajahnya.
"Besok kita ke dokter ya? atau sekarang kita pergi ke dokter." Ajak Alfandi sambil menyingkirkan anak rambut Sukma dari pipinya.
"Aku, tidak pa-pa, gak perlu deh. Aku lapar. Pengen makan!" tolak Sukma yang merasa lapar juga.
"Yey ... pingsan nya kelaparan nih." bukan kenapa-napa." Celetuk Marwan.
"Huus ... kamu. Gak lihat apa kak Sukma lemah dan dia sedang hamil muda." Bela Jihan sambil menepuk bahunya sang adik.
"Oke. Kita makan. Sudah siap kan Bi?" Alfandi menoleh pada bi Lasmi yang bengong dan ikut panik.
"Eeh, iya. Mau bibi bereskan dulu." Bi Lasmi beranjak dari duduknya.
Di susul oleh Jihan dan Mimy yang sebelum bersih-bersih mau bantu dulu ni Lasmi. Kebetulan perutnya pun dah meruyukan.
...---...
Suatu hari di sebuah studio foto. Yudi menekuk wajahnya dan sedang beradu argumen dengan Vaula gara-gara kehamilan Vaula yang tidak direncanakan itu.
"Seharusnya kau jaga dong. Jangan sampai hamil duluan dan tahu kita belum bisa meresmikan hubungan kita." Sergah Yudi dengan menghentakkan kedua tangan ke meja.
"Kau pikir saya yang merencanakan ini apa? tapi ini buah cinta kita beb. Dan kita harus segera menikah." Akunya Vaula dengan ekspresi wajah yang biasa saja.
"Ha? buah cinta kita! kau itu kemarin masih istri orang. Jadi mungkin itu anak suami mu juga, seharusnya itu ketauan dari kemarin-kemarin. Biar perceraiannya tidak di sah kan--"
"Apa? apa kau bilang?" Vaula berjalan maju ke hadapan Yudi.
"Apa kau tidak mendengar ku? seharusnya kau periksakan kehamilan mu itu dari kemarin-kemarin agar perceraian mu tidak di sah kan!" Suara Yudi dengan nada tinggi.
Yudi kesal. Karena dia tidak menginginkan anak itu di saat ini dari Vaula, dia masih belum ingin terikat dengan pernikahan.
"Kau gila, bilang aku hamil dari Alfandi? kau tau betul kan? kalau aku tidak pernah melakukan nya dengan dia bertahun-tahun kita uang melakukannya." Hardik Vaula dengan tatapan sangat tajam. Dia tidak terima seolah dicurigai oleh sang kekasih seperti itu, yang jelas-jelas dia hanya melakukan hubungan itu dengan dirinya saja.
"Ya siapa tahu ... kau melakukannya dengan pria lain, secara ketika kau punya suami pun kau mau melakukannya dengan ku, apalagi ketika hubungan kita hanya sebatas kekasih--"
Plak!
Plak!
Dua tamparan bersarang di pipi Yudi kanan dan kiri. Sungguh kata-kata itu sangat menyakitkan bagi Vaula, yang hanya mengakui Yudi seorang yang tidur dengan nya.
Dada Vaula terasa sesak mendengar itu, sakit rasanya bagai di tusuk sembilu. Manik matanya berkaca-kaca, tatapannya yang nanar tertuju pada Yudi yang menatap tajam.
Yudi sedikit menunduk. Dangan mata melotot dengan sangat sempurna kepada Vaula, kedua tangan mengusap pipinya yang terasa panas dan memerah.
"Kau sudah gila apa ha? kau tidak menginginkan anak ini, oke! tapi tidak perlu menuduh ku melakukan nya dengan orang lain. Sebab ini jelas-jelas anak kamu!" teriak Vaula sambil mendorong dada Yudi dengan membabi buta.
Sehingga Yudi terus mundur. Dan menepis tangan Vaula yang terus berusaha mendorong, memukul dan mencakar.
"Aku tidak terima dengan tuduhan mu itu, iya aku selingkuh. Itu dengan mu, tidak dengan laki-laki lain, aku menyerahkan tubuh ku hanya sama kamu brengsek! aku korbankan keluarga ku karena aku mencintai mu se-tan kau. Ib-li-s kau sudah menuduh ku selingkuhi kamu. Laki-laki tidak tahu di untung." Teriak Vaula dengan terus menyerang Yudi yang terus menghindar.
"Karena kau wanita bodoh, kau sudah punya suami. Baik dan kaya, tapi kau masih tergoda dengan pria seperti ku! bukankah kau yang tidak bersyukur ha?" ucap Yudi sambil mengeratkan giginya geram dan tangan kanannya menjambak rambut Vaula ....
.
Nantikan kisah selanjutnya.
Makasih