
"Mom aku pulang dulu ya?" pamit Firza pada Sukma, sesaat merangkul bahu Sukma.
"Hati-hati ya, jangan ngebut. Kuliah yang bener." Sukma mengusap punggung pemuda itu.
"Ya!" Firza menolehkan pandangan ke arah Syakila yang tengah bermain.
Fikri, Marwan datang yang langsung berkata. "Mau balik sekarang?" berbarengan.
"Hooh." Firza singkat.
"Aku ingin ikut dong ... pengen tau kampusnya kamu!" Marwan sambil berdiri memandangi ke arah Firza.
"Main saja ke sana. Apa susahnya," sahutnya Firza sambil mengecek isi tas nya.
"Bener Kak, gimana kalau hari Minggu kita ke sana ya Kak Wawan? kita main ke kosannya Kak Firza dan kak Jihan." Ajaknya Fikri.
"Oke, ayok lah." Marwan menyambut ajakan Fikri.
"Baiklah, aku pergi dulu." Firza pun membawa langkah nya yang lebar menuju pintu utama.
Sukma mengantar ke teras. "Za. Mommy titip Jihan ya?"
Firza menolehkan kepalanya sebelum mengenakan helm. "Iya Mom! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salam ... dah ... hati-hati." Sukma melambaikan tangan pada Firza yang menaiki sepeda motor nya.
Sebelum melajukan si roda dua nya, Firza kembali menatap ke arah Sukma. Ia jadi was-was bilakah papanya kembali pada mama kandungnya, Sukma wanita yang memberi warna pada hidup Alfandi juga anak-anak di saat hanya ada gelap yang melanda, yang waktu itu dikhianati.
Membuat hati Firza kembali mencelos. Lalu ia menarik nafas sangat panjang yang kemudian melaju kan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
"Mommy-Mommy ... Kila mau mam. Iih lapar, beyum di kasih mam." Rengek Syakila Sukma Sukma sambil mengusap-usap perutnya.
"Oh iya sayang, sebentar ya ... Mommy ambilkan, dan sekarang Syakila duduk yang manis di sini Mommy mau ambilkan dulu makannya ya?" Sukma mengangkat tubuh Syakila dia dudukan di kursi meja makan, sementara dia mengambilkan nasi dan sayurnya.
"Huuh, si gemoy makan Mulu, nanti Endut ... huuh ..." Fikri menggoda adiknya serta mengambil mainannya.
"Apang! Mommy Apang jahat!" teriaknya nya Syakila.
"Abang. Jangan godain adiknya dong ... kasihan." Sukma melirik pada Fikri yang terus menggoda adiknya.
"Apang Mommy ... Apang. Ambil boneka Kila." Teriak lagi Syakila sambil menangis.
"Fikri-Fikri ... Jangan godain Syakila kita mancing yo?" ajak Marwan kepada Fikri yang sedang mengganggu adiknya.
"Boleh ... tapi mancing apa Kak?" tanya Fikri sambil mengerutkan keningnya.
"Mancing keributan! mancing ikan lah, nanya lagi." Wawan menggeleng.
"He he he ... boleh, nanti ikannya dibakar ya, nanti Kak Wawan yang yang bakar kan ikannya!" sambutnya Fikri.
"Siap! come on ..." balasnya Marwan.
"Bener tuh ... mendingan mancing sana, daripada godain adiknya berisik." Seru nya Sukma sambil bersiap menyuapi Putri kecilnya.
"Ach, Mommy. Mom kapan kita jalan-jalan ke mall, Sudah lama tidak ke sana!" Fikri menatap sang mommy.
"Ya kalau mau ke sana, ya ke sana aja sama Kak Marwan, berdua ... kan bisa--"
"Nggak mau ... sama Mommy juga biar bareng-bareng. Sama Syakila juga, ya Mom ya? nanti malam kita ke mall." Ini giliran Fikri yang merengek pengen ke mall.
"Ya udah nanti ke sana tapi minta izin dulu sama papa ya!" Sukma menyuapi Putri kecil ya.
Fikri beranjak ingin menyusul Marwan yang mengajaknya mancing ikan. Nama Fikri menyempatkan dirinya untuk membuka mulut agar disuapi sama sang mommy.
Pada malam harinya, Sukma dan keluarga berada dalam mall. Seperti permintaan Fikri yang ingin jalan-jalan di mall tapi sama Mommy.
Fikri dan Kayla bermain di Timezone, sementara Marwan entah ke mana. Katanya sih ada janji sama teman mau nongkrong sebentar dan masih di area Mall.
Alfandi terdiam sembari menatap lekat pada sang istri. "Kerja apa sayang ... di rumah sakit."
"Hooh, aku ingin kerja. Tetapi bingung juga siapa yang mau jagain Syakila." Sukma mengangguk.
"Nah ... makanya buat apa bekerja? sudah aja urus Syakila dulu, nanti kalau Syakila sudah bisa mandiri baru kamu boleh masuk rumah sakit untuk bekerja, untuk saat ini ditahan aja dulu ya kemauannya." Alfandi mengusap punggung sang istri.
Sukma hanya menggerak-gerakan menikmatinya mengawasi kota dan putri nya yang sedang asyik bermain.
"Lagian suaminya juga butuh di rawat nih." Alfandi menyeringai.
"Hem ... tiap hari juga ku rawat, aku perhatikan kurang apa lagi coba? tapi mukanya di rumah sakit xx membutuhkan asisten kepala perawat?"
"Iya ada, ini bisa sih masuk dari siang sampai jam 22.00. Jam 22.30 baru pulang kerja, belum bersih-bersih! istirahat, capek buat ngerawat aku nya kapan?" balasnya Alfandi sambil meremas cari jemari sang istri dengan mesra dan pada intinya dia tidak ingin sang istri sibuk di luaran.
"Kalau dipikir-pikir ... kuliah sudah selesai dan aku menyandang Sarjana S1 keperawatan. Dan aku belum turun sama sekali ke lapangan keburu hamil oleh Syakila. Jadinya buat apa gelar S1 aku?" Sukma melirik pada sang suami kembali.
"Sayang dengerin aku ya ilmu itu tidak berat di bawa! jika sekarang kamu belum terjun ke sana, siapa tahu besok atau lusa dan aku cuman minta tunggu lah sampai Syakila lebih dewasa dan mandiri. Setelah itu Sayang boleh kok bekerja dan aku tidak ngelarang itu apalagi banyak saham ku di bidang kesehatan! jadi aku sebenarnya akan mendukung karir kamu ini, cuman tolong sabar sebentar. Hem ... ngerti kan?"
Sukma mendapat lembut pada sang suami dia memang mengerti dengan alasan suaminya tersebut, hanya saja dia merasa sayang sekali dan sia-sia jika pendidikan yang sudah dia capai tidak dia gunakan.
Makanya dia mau wanti-wanti pada Jihan agar dia bisa mencapai cita-citanya sebelum menikah, bukan menolak jodoh tapi setidaknya impiannya! cita-citanya bisa tercapai lebih dulu sebelum berkeluarga.
"Iya, aku ngerti ... aku juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih dengan adanya dirimu aku bisa menyelesaikan kuliah dan bergelar sarjana S1 dan aku sangat berterima kasih juga atas bantuan mu sekarang adik adik ku bisa sekolah. Melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi!" ucapnya Sukma.
"Sayang ... itu kan sudah kewajiban ku, bukan hanya sebagai suami mu tapi aku juga punya kewajiban untuk membantu, apa salahnya membantu orang." Ujarnya Alfandi.
Kemudian mereka berdua saling merangkul bahunya satu sama lain dengan bibir yang menampilkan senyuman.
"Enaknya pergi makan nih, lapar!"
"Syakila. Abang ... kita makan dulu yo? lapar nggak?" Sukma menghampiri kedua buah hatinya.
"Ach Mommy, lagi asik juga bermain!" jawabnya Fikri.
"Ya ... kalau Abang nggak mau makan terserah! mau sama Papa aja makannya dan mengajak Syakila, baiklah. Abang nggak boleh ikut." Sukma menuntun Syakila yang pada akhirnya Fikri pun ngikut dari belakang biar sambil menggerutu karena masih betah bermain.
"Eeh Abang. Lihat tuh ada Mama! kayaknya mama sedang ada urusan di Mall ini!" Sukma menunjuk ke arah Vaula.
Tetapi Fikri malah melipir dia seolah-olah bersembunyi dan tidak ingin dilihat oleh mamanya membuat Sukma bertanya.
"Emang kenapa sih Abang sembunyi begitu? makanya ditemuin mamanya."Sukma pun melirik pada sang suami yang hanya tersenyum.
"Mommy jangan berisik ... nanti kedengaran! aku nggak mau, gak mau bertemu sama mama saat ini, nanti mama mau bujuk aku untuk sekolah di luar Negeri nggak mau seakan-akan berbisik pada Sukma.
Sukma mengalihkan pandangannya kepada Alfandi, dan Alfandi menganggukkan kepala membenarkan perkataan dari Fikri.
Memang Sukma juga pernah mendengar kalau kemauan Vaula setelah lulus sekolah dasar, Fikri akan langsung dipindahkan ke luar Negeri melanjutkan sekolah di sana, ia pribadi sih nggak ada masalah cuman anaknya yang tidak mau.
Mereka pun melanjutkan langkahnya mencari restoran untuk mereka makan.
"Mom. Kak Wawan mana sih?"selidiknya Fikri sambil berjalan sedikit mengendap dan di balik tubuhnya Sukma karena dia tetap tidak ingin dilihat oleh sang mama.
"Katanya tadi mau ketemu sama temennya." Jawabnya Sukma. "Oh ya Bang sebaiknya Abang temui mama dulu ya bentar! Mommy nggak mau lho nanti dikira mommy yang larang Abang ketemu mama!"
"Iih nggak mau!" sahutnya anak itu langsung berlari.
"Biar aja sayang!" suara Alfandi sembari terus berjalan.
Kini mereka sudah berada di sebuah restoran dan mengambil tempat duduk di meja nomor 8. dan mereka pun langsung memesan menu kesukaan nya masing-masing ....
.
Bersambung.